Minggu, Februari 05, 2012

Panca Khandha (Lima Kelompok Kehidupan)


PANCA KHANDHA
( Lima Kelompok Kehidupan )


119. “ Apakah Lima Kelompok Kemelekatan itu? Mereka adalah kelompok kemelekatan bentuk (rupakkhandha), kelompok kemelekatan perasaan (vedanakkhandha), kelompok kemelekatan pencerapan (sannakkhandha), kelompok kemelekatan bentuk-bentuk pikiran (sankharakkhandha), dan kelompok kemelekatan kesadaran (vinnanakkhandha).”
(Digha Nikaya 22)

120.   Panca Khandha (Pali) atau Panca Skandha (Sanskerta) berasal dari kata “panca” dan “khandha”. Panca berarti lima dan khandha berarti kelompok/kumpulan. Jadi Panca Khandha berarti lima kelompok pembentuk kehidupan, namun dilain  kesempatan dalam pengajaranNya, Sang Buddha juga menyebutnya sebagai Lima Kelompok Kemelekatan.

Sang Buddha dalam Satta Sutta; Radha Samyutta; Samyutta Nikaya 23.2  {Samyutta Nikaya 3.189} menjelaskan:

”Radha, nafsu keinginan, kegemaran, atau kehausan apapun terhadap rupa, vinnana, sanna, sankhara, vedana. Ketika sesuatu terperangkap di sana, terikat di sana, maka sesuatu itu disebut sebagai makhluk hidup.”

Jadi, apa yang disebut sebagai makhluk hidup termasuk manusia, dalam pandangan Buddha Dhamma adalah hanya merupakan perpaduan dari Panca Khandha yang saling bekerja sama secara erat satu sama yang lain. Tidak ditemukan suatu atma/atta atau roh yang kekal dan abadi.

Kelima Khandha ini dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian utama , yaitu:

·         Jasmani atau Rupa.

·         Batin atau Nama ( perasaan, pencerapan, bentuk-bentuk pikiran, dan kesadaran)

121. Rupa digolongkan sebagai Rupa (kaya) atau jasmani, sesuatu yang berbentuk dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki berikut hal-hal lainnya yang ada dalam tubuh seperti jantung, paru-paru, ginjal, pernapasan, suara, suhu tubuh, dan sebagainya. Rupa atau jasmani ini juga merupakan perpaduan dari 4 unsur, yaitu : unsur padat (pathavi dhatu), unsur cair (apo dhatu), unsur api/panas (tejo dhatu), unsur angin/gerak (vayo dhatu).


1. Kelompok Jasmani ( Rupakkhandha )

" Mengapa disebut bentuk (rupa)? Itu dapat berubah (rusak), disebut rupatti. Itulah sebabnya disebut bentuk (rupa). Dirusak (diubah) oleh siapa (apa)?. Oleh panas, dingin, lapar, haus, serangga, angin, matahari dan binatang melata."
( Samyutta nikaya 22 : 79)

" Apakah rupa itu ? Empat unsur dan setiap bentuk yang berasal dari mereka karena kemelekatan disebut ‘rupa’"
(Samyutta Nikaya 22:56)

“ Setiap bentuk jasmani apapun, baik di waktu yang lalu, yang akan datang, atau sekarang, di dalam atau di luar diri orang, kasar atau halus, rendah atau tinggi , jauh atau dekat, yang dipengaruhi oleh noda-noda dan yang  menyalakan pancingan-pancingan dari kemelekatan; disebut kelompok badan jasmani (rupakkhandha) yang dipengaruhi oleh kemelekatan.”
(Samyutta Nikaya 22:48)

Jika dihubungkan dengan kemelekatan , maka inilah yang disebut sebagai " Kemelekatan terhadap bentuk “ (rupakkhandha).

Rupakkhandha adalah "bentuk materi" atau "wujud". Ini menunjuk aspek material dari keberadaan atau berupa tubuh suatu makhluk hidup. Wujud dikatakan terdiri atas empat unsur dasar atau empat bentuk elemen (Catur Mahabhuta), dan bahkan partikel terhaluspun juga dikatakan berasal dari keempatnya.

Keempat unsur ini adalah :

1) Unsur Padat yang secara harafiah berarti "tanah" (Pathavi Dhatu) yang sebenarnya  memberikan sifat atau kemampuan menempati ruang dan mempertahankan posisi serta memberikan sifat kaku pada setiap materi,

2) Unsur cair (Apo-Dhatu) yang sebenarnya berupa gaya rekat atau tarik menarik antara materi;

3) Unsur panas atau energi (Tejo-Dhatu) yang sebenarnya memiliki sifat Mahabhuta yang lain tetapi dalam dimensi yang lebih kecil; dan

4) Unsur gerak atau getaran (Vayo-Dhatu) yang bila berada dalam keseimbangan dengan unsur cair (apo-dhatu) akan menampakkan eksistensi padat (pattavi) materi yang bersangkutan. Dari interaksi  keempat unsur halus ini, terbentuklah tubuh kita yang terdiri dari daging, darah, tulang, dan lain sebagainya.

Termasuk kelompok Rupakkhanda ini juga terdapat turunan-turunan atau bentuk variasi dari empat Maha Bhuta tadi yaitu mencakup organ-organ indera (pasada-rupa) beserta objek-objeknya (arammana) misalnya bentuk dan warna sebagai objek penglihatan oleh mata; bunyi dan suara sebagai objek pendengaran telinga; bau-bauan sebagai objek penciuman oleh indera hidung; cita rasa sebagai objek pengecapan oleh lidah; benda-benda dengan berbagai variasi bentuk, temperatur, permukaan kasar atau licin, keras atau lembut, sebagai objek perabaan oleh indera peraba; dan objek- objek mental seperti pikiran, ingatan, konsep dan ide-ide sebagai objek pemikiran (dhammayatana) oleh indera mental kita.

Jadi kelompok Jasmani ini mencakup semua obyek-obyek secara keseluruhan, baik yang berada didalam maupun di luar tubuh kita beserta indera-indera yang dapat berkontak dengannya.


2.  Kelompok Perasaaan ( Vedanakkhandha )

“ Mengapa orang mengatakan “ Perasaan ”? Itu dirasakan, maka disebut perasaan. Dirasakan sebagai apa ? Sebagai kesenangan, sebagai kesakitan, atau netral.”
(Samyutta Nikaya 20 : 79; cf Majjhima Nikaya 43)

“ Apapun yang dirasakan sebagai kesenangan dan membahagiakan, baik secara jasmani maupun secara rohani disebut perasaan yang menyenangkan. Jika dirasakan sebagai kesakitan dan melukai disebut perasaaan yang  menyakitkan. Jika dirasakan sebagai perasaaan netral disebut perasaan netral. Dari segi nyata, perasaan yang menyenangkan adalah menyenangkan, sedangkan dari segi perubahan adalah menyakitkan. Dari segi nyatanya, perasaaan yang menyakitkan adalah menyakitkan, sedangkan dari segi perubahan adalah menyenangkan, sedangkan dari segi kekurangan pengetahuan adalah menyakitkan”.
(Majjhima Nikaya 44).

“ Setiap perasaan yang bagaimanapun, baik di waktu yang lalu, yang akan datang, atau sekarang, di dalam atau di luar diri orang, kasar atau halus, rendah atau tinggi , jauh atau dekat, yang dipengaruhi oleh noda-noda dan pancingan kemelekatan; disebut kelompok perasaan (vedanakkhandha) yang dipengaruhi oleh kemelekatan.”
(Samyutta Nikaya 22:48)

Jika dihubungkan dengan kemelekatan , maka inilah yang disebut sebagai " Kemelekatan terhadap perasaan.” (vedanakkhandha), adalah semua perasaan seperti perasaan menyenangkan, tidak menyenangkan dan perasaan netral. la mencakup sensasi yang timbul pada jasmani dan rohani kita, baik yang menggembirakan, menyedihkan, atau netral dan yang timbul karena adanya kontak dari indera kita terhadap dunia luar.

Ada enam jenis perasaan perasaan yang timbul dari kontak, yaitu :

1. Perasaan  yang  timbul  melalui mata terhadap bentuk-bentuk yang  terlihat.
2. Perasaan yang timbul melalui  telinga  terhadap suara yang didengar.
3. Perasaan yang timbul melalui hidung terhadap bebauan yang dicium.
4. Perasaan  yang   timbul  melalui   lidah   terhadap  rasa  yang dikecap.
5. Perasaan yang timbul melalui  tubuh  terhadap  sentuhan- sentuhan.
6. Perasaan yang timbul melalui pikiran terhadap gagasan dan konsepsi.  
Semua perasaan fisik dan mental termasuk dalam kelompok ini.


3.  Kelompok Pencerapan ( Sannakkhandha )

“ Mengapa orang mengatakan pencerapan ?Ia mencerap, maka ia disebut pencerapan.Mencerap apa ?Misalnya  warna biru, kuning, merah dan putih “
(Samyutta Nikaya 22:56)

“ Pencerapan yang bagaimanapun baik di waktu yang lalu, yang akan datang, atau sekarang, di dalam atau di luar diri orang, kasar atau halus, rendah atau tinggi , jauh atau dekat, yang dipengaruhi  dan dipancing oleh kemelekatan  itu disebut kelompok pencerapan ( sannakkhandha) yang dipengaruhi oleh kemelekatan.”
(Samyutta Nikaya 22:48)

Jika dihubungkan dengan kemelekatan , maka inilah yang disebut sebagai "Kemelekatan terhadap pencerapan” (sannakkhandha). Yang dimaksud dengan pencerapan adalah Perekaman, yaitu ; segala sesuatu yang kita alami melalui indera-indera kita akan dicerap atau direkam/diingat.

Sebagaimana halnya perasaan, pencerapan inipun terdiri dari enam jenis yang berhubungan dengan keenam indera kita tersebut diatas, dengan obyek sasaran masing-masing. Pencerapan ini juga tercipta oleh karena indera kita mengadakan kontak dengan dunia luar. Pencerapan inilah yang mengenali obyek, baik yang merupakan obyek fisik maupun obyek mental, misalnya  seperti mengenali warna "kuning", "seorang pria", atau "ketakutan". la adalah sebuah "kognisi", pengenalan dan interpretasi– dan termasuk misrepresentasi - atas obyek-obyek. Tanpa kehadirannya, seorang mungkin sadar tetapi tidak akan bisa mengetahui apa yang ia sadari. Agar jelasnya akan diberikan analogi sebagai berikut: seseorang tidak akan dapat mengenali apa yang dilihatnya sebagai seorang pria apabila faktor ketiga ini tidak hadir.


4.  Kelompok Bentuk Pikiran ( Sankhara Khanda )

“ Mengapa orang mengatakan bentuk-bentuk pikiran ? Mereka membentuk yang dibentuk. Itulah sebabnya mereka  disebut bentuk-bentuk. Bentuk jasmani ( sebagai hakikat ) keadaan dari bentuk, merupakan bentuk yang mereka bentuk, pencerapan sebagai keadaan pencerapan adalah bentuk yang mereka bentuk, bentuk-bentuk pikiran adalah keadaan dari bentuk-bentuk pikiran merupakan bentuk yang mereka bentuk, kesadaran sebagai keadaan kesadaran merupakan bentuk dari yang mereka bentuk.”
( Samyutta Nikaya 22 : 79 )

“Apa yang mempunyai ciri-ciri bentuk (pikiran) seluruhnya hendaknya dipahami sebagai kumpulan bentuk pikiran.... ia mempunyai ciri-ciri mengumpul... dan fungsinya adalah mengumpulkan  (menimbun).”

“Tiga jenis bentuk : bentuk-bentuk pikiran dari jasa yang masak dalam kesenangan, bentuk pikiran dari kejahatan yang masak dalam kesakitan(kesedihan) dan bentuk dari keadaan ketenangan (tak tergoyahkan) sebagai perbuatan, misalnya meditasi, yang masak dalam keadaan tanpa bentuk, yang selama mereka berlangsung tidak akan digoncangkan oleh pencerapan dari bentuk, dari rintangan atau dari perbedaan.”
(Digha Nikaya 33)

“ Tiga bentuk ( pikiran ) : nafas yang keluar-masuk termasuk pada jasmani, hal-hal ini terikat pada jasmani, itulahsebabnya mereka disebut bentuk jasmaniah. Karena telah dipikir dan diselidiki sebelumnya, tercetuslah ucapan. Pencerapan dan perasaan termasuk pada kesadaran, hal-hal ini terikat pada kesadaran, itulah sebabnya mereka  merupakan bentuk ( pikiran ) batiniah.”
( Majjhima Nikaya 44; cf Majjhima nikaya 9 )

“Apakah bentuk pikiran itu? Ada enam kelompok kehendak : Kehendak diantara bentuk-bentuk yang dilihat, bunyi-bunyian, bau-bauan, sedap-sedapan, sentuhan-sentuhan dan obyek-obyek pikiran.”
(Samyutta Nikaya 22:56)

 “ Setiap bentuk ( pikiran ) yang bagaimanapun baik di waktu yang lalu, yang akan datang, atau sekarang, di dalam atau di luar diri orang,  kasar atau halus, rendah atau tinggi , jauh atau dekat, Yang dipengaruhi oleh noda-noda dan dipancing oleh kemelekatan, mereka disebut kelompok bentuk-bentuk  pikiran (sankharakkhandha).  yang dipengaruhi oleh kemelekatan.”
(Samyutta Nikaya 22:48)

Jika dihubungkan dengan kemelekatan, maka inilah yang disebut sebagai " Kemelekatan terhadap bentuk-bentuk pikiran.” (Sankhara Khandha). yakni "formasi atau konstruksi aktivitas mental". Ini terdiri atas sejumlah keadaan mental yang mencetuskan aksi atau membentuk karakter seseorang. Ia mencakup keadaan mental yang sangat aktif seperti pengambilan keputusan, kebahagiaan, dan kebencian, dan juga keadaan mental yang lebih bersifat pasif, seperti perhatian dan kontak indrawi. Beberapa di antaranya ada yang bersifat netral dari segi etis dan ada pula yang dipandang sebagai baik (kusala) dan buruk (akusala). Sehingga dengan demikian sankhara terbagi menjadi baik, buruk, dan netral. Karakteristik utama dari sankhara adalah cetana ( "kehendak" atau "Niat"), yang diidentifikasikan dengan kamma.

Kehendak (cetana) adalah suatu bentukan mental, kegiatan mental. Tugasnya ialah untuk mengarahkan pikiran kita ke perbuatan baik, perbuatan buruk atau perbuatan netral.

Sebagaimana halnya perasaan dan pencerapan, kehendak inipun terdiri atas enam jenis yang berhubungan dengan keenam indera kita dengan obyek-sasaran masing-masing, baik benda-benda fisik maupun mental.

Perasaan dan Pencerapan bukan merupakan perbuatan kehendak, hal ini tak akan menimbulkan buah Karma (Kamma).

 “ Aku katakan, Kehendak adalah Kamma,karena didahului oleh kehendak, seseorang lalu bertindak dengan jasmani, ucapan dan pikiran “.
( Anguttara Nikaya III : 415)

“ Kehendak (cetana) itulah yang aku sebut perbuatan (kamma).”
(Anguttara Nikaya VI : 63)

Hanya perbuatan yang didasari oleh Kehendak-lah yang dapat menimbulkan buah Kamma, misalnya :

Manasikara : perhatian
Chanda : keinginan untuk berbuat.
Adhimokkha : ketetapan hati
Saddha : keyakinan
Samadhi : samadhi
Panna : kebijaksanaan
Viriya : semangat, tenaga, gaya untuk berbuat sesuatu
Raga : hawa nafsu
Patigha : kebencian, dendam
Avijja : ketidaktahuan, kebodohan
Mana : kesombongan
Sakkayaditthi : ide tentang adanya "Aku" yang kekal dan terpisah.

Semuanya terdapat 52 kegiatan mental yang dapat digolongkan dalam  " Kemelekatan terhadap bentuk-bentuk pikiran".

Ada baiknya untuk membahas secara singkat apa yang dimaksud dengan istilah "pikiran" (manas) dalam filsafat Buddhis. Kita harus mengerti dengan baik bahwa yang dimaksud dengan manas bukanlah "jiwa" sebagai lawan dari "badan jasmani". Manas sebenarnya juga sebuah indera sebagaimana halnya dengan mata atau telinga. Manas atau pikiran dapat dikontrol dan dikembangkan seperti indera yang lain dan Sang Buddha sering berbicara mengenai faedah mengontrol dan mengembangkan keenam indera ini. Perbedaan antara indera mata dan indera pikiran ialah bahwa mata berhubungan dengan warna dan benda yang tampak, sedangkan pikiran berhubungan dengan alam pikiran, gagasan serta obyek mental. Kita mengetahui berbagai hal di dunia ini melalui berbagai indera yang kita miliki. Misalnya, kita tidak dapat mendengar warna tetapi kita melihat warna; sebaliknya, kita tidak dapat melihat suara, tetapi kita mendengar suara.

Dengan lima indera fisik, kita hanya dapat mengetahui bentuk-bentuk yang terlihat, suara, bebauan, perasaan lidah dan benda-benda yang dapat disentuh. Tetapi, kesemuanya ini baru merupakan sebagian dari isi dunia ini. Sebab, bagaimana dengan gagasan-gagasan dan pikiran? Merekapun merupakan bagian dari dunia ini. Tetapi kita tidak dapat mengetahui mereka dengan perantaraan indera mata, telinga, hidung, lidah dan badan jasmani. Namun, mereka dapat kita ketahui melalui indera keenam yaitu indera pikiran.

Tetapi, harus pula disadari bahwa pikiran dan gagasan-gagasan tidaklah berdiri sendiri terlepas dari pengalaman-pengalaman lima indera fisik lainnya. Pada hakekatnya mereka tergantung kepada dan timbul oleh pengalaman fisik.

Seorang yang dilahirkan buta tidak mempunyai ide (gambaran) tentang warna, kecuali melalui perbandingan dari suara atau hal-hal lain yang ia pernah alami dengan indrianya yang lain. Dengan demikian, jelas bahwa hal-hal lain yang merupakan bagian dari dunia ini, dihasilkan dan disebabkan oleh pengalaman-pengalaman fisik yang telah dicerap oleh pikiran kita. Oleh karena itu, pikiran (manas) dapat dianggap sama seperti indera-indera lain, misalnya mata atau telinga.


5. Kelompok Kesadaran ( Vinnanakkhandha )

“ Mengapa orang menyebut kesadaran ?,
Ia menyadari maka disebut kesadaran. Menyadari apa ? Ia menyadari misalnya : Rasa asam, rasa pahit, pedas, manis, basa, bukan basa, asin dan tidak asin.”
( Samyutta Nikaya 22 : 70 )

“ Kesadaran itu menyadari apa ?
Ia mengenal, misalnya : ada kesenangan, ada kesedihan, bukan kesenangan atau bukan kesedihan “.
( Majjhima Nikaya 43 : 140 )

“Terdapat enam kelompok kesadaran : Kesadaran mata, kesadaran telinga, kesadaran hidung, kesadaran lidah, kesadaran badan, kesadaran pikiran.”
( Samyutta Nikaya 22 : 56 ).

“Kesadaran timbul sesudah keadaan yang mengakibatkannya.  Bila kesadaran timbul karena mata dan bentuk-bentuk , ia disebut kesadaran mata..., karena telinga dan bunyi-bunyian, ia disebut kesadaran telinga,... karena hidung dan bau-bauan, ia disebut kesadaran hidung,... karena lidah dan sedap-sedapan, ia disebut kesadaran lidah,... karena badan dan sentuhan-sentuhan, ia disebut kesadaran badan,.. karena pikiran dan obyek-obyek pikiran, ia disebut kesadaran pikiran.”
( Majjhima Nikaya 38 )

“ Perasaan, pencerapan dan kesadaran saling berhubungan, tidak terpisah dan adalah tak mungkin memisahkan antara satu sama lain agar dapat menjelaskan kemampuan-kemampuan mereka yang berbeda; karena apa yang orang rasakan, itulah yang diserap, dan apa yang orang serap, itulah dia kenal (sadari). Dengan kesadaran pikiran semata-mata, yang terlepas dari lima kemampuan indera, maka landasan luar yang terdiri dari ruang tidak terbatas dapat dikenal sebagai “ruang yang tidak terbatas “, Landasan luar yang terdiri atas kesadaran yang tak terbatas dapat dikenali sebagai ‘ kesadaran yang tak terbatas’ dan landasan luar yang terdiri atas kekosongan dapat dikenal sebagai ‘ ketiadaan apa-apa sama sekali ‘; Ide yang dapat dipahami oleh mata pengertian.”
( Majjhima Nikaya 43 ).

“ Timbulnya kesadaran tergantung pada dua hal : yaitu apa yang ada di dalam diri orang itu dan landasan luar untuk kontak.”
( Samyutta Nikaya 35 : 93 ).

“ Setiap kesadaran yang bagaimanapun, baik di waktu yang lalu, yang akan datang, maupun yang sekarang, baik yang ada di dalam maupun di luar diri orang, kasar atau halus, diatas atau dibawah, jauh atau dekat, yang dipengaruhi oleh noda-noda dan dipancing oleh kemelekatan, disebut kelompok kesadaran yang dipengaruhi oleh kemelekatan.”
( Samyutta Nikaya 22 : 48 )

“ Keinginan yang merupakan akar dari lima kelompok yang dipengaruhi kemelekatan... Empat unsur besar ( Tanah, air, api dan udara ) adalah sebab dan syarat untuk menjelaskan kelompok bentuk jasmani. Kontak adalah untuk menjelaskan kelompok perasaan, pencerapan dan bentuk-bentuk pikiran. Nama dan rupa adalah untuk menjelaskan kelompok kesadaran.”
(Majjhima Nikaya 109 )

“Apapun yang diingat kembali oleh bhikkhu atau brahmana tentang kehidupan mereka yang lampau dalam berbagai bentuknya, mereka semua mengingat kembali lima kelompok yang dipengaruhi oleh kemelekatan atau salah satu atau dua di antaranya.”
(Samyutta Nikaya 22 : 79)

Jika dihubungkan dengan kemelekatan, maka inilah yang disebut sebagai " Kemelekatan terhadap kesadaran.” (vinnanakkhandha).

Kesadaran ini bersifat diskriminatif atau bersifat memilah-milah. Ini melipuli "pengetahuan" dasar terhadap obyek sensori dan mental, dan pemilahan terhadap aspek dasarnya, yang sebenarnya dikenali oleh sanna. la terdiri dari enam jenis sesuai dengan pintu masuk kesadaran itu, yakni melalui mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, atau pikiran. la juga dikenal dengan nama citta, titik fokus utama dari kepribadian yang bisa dilihat seperti semacam "pikiran", "hati", atau "pemikiran". la pada hakekatnya adalah "rangkaian pemikiran" atau "mentalitas"; beberapa aspek darinya berubah-ubah dari waktu ke waktu, tetapi yang lainnya timbul kembali secara terus menerus dan dapat disetarakan dengan karakter, sifat, atau kepribadian seseorang.

Kebanyakan praktek Buddhis menyangkut pemurnian, pengembangan, dan integrasi yang harmonis antara kelima faktor ini melalui latihan kebajikan dan meditasi. Pengamatan terhadap kelima faktor ini digunakan untuk membantu seorang praktisi agar dapat melampaui secara bertahap pandangan akan adanya sang "aku" yang khayal ini.

Pada dasarnya Kesadaran adalah reaksi atau respon dari salah satu indera kita terhadap obyek-obyek sasaran yang bersangkutan. Misalnya, kesadaran mata (cakkhu-vinnana) mempunyai mata sebagai dasar dan sebagai obyek-sasaran adalah benda-benda yang dapat dilihat.

Kesadaran pikiran (mano-vinnana) mempunyai pikiran sebagai dasar dan ide atau gambar-pikiran sebagai obyek.

Dari kedua contoh tersebut diatas dapat kita lihat bahwa kesadaran selalu dihubungkan dengan indera-indera kita. Sebagaimana halnya perasaan, pencerapan dan kehendak, kesadaranpun terdiri atas enam jenis; yaitu yang berhubungan dengan keenam indera kita dan obyek sasarannya.

Kesadaran ini tidak dapat mengenal obyek. Kesadaran hanya berfungsi untuk menyadari adanya suatu obyek. Sebagai contoh : Kalau mata kita mendapat kontak dengan warna biru, maka kesadaran kita bangkit dan kita sadar tentang adanya warna, tetapi kita belum mengenalnya sebagai warna biru. Pencerapan-lah yang dapat mengenal warna itu sebagai warna biru.

Sang Buddha menerangkan bahwa kesadaran memerlukan benda, perasaan, pencerapan dan bentuk-bentuk pikiran, dan tidak dapat timbul tanpa adanya mereka itu.

Kesadaran mata hanya berarti bahwa satu bentuk atau benda telah terlihat. Tetapi, melihat belum berarti mengenalnya. Begitu juga halnya dengan kesadaran indera - indera lainnya.

Disini kita diingatkan sekali lagi, bahwa menurut Buddha Dhamma :
Tidak ada sesuatu zat yang kekal abadi yang dapat dianggap sebagai "aku", "jiwa" atau "ego" sebagai lawan dari badan jasmani, dan kesadaran (vinnana) janganlah sekali-kali dianggap sebagai "jiwa" yang kekal abadi sebagai lawan dari badan jasmani. Hal ini perlu ditekankan lagi secara khusus karena satu kesalahpahaman sejak zaman purba hingga kini masih saja berlangsung, yang menganggap kesadaran sebagai semacam "jiwa" dan "ego" yang bersifat kekal abadi.

Salah seorang siswa Sang Buddha bernama Sati bersikeras mengatakan bahwa Sang Guru pernah berkata:

"Kesadaran yang samalah yang keluar dan masuk dan berkeliling". Ketika mendengar ini Sang Buddha lalu bertanya kepada Sati apa yang dimaksudkan dengan "kesadaran" itu? Jawaban Sati adalah klasik "Sesuatu yang melakukan, yang merasakan dan yang mengalami akibat dari pada perbuatan baik dan buruk yang di lakukannya, di dunia ini dan di alam sana".

"Orang bodoh", jawab Sang Guru, "dari siapakah pernah engkau dengar Aku menerangkan ajaran seperti yang engkau katakan itu? Berulang kali Aku menerangkan bahwa kesadaran itu timbul karena satu kondisi; tak ada kesadaran yang timbul tanpa kondisi. Kesadaran diberi nama dari kondisi yang menimbulkannya; oleh karena ada mata dan benda-benda yang terlihat oleh mata, maka timbullah kesadaran yang diberi nama kesadaran-mata; oleh karena ada telinga dan suara yang didengarnya, maka timbul kesadaran yang diberi nama kesadaran-telinga; dst........

Sesudah itu Sang Buddha menerangkan lebih lanjut dengan mengambil perumpamaan. Api diberi nama menurut benda yang membuatnya menyala, misalnya, api yang menyala, dari kayu diberi nama api kayu, api yang menyala dari jerami diberi nama api-jerami. Begitu pula kesadaran diberi nama menurut kondisi yang membuat ia timbul .
(Majjhima Nikaya, Maha Tanhasankhaya Sutta).

Buddhagosa, seorang komentator terkenal, pernah menerangkan hal ini sebagai berikut :....." api yang menyala dari kayu hanya menyala selama masih ada persediaan kayu dan padam kembali kalau persediaan kayu itu habis terbakar, karena kondisinya sudah berubah. Namun api itu tidak melompat ke jerami, dll dan menjadi api jerami dst Begitu juga dengan kesadaran yang timbul dengan adanya mata dan benda-benda yang terlihat; kesadaran ini berlangsung selama kondisi dari adanya sebuah mata, benda-benda yang terlihat, cuaca terang dan perhatian ini tidak melompat ketelinga, dll dan menjadi kesadaran telinga dst….”.

Sang Buddha selanjutnya menerangkan bahwa kesadaran memerlukan benda, perasaan, pencerapan dan bentuk-bentuk pikiran, dan tidak dapat timbul tanpa adanya mereka itu. Beliau berkata :

"Kesadaran dapat berlangsung dengan mempunyai benda sebagai perantara (rupapayang), benda sebagai obyek (ruparammanang), benda sebagai pembantu (rupapatitthang) dan dalam mencari kesenangan ia tumbuh, bertambah dan berkembang; atau kesadaran dapat berlangsung dengan mempunyai perasaan sebagai perantara ....atau pencerapan sebagai perantara.... atau bentuk-bentuk pikiran sebagai perantara, bentuk-bentuk pikiran sebagai obyek, bentuk-bentuk pikiran sebagai pembantu dan dalam mencari kesenangan ia tumbuh, bertambah dan berkembang. Andaikata ada orang yang berkata aku akan memperlihatkan kepadamu datangnya, jalannya, lenyapnya, timbulnya, bertambahnya atau berkembangnya kesadaran terlepas dari benda, perasaan, pencerapan dan bentuk-bentuk pikiran, maka orang itu telah berkata tentang sesuatu yang tidak ada".

122.   Secara singkat inilah yang dimaksud dengan Lima Kelompok Kemelekatan (Pancakkhandha). Setiap faktor adalah sebuah "kelompok" yang saling berkaitan, dan masing-masing merupakan obyek yang "dilekati" oleh Kemelekatan (upadana) sehingga kemudian keliru dipandang sebagai “aku" dan "milikku."

Mereka semua tidak kekal dan selalu berubah-ubah. Segala sesuatu yang tidak kekal adalah dukkha (Yad aniccang tang dukkhang). Inilah makna sebenarnya dari kata-kata Sang Buddha :

"Secara singkat, Lima Kelompok Kemelekatan itu adalah dukkha".

Mereka tidak pernah sama pada dua saat yang berlainan. Disini A tidak sama dengan A. Mereka merupakan proses terus menerus dari suatu keadaan yang setiap saat timbul dan lenyap kembali.

"0 brahmana, kesadaran itu seperti juga sebuah sungai di gunung yang mengalir jauh dan cepat dengan membawa serta segala sesuatu yang dijumpai diperjalanannya; tak sekejap, sesaat atau sedetik pun ia berhenti mengalir, tetapi ia terus menerus mengalir tak henti-hentinya. Begitu pula brahmana, penghidupan seorang manusia dapat diumpamakan sebagai sebuah sungai di gunung". Sang Buddha pernah berkata kepada Ratthapala "Dunia ini berada dalam proses bergerak terus menerus dan oleh karena itu tidak kekal".

123.   Satu materi lenyap dan ini menciptakan kondisi untuk timbulnya materi yang berikutnya dan begitu seterusnya dalam satu rangkaian sebab dan akibat. Tak terdapat satu bagian pun yang kekal di dalamnya. Tak ada sesuatu di belakangnya yang dapat disebut sebagai suatu Atta (Pali) atau Atman (Skrt) yang kekal abadi, suatu pribadi atau apa yang disebut sebagai "aku".

Saya kira semua orang setuju, bahwa baik benda, perasaan, pencerapan, bentuk-bentuk pikiran atau kesadaran pada hakekatnya tak dapat disebut sebagai "aku". Tetapi kalau Lima Kelompok Kemelekatan ini, yang keadaannya saling bergantungan, bekerja sama dalam satu kombinasi sebagai satu mesin physio-psychologik, maka kita akan mendapat ide tentang adanya sang "aku" itu.

Tetapi, ini ide palsu, satu bentuk pikiran yang menjadi bagian dari salah satu dari 52 buah bentuk pikiran dari Kelompok Kemelekatan keempat yang baru saja kita perbincangkan, yaitu bentuk pikiran tentang adanya ide dari sang "aku" (sakkaya-ditthi; dari sat = makhluk dan kaya = tubuh).

124.   Lima Kelompok Kemelekatan ini secara keseluruhan, yang secara populer disebut sebagai "makhluk", juga merupakan dukkha (sankharadukkha). Sebenarnya tak ada "makhluk" atau "aku" lain yang berdiri dibelakang Lima Kelompok Kemelekatan itu yang mengalami penderitaan.

125.   Dalam hubungan ini Buddhagosa pernah berkata "Hanya penderitaan yang ada, namun "tak dapat dijumpai si penderita; "Perbuatan yang ada, tetapi "tak ada si pembuat." (Visudhimagga. (PTS), hal. 513)

126.   Tak ada-lah penggerak yang tak bergerak di belakang pergerakan itu. Yang ada hanya pergerakan itu sendiri.Kuranglah tepat kiranya untuk mengatakan bahwa penghidupan ini bergerak, karena penghidupan itu sendiri merupakan pergerakan. Penghidupan dan pergerakan bukanlah dua hal yang berbeda. Dengan perkataan lain, tak terdapat si pemikir di belakang pikiran. Pikiran itu sendirilah yang juga merupakan si pemikir. Kalau kita menyingkirkan pikiran, maka si pemikir tak akan dapat dijumpai. Dalam hal ini paham Buddhis bertentangan sama sekali dengan paham kaum Cartesian, yang berbunyi ' “cogito ergo sum" yang berarti "aku berpikir, dan karena itu aku ada."

127. Sekarang mungkin timbul pertanyaan, apakah penghidupan ada permulaannya? Menurut Buddha Dhamma, awal dari proses penghidupan satu makhluk tak dapat dipikir. Sang Buddha pernah bersabda :

"0 bhikkhu, roda tumimbal lahir (samsara) tak mempunyai akhir yang dapat dilihat, Sedangkan awal dari penghidupan makhluk-makhluk yang sekarang kelihatan berkeliaran kesana dan kemari, diselubungi oleh ketidaktahuan (avijja), diikat erat-erat oleh belenggu keinginan yang tak habis-habisnya (tanha), tidak dapat diketahui dengan jelas."
(S amyutta Nikaya 11,hal178/9; III hal.149,151).

128. Selanjutnya mengenai ketidak-tahuan (avijja), yang merupakan sebab utama dari tumimbal-lahir yang tak habis-habisnya, Sang Buddha bersabda :

"Awal dari avijja tidak dapat diketahui dengan jelas”.

Ini harus diartikan bahwa kita tidak dapat menentukan dengan tepat bahwa diluar titik tertentu tidak lagi terdapat avijja. Dengan demikian, tidaklah mungkin untuk mengatakan bahwa tidak terdapat lagi kehidupan diluar titik tertentu. Inilah secara singkat makna dari Kesunyataan Mulia tentang Dukkha.

Sangat penting sekali untuk mengerti Kebenaran Mulia Pertama ini dengan baik, sebab Sang Buddha juga pernah bersabda :

"Ia yang telah melihat dukkha akan dapat melihat pula sumbernya dukkha, dapat melihat pula terhentinya dukkha dan dapat melihat pula jalan yang menuju ke terhentinya dukkha."

129. Harap jangan disalah artikan, bahwa kehidupan seorang Buddhis itu murung dan penuh kesedihan. Sebaliknya, seorang Buddhis sejati adalah orang yang paling bahagia. Ia tak mempunyai rasa takut atau ketegangan. Ia selalu sabar dan gembira dan ia tak terpengaruh atau merasa kesal oleh adanya suatu perubahan atau bencana karena ia melihat benda-benda menurut kodratnya yang sebenarnya atau sewajarnya.

130. Sang Buddha sendiri tak pernah kelihatan murung atau kesal. Orang yang pernah mengenal Sang Buddha mengatakan bahwa Beliau adalah orang yang selalu tersenyum (mihitapubba-ngama). Dalam lukisan atau pahatan Sang Buddha selalu digambarkan dalam keadaan bahagia, tersenyum, puas dan penuh welas asih. Tak sedikit pun penderitaan atau kemasygulan yang dapat terlihat. Kebudayaan dan arsitektur Buddhis dengan vihara-viharanya belum pernah memberi kesan tentang kemurungan atau kesedihan, tetapi selalu memberikan suasana yang tenang, khidmat, mulia dan agung.

131. Meskipun hidup ini penuh dengan penderitaan, seorang Buddhis seharusnya jangan bersikap murung, atau bersikap marah atau tak sabar terhadapnya. Salah satu sifat buruk, menurut paham Buddhis, adalah patigha. Patigha dapat diartikan sebagai "keinginan tidak baik" (ill-will) terhadap makhluk hidup, terhadap penderitaan dan terhadap benda-benda yang ada hubungannya dengan penderitaan. Fungsinya ialah menciptakan dasar bagi satu keadaan yang tidak bahagia dan tingkah laku yang buruk. Oleh karena itu salah sekali bertindak tidak sabar terhadap penderitaan Dengan bertindak tidak sabar dan marah-marah kita tidak dapat menyingkirkan penderitaan. Bahkan, ia akan menambah lebih banyak kesulitan lagi, memperbesar dan merangsang keadaan yang memang sudah tidak menyenangkan itu.

Yang perlu kita lakukan bukanlah marah-marah atau tidak sabar, melainkan berusaha untuk mengerti akan seluk beluk penderitaan itu, bagaimana ia timbul dan bagaimana menyingkirkannya. Selanjutnya, kita harus bekerja untuk mencapai tujuan itu dengan penuh kesabaran, kebijaksanaan, keyakinan dan kemauan keras.

132. Kita mengenal dua buah kitab suci Buddhis yang berjudul Theragatha dan Therigatha. Kitab-kitab tersebut berisikan ucapan-ucapan penuh kebahagiaan dari siswa-siswa Sang Buddha baik pria maupun wanita, yang telah berhasil memperoleh ketenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan dengan melaksanakan ajaran Sang Buddha. Baginda Raja Kosala pada suatu hari memberitahukan Sang Buddha bahwa berlainan dengan pengikut agama-agama lain yang air mukanya kelihatan liar, beringas, pucat, kurus kering dan tidak bercahaya, maka siswa-siswa Sang Buddha kelihatannya gembira dan bercahaya, penuh dengan kebahagiaan hidup, menikmati hidup suci, indera-inderanya terkekang, bebas dari ketegangan, sabar, tenang dan periang. Raja itu menganggap bahwa keadaan yang sehat ini diperoleh karena para bhikkhu itu benar-benar dapat menyelami dan melaksanakan ajaran Sang Tathagata (Buddha).

Buddha Dhamma menentang pikiran yang murung, sedih dan penuh dengan perasaan bersalah, yang dianggap sebagai penghalang untuk menembus  kebenaran dan memperoleh Penerangan Agung.

Sebaliknya, kegiuran (pitti) termasuk salah satu dari tujuh Bojjhanga yang dengan mutlak harus dikembangkan untuk mencapai Penerangan Agung (Nibbana).





1 komentar: