Jumat, September 04, 2009

BUDDHA DHAMMA





Disusun oleh : tanhadi

Agama Buddha dalam pengertian doktrin berarti Ajaran dan Peraturan(Dhamma dan Vinaya)dinamakan Buddha-sasana. Karena Dhamma ditemukan kembali oleh Sang Buddha, maka seluruh Ajaran Sang Buddha dapat disarikan dalam satu kata saja dan lebih sering disebut Buddha Dhamma dan di Barat orang-orang memakai istilah Buddhism.

Ajaran Sang Buddha ( Buddha Dhamma ) meliputi :

EMPAT KEBENARAN MULIA 
(Cattari Ariya Saccani)

1. Adanya Penderitaan (Dukkha)
2. Asal-mula penderitaan (Dukkha Samudaya)
3. Akhir penderitaan (Dukkha Nirodha)
4. Jalan menuju akhir penderitaan (Magga)

DELAPAN JALAN KEBENARAN MULIA
(Atthangika-magga)

1. Pengertian benar (Samma-ditthi)
2. Pikiran benar (Samma-sankappa)
3. Ucapan benar (Samma-vaca)
4. Perbuatan benar (Samma-kammanta)
5. Mata pencaharian benar (Samma-ajiva)
6. Upaya benar (Samma-vayama)
7. Perhatian benar (Samma-sati)
8. Konsentrasi benar (Samma-samadhi)

TIGA CORAK UMUM
(Tilakkhana)

1. Semua bentuk yang berkondisi adalah tidak kekal (Anicca).
2. Semua bentuk yang terkondisi adalah tidak sempurna (Dukkha)
3.Semua bentuk yang terkondisi dan yang tidak terkondisi adalah tanpa "Aku"  (Anatta).

Arti Dhamma
Dhamma (Pali) atau Dharma (Skt) sebenarnya mempunyai banyak makna dan berbeda-beda artinya untuk konteks yang berlainan. Dhamma bisa berarti ; Kebenaran /Kesunyataan, Doktrin, Agama, Ajaran, Hukum moral, Kebajikan, Keadilan, Nilai, Suatu tujuan hidup, Tugas dan kewajiban, Segala sesuatu, Alam, Fenomena, Keadaan, Sifat, Unsur-unsur keberadaan , Obyek mental,dsb.

Dhamma dalam pengertian keagamaan
Dhamma dalam pengertian keagamaan adalah merupakan ajaran yang mencakup Kebenaran Mutlak atau Hukum Abadi yang transenden (asankhata dhamma) yang dikenal antara lain sebagai Nibbana/Nirwana, Dharmakaya, Dharmabhuta, Paramartha dan hukum yang menguasai serta mengatur alam semesta , tidak diciptakan, kekal dan imanen. (Dhamma niyama) dan Etika.

Dhamma adalah hukum abadi
Dhamma tidak hanya ada dalam hati sanubari manusia dan pikirannya, tetapi juga dalam seluruh alam semesta. Seluruh alam semesta terliputi olehnya. jika sang bulan timbul atau tenggelam, hujan turun, tanaman tumbuh, musim berubah, hal ini tidak lain karena disebabkan oleh Dhamma. Dhamma merupakan Hukum Abadi yang meliputi alam semsesta yang membuat segala sesuatu bergerak sebagai dinyatakan oleh ilmu pengetahuan modern, seperti ilmu fisika, kimia, biologi, astronomi, psikologi dan sebagainya.

Dhamma bukan ciptaan manusia maupun Buddha
Dhamma bukan ciptaan manusia maupun Buddha, Ada atau tidak ada Buddha, Hukum Abadi ( Dhamma) itu akan tetap ada sepanjang Jaman. Untuk menjelaskan hal tersebut Sang Buddha bersabda :

"Para Bhikkhu, 
apakah para Tathagata muncul atau tidak, 
Dhamma ini tetap ada, merupakan hukum yang kekal, hukum yang mengatur, hubungan yang terkondisi sebab-akibat ini terhadap itu. Berkenaan dengan hal itu Tathagata mencapai Penerangan Sempurna, memahaminya dengan sempurna.
Setelah mencapai Penerangan Sempurna, 
memahaminya dengan sempurna,Ia mengumumkan, mengajarkan, menyingkapkan, merumuskan, menyatakan, menguraikan, menjelaskannya dan berkata :
Lihatlah ! Terkondisi dengan ini terjadilah itu".
( Samyutta Nikaya II; 25 )

Buddha Dhamma merupakan suatu sistem perenungan yang dalam dan pengembangan batin dengan peraturan pelatihan yang harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Sistem ini lebih luas dari pengertian agama pada umumnya yang merupakan kepercayaan dan pemujaan karena ketergantungan pada kekuatan di luar manusia. Penganut Buddha Dhamma walau berlindung pada Buddha, tidak berarti bahwa ia menyerahkan nasibnya kepada Buddha. Setiap orang memiliki kebebasan sekaligus bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri dan nasibnya ditentukan oleh diri sendiri. Berkaitan dengan hal itu Sang Buddha bersabda :

"Setiap makhluk adalah pemilik karmanya sendiri,
pewaris karmanya sendiri, lahir dari karmanya sendiri,
bersaudara dengan karmanya sendiri
dan dilindungi oleh karmanya sendiri.
Karma yang menentukan makhluk-makhluk,
menjadikan mereka hina dan mulia."
(Majjhima Nikaya 55)

“ Engkau sendirilah yang harus berusaha,
Sang Tathagata hanya penunjuk jalan. “
(Dhammapada 276)

Istilah Dhamma ini mempunyai arti yang sangat luas, yaitu mencakup tidak hanya segala sesuatu yang bersyarat saja, tetapi juga mencakup yang tidak bersyarat / yang mutlak. Untuk lebih jelasnya, dapat diuraikan dalam penjelasan berikut ini.

Dhamma terbagi menjadi dua bagian, yaitu Paramattha Dhamma dan Pannatti Dhamma.

Paramattha Dhamma : Kenyataan tertinggi, terdiri dari :

- Citta (Kesadaran),
- Cetasika (Faktor batin),
- Rupa (Materi)
- Nibbana

Pannatti Dhamma : Sebutan, konsep, untuk dijadikan panggilan atau sebutan sesuai dengan keinginan manusia.

Paramattha Dhamma terbagi lagi menjadi dua macam, yaitu : 
Sankhata Dhamma dan Asankhata Dhamma.

- Sankhata Dhamma, berarti keadaan yang bersyarat,yaitu:

- Tertampak dilahirkan / timbulnya (uppado pannayati)
- Tertampak padamnya (vayo pannayati)
- Selama masih ada, tertampak perubahan-perubahannya 
  (thitassa annathattan pannayati)

- Asankhata Dhamma, berarti sesuatu yang tidak bersyarat,yaitu:

- Tidak dilahirkan (na uppado pannayati)
- Tidak termusnah (na vayo pannayati)
- Ada dan tidak berubah (na thitassa annathattan pannayati)
   Nibbana disebut Asankhata Dhamma.

Di dalam Anguttara Nikaya Tikanipata 20/266, disebutkan tentang sifat Dhamma, atau Dhammaguna.

Ada enam Dhammaguna, yaitu:

1.  Svakkhato Bhagavata Dhammo Dhamma   
     Ajaran Sang Bhagava telah sempurna dibabarkan.

2. Sanditthiko
    Berada sangat dekat (kesunyataan yang dapat dilihat dan dilaksanakan dengan kekuatan sendiri).

3. Akaliko
    Tak ada jeda waktu atau tak lapuk oleh waktu

4. Ehipassiko
    Mengundang untuk dibuktikan

5. Opanayiko
    Menuntun ke dalam batin (dapat dipraktikkan)

6. Paccattam veditabbo vinnuhi
    Dapat diselami oleh para bijaksana dalam batin masing - masing

Untuk dapat mengerti dengan benar mengenai Dhamma tersebut, maka kita harus melaksanakan dengan tiga tahap, yaitu:

1. Pariyatti Dhamma
   Mempelajari Dhamma secara teori, dalam hal ini, yaitu mempelajari dengan tekun Kitab Suci Tipitaka.

2. Patipatti Dhamma
   Melaksanakan (mempraktikkan) Dhamma tersebut di dalam kehidupan sehari-hari.

3. Pativedha Dhamma
   Hasil (penembusan), yaitu hasil menganalisa dan merealisasi kejadian- kejadian hidup melalui meditasi pandangan terang (vipassana) hingga merealisasi Kebebasan Mutlak.

Istilah Dhamma di atas, meliputi Sutta Pitaka, Vinaya Pitaka dan Abhidhamma Pitaka atau Kitab Suci Tipitaka.

Walaupun Sang Buddha yang penuh cinta kasih telah Parinibbana, namun Dhamma yang mulia, yang telah Beliau wariskan seluruhnya kepada umat manusia, masih ada dalam bentuknya yang murni. Sekalipun Sang Buddha tidak meninggalkan catatan-catatan tertulis tentang ajarannya, tetapi para siswa Beliau yang terkemuka telah merawat ajaran Beliau tersebut dengan jalan menghafal dan mengajarkannya secara lisan dari generasi ke generasi. 

Segera setelah Sang Buddha wafat, 500 orang Arahat yang merupakan siswa-siswa terkemuka yang ahli di dalam Dhamma menyelenggarakan suatu pesamuan untuk mengulang kembali semua ajaran Buddha. Yang Mulia Ananda Thera, yang memiliki kesempatan istimewa untuk mendengarkan semua khotbah Sang Buddha, membaca ulang Dhamma; sedangkan Yang Mulia Upali Thera membaca ulang vinaya. Demikianlah Tipitaka dikumpulkan dan disusun dalam bentuk yang sekarang oleh para Arahat.

Dhamma akan melindungi mereka yang mempraktikkan Dhamma. Praktik Dhamma akanmembawa kebahagiaan. Barang siapa mengikuti Dhamma, maka tidak akan jatuh ke alam penderitaan.

Dhamma itu indah pada awalnya,
indah pada pertengahannya dan indah pada akhirnya









2 komentar:

  1. Terima kasih atas postingannya ini. dalam tulisan yang ringkas ini, semakin mempermudah bagi saya yang notabene masih awam soal Buddhisme, untuk lebih bisa memahaminya.

    BalasHapus
  2. Sama-sama Terima kasih :)

    Semoga Blog ini dapat memberikan manfaat bagi siapapun yang berkenan untuk membacanya.

    Salam sejahtera dan Bahagia.

    _/|\_

    BalasHapus