Kamis, Desember 18, 2014

Sabda Sang Buddha (98) : Dana

.


Sabda Sang Buddha (97) : Akar Penderitaan

.

Sabda Sang Buddha (96) : Jenis Perdagangan yang Wajib Dihindari

.


Sabda Sang Buddha (96) : Berdana


.

Sabda Sang Buddha (95) : Pintu Keabadian

.



Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta (3)

.


Dhamma dan Vinaya adalah Guru Kita

DHAMMA DAN VINAYA ADALAH GURU KITA

Bila kita perhatikan lebih jauh di forum-forum diskusi ajaran Buddha yang bertebaran di internet, ternyata masih sangat banyak orang yang mengaku sebagai umat Buddhis tapi sangat minim pengetahuannya tentang ajaran Buddha (Dhamma dan Vinaya). Ini adalah fakta yang menyedihkan.

Bahkan ada yang berpendapat bahwa ‘membaca/mempelajari Sutta-sutta itu tidak penting, itu hanya teori, hanya sebuah konsep, yang penting adalah praktiknya…, lagipula belum tentu ajaran yang di sutta itu adalah benar-benar ucapan dari Buddha sendiri.’, dsb….

Orang-orang yang berpikiran sempit seperti itulah yang pada perjalanan diskusinya cenderung menggunakan penafsiran-penafsiran pribadi dan melenceng dari ajaran Buddha (adhamma), berbelit-belit dan penuh dengan pandangan salah.

Bagaimanapun juga, sebagai umat Buddhis, kita seharusnya mengenali Sutta-Sutta dan mempelajarinya dengan sebaik-baiknya. Untuk hal tersebut mari kita ingat kembali nasihat-nasihat Sang Buddha tersebut dibawah ini :

Di dalam Maha Parinibbana Sutta (Digha Nikaya Sutta 16), Sang Buddha menasehati para bhikkhu: “Dhamma-Vinaya apapun yang telah Aku tunjukkan dan rumuskan untuk kalian, itulah yang akan menjadi Guru kalian ketika Aku tiada.”

Ini adalah pernyataan yang sangat penting yang maknanya telah diabaikan oleh banyak umat Buddhis. Karena banyak umat Buddhis tidak pernah mendengar nasihat ini atau mengerti maknanya, maka mereka lebih banyak menyenangi untuk mempelajari buku-buku belakangan ini yang berisi banyak Dhamma dan beberapa adhamma (yakni yang bertentangan dengan Dhamma) ditambahkan di sana-sini.

Dan untuk mengetahui adanya perubahan-perubahan yang tersebar di sana-sini di sepanjang teks hanya bisa diketahui jika seseorang cukup jeli dan benar-benar mengenal kumpulan Sutta tertua. Jika tidak, seseorang akan merasa sangat sulit untuk membedakan buku-buku belakangan dari yang lebih awal.

Demikian pula, di dalam Samyutta Nikaya, sutta 20.7, Sang Buddha telah pula memperingatkan bahwa di masa depan (yakni sekarang ini), orang-orang akan menolak untuk mendengarkan khotbahNya (Sutta). Tentu saja hal itu akan berdampak merusak pada dua hal, yaitu :

  1. Sutta - Sutta akan hilang, dan
  2. Orang-orang akan memperoleh pemahaman yang salah tentang Dhamma.

Jika kita tidak mengenal Sutta, atas dasar apa dan bagaimana kita bisa mempraktikkan Ajaran Buddha dengan ‘Pandangan yang benar?’

Oleh karena itulah, kita sebagai umat Buddhis harus mengenal Sutta, jadi kita bisa menilai apakah buku-buku Dhamma atau instruksi para bhikkhu atau beberapa guru lainnya adalah sesuai dengan ajaran Sang Buddha. Inilah sebabnya mengapa kita sebagai umat Buddhis harus selalu mengingat Dhamma-Vinaya sebagai Guru kita  yang Utama; khususnya bagi kita adalah kumpulan Sutta tertua di dalam Nikaya.(Th)

Semoga bermanfaat.

10 Desember 2014
Mettacittena,

Tanhadi



Kemelekatan

KEMELEKATAN

Sehubungan dengan Ajaran Buddha tentang "Ketidak-melekatan", ternyata masih ada dikalangan umat Buddhis sendiri yang menyatakan bahwa kita seharusnya tidak melekat pada APAPUN juga!

Ada juga umat Buddha KTP yang berpandangan salah mengatakan bahwa mereka yang menjalankan kehidupan bermoral- sebagai 'kemelekatan' terhadap Sila-sila.

Di kalangan Buddhis tradisional malah menciptakan ketakutan terhadap meditasi mendalam, dengan menyatakan bahwa Anda hanya akan 'melekat' terhadap Jhana.

Tentu saja hal-hal itu sudah terlalu jauh menyimpang dan berpandangan salah terhadap Ajaran Buddha.

Memang ada banyak hal yang membuat kita 'melekati atau menggenggam sesuatu sehubungan dengan adanya nafsu keinginan yang ada pada diri kita. Namun Sang Buddha hanya memerincikan 'Empat kelompok Kemelekatan' yang harus kita hindari, karena empat kelompok kemelekatan inilah yang menyebabkan Kelahiran kembali., yaitu : 'Kemelekatan' pada :

1). Panca indra.
2). Pandangan salah,
3). Gagasan bahwa Pembebasan dapat dicapai hanya melalui ritual dan inisiasi.
4). Pandangan mengenai adanya 'diri'.

Keempat kelompok itulah yang menjadi 'Bahan bakar' bagi keberadaan kita dikehidupan mendatang serta penderitaan lebih lanjut.

Oleh karena itu, melatih belas kasih, mengambil latihan lima sila ataupun sila kebhikkhuan yang lebih banyak, dan melatih praktik meditasi bukanlah hal-hal diluar ajaran Buddha, dan adalah suatu tindakan yang salah bila menghentikan praktik-praktik tersebut dengan menyebutnya sebagai 'Kemelekatan'. (Th)

Selamat beraktifitas,
Semoga bermanfaat.

Waru, 18 Desember 2014

Mettacittena,
Tanhadi





Dhamma adalah untuk Dipraktikkan

DHAMMA ADALAH UNTUK DIPRAKTIKKAN

Ketika kita belum mengenal Dhamma, kita dengan semangat dan rajin mempelajari buku-buku Dhamma dan Sutta-sutta. Tetapi tidak sedikit orang yang terlalu asyik mempelajari buku-buku Dhamma dan Sutta-sutta tersebut, sehingga tanpa disadarinya ia menjadi melekat pada konsep-konsep tanpa mempraktikkannya. Ini adalah kesalahan.

Demikian pula, kebanyakan orang terjebak dan terikat pada sosok guru yang ideal atau tradisi tertentu, dan bukannya pada KEBENARAN, sehingga ia menolak untuk belajar dari yang lainnya. Ini juga suatu kesalahan.

Tujuan kita mempelajari Dhamma adalah untuk DIPRAKTIKKAN, yaitu berlatih secara terus-menerus untuk melakukan apa yang benar melalui tubuh, ucapan dan pikiran. Dengan demikian Dhamma akan bermanfaat bagi diri sendiri maupun untuk makhluk lainnya.(Th)

Semoga bermanfaat.

Waru, 18 Desember 2014

Mettacittena,
Tanhadi





Senin, Desember 15, 2014

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta



.


Sabda Sang Buddha (94) : Pewaris Kamma

.


Sabda Sang Buddha (93) : Penyesalan





.

Sabda Sang Buddha (92) : Pattidana Paritta



.



Sabda Sang Buddha (91) : Kemenangan Menimbulkan Kebencian





Sabda Sang Buddha (90) : Keluarga


Untuk DP BB/Android



-oOo-





Sabtu, Desember 06, 2014

Bagai Daun-Daun di Musim Gugur

BAGAI DAUN-DAUN DI MUSIM GUGUR

Seperti halnya daun-daun di musim semi yang akan mengering dan berjatuhan di musim gugur. Demikian pula sungguh singkat rentang kehidupan kita dan kehidupan inipun akan segera berlalu.

Tak ada jaminan perlindungan bagi yang tua maupun yang berusia muda, setiap saat kematian akan datang menjemput. Dengan memahami bahaya yang muncul dalam kematian, seyogianya kita senantiasa melakukan perbuatan-perbuatan baik yang dapat membawa kebahagiaan bagi semua makhluk dan diri kita sendiri.

Jika kita terkendali dalam setiap tindakan yang dilakukan oleh tubuh, ucapan dan pikiran, niscaya perbuatan-perbuatan berjasa yang kita lakukan selagi masih hidup akan membawa kebahagiaan ketika kita pergi meninggalkan dunia ini.

** (Inspirasi dari Anguttara Nikaya.3.51)

Mettacittena,

Tanhadi


-oOo-


Hindarilah Menyakiti dan Membunuh Makhluk Hidup

HINDARILAH MENYAKITI DAN MEMBUNUH MAKHLUK HIDUP
Oleh : Upa. Amaro Tanhadi

Siapapun yang senang menyakiti dan membunuh makhluk hidup, cenderung merasa bahwa apa yang dilakukannya itu tidak salah. Padahal membunuh makhluk hidup jenis apapun juga tetap tergolong perbuatan jahat.

Apakah dengan membunuh boleh dikatakan menjadi sumber kegembiraan?

Tentu saja TIDAK!, adalah suatu kebodohan jika kita melakukan kejahatan semacam itu, terlebih lagi hanya untuk sebuah kepuasan diri dan bergembira diatas penderitaan makhluk hidup lainnya. Oleh karena itu, sebagai umat Buddhis yang benar-benar bertekad untuk hidup di dalam Dhamma, hindarilah hobby memancing, berburu dan memesan daging atau makanan yang secara langsung kita peroleh dari ‘memerintah’ si koki untuk membunuh hewan tersebut.

Sang Buddha tidak pernah menganjurkan atau membenarkan siapapun untuk menganiaya makhluk hidup, apalagi membunuhnya dengan alasan apapun. Karena mereka juga memiliki harapan dan hak yang sama dengan kita untuk hidup bebas dari penderitaan.

Metta (cinta kasih) yang di ajarkan oleh Sang Buddha bukanlah hanya terbatas pada sesama manusia saja, namun juga bagi hewan yang besar maupun yang kecil, dan semua makhluk hidup yang tampak maupun yang tak tampak.

Semoga kita semuanya senantiasa sadar dalam menjalankan SILA Buddhis dan tetap berlatih untuk menghindari pembunuhan makhluk hidup dengan cara kita masing-masing.

Semoga kita semuanya dalam keadaan sehat, jauh dari segala rintangan dan kesulitan hidup. Semoga kita semuanya bebas dari penderitaan batin dan jasmani. Semoga semua makhluk hidup bahagia.


Waru, 6 Desember 2014
Mettacittena,
Tanhadi

-oOo-






Rabu, Oktober 22, 2014

Dhammapada XXVI: 385- Kisah Mara

KISAH MARA
 Dhammapada XXVI: 385


Pada suatu kesempatan, Mara datang menemui Sang Buddha, menampakkan diri berujud manusia dan bertanya kepada Beliau, "Bhante! Anda sering mengucapkan kata 'param'. Apakah arti dari kata tersebut?"

Sang Buddha, yang mengetahui bahwa Mara-lah yang bertanya tersebut, lalu menegurnya, "O, Mara yang jahat! Kata 'param' dan 'aparam' tidak berarti apapun bagimu. 'Param' berarti 'pantai seberang' yang hanya dapat dicapai oleh para arahat yang telah terbebas dari kekotoran batin".

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 385 berikut:

Seseorang yang tidak lagi memiliki pantai sini
(enam landasan indria dalam)
atau pantai sana
(enam obyek indria luar),
ataupun kedua-duanya
(pantai sini dan pantai sana),
tidak lagi bersedih dan tanpa ikatan,
 maka ia Kusebut seorang 'brahmana'.


]˜

Sumber:
Dhammapada Atthakatha —Kisah-kisah Dhammapada, Bhikkhu Jotidhammo (editor),
Vidyasena Vihara Vidyaloka, Yogyakarta, 1997.






Dhammapada XXVI: 384- Kisah Tiga Puluh Bhikkhu

KISAH KISAH TIGA PULUH BHIKKHU
 Dhammapada XXVI: 384


Pada suatu kesempatan, tiga puluh bhikkhu datang memberi penghormatan kepada Sang Buddha. Y.A. Sariputta, yang mengetahui bahwa waktu itu adalah saat yang matang dan sesuai bagi para bhikkhu tersebut untuk mencapai tingkat kesucian arahat, mendekati Sang Buddha dan bertanya, semata-mata hanya untuk kepentingan para bhikkhu tersebut.

Pertanyaannya berbunyi demikian, "Apakah yang dimaksud dengan dua Dhamma?"

Terhadap pertanyaan demikian, Sang Buddha menjawab, "Sariputta! 'Meditasi Ketenangan dan Meditasi Pandangan Terang' adalah dua Dhamma tersebut".

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 384 berikut:

Bila seorang brahmana
telah mencapai akhir daripada dua jalan semadi
(pelaksanaan Meditasi Ketenangan dan Pandangan Terang),
maka semua belenggu akan terlepas dari dirinya.
Karena mengerti dan telah memiliki pengetahuan,
ia bebas dari semua ikatan.

Tiga puluh bhikkhu mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.


]˜

Sumber:
Dhammapada Atthakatha —Kisah-kisah Dhammapada, Bhikkhu Jotidhammo (editor),
Vidyasena Vihara Vidyaloka, Yogyakarta, 1997.





Dhammapada XXVI: 383- Kisah Brahmana Yang Memiliki Keyakinan Kuat

KISAH BRAHMANA YANG MEMILIKI KEYAKINAN KUAT
 Dhammapada XXVI: 383


Suatu ketika, di Savatthi, hidup seorang brahmana yang sangat setia kepada Sang Buddha dan Ajaran-Nya. Setelah mendengar khotbah yang diberikan Sang Buddha, setiap hari, ia mengundang para bhikkhu datang ke rumahnya untuk menerima dana makanan. Ketika para bhikkhu telah sampai di rumahnya, ia memperlakukan mereka seperti arahat dan dengan hormat mempersilakan mereka untuk memasuki rumahnya.

Mendapat perlakuan demikian, bhikkhu-bhikkhu yang masih belum mencapai tingkat kesucian (puthujjana) maupun bhikkhu-bhikkhu arahat merasa enggan hati dan memutuskan untuk tidak pergi ke rumah brahmana tersebut keesokan harinya.

Ketika brahmana tersebut mengetahui bahwa para bhikkhu tidak lagi datang ke rumahnya, ia merasa tidak bahagia. Ia pergi menemui Sang Buddha dan memberitahu Beliau tentang para bhikkhu yang tidak lagi datang ke rumahnya. Sang Buddha memanggil para bhikkhu tersebut dan meminta penjelasan. Para bhikkhu mengatakan kepada Sang Buddha bahwa brahmana tersebut memperlakukan mereka semua seperti arahat.

Sang Buddha kemudian bertanya kepada mereka, apakah mereka merasa bangga dan senang ketika mereka diperlakukan seperti itu. Para bhikkhu menjawab tidak.

Kepada mereka, Sang Buddha berkata, "O, para bhikkhu, jika engkau tidak merasa bangga dan senang ketika diperlakukan seperti arahat, maka engkau tidak bersalah melanggar peraturan disiplin para bhikkhu yang manapun. Kenyataan brahmana tersebut memperlakukan engkau demikian karena ia sangat setia kepada para arahat. Jadi, murid-Ku, engkau harus berjuang keras mengurangi nafsu keinginan dan mencapai tingkat kesucian arahat".

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 383 berikut:

O, brahmana, berusahalah dengan tekun memotong arus keinginan
dan singkirkanlah nafsu-nafsu indria.
Setelah mengetahui penghancuran segala sesuatu yang berkondisi,
O brahmana, engkau akan merealisasi nibbana,
'Yang Tidak Terciptakan'.


]˜

Sumber:
Dhammapada Atthakatha —Kisah-kisah Dhammapada, Bhikkhu Jotidhammo (editor),
Vidyasena Vihara Vidyaloka, Yogyakarta, 1997.





Dhammapada XXV: 382- Kisah Samanera Sumana

KISAH SAMANERA SUMANA
 Dhammapada XXV: 382


Samanera Sumana adalah murid dari Anuruddha Thera. Meskipun ia baru berusia tujuh tahun, tetapi ia telah mencapai tingkat kesucian arahat, dan memiliki kemampuan batin luar biasa. Suatu saat, ketika gurunya Anuruddha Thera, jatuh sakit di vihara yang berada di lereng pegunungan Himalaya, ia mengambil air dari Danau Anotatta yang jauhnya lima ratus yojana dari vihara. Perjalanan itu tidak dilakukan dengan jalan darat, tetapi melalui jalan udara (terbang) berkat kemampuan batin luar biasanya.

Suatu hari, Anuruddha Thera membawa Samanera Sumana menghadap Sang Buddha, yang saat itu sedang berdiam di Vihara Pubbarama, sebuah vihara persembahan Visakha.

Di sana, para bhikkhu muda dan samanera mengganggu Samanera Sumana, dengan menepuk kepalanya, memegang telinganya, hidungnya, tangannya, dan bersenda gurau menanyakan apakah ia tidak merasa bosan. Sang Buddha melihat mereka, dan berpikir bahwa akan menunjukkan kepada para bhikkhu suatu kualitas luar biasa dari Samanera Sumana yang masih muda.

Sudah direncanakan oleh Sang Buddha bahwa Beliau berharap beberapa samanera mengambil air satu guci dari Danau Anotatta. Y.A. Ananda mencari di antara para bhikkhu dan samanera yang berdiam di Vihara Pubbarama yang dapat melakukan pekerjaan itu, tetapi tidak ada satupun yang dapat melaksanakan tugas itu. Akhirnya, Y.A. Ananda meminta Samanera Sumana yang telah siap untuk mengambil air dari Danau Anotatta.

Ia mengambil sebuah guci emas besar milik vihara dan segera membawa air dari Danau Anotatta untuk Sang Buddha. Seperti hal sebelumnya, ia pergi ke Danau Anotatta dan kembali ke vihara melalui jalan udara berkat kemampuan batin luar biasanya.

Pada saat pertemuan para bhikkhu sore hari, para bhikkhu bercerita kepada Sang Buddha perihal perjalanan luar biasa yang telah dilakukan oleh Samanera Sumana.

Kepada mereka Sang Buddha berkata, "Para bhikkhu, seseorang yang melaksanakan Dhamma dengan tekun dan bersemangat, akan dapat memiliki kemampuan batin luar biasa meskipun usianya masih muda".

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 382 berikut:

Walaupun seorang bhikkhu masih berusia muda,
namun bila ia tekun menghayati ajaran Sang Buddha,
maka ia akan menerangi dunia ini,
bagaikan bulan yang terbebas dari awan.


]˜

Sumber:
Dhammapada Atthakatha —Kisah-kisah Dhammapada, Bhikkhu Jotidhammo (editor),
Vidyasena Vihara Vidyaloka, Yogyakarta, 1997.





Dhammapada XXV: 381- Kisah Vakkali Thera

KISAH VAKKALI THERA
 Dhammapada XXV: 381


Vakkali adalah seorang brahmana yang tinggal di Savatthi. Suatu hari ia melihat Sang Buddha berpindapatta di dalam kota. Ia sangat terkesan dengan kemuliaan Sang Buddha. Pada saat itu ia menjadi sangat tertarik dan hormat kepada Sang Buddha. Ia memohon izin untuk diterima dalam Pasamuan Bhikkhu sehingga ia dapat selalu dekat dengan Sang Buddha.

Sebagai seorang bhikkhu, Vakkali selalu dekat dengan Sang Buddha, ia tidak memperhatikan tugas kewajibannya sebagai bhikkhu lagi, dan tidak berlatih meditasi.

Karena itu Sang Buddha berkata kepadanya, "Vakkali, tidak akan bermanfaat bagimu yang selalu dekat dengan-Ku, memperhatikan wajah-Ku. Kamu harus berlatih meditasi, sebab hanya ia yang melihat Dhamma akan melihat Saya. Ia yang tidak melihat Dhamma tidak akan melihat Saya".

Ketika mendengar kata-kata itu Vakkali sangat tertekan.

Ia meninggalkan Sang Buddha dan memanjat Bukit Gijjhakuta untuk melakukan bunuh diri dengan cara melompat dari puncak bukit.

Sang Buddha mengetahui kesedihan dan keputusasaan Vakkali. Karena sedih dan putus asa itu Vakkali akan melepaskan kesempatan memperoleh tingkat kesucian. Oleh karena itu, Sang Buddha mengirimkan bayangan Beliau kepada Vakkali, membuat seolah-olah Beliau berada di hadapannya. Ketika Sang Buddha berada dekat dengannya, segera Vakkali melupakan segala kesedihannya, ia menjadi sangat gembira, dan yakin.

Kepadanya Sang Buddha membabarkan syair 381 berikut:

Dengan penuh kegembiraan dan penuh keyakinan
terhadap ajaran Sang Buddha,
seorang bhikkhu akan sampai pada keadaan damai (nibbana)
disebabkan oleh berakhirnya semua ikatan.

Vakkali mencapai tingkat kesucian arahat, setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

]˜

Sumber:
Dhammapada Atthakatha —Kisah-kisah Dhammapada, Bhikkhu Jotidhammo (editor),
Vidyasena Vihara Vidyaloka, Yogyakarta, 1997.






Dhammapada XXV: 379-380- Kisah Nangalakula Thera

KISAH NANGAKULA THERA
 Dhammapada XXV: 379-380


Nangala adalah seorang buruh tani yang bekerja da seorang petani. Suatu hari seorang bhikkhu melihatnya sedang bekerja di sawah dengan pakaian tuanya yang koyak-koyak. Sang bhikkhu bertanya kepadanya apakah ia berminat menjadi seorang bhikkhu. Ketika ia menyetujui, sang bhikkhu membawanya ke vihara, dan mentahbiskannya menjadi bhikkhu. Setelah diterima dalam Pasamuan Bhikkhu seperti yang telah dinasihatkan oleh gurunya, ia meninggalkan bajak dan pakaian tuanya pada sebuah pohon tidak jauh dari vihara. Karena orang miskin itu meninggalkan bajaknya untuk memasuki pasamuan, maka ia dikenal dengan nama Nangala Thera (nangala artinya bajak).

Kehidupan di vihara lebih baik, maka Nangala Thera menjadi lebih sehat, dan berat badannya bertambah. Setelah beberapa saat, ia merasa bosan dengan kehidupannya sebagai bhikkhu dan sering memikirkan untuk kembali menjadi perumah tangga.

Jika pikiran itu muncul, ia akan pergi ke pohon dekat vihara, di mana bajak dan pakaian tuanya ditaruh.

Di sana ia menegur dirinya sendiri, "O, orang tak tahu malu! Apakah kamu masih menginginkan kembali menggunakan pakaian tua ini dan bekerja keras, hidup rendah sebagai buruh kasar?"

Setelah berpikir seperti itu, ketidak-puasan terhadap kehidupan bhikkhunya menjadi sirna, dan ia kembali ke vihara. Ia pergi ke pohon itu setiap tiga atau empat hari, untuk merenungkan kembali tentang masa lalunya yang tidak menyenangkan.

Jika para bhikkhu bertanya kepadanya tentang seringnya ia berkunjung ke pohon itu, ia menjawab, "Saya pergi ke tempat guru saya".

Waktu berlalu, karena ketekunannya, akhirnya ia mencapai tingkat kesucian arahat, dan ia berhenti pergi ke pohon lagi.

Para bhikkhu lain memperhatikan hal itu, bertanya kepadanya, "Mengapa engkau sekarang tidak lagi berkunjung kepada gurumu?"

Kepada mereka, ia menjawab, "Saya pergi kepada guru saya karena saya memerlukannya, tetapi sekarang saya tidak memerlukan pergi kepadanya".

Para bhikkhu mengerti apa maksud jawabannya itu, mereka pergi menghadap Sang Buddha dan memberitahu, "Bhante, Nangala Thera menyatakan diri telah mencapai tingkat kesucian arahat. Itu barangkali tidak benar; ia membual, ia berkata bohong".

Kepada mereka, Sang Buddha berkata, "Para bhikkhu, jangan berkata seperti itu perihal Nangala, ia tidak berkata bohong. Anak-Ku Nangala, dengan introspeksi diri dan memperbaiki diri sendiri telah berhasil mencapai tingkat kesucian arahat".

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 379 dan 380 berikut ini:

Engkaulah yang harus mengingatkan
dan memeriksa dirimu sendiri. O bhikkhu,
bila engkau dapat menjaga dirimu sendiri dan selalu sadar,
maka engkau akan hidup dalam kebahagiaan.
(379)

Sesungguhnya diri sendiri menjadi tuan bagi diri sendiri.
Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri.
Oleh karena itu kendalikan dirimu sendiri,
seperti pedagang kuda menguasai kuda yang baik.
(380)


]˜

Sumber:
Dhammapada Atthakatha —Kisah-kisah Dhammapada, Bhikkhu Jotidhammo (editor),
Vidyasena Vihara Vidyaloka, Yogyakarta, 1997.






Dhammapada XXV: 378- Kisah Santakaya Thera

KISAH SANTAKAYA THERA
 Dhammapada XXV: 378


Terdapat seorang Thera bernama Santakaya, yang dalam kehidupan lampaunya hidup sebagai singa. Seperti biasa dikatakan: bahwa singa-singa pada umumnya pergi seharian mencari makan, kemudian akan beristirahat selama satu minggu berikutnya tanpa bergerak di dalam gua. Santakaya Thera yang hidup sebagai singa dalam kehidupannya yang lampau mempunyai kebiasaan juga seperti singa. Ia bergerak sangat sedikit, geraknya sangat pelan dan pasti, dan ia biasanya tenang serta terpusat. Bhikkhu-bhikkhu lain merasa sangat aneh melihat kelakuannya, mereka memberitahukan hal itu kepada Sang Buddha.

Setelah mendengar keterangan dari para bhikkhu, Sang Buddha berkata kepada mereka, "Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang tenang dan terpusat; ia akan berperilaku seperti Santakaya".

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 378 berikut:

Seorang bhikkhu yang memiliki perbuatan, ucapan, serta pikiran
yang tenang dan terpusat,
yang telah dapat menyingkirkan hal-hal duniawi,
maka ia adalah orang yang benar-benar damai.

Santakaya Thera mencapai tingkat kesucian arahat, setelah khotbah Dhamma itu berakhir.


]˜

Sumber:
Dhammapada Atthakatha —Kisah-kisah Dhammapada, Bhikkhu Jotidhammo (editor),
Vidyasena Vihara Vidyaloka, Yogyakarta, 1997.