Jumat, Agustus 30, 2019

Kecenderungan Sang Buddha Tidak Mengajarkan Dhamma


KECENDERUNGAN SANG BUDDHA TIDAK MENGAJARKAN DHAMMA.
oleh : Amaro Tanhadi

Sesaat setelah Sang Buddha mencapai  Penerangan Sempurna, timbullah pikiran ini  dalam diriNya : 

“Aku merenungkan: ‘Dhamma ini yang telah Kucapai sungguh mendalam, sulit dilihat dan sulit dipahami, damai dan luhur, tidak dapat dicapai hanya dengan penalaran, halus, untuk dialami oleh para bijaksana.

Tetapi generasi ini menyenangi keduniawian, bergembira dalam keduniawian, bersukacita dalam keduniawian. 

Adalah sulit bagi generasi demikian untuk melihat kebenaran ini, yaitu, kondisionalitas spesifik, kemunculan bergantungan. Dan adalah sulit untuk melihat kebenaran ini, yaitu, tenangnya segala bentukan, lepasnya segala perolehan, hancurnya ketagihan, kebosanan, lenyapnya, Nibbāna.

Jika Aku harus mengajarkan Dhamma, orang-orang lain tidak akan memahamiKu, dan itu akan melelahkan dan menyusahkan bagiKu.’ 

‘Cukuplah dengan mengajarkan Dhamma, yang bahkan Kuketahui sulit untuk dicapai; Karena tidak akan pernah dilihat oleh mereka yang hidup dalam nafsu dan kebencian.

Mereka yang tenggelam dalam nafsu, terselimuti dalam kegelapan
Tidak akan pernah melihat Dhamma yang mendalam ini, yang mengalir melawan arus duniawi. Halus, dalam, dan sulit dilihat.’

Dengan pertimbangan demikian, batinKu lebih condong pada tidak melakukan apa-apa daripada mengajarkan Dhamma."

(MN 26: Ariyapariyesanā Sutta)

--------------------
Komentar saya (Tanhadi): 

* Banyak umat Buddhis yang mempertanyakan: " Mengapa, ketika Sang Bodhisatta yang sejak lama bercita-cita untuk mencapai Kebuddhaan dengan tujuan untuk membebaskan makhluk-makhluk lain, justru sekarang merasa ragu-ragu dan pikirannya condong untuk tidak melakukan apa-apa?"

* Menurut pendapat saya, Sang Buddha BUKAN RAGU-RAGU untuk mengajarkan Dhamma, tapi ENGGAN untuk mengajarkan Dhamma. Alasannya adalah : 

1). Karena Dhamma ini sulit dilihat dan sulit dipahami, tidak dapat dicapai hanya dengan penalaran dan untuk dialami oleh para bijaksana.

2). Beliau melihat bahwa orang-orang pada generasi sekarang lebih menyenangi hal-hal yang bersifat keduniawian, batin mereka dipenuhi oleh ketamakan, kebencian dan kebodohan, sehingga sangat sulit bagi generasi yang demikian untuk melihat kebenaran Dhamma.

3). BAHWA BARU SEKARANG , SETELAH MENCAPAI PENCERAHAN, BELIAU MENYADARI SEPENUHNYA betapa kuatnya kekotoran-kekotoran dalam batin makhluk-makhluk dan betapa mendalamnya Dhamma.

Dengan pertimbangan demikian, batin Sang Buddha lebih condong pada tidak melakukan apa-apa daripada mengajarkan Dhamma.

Alasan lainnya adalah, sudah menjadi semacam tradisi para Buddha  bahwa Sang Buddha akan  membabarkan Dhamma atas permohonan Brahma, karena pada saat itu semua orang adalah pemuja Brahma dan sangat bergantung pada Brahma. Maka dari itu, jika dewa yang begitu tinggi dan berkuasa seperti Brahma ingin mendengarkan Dhamma, maka seluruh alam dewa dan manusia cenderung akan begitu juga. Karena alasan itu maka sebelum membabarkan Dhamma, Sang Buddha menunggu agar diminta oleh Brahma.

  -oOo-



Adil Tidak Selalu Bijaksana


 ADIL TIDAK SELALU BIJAKSANA.
BIJAKSANA TIDAK SELALU ADIL

Arti kata :

▶Adil adalah, sama berat; tidak berat sebelah; tidak memihak.

▶Bijaksana adalah, selalu menggunakan akal budinya berdasarkan pada pengalaman dan pengetahuannya; pandai, hati-hati dan cermat.

Dengan demikian, dapat kita lihat bahwa, makna kata `adil` sangat berbeda dengan makna kata bijaksana.

Kita bisa menguji kedua kata itu sbb :

Kita memiliki kain selebar 10 M2 dan ingin membaginya kepada dua orang.

Dikatakan adil jika, masing-masing pihak memperoleh kain selebar 5 M2. Hanya saja, jika dua orang itu berbeda fisiknya (katakanlah yang satu gemuk,  sehingga 5 M2 tadi kurang untuk membuat sebuah baju, sementara yang satunya kurus, sehingga kain tersebut bersisa percuma). Apakah tindakan membagi dua sama besar itu bijaksana?

Jelaslah bahwa, keputusan yang adil itu tidaklah selalu bijaksana. 

Dalam hal pembagian kain di atas, biarlah kita kesampingkan dulu untuk tidak berbuat adil asalkan bertindak  bijaksana. Seyogianya kain tadi dibagi menjadi dua bagian, misalnya dengan 6 m2 untuk si gemuk dan 4 m2 untuk si kurus. Dengan begitu, keduanya bisa memperoleh baju tanpa ada kain yang terbuang percuma pun tidak merugikan kedua belah pihak.

Disini dapat kita lihat bahwa, tindakan yang bijaksana tidak selalu adil.

Semoga bermanfaat sebagai perenungan dan kajian kita bersama di saat kita harus memutuskan segala sesuatu dengan bijaksana tanpa mengabaikan nilai-nilai keadilan.

Tanhadi
=========
** ( Bahan dikutip dan di edit seperlunya dari Majalah Intisari, Edisi April 2004, halaman 152-153, "Adil Tidak Selalu Bijaksana"; Penulis : Lie Charlie).


Perumpamaan Gajah dan Orang Buta


PERUMPAMAAN GAJAH DAN ORANG BUTA 
(Perbedaan pandangan dan keyakinan)

Demikianlah yang telah saya dengar: Pada suatu kesempatan Sang Bhagavâ sedang berdiam di dekat Sâvatthî... di taman Anâthapindika.

Pada saat itu sejumlah pertapa dan brâhmana yang terdiri dari pengembara yang berbeda-beda pandangan datang ke Sâvatthî untuk meminta sedekah makanan. Mereka mempunyai pandangan yang berbeda-beda, dengan sifat toleran terhadap hal-hal yang berbeda, menyukai hal-hal yang berbeda, mempunyai berbagai keyakinan. Beberapa orang pertapa dan brâhmana membahas hal ini dan berpandangan: 

- Bahwa dunia adalah abadi, bahwa itulah sesuatu yang mutlak benar, dan bahwa berbagai pandangan yang lain adalah gila-gilaan. 

- Beberapa berpandangan bahwa dunia terbatas...; sementara menurut yang lain tidak terbatas....

- Ada yang berpandangan bahwa unsur hidup utama adalah tubuh;  yang lain percaya bahwa unsur hidup utama adalah satu hal selain tubuh...

-  Sebagian berpendapat bahwa diri adalah kekal; yang lain berpendapat bahwa diri adalah tidak kekal....

Lalu sebagian berpendapat keduanya kekal dan keduanya tidak kekal...; sebaliknya ada yang menyatakan dua-duanya tidak kekal; bahwa inilah yang benar, dan pandangan lain adalah gila-gilaan. 

Akibatnya mereka saling bertengkar, bercekcok, dan berselisih, saling melukai dengan kata-kata; "Dhamma adalah demikian, dhamma bukanlah demikian; Ini benar; itu salah!"

Pada suatu siang serombongan bhikkhu mengenakan jubah mereka dan mengambil mangkuk dan jubah, memasuki Sâvatthî untuk pindapâta, setelah berkeliling dan makan, menemui Sang Bhagavâ.. dan berkata: 

Bhante, sejumlah pertapa dan brâhmana yang merupakan pengembara mempunyai berbagai pandangan dan menimbulkan akibat... (dan mereka menceritakan pandangan-pandangan yang berbeda tersebut) Sang Bhagavâ pun berkata:

"Para bhikkhu, para pengembara yang mempunyai pandangan yang berbeda tersebut buta, tidak melihat dengan baik. Mereka tidak mengetahui kebaikan dan keburukannya. Mereka tidak mengenal dhamma. Mereka 
tidak memahami apa yang bukan dhamma. Akibat ketidaktahuan, mereka bertengkar, cekcok dan berselisih demi mempertahankan pandangan-pandangan tersebut.

Sebelumnya, para bhikkhu, ada seorang Raja di Sâvatthî ini. Kemudian, para Bhikkhu, Raja itu memanggil seorang laki-laki, sambil berkata, "Kemarilah engkau, pelayanku, pergilah dan kumpulkan di suatu tempat semua orang yang terlahir buta di Sâvatthî."

"Baik, Tuanku," jawab laki-laki tersebut dan menuruti perintah Raja untuk mengumpulkan semua laki-laki yang terlahir buta di Sâvatthî. Setelah selesai, ia kembali pada Raja dan berkata, "Tuanku, semua orang yang terlahir buta di Sâvatthî telah terkumpul."

"Pelayanku, tunjukkan kepada orang-orang tersebut sebuah gajah."

"Baik, tuanku" jawab laki-laki itu, dan melakukan sesuai perintah, 
berkata kepada mereka, "O, orang buta, ini adalah seekor gajah," dan ia menunjukan pada orang pertama kepala gajah, yang lain telinganya, lalu yang lain gadingnya, kaki, punggung, ekor dan berkas ekor, lalu mereka 
saling bertukar pikiran mengenai bentuk gajah tersebut.

Sekarang, para bhikkhu, setelah menunjukkan gajah kepada orang 
buta, pengawal tersebut mendatangi Raja dan berkata:
"Tuanku, gajah itu telah dipertunjukkan kepada orang buta sesuai perintah ?"

Lalu, para bhikkhu, Raja menemui orang buta itu dan berkata kepada setiap orang buta itu, "Baiklah, orang buta, apakah engkau pernah melihat gajah ?"

"Ya, Tuan."Tuanku, seekor gajah mirip sebuah pot." Dan yang memegang telinga hanya menjawab, "Seekor gajah seperti keranjang penampi."

Yang ditunjukkan gadingnya berkata bahwa gajah seperti mata bajak.

Yang hanya merasakan belalainya mengatakannya adalah sebuah bajak, mereka mengatakan tubuhnya adalah sebuah lumbung; kakinya, sebuah tiang; punggungnya, sebuah mortir; ekornya, sebuah alu penumbuk; berkas ekor seperti sebuah kebutan.

Kemudian mereka mulai bertengkar, sambil berteriak, "Ya, itu benar!" 

"Tidak, itu tidak benar!" "Seekor gajah tidak seperti itu!" "Ya, ia seperti itu!" dan seterusnya, hingga mereka baku hantam.

Lalu, bhikkhu, Raja gembira dengan pemandangan itu.

Demikian juga dengan para pengembara yang berpandangan berbeda-beda, buta, tanpa melihat, tanpa mengetahui kebaikan, kejelekannya. Mereka tidak memahami dhamma. Mereka tidak memahami apa yang bukan dhamma. Karena ketidaktahuannya mereka bertengkar, cekcok dan 
berselisih mempertahankan pandangan masing-masing.

Menyadari pentingnya hal ini, Sang Bhagavâ mengucapkan sebait 
syair Udâna:

"O, Betapa melekat dan ributnya, mereka yang menamakan diri 
Brâhmana dan pertapa. Berselisih dan bertahan di satu sisi,
memandang masalah hanya dari satu segi."

(Udana VI.4 )

                          -oOo-

Jumat, Agustus 16, 2019

Semua Makhluk Ingin Bahagia


SEMUA MAKHLUK INGIN BAHAGIA
Tanhadi

Semua makhluk menginginkan kebahagiaan dan menolak penderitaan. Semua makhluk merasa kesakitan bila dianiaya. Semua makhluk ingin tetap hidup dan tidak ingin mati.

Namun, masih banyak orang yang gemar dan terbiasa menyakiti dan membunuh makhluk hidup lainnya hanya demi kesenangan, kegemaran (hobby) dan keisengan belaka. 

HINDARI :
● Memancing ikan, belut dll.
● Adu ayam dan hewan lainnya.
● Menembak burung dan hewan lainnya.
● Memilih dan memesan ikan yang masih hidup dan dimasak untuk menu makanannya.
● Melakukan penganiayaan dan pembunuhan hewan dengan alasan apapun.

Semoga kita semuanya mampu mempertahankan kesejahteraan dan kebahagiaan diri kita sendiri dengan  TIDAK MENYEBABKAN makhluk lain teraniaya dan menderita.*

Sda, 7 Agustus 2019

Mettacittena,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

Fanatisme Agama


FANATISME AGAMA
Tanhadi

Fanatisme merupakan keyakinan atau pandangan mengenai sesuatu yang tidak tidak disertai dengan teori atau pijakan kenyataan, namun tetap dipegang dengan mendalam sehingga akan susah untuk diubah atau diluruskan kembali. 

✔ Fanatisme, umumnya tidak rasional.

✔ Fanatisme yang berlebihan menyebabkan seseorang berperilaku agresif dan sekaligus akan mengalami kehilangan kesadaran akan dirinya sendiri (deindividuasi),  sehingga perilaku yang dilakukan semakin tidak terkontrol.

✔ Fanatisme sendiri dianggap sebagai penyebab dari perilaku kelompok yang sering menyebabkan agresi dan macam macam sifat manusia negatif lainnya. 

FANATISME BUTA TERHADAP AGAMA

Agama memiliki potensi untuk membuat orang berpikiran terlalu radikal dan fanatik yang bisa berujung pada perpecahan masyarakat hingga kekerasan antar golongan. 

Fanatisme buta terhadap agama atau aliran kepercayaan lain telah banyak membuat seseorang kehilangan nalar sehatnya. Dan demi keyakinan yang dia yakini secara mutlak, dia bisa membunuh, menjarah, bahkan juga memperkosa atas nama keyakinannya. 

PENYEBAB FANATISME BUTA

1. Kurang pergaulan.
2. Kurang wawasan
3. Kurang empati.

MENURUT PENELITIAN PARA AHLI 

Menurut para ahli, Fanatisme buta  terhadap agama disebabkan adanya   KERUSAKAN PADA OTAK yaitu pada  'Korteks prefrontal', lebih mungkin membuat seseorang bersikap ekstrem dalam pandangan religius mereka.

'Korteks prefrontal' adalah wilayah otak yang terkait dengan sejumlah fungsi yang tinggi, termasuk perencanaan dan persepsi. Korteks prefrontal juga terkait dengan pengalaman religius dan mistis yang dialami oleh seorang individu.

Kerusakan di daerah ini berarti orang kurang dapat mengevaluasi keyakinan agama mereka secara kritis terhadap orang lain.

Semoga kita semuanya bebas dari kefanatikan membuta terhadap agama - jika tidak ingin otak kita menjadi rusak dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Semoga bermanfaat.

Salam sejahtera dan bahagia.

Kesalahpahaman tentang Kemahatahuan Sang Buddha


KESALAHPAHAMAN TENTANG  KEMAHATAHUAN SANG BUDDHA 
Upa. Amaro Tanhadi

Mereka yang mengatakan dan  menganggap bahwa Sang Buddha sebagai orang yang maha-tahu dan maha-melihat, memiliki pengetahuan dan penglihatan lengkap ( Sabbaññūta-nana), baik pada saat berjalan, berdiri, tidur atau terjaga, secara terus menerus tanpa terputus; Maka mereka telah salah memahami dan keliru menggambarkan tentang Sang Buddha.

Tetapi, mereka yang mengatakan bahwa Sang Buddha memiliki TIGA PENGETAHUAN SEJATI  yaitu, 
pengetahuan tentang : 

-  Kehidupan masa lampau 
-  Proses sebab-akibat dari karma
-  Hancurnya noda-noda

Dengan demikian, mereka  menggambarkan Sang Buddha dengan benar.

Sang Buddha adalah maha-tahu dalam makna bahwa, semua hal-hal yang dapat diketahui adalah terjangkau oleh-Nya. Akan tetapi, Beliau tidak dapat mengetahui segala sesuatu pada saat bersamaan dan harus mengarahkannya pada apapun YANG BELIAU KEHENDAKI UNTUK DIKETAHUI. Ini berarti bahwa, semua hal dapat Beliau ketahui secara satu per-satu dan bukan secara  bersamaan. (MN.71 : Tevijjavacchagotta sutta)

Pengertian tentang Maha-tahu ( Sabbaññū) yang dimiliki oleh Sang Buddha adalah termasuk pengetahuan Beliau tentang asal-usul bumi, manusia yang mula-mula ada di bumi, adanya banyak bumi dan matahari di alam semesta, adanya makhluk lain yang ada di planet-planet lainnya (karena yang disebut sebagai makhluk hidup bukan hanya berada di bumi kita ini saja), demikian juga Beliau mengetahui bagaimana bumi ini hancur lebur dan lain sebagainya. (DN 27: Aggañña Sutta)

Sang Buddha mengatakan bahwa, adalah tidak mungkin dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui dan melihat segala sesuatu secara bersamaan. (Karena pada "satu saat  hanya ada satu kesadaran (citta) yang muncul ). (MN 90 : Kaṇṇakatthala Sutta).

Semoga bermanfaat.

Mettacittena,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta.

                             -oOo-

DHAMMA


DHAMMA
Upa. Amaro Tanhadi

ARTI DHAMMA

Dhamma (Pali) atau Dharma (Skt) sebenarnya mempunyai banyak makna dan berbeda-beda artinya untuk konteks yang berlainan. Dhamma bisa berarti ; Kebenaran /Kesunyataan, Doktrin, Agama, Ajaran, Hukum moral, Kebajikan, Keadilan, Nilai, Suatu tujuan hidup, Tugas dan kewajiban, Segala sesuatu, Alam, Fenomena, Keadaan, Sifat, Unsur-unsur keberadaan , Obyek mental, dsb.

Dhamma mencakup tidak hanya segala sesuatu yang bersyarat saja, tetapi juga mencakup yang tidak bersyarat / yang mutlak. Untuk lebih jelasnya, dapat diuraikan dalam penjelasan berikut ini.

Dhamma terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
● Paramattha Dhamma  adalah  kenyataan tertinggi, ada 4, yaitu : Citta (kesadaran),  Cetasika (faktor batin), Rupa (materi).

● Pannatti Dhamma adalah sebutan, konsep, untuk dijadikan panggilan atau sebutan sesuai dengan keinginan manusia.

Paramattha Dhamma terbagi lagi menjadi dua macam, yaitu ;
● Sankhata Dhamma, berarti keadaan yang bersyarat, yaitu:
- Tertampak dilahirkan / timbulnya (uppado pannayati)
- Tertampak padamnya (vayo pannayati)
- Selama masih ada, tertampak perubahan-perubahannya ( thitassa annathattan pannayati ), contoh : tata surya, Matahari, Bumi, Gunung, Pohon, Manusia, laut, Danau, Sungai, batu, Angin, Sinar, Pikiran dsb.

● Asankhata Dhamma, berarti sesuatu yang tidak bersyarat, yaitu:
-Tidak dilahirkan (na uppado pannayati)
-Tidak termusnah (na vayo pannayati)
- Ada dan tidak berubah (na thitassa annathattan pannayati)
Nibbana disebut Asankhata Dhamma.

DHAMMA ADALAH HUKUM ABADI

Dhamma tidak hanya ada dalam hati sanubari manusia dan pikirannya, tetapi juga dalam seluruh alam semesta. Seluruh alam semesta terliputi olehnya. jika sang bulan timbul atau tenggelam, hujan turun, tanaman tumbuh, musim berubah, hal ini tidak lain karena disebabkan oleh Dhamma. Dhamma merupakan Hukum Abadi yang meliputi alam semesta yang membuat segala sesuatu bergerak sebagai dinyatakan oleh ilmu pengetahuan modern, seperti ilmu fisika, kimia, biologi, astronomi, psikologi dan sebagainya.

DHAMMA BUKAN CIPTAAN MANUSIA MAUPUN BUDDHA

Dhamma bukan ciptaan manusia maupun Buddha, Ada atau tidak ada Buddha, Hukum Abadi (Dhamma) itu akan tetap ada sepanjang Jaman. Untuk  menjelaskan hal tersebut Sang Buddha bersabda : " Para bhikkhu, apakah para Tathagatha (Buddha) muncul di dunia atau tidak, terdapat hukum yang tetap dari segala sesuatu (Dhamma), terdapat hukum yang pasti dari segala sesuatu, bahwa : 'Semua yang terbentuk adalah tidak kekal'. ..'Semua yang terbentuk adalah tidak memuaskan'. ..'Segala sesuatu adalah bukan diri'." (AN.3.134 : Dhammaniyama sutta).

DHAMMA DALAM PENGERTIAN KEAGAMAAN 

Dhamma dalam pengertian keagamaan adalah merupakan ajaran Sang Buddha (Buddha Dhamma) yang mencakup Kebenaran Mutlak atau Hukum Abadi yang transenden (asankhata dhamma) yang dikenal antara lain sebagai Nibbana/Nirwana, Dharmakaya, Dharmabhuta, Paramartha dan hukum yang menguasai serta mengatur alam semesta, tidak diciptakan, kekal dan imanen (Dhamma niyama ).

Istilah Dhamma di atas, meliputi Sutta Pitaka, Vinaya Pitaka dan Abhidhamma Pitaka atau Kitab Suci Tipitaka. 

Walaupun Sang Buddha yang penuh cinta kasih telah parinibbana, namun Dhamma yang mulia, yang telah Beliau wariskan seluruhnya kepada umat manusia, masih ada dalam bentuknya yang murni. Sekalipun Sang Buddha tidak meninggalkan catatan-catatan tertulis tentang ajarannya, tetapi para siswa Beliau yang terkemuka telah merawat ajaran Beliau tersebut dengan jalan menghafal dan mengajarkannya secara lisan dari generasi ke generasi.

Segera setelah Sang Buddha wafat, 500 orang Arahat yang merupakan siswa-siswa terkemuka yang ahli di dalam Dhamma menyelenggarakan suatu pesamuan untuk mengulang kembali semua ajaran Buddha. Yang Mulia Ananda Thera, yang memiliki kesempatan istimewa untuk mendengarkan semua khotbah Sang Buddha, membaca ulang Dhamma; sedangkan Yang Mulia Upali Thera membaca ulang vinaya. Demikianlah Tipitaka dikumpulkan dan disusun dalam bentuk yang sekarang oleh para Arahat.

BUDDHA DHAMMA MELAMPAUI PENGERTIAN AGAMA PADA UMUMNYA.

Buddha Dhamma merupakan suatu sistem perenungan yang dalam dan pengembangan batin dengan peraturan pelatihan yang harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Sistem ini lebih luas dari pengertian agama pada umumnya yang merupakan kepercayaan dan pemujaan karena ketergantungan pada kekuatan di luar manusia. Penganut Buddha Dhamma walau berlindung pada Buddha, tidak berarti bahwa ia menyerahkan nasibnya kepada Buddha. Setiap orang memiliki kebebasan sekaligus bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri dan nasibnya ditentukan oleh diri sendiri. Berkaitan dengan hal itu Sang Buddha bersabda :

"...Setiap makhluk adalah pemilik karmanya sendiri, pewaris karmanya sendiri, lahir dari karmanya sendiri, bersaudara dengan karmanya sendiri dan dilindungi oleh karmanya sendiri. Karma yang menentukan makhluk-makhluk, menjadikan mereka hina dan mulia."
( Majjhima Nikaya 55 )

NIBBANA, TUJUAN AKHIR AJARAN BUDDHA

Tujuan akhir dari Ajaran Buddha adalah tercapainya Nibbana, yaitu kondisi batin yang terbebas dari segala bentuk keinginan; merupakan padamnya api keserakahan, kebencian dan kegelapan batin secara mutlak.

Namun, Nibbana, yang merupakan terhentinya semua dukkha (penderitaan) tersebut, tidak dapat direalisasi hanya dengan cara sembahyang, mengadakan upacara atau memohon kepada para dewa saja. Terhentinya derita tersebut hanya dapat direalisasi dengan meningkatkan pengembangan batin. Pengembangan batin ini hanya dapat terjadi dengan jalan berbuat kebajikan, mengendalikan pikiran, dan mengembangkan kebijaksanaan sehingga dapat mengikis semua kekotoran batin, dan tercapailah tujuan akhir. Sehingga dalam hal membebaskan diri dari semua bentuk penderitaan, untuk mencapai kebahagiaan yang mutlak, maka kita sendirilah yang harus berusaha. Di dalam Dhammapada ayat 276, Sang Buddha sendiri bersabda :"Engkau sendirilah yang harus berusaha, para Tathagata hanya menunjukkan jalan."

Semoga bermanfaat.

Mettacittena.
Sabbe satta bhavantu sukhitatta.

Senin, April 01, 2019

Anak dan Kalkulatornya ( Berbakti kepada orang tua)

ANAK DAN KALKULATORNYA
(Berbakti kepada orang tua)
Upa. Amaro Tanhadi


Ketika orang tua melihat anaknya mengalami sakit dan harus mendapatkan perawatan medis di rumahsakit, orang tua akan berjuang sepenuh hati dan habis-habisan, bahkan mempertaruhkan seluruh hartanya demi kesembuhan si anak dari sakitnya.

Namun, 

Ketika giliran orang tuanya yang sakit, dan harus mendapatkan perawatan medis di rumahsakit, si anak diam-diam  mengeluarkan kalkulator dan mulai hitung-hitungan untuk menyelamatkan harta bendanya agar tidak ikut terkuras untuk membiayai perawatan orang tuanya.

Disinilah perbedaan nilai dan makna cinta kasih antara orang tua dan anak,  dan ini adalah fakta yang terjadi pada beberapa anak zaman sekarang yang krisis terhadap nilai-nilai moral, etika dan bakti terhadap orang tuanya sendiri.

Anak yang berbakti terhadap orang tuanya akan menyimpan dan menggunakan kalkulatornya hanya untuk urusan bisnis, dan bukan untuk menghitung untung dan rugi demi  menyokong kehidupan orang tuanya yang sedang mengalami kesulitan soal  finansial atau sudah tidak produktif lagi, dan terlebih lagi bila orang tuanya dalam keadaan sakit dan butuh pertolongan.

Semoga para sahabat se-Dhamma disini, yang masih memiliki orang tua,  janganlah lupa atas budi baik orang tua kita yang telah berjasa besar merawat, mendidik dan melindungi serta mencurahkan cinta kasih dan kasih sayangnya terhadap kita sejak kita dilahirkan.

Bagi yang orang tuanya sudah meninggal, limpahkanlah jasa-jasa kebajikan yang telah kita lakukan kepada mereka, agar mereka berbahagia dan terkondisikan untuk terlahir di alam yang bahagia.

Apapun dan bagaimanapun caranya, lakukanlah yang terbaik dan semampu yang dapat kita lakukan untuk membuat mereka  bahagia. Dengan demikian, kita akan menjadi orang yang senantiasa bersyukur dan tahu berterima kasih atas kebaikan orang lain yang telah berjasa kepada kita dan betekad untuk membalas budi baik mereka. (katannukatavedi).

Semoga bermanfaat.

Mettacittena,
Semoga semua makhluk hidup bahagia.

Lalu, Aku ini Siapa?

LALU, AKU INI SIAPA ?
Upa. Amaro Tanhadi


Sudah begitu lamanya kita terbelenggu dengan konsep adanya sang "AKU", dan ketika kita dihadapkan pada konsep "Tidak ada AKU yang kekal", kegamangan timbul. Jika tidak ada "AKU", lalu aku ini  siapa?

Anda bingung? Saya lebih bingung. Tidak apa, itu normal untuk ukuran manusia awam. Hanya seorang yang telah mencapai tingkat kesucian yang dapat menembus dan merealisasikan pengertian "Anatta"  ini.

Konsep "tidak ada aku yang kekal" (Anatta) merupakan konsep yang sangat unik dan spesifik Buddhism, konsep ini tidak ada dalam ajaran agama lain. Anatta merupakan satu corak kehidupan dari 3 corak kehidupan dalam buddhism. Dua yang lain yaitu Dukkha dan Anicca ( segala sesuatu yang berkondisi akan berubah).

Dari 3 corak kehidupan. Anicca, Dukkha dan Anatta, Konsep Anatta merupakan konsep yang paling sulit dipahami dan paling sering disalah-pahami, karena menyangkut eksistensi dari ego atau sang AKU itu sendiri. Betapa sulitnya bagi si aku untuk memahami bahwa 'AKU' itu tidak ada. Namun pengertian 'tidak ada' ini bukanlah kekosongan semata. Yang dimaksud dengan ' tidak ada aku' disini adalah tidak ada aku/inti/roh didalam tubuh kita ini.

Mungkin anda bertanya kembali, jika tidak ada inti/roh, lalu siapa yang bertumimbal lahir setelah meninggal? Bukankah sering dikatakan bahwa si A kelahiran yang lampau adalah si Anu. Lalu apakah si A dan si Anu itu sama atau berbeda? Tidak 100% sama dan tidak 100% berbeda. Anda bingung lagi? Saya juga lebih bingung. 

Dengan sedikit perenungan, kita coba flash back hidup kita saat ini. Mulai sejak kita kecil, bersekolah, kuliah, bekerja, menikah sampai sekarang apakah kita sama? atau kita berbeda? Secara jasmani maupun rohani kita berbeda, tetapi juga tidak berbeda 100% karena kalau berbeda 100% maka anda bukan lagi anda yang dulu. Orang lain akan menyangkal kita dan bertanya-tanya bagaimana dengan DNA nya dsb.

 Proses kematian juga seperti itu. Sama seperti saat kita tumbuh dari kecil lalu dewasa. Bedanya adalah proses kita tumbuh dapat kita lihat, tetapi proses kematian hanya segelintir orang yang punya kemampuan melihat proses dari si Anu meninggal menjadi lahir si A.

Pada hakikatnya, "AKU" hanyalah merupakan perwujudan dari perpaduan unsur-unsur  fisik dan mental; yang berada dalam arus perubahan yang terus menerus dan saling bergantungan di dalam hukum sebab dan akibat. Untuk merealisasikan ajaran Anatta ini dibutuhkan perenungan yang sangat  mendalam dan kebijaksanaan yang timbul dari pandangan terang. Dan hanya dalam Dhamma, segala bentuk kegamangan tentang "Anatta" akan berubah menjadi sebuah keyakinan yang kokoh dan tak tergoyangkan.

Semoga bermanfaat bagi perenungan kita bersama.

Mettacittena,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

                              -oOo-

Hidup ini Singkat

HIDUP INI SINGKAT
(Renungan bagi yang berusia tua)
Upa. Amaro Tanhadi


Hidup ini terasa makin singkat.
Tiada perlindungan bagi orang yang sudah berusia tua terhadap kematian yang tidak pernah memberitahukan saat kedatangannya.

Dengan menyadari tanda-tanda kondisi fisik yang semakin rapuh ini, adalah sangat baik untuk memahami bahwa dengan rela atau pun tidak rela, tubuh ini akan terbaringkan dan segera kita tinggalkan.

Namun, dengan sedikit waktu yang masih tersisa ini, kiranya belumlah terlalu terlambat untuk senantiasa menambah perbuatan baik dan berusaha dengan tekun untuk membersihkan kekotoran batin kita sendiri.

Dan sudah saatnya bagi kita untuk melepaskan simpul-simpul yang selama ini menjerat dan membelenggu batin kita dari bentuk-bentuk nafsu keinginan dan kemelekatan terhadap sesuatu yang selama ini kita genggam dengan erat. Sehingga pada saatnya nanti, kita dapat melanjutkan perjalanan pada kehidupan yang berikutnya dengan batin yang jernih dan bahagia, dan Semoga demikian adanya.

                              -oOo-

Sila dan Dana

SILA DAN DANA
Upa. Amaro Tanhadi


Di dunia ini, melindungi dan menjaga orang lain dari penderitaan merupakan suatu perbuatan mulia. Demikian pula untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran orang lain juga merupakan perbuatan mulia. 

DANA berarti membantu orang lain untuk memperoleh kesejahteraan. Menjalankan SILA berarti melindungi orang lain dari penderitaan.

FUNGSI DANA
- Memberikan bantuan kepada orang miskin adalah termasuk dalam dana.

- Memenuhi empat kebutuhan pokok  para Bhikkhu juga termasuk dana.

- Memberikan bantuan kepada orang lain yang membutuhkan juga termasuk dana.

Mereka yang benar-benar mengerti manfaat dana akan selalu menyadari bahwa berdana adalah perbuatan benar.

FUNGSI SILA (Kemoralan)
Fungsi sila adalah untuk melindungi makhluk lain dari penderitaan. Sila pertama dari Lima Sila Buddhis adalah menghindari pembunuhan semua makhluk hidup.

Mari kita renungkan akibat buruk dari PELANGGARAN SILA PERTAMA ini;  Bayangkan berapa banyak hewan laut, ternak, ayam, dan makhluk lainnya  terbunuh karena tidak menjalankan sila pertama. Pembantaian merajalela, yang   akhirnya menuju pada peperangan serta pertumpahan darah. Ini semuanya adalah contoh bahwa sila pertama tidak seharusnya dilanggar, karena ini akan menyebabkan malapetaka bagi setiap makhluk yang tinggal di bumi ini.

Dengan menjalankan sila menghindari  pembunuhan, kita secara individual  telah menyelamatkan hidup makhluk lain, dan secara bersama-sama kita semua telah menyelamatkan hidup makhluk lainnya dalam jumlah yang tak terhitung banyaknya. Sila menjamin keselamatan semua makhluk dan memperluas pengembangan Metta (cinta kasih universal), Karuna (belas kasihan, welas asih) dan Mudita (turut bersukacita atas kesuksesan, kesejahteraan dan kemakmuran pihak  lain) terhadap semua makhluk. Dengan demikian dunia akan menjadi tempat tinggal yang nyaman, tempat semua makhluk hidup berbahagia.

PERBANDINGAN
Sekarang kita telah melihat kebaikan dana dan aturan moralitas yang pertama. Kita akan lebih yakin bahwa sila lebih unggul dibandingkan dengan dana. 

Kita bisa bandingkan besarnya kegembiraan yang dirasakan oleh seseorang yang (1)menerima pemberian (derma) dan (2)seseorang yang hidupnya telah diselamatkan dari kematian. Tentunya yang kedua bernilai ribuan kali lebih gembira dibanding yang pertama. Begitu juga kegembiraan seseorang yang kelaparan kemudian diberi makan dan kegembiraan seseorang yang hukuman matinya dicabut, tentunya sangat berbeda. Kegembiraan karena mendapatkan makanan tidak bisa dibandingkan dengan kegembiraan orang yang terbebas dari hukuman mati.

Semoga saya, Anda dan kita semuanya  yang telah bertekad melatih diri untuk tidak melanggar Pancasila Buddhis, dapat menjalankannya dengan sebaik-baiknya dalam kehidupan sehari-hari.
_______
Catatan :
* Study perbandingan antara dana dan sila ini BUKAN SEBAGAI BAHAN PERTIMBANGAN UNTUK MEMILIH DAN  MENGABAIKAN SALAH SATU DIANTARANYA dalam melaksanakan perbuatan bajik yang hendak kita lakukan, tapi keduanya kita lakukan secara bersama-sama demi keselamatan dan kesejahteraan bagi semua makhluk hidup yang berada dalam jangkauan kita.

Semoga tulisan pendek ini dapat memberikan manfaat bagi kita semuanya.

Sadhu, sadhu, sadhu 

Mettacittena,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

-

Minggu, Maret 31, 2019

Berlatih Ilmu Bela Diri dan Dhamma, Bertentangankah?

BERLATIH ILMU BELADIRI DAN DHAMMA, BERTENTANGANKAH?


Ada beberapa teman Buddhist yang bertanya tentang hobby saya berlatih dan melatih bela diri, di sisi lain saya belajar dan melatih diri dalam Dhamma, Apakah ke dua pelatihan diri tersebut tidak saling bertentangan? Menurut pendapat saya, ke dua hal tersebut tidaklah bertentangan, sepanjang ilmu beladiri tersebut tidak di salahgunakan untuk hal-hal negatif secara fisik maupun secara mental, al : Untuk mengintimidasi makhluk lain, memupuk kesombongan, merasa lebih jagoan daripada orang lainnya dan mengumbar nafsu kemarahan dengan berkelahi dan melukai orang lain. Dan untuk lebih jelasnya, mari kita sama-sama menyimak penjelasan dari Bhikkhu Uttamo Mahathera sehubungan dengan pertanyaan yang serupa dari umat Buddha yang lainnya, sbb : 

Mempelajari ilmu beladiri, seperti yang terkandung pada namanya, sebenarnya bertujuan untuk membela diri apabila terjadi bahaya yang mengancam. Oleh karena itu, selama latihan beladiri tidak disalahgunakan untuk menyakiti mahluk lain, kiranya latihan tersebut tidak bertentangan dengan Dhamma. Lebih-lebih lagi, selain untuk menjaga diri, ilmu beladiri juga dapat dianggap sebagai olahraga yang akan membantu meningkatkan kesehatan seseorang. 

Dengan tidak menyalahgunakan ilmu beladiri, maka latihan ini tidak berpengaruh terhadap perkembangan metta atau cinta kasih seseorang. Bahkan, ada kemungkinan justru dengan kemampuan beladiri ini seseorang akan semakin meningkat pikiran cinta kasihnya, karena akan timbul kesadaran pada dirinya terhadap bahaya atas semua tindakan yang tidak sesuai atau bertentangan dengan kemoralan. Selain itu, seseorang dengan ilmu beladiri yang baik mungkin saja malah memiliki cinta kasih untuk menjadi penolong bagi mereka yang menderita akibat tekanan dari pihak yang lebih kuat.

*Oleh karena itu, secara Agama Buddha aliran India atau Theravada, ilmu beladiri adalah netral. Baik dan buruk sangat tergantung pada mereka yang mempelajarinya. Seseorang boleh saja berlatih beladiri selama ia tidak menyalahgunakan kemampuannya sehingga menimbulkan penderitaan bagi mahluk lain. Ia harus tetap berpedoman pada pelaksanaan lima latihan kemoralan atau Pancasila Buddhis dalam kehidupan sehari-harinya*.

Biara Shaolin di Tiongkok sampai saat ini sangat terkenal dengan para ahli beladirinya. Namun, di samping itu, cukup banyak kisah indah yang menguraikan sedemikian besar peranan mereka dalam menolong mahluk yang menderita. Kisah-kisah ini membuktikan bahwa kemampuan beladiri yang tidak disalahgunakan dapat saja beriringan dengan latihan cinta kasih.

Salam metta, 
Bhikkhu Uttamo Mahathera

Sumber : http://www.samaggi-phala.or.id



Makna Dukkha Dalam Ajaran Buddha

MAKNA DUKKHA DALAM AJARAN BUDDHA
Upa. Amaro Tanhadi


Penggunaan kata "Dukkha" (bhs.Pali) memiliki pengertian filosofis yang mendalam dan meliputi seluruh fenomena yang berbentuk maupun tidak berbentuk, sehingga sulit sekali untuk ditemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.

Penggunaan kata "Dukkha" sering diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai "Penderitaan", hal ini sebenarnya kurang tepat dan hanya mewakili sebagian kecil dari keseluruhan makna "dukkha" yang terdapat dalam ajaran Buddha tentang Empat Kebenaran Mulia.

"Dukkha" mengandung makna yang sangat luas antara lain :

Ketidakpuasan, beban, tidak sempurna, tidak memuaskan, tidak kekal, tanpa inti, gangguan, kejengkelan, patah semangat, kekhawatiran, keputusasaan; ketakutan, kengerian, kesedihan, kecemasan; kerentanan, cidera, ketidakmampuan, rasa rendah diri; penyakit, penuaan, pelapukan tubuh dan indra-indra, kepikunan; rasa sakit/
kenikmatan; kegairahan/kebosanan; kekurangan/berlebih; hasrat/rasa frustasi, penindasan; rasa mendambakan/tanpa tujuan; harapan/tanpa harapan; usaha, kegiatan, perjuangan keras pengekangan; kehilangan, keinginan, ketidakcukupan/kekenyangan; cinta/keadaan tanpa cinta, keadaan tanpa kawan; ketidaksukaan, kebencian/ketertarikan; memiliki anak/tidak memiliki anak; ketundukan pemberontakan; kepastian/keraguan, kebimbangan, ketidakpastian. Dan sebagainya.

                              -oOo-

Ajaran Sang Buddha

AJARAN SANG BUDDHA 
(BUDDHA DHAMMA)
Upa. Amaro Tanhadi


Adalah suatu kesalahan untuk menyebut ajaran Sang Buddha sebagai suatu usaha untuk menjelaskan dunia secara lengkap ataupun sistem metafisika yang dibangun di atas logika. Karena sejak dari awal, pertengahan , hingga pada akhirnya, Sang Buddha hanya mengajarkan "Tentang penderitaan dan lenyapnya penderitaan".

Seperti halnya seseorang yang tidak memahami tentang kebencian, asal mula timbulnya kebencian, padamnya kebencian dan bagaimana cara memadamkan kebencian; maka orang itu tidak memiliki kesempatan untuk membebaskan dirinya dari kebencian, ia tidak akan dapat mewujudkan akhir dari kebencian itu. Mereka hanya berputar-putar dalam lingkaran kebencian, kemarahan.dan kekecewaan yang berulang-ulang.

Demikian pula, Seseorang yang tidak memahami tentang penderitaan, asal mula penderitaan, berakhirnya penderitaan dan bagaimana caranya untuk  mengakhiri penderitaan; maka ia tidak memiliki kesempatan untuk  membebaskan dirinya dari penderitaan, ia tidak akan dapat mewujudkan akhir dari penderitaan itu. Mereka  hanya berputar-putar dalam lingkaran kelahiran, penuaan dan kematian yang berulang-ulang.

                            -oOo-


Terlahir di Surga atau Neraka, siapa yang tahu?

TERLAHIR DI SURGA ATAU NERAKA, SIAPA YANG TAHU ?
Oleh : Upa. Amaro Tanhadi


Kebanyakan orang berpikir dan berpendapat bahwa kalau orang tuanya, saudaranya atau familinya ada yang meninggal dunia, pasti mereka perginya ke surga. Tidak ada yang mengatakan bahwa mereka pergi ke neraka. Walaupun perilaku perbuatan mereka semasa hidupnya luar biasa jeleknya. 

Jika semua keluarga-keluarga di dunia ini berpikir dan berpendapat demikian, maka dapat kita kalkulasikan bahwa di neraka pasti  kekurangan penduduk, para setan  jahat yang suka menggoda manusia itu populasinya terancam punah dan para hantu yang bergentayangan tidak ada lagi.

Disinilah dapat kita lihat bahwa pikiran ini terdelusi dan sering menciptakan khayalan atau tipuan-tipuan yang menyesatkan diri kita sendiri. Ini tak lepas dari peran kepercayaan atau keagamaan yang di anutnya dan peran pemimpin pemuka agamanya.

Tidak sedikit para pemuka agama yang mempunyai visi dan misi tertentu untuk keuntungan dirinya sendiri atau untuk kepentingan  kelompoknya dengan menghubung-hubungkan ayat-ayat suci tertentu untuk mempengaruhi pikiran para umatnya, bahkan kalau perlu dengan menjanjikan pahala di surga yang luar biasa indahnya jika umatnya bersedia melakukan sesuatu sesuai apa yang dikatakannya. Padahal dia sendiri belum tentu yakin dan mau melakukan hal tersebut. Munafik, mungkin itu istilah yang paling dekat dengan perilakunya tersebut.

Terlepas dari hal-hal yang bikin ruwet syaraf otak kita tersebut diatas. Hal yang terpenting dan sebaiknya untuk dilakukan adalah menghindari semua bentuk perbuatan amoral dan kejahatan. Memperbanyak berbuat kebajikan, dan senantiasa rajin membersihkan pikiran dari semua bentuk keserakahan, kebencian dan ketidaktahuan/berpandangan salah.

Dengan melakukan sesuatu yang selalu mengarah pada jalan menuju kebahagiaan di surga, maka dapatlah diharapkan suatu saat nanti kebahagiaan di surga itu bisa diperolehnya dengan sukses.

Kalau hanya harapannya saja yang melayang-layang terlampau tinggi (bahkan lewat jalan tol dan jalan pintas untuk dapat meraih kehidupan di surga), tapi perilaku pikiran, ucapan dan tindakan jasmaninya mengarah ke jalan neraka, maka neraka pulalah yang akan diperolehnya.

Semoga bermanfaat. 

Semoga kedamaian dan kesejahteraan ada pada Anda. Semoga kita semuanya berbahagia.

                               -oOo-


Rabu, Maret 27, 2019

Keimanan yang Rapuh


  

KEIMANAN YANG RAPUH
Upa. Amaro Tanhadi

Semua orang yang beragama menginginkan kehidupan di surga, namun sangat sedikit orang yang berjalan ke arah sana.

Bahkan, banyak umat penganut agama tertentu, ketika ia disuruh untuk pergi duluan ke surga, Ia malah berdoa dan memohon kepada Tuhannya, agar kepergiannya di tunda saja.

Lalu, apa sebenarnya yang membuat ia bimbang dan ragu? Bukankah ia telah mengamini dan mengimani apa yang tertulis dalam kitab suci agamanya bahwa bagi siapapun yang menjadi pengikut agamanya, dijamin sepenuhnya dan tanpa syarat yang rumit, pasti akan mendapatkan tempat di surga?

Sedangkan untuk pengikut agama lainnya, walaupun telah sangat banyak melakukan kebaikan dan kebajikan di dunia, pintu surga telah tertutup rapat-rapat baginya.

Berarti sejak awal, surga telah dipersiapkan oleh Tuhan untuk agama tertentu saja; benarkah demikian?

Jawabnya adalah : Mari kita bertanya pada para kuntilanak, para makhluk halus penunggu pohon beringin dan rumah yang angker, apakah agama yang dianutnya sebelum dia menjadi hantu?

Semoga bermanfaat sebagai perenungan bersama.