Minggu, Januari 23, 2011

Bapak Gubernur menikmati waktu yang senggang

(3) Bapak Gubernur menikmati waktu yang senggang
(Cerita dari Tiongkok)

Suatu hari seorang gubernur dari sebuah provinsi di Tiongkok mengunjungi sebuah kelenteng dan bercakap cakap dengan kepala hwesio dari kelenteng itu. Kepala hwesio (monk) yang telah diberitahu sebelumnya, mempersiapkan untuk menerima tamu agung yang akan datang, menurut norma norma pada waktu itu. Sesudah bercakap cakap beberapa lamanya, minum dan makan kecil, gubernur itu sebelum meninggalkan kelenteng, mensitir sebuah syair pada jaman Tang dinasti yang isinya kira kira sebagai berikut:

Berjalan melalui kelenteng yang indah ini
aku mampir untuk berbicara dengan bapak hwesio
Diluar kesibukan hidup sehari hari
Waktu yang senggang dan santai ini
aku sangat menikmatinya.

Sesudah mendengar syair ini bapak hwesio tersenyum. Bapak gubernur mengira bahwa syairnya baik dan enak didengar lalu bertanya padanya:”mengapa bapak senyum?”

Pak hwesio menjawabnya:”Bapak gubernur menikmati waktu yang senggang ini, tetapi bapak gubernur tidak tahu bahwa aku telah repot beberapa hari untuk mempersiapkannya!”

oooOOooo

Tombak dan Perisai

(2) Tombak dan Perisai (Tameng) yang luar biasa
(Cerita dari Tiongkok)



Dahulu di negara Chu, pada periode The Warring States (Peperangan antar Negara) ada seorang yang menjual tombak dan perisai. Dia pergi ke sebuah lapangan untuk menjual barang dagangannya. Disini dia main tambur dan mengangkat serta memainkan silat dengan barang dagangannya. Sesudah banyak orang yang berdatangan dia berkata dengan congkaknya ?perisai yang kubuat sangat kuat, tiada satu yang dapat menebusnya. Tombak yang kubuat begitu tajamnya tiada satu yang tidak dapat ditembusnya.?


Ada seorang yeng kelihatannya lemah, tetapi matanya cerah bertanya pada penjual:

“Bapak, apakah yang terjadi apabila satu dari tombakmu memukul satu dari tamengmu ?


Penjual itu tertawa karena tidak dapat menjawabnya !


oooOOooo



MENCURIGAI SESEORANG

(1) Mencurigai seseorang dan efek psykologis 
(Cerita dari Tiongkok)

Pada suatu hari, ada seorang laki-laki hendak mengerjakan tanahnya, tetapi ia tidak dapat menemukan kapaknya, kemudian dia mulai mencari-cari hingga beberapa lama, tetapi ia tidak dapat menemukannya juga. 


Dia mencurigai bahwa kapaknya itu telah di curi oleh anak tetangganya, sehingga bila dia melihat anak lelaki itu, baik cara bicaranya, cara jalannya dan ekspresi mukanya menyerupai seorang pencuri. Pokoknya semua tingkah-lakunya memperlihatkan benar-benar dia itu adalah seorang pencuri. 'Tidak salah lagi, dia pastilah yang mencuri kapakku !'.


Beberapa waktu kemudian, pada saat dia akan menggali tanahnya lagi, ia menemukan kapaknya kembali. Sesudah itu pandangannya tanpa terasa berubah. Bila dia melihat anak tetangganya tidak lagi menyerupai sorang pencuri. Tingkah lakunya menunjukkan seorang anak yang baik.



oooOOooo 

SEJARAH PERAYAAN CAP GO ME

SEJARAH PERAYAAN CAP GO ME
by : NN 

Perayaan  Yuan Xiao Jie atau di Indonesia terkenal dengan sebutan Perayaan Cap Go Me, diperingati pada tanggal 15 bulan 1 Imlek merupakan penutup dalam rangkaian perayaan menyambut Tahun Baru Imlek.. Cap Go Me berasal dari bahasa Mandarin dialek Hok Kian. Mandarin :  Shi Wu Wan, Hok Kian : Cap Go Me, yang berarti malam hari pada tanggal 15 bulan 1 Imlek. Di Tiongkok perayaan ini dikenal dengan nama Yuan Xiao Jie. Di Malaysia dan sekitarnya menyebut Cap Go Me sebagai Hari Kasih Sayang China atau Valentine China.

Cara merayakan Cap Go Me ini berbeda di setiap negara. Di Malaysia: Perempuan yang belum menikah melemparkan jeruk di pinggir kali memohon agar cepat dapat jodoh. Jika laki-laki yang belum mendapat jodoh melemparkan apel ke pinggir kali. Kebiasaan ini tampaknya tidak ada di negara kita. Namun perayaan Cap Go Me dirayakan dengan sangat meriah di beberapa daerah di Indonesia. Salah satu perayaan yang sangat meriah dilangsungkan di Singkawang, Kalimantan Barat, di mana event Cap Go Me ini sudah masuk dalam kalender rutin kegiatan daerah. Selain diramaikan oleh atraksi Liong, Barongsai, dan Gotong Toa Pe Kong, perhelatan juga diisi oleh para tatung yang mempertontonkan kekuatan tubuhnya terhadap berbagai senjata tajam. Benar-benar meriah dan ramai. Ini merupakan salah satu keunikan yang ada di negara kita, dan memperkaya keanekaragaman budaya di Indonesia.

Di Negara asalnya Tiongkok, perayaan Cap Go Me terkenal dengan sebutan Yuan Xiao Jie {Hok Kian : Gwan Siao}Perayaan ini pernah dilakukan secara besar-besaran di masa Dinasti Tong [618 – 907 M] saat pemerintahan Kaisar Tong Jwee Cong (710 – 712 M). Kaisar ketika itu membuat ratusan pohon tinggi untuk dipasangi 50.000 buah lilin. Pohon ini belakangan dikenal dengan sebutan Go San. Pada setiap perayaan Cap Go Me, Kaisar selalu mempersilahkan masyarakat ke istana sambil membawa lampion. Ini sulit terjadi jika bukan karena perayaan Cap Go Me. Rakyat berbondong-bondong masuk ke istana untuk minta berkah keselamatan dan panjang umur.

 Dalam Taoisme perayaan Cap Go Me ini disebut Shang Yuan  untuk memperingati Se Jit (hari lahir) salah satu dari Maha Dewa  San Guan Da Di {Hok Kian = Sam Kwan Tay Te} yaitu Tian Guan. Pada hari ini mereka mengharap berkah dari Tian Guan (Shang Yuan Tian Guan Ci Fu). Sebutan untuk Maha Dewa  San Guan Da Di {Sam Kwan Tay Te} ada bermacam-macam :

Pertama, sebutan  San Yuan {Hok Kian = Sam Gwan}. Sebutan ini menunjukkan waktu tiga Kaisar Kuno turun ke dunia, yaitu :

Cia Gwe Cap Go (tgl 15 bulan 1 Imlek) = Shang Yuan {Hok Kian = Siang Gwan}
Cit Gwe Cap Go (tgl 15 bulan 7 Imlek) = Zhong Yuan {Hok Kian = Tiong Gwan}
Cap Gwe Cap Go (tgl 15 bulan 10 Imlek) = Xia Yuan {Hok Kian = He Gwan}

Kedua, adalah  San Yuan Gong {Sam Gwan Kong}. Ini adalah sebutan penuh penghormatan kepada 3 orang Kaisar Kuno yang terkenal yaitu : Kaisar Yao {Hok Kian =Giauw}, Kaisar  Shun {Sun}, dan Kaisar  Yu {Ie}.

Kaisar Yao [ 2357 SM – 2258 SM ] adalah seorang Kaisar yang terkenal karena kesederhanaannya & amat memperhatikan kepentingan rakyat. Konon tempat tinggal beliau bukanlah sebuah istana yang gemerlapan seperti umumnya seorang raja, tetapi beliau lebih menyukai tinggal di sebuah rumah sederhana yang beratap rumbia & tiangnya terdiri dari kayu hutan biasa, tanpa dicat. Makannya adalah beras kasar dengan sayur-sayuran sederhana dan minumnya hanyalah dari sumber air di gunung. Pakaian yang dikenakannya hanya terdiri dari kain kasar, bila cuaca dingin ditambah dengan mantel dari kulit rusa.

Jika rakyatnya ada yang tertimpa kelaparan, Kaisar Yao berkata : “Akulah yang menyebabkan kalian lapar”. Bila ada rakyatnya yang kedinginan karena tidak memiliki pakaian cukup, Kaisar Yao akan berkata : “Akulah yang menyebabkan kalian tidak dapat berpakaian cukup”, dan bila di dalam negerinya ada seorang yang berbuat kesalahan, Kaisar Yao akan berkata : “Akulah yang menyebabkan kalian sampai terjerumus ke dalam lembah kejahatan”. Demikian bajiknya Kaisar Yao, sampai semua kesalahan dan  kesengsaraan rakyat dianggap adalah tanggung jawabnya sendiri.

 Oleh karena itulah pada masa pemerintahannya yang hampir 100 (seratus) tahun lamanya ini, walaupun ada bencana kekeringan yang hebat dan banjir yang dahsyat, rakyat tidak pernah menggerutu dan tetap mencintainya. Karena kebajikannya inilah, konon dalam istananya yaitu rumah sederhana yang beratap rumbia, sering muncul gejala alam yang merupakan pertanda baik, seperti munculnya Burung Hong yang bertengger di atap, rumput yang disediakan untuk kuda mendadak berubah menjadi padi, dan lain-lain.

Selain dirinya adalah seorang Kaisar yang bijaksana, Kaisar Yao juga dibantu oleh sejumlah menteri yang benar-benar cakap. Salah satunya ada seorang menteri yang pandai yaitu Shun, yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan. Ketika mengundurkan diri dari tahta, Kaisar Yao memilih Shun sebagai penggantinya. Kaisar Yao tidak mewariskan kedudukannya kepada putranya, karena sang putra dianggap tidak mampu.

Tak lama setelah melahirkan Shun, ibu Shun meninggal dunia. Lalu ayah Shun menikah lagi. Istri baru ini melahirkan Xiang, adik tiri Shun. Ayah Shun amat sayang kepada istri kedua dan anaknya, Xiang, tapi Shun ditelantarkan dan dibiarkan mengerjakan pekerjaan yang berat. Ibu tirinya seringkali memukul Shun, bahkan sering berusaha menganiaya Shun sampai mati, tapi Shun tetap taat dan berbakti kepada kedua orangtuanya.

Akhirnya karena deritanya sudah tak tertahankan, Shun melarikan diri dari rumahnya & tinggal di sebuah gubuk reyot di kaki gunung Li Shan. Di sana ia seorang diri bercocok tanam. Karena pribadinya yang baik dan rajin ini, seekor gajah putih & burung-burung pun datang membantu.

Shun seringkali mengajar para petani sekitar tempat itu bagaimana cara bercocok tanam, menangkap ikan, dan membuat perabot rumah tangga dari tanah liat, sehingga mereka amat mencintai Shun. Kemudian para petani dan perajin tanah liat dari tempat lain datang dan bertempat tinggal di situ. Maka lama kelamaan tempat itu berubah menjadi sebuah desa kecil yang ramai. Setahun kemudian desa kecil tersebut berubah menjadi sebuah kota kecil, dan 3 tahun kemudian berkembang menjadi sebuah kabupaten.

Pada saat itu Kaisar Yao sedang mencari orang yang bijaksana untuk menjadi pembantunya. Karena tertarik oleh kepribadian Shun, maka Kaisar Yao mengangkat Shun menjadi menantunya. Walaupun telah menjadi menantu Raja, Shun tidak melupakan ayahanda dan ibu tirinya. Shun tidak mendendam kepada mereka, walaupun dulu mereka memperlakukan Shun amat keterlaluan. Bakti Shun terhadap orangtua tetap tidak berubah, meskipun sekarang ia hidup berkecukupan.

Karena iri hati melihat kehidupan Shun, adik tiri dan ibu tirinya berkali-kali berusaha membunuh Shun, tetapi usaha mereka gagal. Tiap kali pula Shun memaafkan mereka, dan sama sekali tidak menaruh dendam. Karena pribadi yang luhur inilah akhirnya Kaisar Yao mewariskan tahtanya dan mengangkat Shun sebagai Kaisar yang baru. Setelah naik tahtapun, Kaisar Shun tidak lupa mengunjungi kedua orangtuanya seperti sedia kala.

Pada masa pemerintahan Kaisar Shun ( 2225 SM – 2208 SM ), beliau bekerja keras untuk menyejahterakan rakyatnya. Kaisar Shun amat mencintai kesenian. Beliau banyak menciptakan alat musik, a.l. : Sheng (alat musik Tionghoa yang terdiri dari 13 batang pipa bambu yang panjang dan pendeknya tidak sama), kecapi yang mempunyai 23 senar, dan alat musik halus lainnya. Musik gubahannya disebut Xiao Shao. Konon jika konser Xiao Shao ini dimainkan, mendengar suara merdu ini sampai-sampai burung Feng Huang {Hong Hong} datang di atasnya & menari-nari.

Pada waktu Nabi Khong Hu Cu mendengar musik ini, tiada henti-hentinya memuji dan berkata bahwa gubahan irama Xiao Shao amat indah dan arif. Jika dibandingkan dengan irama Wu (gubahan Zhou Wu Wang dari Dinasti Zhou), walaupun indah tetapi masih kurang arif. Xiao Shao lebih membuat orang terharu. Jika dalam keadaan sendiri, Kaisar Shun gemar memetik kecapi bersenar 5, sambil mendendangkan lagu gubahannya yang disebut Nan Feng (Angin Selatan).

Pada masa pemerintahan Kaisar Shun terjadi bencana banjir yang dahsyat. Banyak rakyat yang tewas dan kehilangan tempat tinggal. Kaisar Shun amat sedih memikirkan penderitaan rakyatnya.

Akhirnya muncullah Yu, seorang gagah berani yang berhasil menanggulangi banjir besar itu. Kaisar Shun sangat kagum akan kemampuan Yu mengorganisir pekerjaan raksasa itu. Yu berada pada posisi terdepan dalam memimpin rakyat 9 propinsi yang terkena musibah. Dengan membawa sekop berujung garpu ia menerjang badai dan hujan, dengan gagah berani ia membuat saluran dan mengeruk dasar sungai, sampai akhirnya banjir itu surut. Selama 13 (tiga belas) tahun ia berjuang keras mengatasi banjir, 3 X ia melewati depan rumahnya tanpa mampir ataupun menengok, karena khawatir menelantarkan tugasnya.

Atas pengorbanan Yu yang besar kepada rakyat ini, Kaisar Shun lalu mewariskan tahta kepadanya. Yu adalah lambang kebijaksanaan dan pengorbanan tanpa mengingat kepentingan pribadi.

Kaisar Yu memerintah tahun 2205 SM – 2198 SM. Kaisar Yu mendirikan Dinasti Xia, yang merupakan Dinasti pertama di Tiongkok.

Kaisar Yao, Shun dan Yu ini menjadi contoh ideal Kong Zi {Khong Hu Cu}, Meng Zi {Beng Cu}, dan para ahli filsafat lainnya dalam mengajar kepada murid-muridnya, dan juga sering digunakan oleh para ahli filsafat tersebut untuk memberi teladan bagi kaisar-kaisar yang bertahta kemudian.

Oleh rakyat, Kaisar Yao, Shun dan Yu dipuja sebagai Tian Guan, Ti Guan dan Shui Guan. Mereka bertiga disebut San Yuan Gong dan kelentengnya banyak tersebar di mana-mana. Mereka dipuja sebagai Dewa yang mengawasi perbuatan baik buruk manusia dan Dewa pelindung kehidupan.

Ketiga, sebutan  San Guan {Hok Kian = Sam Kwan}. Sebutan ini ditinjau dari pangkatnya, yaitu: Tian Guan, Di Guan, Shui Guan, yang merupakan pemberi berkah, pengampunan dosa dan pelindung dari bencana & malapetaka.

Keempat, terkenal dengan sebutan  San Goan Da Di {Hok Kian = Sam Kwan Tai Te}. Gelar ini diberikan oleh Maha Dewa  Yuan Shi Tian Zun.

Tian Guan diberi gelar Zi Wei Da Di {Hok Kian = Ci Wi Tai Te}.
Di Guan diberi gelar Qing Xu Da Di {Hok Kian = Ching Hi Tai Te}
Shui Guan diberi gelar Dong Xu Da Di {Hok Kian = Thong Hi Tai Te}
Ketiga Da Di ini secara bersama-sama disebut San Guan Da Di.

Arca-arca San Guan Da Di banyak terdapat di dalam kelenteng, baik di daratan Tiongkok, Hongkong maupun negara-negara di kawasan Asia. Di Taiwan terutama di Tai Nan ada 3 kelenteng yang khusus menghormati San Guan Da Di, yaitu San Guan Tang, San Jie Tang dan San Guan Da Di Miao. Di Jawa penghormatan kepada San Guan Da Di, selain di kelenteng Kim Tek Ie, Jakarta juga terdapat di kelenteng Tiauw Kak Si, Cirebon, & kelenteng Tay Kak Si, Semarang.

—oooOOOooo—


Ceng Beng

CENG BENG/ JING MING
Bersih dan Terang
Oleh : Upa. Suryo Hariono

Menghormat yang patut dihormat Adalah berkah Utama
- Mangala Sutta

Tanggal 5 April atau 4 April (kabisat) setiap tahunnya secara tradisi Tionghoa kita peringati sebagai hari Ceng Beng/Jing Ming. Saat itu dimulai sejak 15 hari sebelum hari-H, berbondong-bondonglah orang-orang baik secara pribadi maupun rombongan berziarah ke makam keluarga dan leluhurnya.

CENG BENG/JING MING
SEBAGAI SALAH SATU BUDAYA TRADISI PENTING

Bangsa Tionghoa memiliki beberapa keunikan dan kekhasan yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat masa kini. Apa saja keunikannya? Mari kita simak satu persatu.

Perhitungan tanggal

Uniknya adalah walaupun ini termasuk Chinese Festival namun perhitungannya malah menggunakan kalender masehi/yanglek, tidak memakai perhitungan Lunar/Imlek. Sedangkan selain ceng beng dalam kalender Imlek masih ada satu lagi festival yang juga menggunakan tarikh masehi, yakni sembahyang ronde (Tang Cik) yang diadakan secara rutin di tanggal 22 atau 23 Desember (kabisat) tiap tahunnya. Pada hari itu posisi bumi terhadap matahari & bulan pas berada dalam satu garis orbit yang sama. Ini menunjukkan fleksibilitas dan sikap adaptif atas penggunaan teknologi astronomi dengan memadukan perhitungan tarikh masehi dengan tarikh komariah. Maka kalender Imlek menjadi satu-satunya kalender yang memadupadankan antara solar system dengan lunar system dalam perhitungannya (imyanglek)

Aktivitas ritual & spiritualitas

Bisa dikatakan peristiwa Ceng Beng mirip dengan peristiwa megengan (ziarah kubur dalam masa sebulan sebelum puasa Ramadhan dalam tradisi muslim Jawa) atau tradisi Nyadran bagi masyarakat Jawa Tengah. Sesungguhnya kalau kita renungkan secara mendalam tradisi Ceng Beng mempunyai makna khusus sebagai Hari Pahlawan. Karena pada saat itulah kita semua pada umumnya mengenang jasa para leluhur atau keluarga kita yang telah tiada yang berjasa atas hidup dan kehidupan kita. Selain bersih-bersih makam , dalam pelaksanaan Ceng Beng selalu ada doa dan pengharapan. Berdoa semoga mendiang berbahagia dan berharap agar anak turunannya hidup berbahagia. Dan pada kenyataannya Ceng Beng dirayakan oleh semua suku Tionghoa dengan latar belakang agama yang beragam. Ini menunjukkan jangkauannya secara universal yang berdimensi spiritual tanpa sekat dan batasan keyakinan dan kepercayaan tertentu.

Simbolisasi ceng beng

Kalau tadi dikatakan perayaan ini menjadi budaya suku Tionghoa apapun agama dan kepercayaannya, maka Ceng Beng juga sarat dengan makna yang mendalam.

Pertama: perayaan ini dilakukan beberapa saat setelah perayaan Imlek dan Cap Go Me. Hal ini seperti memberikan kesempatan ketiga bagi sebuah keluarga untuk berkumpul dengan keluarga besarnya, kalau misalnya tidak bisa berkumpul saat Imlek dan Cap Go Me, maka masih ada kesempatan dalam acara Ceng Beng. Coba saja kita cermati bentuk makam (bong) yang rata-rata melebihi rumah tipe 21 yang dibangun dengan kokoh, agung dan teduh, dan ternyata bisa digunakan sebagai sarana reuni keluarga, bisa kumpul-kumpul secara bersama dan bahagia.

Adalah hal yang jamak rata-rata mereka yang berziarah ke makam biasanya membuat janji ketemuan dengan keluarga yang lain untuk berkumpul di makam pada hari dan jam tertentu di masa Ceng Beng dan ini disebut sebagai Cengbengan (istilah khusus di kota Surabaya dan sekitarnya).

Kedua: mempunyai nilai memorabilia. Lihat saja di papan nisan yang ada di atas makam (bong) pasti di sana tertulis nama mendiang beserta silsilahnya keturunannya, siapa memperanakkan siapa.

Tradisi penulisan ini dikuatkan oleh kejadian yang pernah dialami oleh salah seorang Kaisar Tiongkok kuno ribuan tahun lalu yang kesulitan menemukan makam kedua orang tuanya. Diriwayatkan, Kaisar ini dulunya adalah orang miskin dari desa dan memiliki makam kedua orang tuanya tanpa diberi nisan atau sejenisnya karena ketidakmampuannya.

Singkat cerita dengan berlalunya waktu si Miskin ini setelah berjuang sekian lama berhasil menjadi kaisar. Nah, pada suatu ketika beliau ingin berziarah ke makam orang tuanya di desa asalnya, tapi makam tersebut tidak berhasil diketemukan. Maka atas nasihat Sang Perdana Menteri seluruh penduduk desa diminta untuk bersih-  bersih makam dan menandai makam keluarga mereka dengan kertas warna- warni. Setelah proses itu selesai, semua makam menjadi bersih dan terang, maka didapatilah ada sebuah makam yang tidak ada pemiliknya sehingga makam itulah yang akhirnya diyakini sebagai makam orang tua Sang Kaisar.

Itulah kenapa sampai saat ini kalau kita selesai Cengbengan maka di makam keluarga/leluhur kita ditaburi kertas warna-warni. Di sini fungsi makam seperti monumen kepahlawanan bagi generasi penerusnya dan keluarganya.

Ketiga : penuh dengan sesajian. Salah satunya Samseng atau tiga jenis hewan yang disajikan. Ketiga jenis hewan itu antara lain Babi, Ayam dan Ikan.

Sajian Babi bermakna hendaknya anak keturunannya beranak-pinak sebanyak-banyaknya dan subur seperti kemampuan beranak-pinak si Babi. Tapi bukan berharap anak turunannya seperti Babi. Ini adalah 2 hal yang berbeda tentunya.

Sajian Ayam bermaksud agar keturunannya pandai dan pintar mencari nafkah.

Sajian Ikan bermakna semoga keluarganya mempunyai rejeki yang banyak dan melimpah ruah, sebanyak duri ikan.

Tentunya.sekarang, setelah kita semua cukup tahu tentang makna ceng-beng/jing ming, bagaimana menyikapi ceng-beng/jing ming dalam perspektif Buddhis?

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Buddhisme/ Buddha-Dhamma/Agama Buddha mempunyai 2 (dua) sisi yang saling menunjang. Yaitu sisi Ajaran (Dhamma) dan sisi Tradisi/ kebudayaan. Dan kedua sisi ini seperti sepasang rel kereta api yang selalu seiring sejalan tapi tidak pernah menyatu sampai kereta api tersebut tiba di tujuan.

Artinya nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya yang sejalan dengan Dhamma dapatlah kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dan sebaliknya nilai-nilai yang tidak sesuai dengan Dhamma tidaklah kita pakai.

Nilai-nilai luhur yang dapat kita resapi tersebut adalah katanu-katavedi dan pubbakari. Rasa tahu berterima kasih atas jasa baik yang telah dilakukan oleh mereka yang telah meletakkan jasa di awal kehidupan ini. Ya, tentu saja orang tua kita itulah sebagai pubbakari dan kitalah sebagai makhluk yang ber-katanu-katavedi. Artinya sebagai seorang anak kita memiliki kewajiban kepada orang tua sebagai pembuat jasa dan budi baik yang tak terbalas. Kita berkewajiban merawat beliau, menyokong kehidupannya, membantunya, meneruskan dan menjaga warisan beserta nama baik keluarga serta pattidana melakukan atas nama mendiang ketika beliau telah wafat. Inilah salah satu Ceng Beng kaitan makna dengan kewajiban seorang anak kepada orang tuanya dalam Sigalovada Sutta .

Berikutnya, kalau kita mau jeli dan teliti dengan melihat bentuk fisik makam (bong) yang tentunya berisi peti mati (siupan) dengan segala keagungannya dan keunikannya maka tentunya timbul pertanyaan kenapa bisa begitu ya? Betul atau benar?

Kalau kita pernah mendengar bahwa, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa para pahlawannya”, maka bentuk siupan dan bong itulah salah satu bentuk penghormatan secara fisik kepada pahlawan keluarga, yaitu kedua orang tua kita setelah beliau tiada tentunya. Bentuk siupan sebenarnya adalah replika/duplikasi dari bentuk bunga teratai, dengan ukiran/pahatan bunga teratai besar di depan dan belakang peti mati.

Inilah bukti pengaruh seni budaya Buddhis tradisi Tiongkok (Mahayana) yang meyakini bahwa kelak saat kematian tiba mendiang bisa terlahir di alam bahagia (sukhavati) yang dipenuhi dengan teratai tempat Sang Buddha Amitabha bersemayam. Dan jauh sebelumnya siupan sesungguhnya adalah kado ulang tahun terindah seorang anak berbakti kepada orang tuanya. Tetapi tentu saja untuk saat ini hal itu akan diartikan lain oleh orang jaman sekarang. Jadi sebaiknya jangan coba-coba lah.

Sedangkan bentuk fisik dan letak bong seolah-olah menggambarkan status sosial seseorang. Buktinya ada bong yang super mewah, ada yang sederhana bahkan ada yang tidak ada apa-apanya. Memang bong membangun membutuhkan banyak biaya. Jer Basuki Mawa Bea, bahwa segala sesuatu itu ada biayanya, begitu kata orang. Maka bisa digeneralisir pastilah bong untuk membangun dan merawat dibutuhkan suatu kekuatan sumber daya finansial yang mumpuni. Pendek kata kaya dan sukses.

Untuk itu bagaimana bisa berhasil dalam penghidupan, bisa kaya dan sukses? Tentu saja usaha, usaha dan usaha. Berusaha inilah yang menjadi tema sentral tulisan ini.

Berusaha dan bekerja dalam perspektif Buddhis minimal memiliki unsur sebagai berikut.:

1. Chanda (suka cita)
Marilah bekerja dengan suka-cita, dengan riang gembira tanpa mengenal lelah. Tentu saja ada perbedaan makna kalau kita bekerja dengan susah hati atau terpaksa dibandingkan dengan bekerja dengan riang gembira.

2. Viriya (semangat)
Kalau kita sudah bekerja dengan suka cita otomatis kita bisa bekerja dengan  semangat. seperti api nan tak kunjung padam.

3. Citta (perhatian)
The power of focusing, bekerjalah dengan fokus dan optimal. Selain melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan, juga carilah yang terbaik dari diri kita untuk dikembangkan. Sejujurnya kita menyadari sesungguhnya kelemahan kita adalah kekuatan untuk ditingkatkan dan sebaliknya kekuatan kita adalah kelemahan kita yang harus diwaspadai.

4. Vimangsa (evaluasi)
Evaluasi menjadi faktor kunci untuk keberhasilan. Apa-apa yang sudah kita raih hendaknya senantiasa kita evaluasi baik hasil maupun prosesnya. Bisa jadi kita mampu memperoleh hasil yang lebih dan lebih kalau kita tahu cara dan prosesnya.

Keempat faktor di atas tersebut akan lebih menjadi bermakna kalau kita wujudkan melalui pengendalian diri (samvara) dalam keseharian kita. Kenapa demikian? Karena dengan samvara maka dalam diri kita akan muncul rasa malu berbuat jahat (Hiri ) dan takut akan akibat perbuatan jahat ( ottapa hiri ottapa ). Dan menjadi rem yang pakem sehingga kita akan fokus terhadap sumber mata pencaharian yang benar dan pantas menurut Dhamma. Maka dengan samvara kita mampu mengoptimalkan chanda, viriya, citta, dan vimangsa dalam diri kita. Dan samvara sendiri menjadi mumpuni kalau disertai dengan samadhi.

Sebagai penutup, mari kita hadirkan makna ceng beng/jing ming, bersih dan terang dalam kehidupan, karena bersih dan terang bukan semata-mata milik orang yang sudah mati, yang ada di kuburan (bong). Mari kita bersihkan batin kita dari ketamakan (Sifat Ayam), kebencian (sifat Ikan/Ular) dan Kebodohan (sifat Babi) sehingga hidup kita menjadi terang benderang, padang mbranang. Semoga kita mampu memiliki wajah semanis wajah Buddha dan hati setenang hati Buddha. Anda mau? Sama, saya juga mau.

Akhir kata, Kesempurnaan adalah milik Dhamma, sedangkan saya adalah contoh sempurna dari ketidaksempurnaan itu sendiri. Semoga jasa kebajikan ini melimpah pada sanak keluarga yang telah meninggal ,Semoga mereka berbahagia, Semoga semua makhluk hidup bahagia.


oooOOoop

MENGHORMATI SANG BUDDHA

MENGHORMATI SANG BUDDHA


Ketika Buddha menyatakan bahwa Ia akan Parinibbana dalam empat bulan, maka banyak Bhikkhu puthujjana yang kuatir dan tidak tahu apa harus berbuat apa; maka mereka berusaha terus berada di dekat Buddha. Namun, Bhikkhu Attadattha, malahan memilih latihan keras dan berusaha mencapai Arahatta sewaktu Buddha masih hidup.

Beberapa bhikkhu tidak mengerti maksudnya dan membawanya kepada Buddha, lalu berkata, "Yang Mulia, bhikkhu ini sepertinya tidak mengasihi dan menghormatimu sebagaimana kami; ia hanya peduli dengan dirinya sendiri."

Kemudian Attadattha menjelaskan bahwa ia berusaha dengan tekun agar mencapai Arahatta sebelum Buddha Parinibbana dan itulah sebabnya ia mengasingkan diri dan belum datang menemui Buddha.

Kemudian Buddha berkata kepada para bhikkhu tersebut,
"Para Bhikkhu, mereka yang mengasihi dan menghormatiku, harus bersikap seperti Attadattha. Kalian tidak menghormatiku dengan hanya mempersembahkan bunga, wangi-wangian dan dupa, juga dengan mengunjungiku; kalian menghormatiku hanya dengan mempraktekkan dhamma yang telah kuajarkan pada kalian."

Kemudian Buddha mengucapkan syair:

"Demi kepentingan orang lain, betapapun besarnya itu,
jangan sampai orang mengabaikan kepentingan moralnya sendiri.
Mengetahui dengan jelas kebaikan sendiri,
seseorang harus mengerahkan segala usaha untuk mencapainya"
(Dhammapada Atthakatha (166), XII Atta-Vagga, 10. )



BAKTI ANAK KEPADA ORANG TUA

BAKTI ANAK KEPADA ORANG TUA

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Kala itu, Sang Bhagavā tengah berdiam di dekat Rājagaha di Vihāra Veḷuvana, di cagar alam tempat memberi makan tupai hitam (Kalandakanivāpa). Setelah Sang Bhagavā bangun pada fajar hari, Ia membawa mangkuk dana dan jubah luar-Nya, lalu menuju ke Rājagaha untuk menerima dana. Dalam perjalanan tampak oleh-Nya Siṅgālaka tengah memberi sembah hormat ke pelbagai arah. Beliau bertanya, ”Perumah Tangga Muda, mengapa setelah bangun pagi-pagi dan keluar dari kota Rājagaha dengan pakaian dan rambut basah, engkau menyembah ke enam penjuru?”

”Bhante, sebelum meninggal, ayah menasehati saya untuk melakukan hal ini. Bhante, karena rasa hormat saya terhadap kata-kata ayah, yang sungguh saya puja, saya hormati, dan saya anggap sakral, saya bangun pagi-pagi untuk menyembah ke enam penjuru.”

Sang Bhagavā berkata, ”Perumah Tangga Muda, siswa suci meninggalkan keempat perbuatan kotor; ia menjauhkan diri terhadap keempat penyebab perbuatan buruk dan tidak menjalani keenam penyebab lenyapnya kekayaan. Demikianlah, dengan menghindari keempat belas hal buruk ini, siswa suci melingkupi enam penjuru; dengan latihan seperti ini, ia menjadi penakluk kedua dunia dan ia akan hidup dengan baik dalam dunia ini dan dunia berikutnya. Dan saat tubuhnya terurai setelah mati, ia akan pergi ke tempat yang baik, dunia surgawi.”

Lebih lanjut dijelaskan tentang sahabat sejati yang patut diajak bergaul, sahabat palsu yang harus diwaspadai, dan makna yang terkandung dalam pemujaan enam penjuru. Dimulai dari makna memuja arah timur sebagai lambang penghormatan terhadap orangtua. (Sigalovāda Sutta).

Setiap anak pasti lahir dari orangtuanya dan tidak akan pernah terbalik anak melahirkan orangtua. Jadi, setiap anak mempunyai kewajiban untuk menghormati orangtua. Dalam sutta yang sama, Sang Bhagavā bersabda bagaimana hendaknya orangtua membimbing anak-anaknya dan bagaimana seorang anak menghormati orangtuanya. 

Dalam Aṅguttara Nikāya, Buddha menegaskan, ”Para bhikkhu, keluarga berdiam dengan brahma, bila di rumah mereka, orangtua dihormati oleh anak-anaknya. Keluarga itu berdiam dengan guru-guru awal, bila di rumah mereka, orangtua dihormati oleh anak-anaknya. Keluarga itu berdiam dengan dewa-dewa awal, bila di rumah mereka orangtua, dihormati oleh anak-anaknya. Keluarga itu berdiam dengan mereka yang pantas dipuja, bila di rumah mereka orangtua, dihormati oleh anak-anaknya.

Para bhikkhu, ”brahmā” adalah istilah untuk ayah dan ibu. ”Guru-guru awal” adalah istilah untuk ayah dan ibu. ”Dewa-dewa awal adalah istilah untuk ayah dan ibu. ”Mereka yang pantas dipuja” adalah istilah untuk ayah dan ibu. Mengapa? Orangtua amat banyak membantu anak-anaknya, mereka membesarkan anak-anaknya, memberi makan dan menunjukkan dunia kepada anak-anaknya. (Petikan Aṅguttara Nikāya, kelompok IV)

Mungkinkah budi jasa ayah bunda dapat dibalas? Sang Buddha bersabda, ”Kunyatakan O para bhikkhu, ada dua orang yang tidak pernah dapat dibalas budinya oleh seseorang. Siapakah yang dua itu? Ibu dan Ayah. Bahkan seandainya saja seseorang memikul ibunya ke mana-mana di satu bahunya dan memikul ayahnya di bahu yang lain, dan ketika melakukan ini dia hidup seratus tahun, mencapai usia seratus tahun; dan seandainya saja dia melayani ibu dan ayahnya dengan meminyaki mereka, memijit, memandikan, dan menggosok kaki tangan mereka, serta membersihkan kotoran mereka di sana -bahkan perbuatan itu pun belum cukup, dia belum dapat membalas budi ibu dan ayahnya. Bahkan seandainya saja dia mengangkat orangtuanya sebagai raja dan penguasa besar di bumi ini, yang sangat kaya dalam tujuh macam harta, dia belum berbuat cukup untuk mereka, dia belum dapat membalas budi mereka. Apakah alasan untuk hal ini? Orangtua berbuat banyak untuk anaknya: mereka membesarkannya, memberi makan dan membimbingnya melalui dunia ini.

Tetapi, O para bhikkhu, seseorang yang mendorong orangtuanya yang tadinya tidak percaya, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam keyakinan; yang mendorong orangtuanya yang tadinya tidak bermoral, membiasakan dan mengukuhkan di dalam moralitas; yang mendorong orangtuanya yang tadinya kikir, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kedermawanan; yang mendorong orangtuanya yang tadinya bodoh batinnya, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kebijaksanaan -orang seperti itu, O para bhikkhu, telah berbuat cukup untuk ibu dan ayahnya: dia telah membalas budi mereka dan lebih dari membalas budi atas apa yang telah mereka lakukan.” (Petikan Aṅguttara Nikāya, kelompok II)


oooOOooo

DOA

DOA
Oleh : Tanhadi

Dalam pengertian umum dan menurut KBBI, doa diartikan sebagai permohonan (harapan, permintaan, pujian) kepada Tuhan.

A.  Doa

Salah satu pengaruh luar yang telah terintegrasi ke dalam pelatihan diri umat Buddha adalah kebiasaan berdoa dan bersembahyang.  Berbagai catatan kuno menyebutkan bahwa Buddha Gotama menolak kebiasaan berdoa maupun sembahyang.  Sang Buddha pernah bersabda :

" Engkau sendiri harus melakukan pekerjaan itu,
sebab Sang Tathagata hanya sebagai Penunjuk Jalan”
(Majjhima Nikaya 107).

Sang Buddha tidak pernah menyuruh pengikutnya untuk berdoa/sembahyang kepada-Nya. Yang dianjurkan adalah:

"Renungkanlah kualitas-kualitas mulia Tathâgata dan Dhamma-Nya (serta Sangha)
(AN 11.12)."


Doa bukan meminta

Doa yang paling sering kita dengar adalah berbagai jenis pemohonan. Kalaupun mengandung pujian, biasanya diikuti dengan permintaan. Ketika menghadapi penderitaan, kesulitan dan ketakutan, banyak orang berdoa untuk meminta pertolongan.

Kepada Anathapindika, Buddha pernah mengemukakan bahwa kebanyakan orang mendambakan panjang usia, kecantikan, kebahagiaan, kehormatan, dan alam surga. Kelima hal itu tidaklah tercapai hanya karena berdoa. Untuk mencapai apa yang diinginkan, janganlah orang tergantung pada doa atau bersikap pasrah tak berdaya, tetapi ia harus berusaha menempuh jalan ke arah itu (A.III.43). Setiap orang dapat mengubah nasibnya dengan berusaha melakukan apa yang terbaik.

Menjawab pertanyaan Punnaka tentang persembahan kepada para dewa, Buddha menjelaskan, “Doa-doa mereka, puji-pujian, persembahan dan aspirasi mereka semua dilakukan berdasar keinginan memiliki, ingin ganjaran. Mereka merindukan kenikmatan nafsu indrawi. Orang-orang yang ahli dalam persembahan ini bersuka cita didalam nafsu untuk menjadi, orang-orang ini tidak akan dapat mengatasi usia tua dan kelahiran kembali“ (Sn.1046).


Doa merefleksikan pikiran. Pikiran yang benar mengandung tiga aspek sbb :

1.     1.   Tidak berdasarkan egoisme dan dorongan nafsu keduniawian yang bersifat rendah.
2.     2 -  Mengungkapkan cinta kasih, bukan itikad yang jahat
3.     3 -  Mengandung belas kasih, bukan perasaan yang kejam.

Kekuatan doa yang mendatangkan berkah akan tergantung pada keyakinan dan pikiran yang benar.

Sehari-hari dapat kita lihat orang yang meminta agar keinginannya dipenuhi orang lain dengan bersikap merendah atau bisa juga menjilat hingga menyogok dan menuntut. Tidak jaran pula orang berusaha melakukan tawar-menawar atau jual-beli. Kaul atau niat yang diucapkan seseorang sebagai janji untuk melakukan sesuatu jika permintaannya dikabulkan agaknya mengandung nuansa ini.

Tanpa disadari sikap-sikap yang bersifat memaksakan keinginan sendiri itu sekalipun halus mudah mewarnai suatu doa yang bertujuan meminta.

Perhatikan contoh cuplikan Doa ini :

“...Dengarkanlah permohonan kami, lindungilah kami semua, limpahkanlah berkah dan karunia-Mu, jangan b iarkan kami menderita, selamatkanlah kami dari kelaparan, berilah kami makanan dan kekayaan, jauhilah kami dari godaan, singkirkanlah semua mara bahaya dari kami, tunjukkanlah krpada kami, pancarkanlah kasih-sayang-Mu, kasihanilah kami seperti kamu mengasihi orang-orang lain, jika doa ini terkabul kami akan merenovasi vihara ini...”

Sesungguhnya tanpa meminta, apa yang diharapkan pasti akan datang pada waktunya sebagai buah dari perbuatan (karma). Karena itu sebaiknya orang berdoa seraya mawas diri.

Bandingkan doa ini dengan contoh sebelumnya :

“....Semoga kami semua senantiasa membentuk kehidupan kami dalam perlindungan Triratna, semoga kami semua hidup dalam berkah dan karunia-Mu, semoga kami mampu mengatasi penderitaan dengan melakukan karma yang baik, terhindar dari kelaparan dan mampu mempertahankan kesejahteraan kami, semoga kami memiliki kekuatan dan berhasil menyingkirkan semua godaan atau mara bahaya, semoga kami memahami dan menempuh jalan sesuai dengan petunjuk-Mu, selalu hidup dalam kasih-sayang-Mu dan mengembangkan kasih-sayang dengan mengasihani semua makhluk tanpa kecuali.....”

Disini orang yang berdoa menempatkan dirinya sebagai pihak yang aktif, bukan pasif menunggu berkah dari atas. Doanya bukan doa yang bersifat kekakan-kanakan.

Doa dalam agama Buddha yang mengungkapkan pengharapan tidak tepat jika disamakan dengan meminta. Suatu doa atau paritta yang berisikan pengharapan didasarkan pada pernyataan kebenaran, yang dirumuskan dalam kalimat seperti : berkat kebenaran ucapan, berkat kekuatan keyakinan, berkat timbunan jasa kebajikan.

Perhatikan doa dalam syair Shanti Deva (abad ke-7) sbb :

Semoga aku menjadi penawar rasa sakit bagi semua makhluk.
Semoga aku menjadi dokter dan perawat bagi semua orang sakit.
Semoga aku dapat memberi makan dan minum semua yang menderita lapar dan kehausan.
Semoga aku menjadi mustika yang tak ternilai bagi orang-orang miskin.
Semoga aku menjadi pembela bagi mereka yang dicampakkan terlantar di pinggir jalan.
Semoga aku menjadi perahu dan titian bagi mereka yang merindukan Pantai Seberang.
Semoga aku menjadi pelita penerang bagi mereka yang tersesat jalan.

Shanti Deva tidak berdoa agar menjadi kaya, tetapi apa yang diharapkannya jelas takkan tercapai tanpa kekayaan. Doanya bukan meminta, malah menunjukkan keinginan untuk bisa memberi.

Kapan kita berdoa?

Kita dapat melatih diri dengan menyertai doa untuk setiap perbuatan yang kita kerjakan : “ Semoga semua makhluk berbahagia. Sebagaimana kami menghendaki kebahagiaan untuk diri kami, semoga demikian pula semua makhluk sejahtera dan bahagia”.

Doa dan kerja dapat menyatu dalam kegiatan kita sehari-hari. Berdoa merupakan cara untuk memantapkan kepercayaan pada diri sendiri, mengembangkan potensi dan keluhuran jiwa, sehingga membawa kemajuan dan menghasilkan ketentraman. Doa yang dibacakan tak putus-putus dapat membangkitkan getaran suci dalam kalbu dan menghantar pikiran untuk berkonsentrasi. Doa yang mengungkapkan cinta kasih pun menjadi langkah mula melatih metta-bhavana. Meditasi yang mengembangkan cinta kasih dan mengharapkan semua makhluk sejahtera dan bahagia.

B. Paritta dan Mantra

Kebiasaan membaca parittâ juga seharusnya dimengerti dengan benar. Membaca bersama secara rutin di zaman Buddha tidak ditemukan selain pengulangan Pâtimokkhâ (peraturan ke-bhikkhu-an) oleh Sangha [Pacittiya 73, Vinaya Pitaka].

Mengingat bahwa dari ketiga jenis perbuatan yaitu melalui pikiran, perbuatan, dan Ucapan, perbuatan yang melalui pikiranlah yang paling berpengaruh, maka seharusnyalah pembacaan Pâritta dilakukan dalam bahasa yang dimengerti si pembaca. Dan pembaca seharusnya mengingat kembali makna dari apa yang dibaca dan bukan hanya sekedar membacanya. Hal ini sesuai dengan kutipan dari Dhammapada : Sahassa Vagga VIII : 3/102 yang berbunyi :

Daripada seribu bait syair yang tak bermanfaat,
adalah lebih baik satu kata Dhamma
yang dapat memberi kedamaian kepada pendengarnya.

Dari semua Paritta, bagian utama dari Buddhânussati, Dhammânussati, dan Sanghânussati-lah yang paling umum dianjurkan oleh Buddha untuk diingat terus oleh pengikut awam-Nya [AN 11.12].

Paritta adalah bacaan perlindungan yang dalam pengertian sekarang disamakan dengan doa. pembacaan paritta bermula dari petunjuk Buddha kepada siswa-Nya untuk mengucapkan bacaan tertentu agar terhindar dari kesulitan atau terlindung dari kejahatan. Misalnya Angulimala-paritta yang dibacakan menjelang suatu persalinan, berasal dari formula pernyataan kebenaran dan doa agar ibu dan bayinya selamat, yang diajarkan oleh Buddha Gotama kepada Angulimala untuk menolong perempuan yang menghadapi kesukaran melahirkan (M.II. 103 ).

Atanatiya-paritta adalah doa pujian terhadap sejumlah Buddha termasuk Buddha Gotama, yang berasal dari Empat Dewa Raja. Doa ini diajarkan kepada umat atas persetujuan Buddha agar hidupnya tentram, terlindung dari gangguan makhluk halus.

Dhajaga-paritta (S.I.220), Khandha-paritta (A.II.72), Mora–paritta (ja.II.35) dan Ratana-sutta (Sn. 222-238), diajarkan oleh Buddha sendiri.

Belakangan semua bacaan dalam suatu upacara disebut sebagai paritta, termasuk sejumlah Sutta atau ayat dari KitabSuci.

isi paritta dalam bahasa Pali (sebagaimana maksud dari upacara) antara lain :

1.    1. Penghormatan dan pujian (mis. Vandana, Atanatiya-paritta).
2. Persembahan ( Puja)
3. Pernyataan keyakinan dan perlindungan (mis. Tisarana, Saccakiriya-gatha, Chattamanavaka-vimana-gatha).
4. Pernyataan janji atau tekad (mis. Panca-sila).
5.Pernyataan kebenaran (mis. Angulimala-paritta, Bhojjanga-paritta, Mahakarunikonathotiadi-gatha).
6. Perenungan (mis. Buddha, Dhamma, Dangha-nussati).
7.Sutta atau khotbah Buddha (mis. Mangala-sutta, Parabhava-sutta, Dhammaniyama-sutta, Nidhikkhandha-sutta, Vijaya-sutta).
8. Ungkapan cinta kasih (mis. Khandha-paritta, Karaniya metta-sutta).
9. Pengharapan dan pemberkahan (mis. Pattumodana, Sumangala-gatha, Abhaya-paritta, Cilla-mangala-cakkavala).
10. Syukur, terima kasih, sekaligus pelimpahan jasa (mis. Ettavata, Pattidana).
11. Penyesalan dan permohonan bimbingan (mis. Visuddhi-gatha).

Pembacaan dan pelafalan paritta pali ini berbeda-beda menurut tradisi yang bersifat domestik. Umat kebanyakan, terkadang juga Bhikkhu, melafalkannya dalam penggal-penggal frasa menurut terjemahannya dalam bahasa setempat. Keragaman dialek dihargai oleh Sang Buddha.

Ia menolak usulan Yamelu dan tekula yang merdu suaranya, agar sabda-sabda Buddha dibacakan menurut suatu standar dialek yang berirama (Vi. II. 139 ).

Pernah suatu kelompok Bhikkhu yang terdiri dari enam orang membaca ayat-ayat suci dengan tarikan suara yang panjang berirama sebagai mana halnya bernyanyi. Sang Buddha tidak mengijinkan ayat-ayat suci untuk dinyanyikan, mengingat keburukan yang ditimbulkannya sebagai berikut :

1.   1. Orang yang bersangkutan akan senang (bangga) pada dirinya sendiri karena suaranya itu.
2. Orang lain menyukai suara tersebut (memperhatikan iramanya, bukan Dhammanya).
3. Masyarakat akan mencemooh (karena sifatnya yang cenderung menimbulkan rangsangan indrawi)
4. Konsentrasi terpecah- sibuk tertuju pada pengaturan suara (lupa pada makna dari apa yang diucapkan).
5. Orang-orang terjebak dalam pandangan yang keliru, mempertahankan lagu atau anotasi guru dan pendahulunya (sehingga timbul persaingan dan pertentangan).

Apa yang dimaksudkan dengan pembacaan berirama seperti lagu ini bukan mengenai anotasi (Vin. II. 108).

Mereka yang mengadakan perlombaan membaca paritta dan Sutta (termasuk Dhammapada) dengan mengedepankan irama pelafalan, agaknya tidak memperhatikan petunjuk dari Sang Buddha tersebut diatas. Praktik semacam itu dapat dipandang merendahkan nilai bacaan yang sakral.

Mantra adalah rumusan mistis suku-suku kata yang dipandang suci dan mengandung kekuatan gaib. Pada mulanya sebuah Sutra panjang diringkas menjadi beberapa bait kalimat yang disebut hrdaya (ikhtisar). hrdaya ini diringkas menjadi dharani yang hanya terdiri dari satu atau dua baris kalimat, yang selanjutnya diringkas lagi menjadi mantra yang terdiri dari beberapa suku kata. Contoh mantra : Bhaisajyaguru-mantra, Sukhavativyuha-mantra, Sridevi-mantra. Selain mengandung pujian kepada Buddha. Suku-suku kata itu sesungguhnya tidak mempunyai arti sendiri berdasar bahasa sehari-hari. Mantra menjadi semacam formula rahasia, kata sandi, yang mungkin dapat dimengerti makna sebenarnya lewat mulut seorang guru.

Konsep mantra berkembang dari keyakinan akan kegunaan suara (sabda) sebagai suatu sumber kekuatan atau bahkan sebagai kekuatan itu sendiri yang memiliki pengaruh kuat terhadap diri manusia dan alam semesta. Agar suatu mantra menjadi efektif setelah dibaca berulang-ulang dengan mulut atau dalam hati, ia harus dibangkitkan di dalam kesadaran seseorang melalui integrasi psikofisik dan meditasi yang mendalam. Tanpa konsentrasi mendalam dan meditasi, mantra tidak memiliki kekuatan.

Dharani (dhr, mempertahankan) berhubungan dengan tujuan menyimpan sabda-sabda Buddha atau sutra-sutra kedalam ingatan, mengingat arti sabda-sabda itu.

Dharani juga dipergunakan sehubungan ddengan tujuan magis, membangkitkan kekuatan untuk  menolong makhluk-makhluk yang menderita, dan membantu praktisi mencapai Pencerahan. Salah satu Dharani yang populer adalah maha-karuna-dharani, sehubungan dengan Bodhisattva Avalokitesvara yang diharapkan memberikan pertolongan.

C. Benda-benda Persembahan

1. Lilin 
Lilin yang telah dinyalakan bermakna memberikan penerangan atau cahaya yang menerangi jalan kehidupan dan penghidupan di waktu sekarang. Cahaya Buddha Dharma menerangi hati dan pikiran kita, dengan selalu membimbing kita ke jalan yang benar, dan membawa kita ke jalan penerangan/pencerahan agung.

2. Air
Persembahan air mempunyai makna agar pikiran, ucapan dan perbuatan anda selalu bersih. Air dapat membersihkan segala kotoran bathin yang berasal dari keserakahan ,kebencian, dan kebodohan /kegelapan bathin dan ia memancarkan kasih sayang, Welas asih, memiliki rasa simpati dan keseimbangan bathin.

3. Dupa
Dupa dengan wangi khasnya selain berguna untuk membersihkan udara dan lingkungan (Dharmadatu), juga membuat suasana menjadi religius, membuat hati menjadi khusuk. Harumnya dupa yang menyebar ke segenap penjuru sama halnya dengan harumnya perbuatan mulia dan nama baik seseorang, yang bahkan menyebar ke segala penjuru sekalipun berlawanan arah angin.

4. Buah
Mempersembahkan buah di meja altar bukan dimaksudkan untuk dipersembahkan agar disantap oleh Sang Buddha atau para Dewa. Persembahan buah mempunyai makna hasil dari proses kehidupan, bahwa benih perbuatan buruk/kejahatan akan tumbuh dan berbuah keburukan/kejahatan pula, begitu juga perbuatan baik akan berbuah kebaikan.

Persembahan makanan biasanya berupa buah-buahan dan manisan, sama sekali menjauhkan makanan yang berasal dari hasil penganiayaan/pembunuhan makhluk hidup.

Tradisi  di India pernah mengenal persembahan makanan sebagai kurban untuk dewa. berbagai jenis makanan, hasil bumi dan ternak dilemparkan ke dalam api pemujaan. Buddha menolak kebiasaan itu. Dalam Bhuridatta Jataka dinyatakan pemujaan pada api atau persembahan kepada dewa semacam itu sebagai kebodohan. (Praktik tahayul ).

5. Bunga
Bunga mempunyai makna ketidak-kekalan, semua yang berkondisi adalah tidak kekal atau tidak abadi. Demikian juga dengan badan jasmani kita adalah tidak kekal; lahir, tumbuh, tua/lapuk, kemudian meninggal/hancur. Yang tertinggal hanyalah keburukan atau keharuman perbuatan selama hidupnya saja, yang kelak dikenang oleh sanak saudara dan handai taulan.


Sumber :
-       (ringkasan-petikan) Wacana Buddha Dharma- Krishnanda Wijaya mukti hal.94-102.
-       Artikel Buddhis- bhikkhu Uttamo Mahathera


Salam Metta,

Sabbe satta bhavantu sukhitatta