Selasa, November 09, 2010

SI CACING DAN KOTORAN KESAYANGANNYA


Sebagian orang memang kelihatannya tidak ingin untuk terbebas dari masalah. Jika mereka sedang tidak punya cukup masalah yang bisa dikhawatirkan, mereka akan menyetel sinetron televisi untuk mengkhawatirkan persoalan tokoh-tokoh fiksi didalamnya. Banyak juga yang merasa bahwa ketegangan membuat mereka lebih “Hidup”, mereka menganggap penderitaan sebagai hal yang mengasyikkan. Agaknya Mereka tidak ingin bahagia, karenanya mereka mau-maunya begitu melekat pada beban mereka. 

Dua orang Bhiksu yang merupakan sahabat dekat sepanjang hidup mereka. Setelah mereka meninggal, satu terlahir sebagai dewa disebuah alam surga yang indah, sementara temannya terlahir sebagai seekor cacing di seonggok tahi. 

Sang dewa segera merasa kehilangan kawan lamanya dan bertanya-tanya di manakah dia terlahir kembali. Dia tidak bisa menemukannya di alam surga yang ditinggalinya, lalu diapun mencari-cari temannya di alam –alam surga yang lain. Temannya tidak ada disana pula. 

Dengan kekuatan surgawinya, Sang Dewa mencari temannya di dunia manusia, namun tidak ketemu juga. “Pasti temanku tidak terlahir di alam hewan” begitu pikirnya, tetapi dia memeriksa alam hewan juga, “Siapa tahu!?”, pikirnya. 

Masih saja tidak ada tanda-tanda keberadaan temannya itu. lalu berikutnya Sang dewa mencari ke dunia serangga dan jasad renik dan ..... kejutan besar baginya...., dia menemukan temannya  terlahir sebagai seekor cacing dalam seonggok tahi yang menjijikkan! 

Ikatan rasa persahabatan mereka begitu kuat, sampai-sampai merasa dia harus membebaskan kawan lamanya ini dari kelahirannya yang mengenaskan tersebut, entah karma apa yang membawanya kesitu.

Sang dewa lalu muncul di depan onggokan tahi tersebut dan memanggil, “Hei cacing! Apakah kamu ingat aku? Kita dahulu sama-sama menjadi bhiksu pada kehidupan sebelumnya dan kamu adalah teman terbaikku. Aku terlahir kembali dialam surga yang menyenangkan, sementara kamu terlahir di tahi sapi yang menjijikkan ini.tetapi Jangan khawatir, karena aku akan membawamu ke surga bersamaku. Ayolah kawan lama !”

“Tunggu dulu !kata si cacing, “Apa sih hebatnya alam surga yang kamu ceritakan itu ?  Aku sangat bahagia disini, bersama tahi yang harum , nikmat dan lezat ini. Terima kasih banyak !”

“ Kamu tidak mengerti !”, kata sang dewa, lalu dia melukiskan betapa menyenangkan dan bahagianya berada di alam surga.
 “Apakah disana ada tahi?” tanya si cacing, to the point.

“Tentu saja tidak ada!' dengus sang Dewa.

“Kalau begitu , aku emoh pergi !” jawab si cacing mantap. “Sudah yah! Dan si cacingpun membenamkan dirinya ketengah onggokan tahi tersebut.

Sang dewa berpikir, mungkin kalau si cacing sudah melihat sendiri alam surga itu, barulah dia akan mengerti. Lalu sang dewa menutup hidungnya dan menjulurkan tangannya kedalam tahi itu, mencari-cari si cacing. Begitu ketemu, dia menariknya.

 “Hei! Jangan ganggu aku !” , teriak si cacing. “ Tolooooong ! Darurat ! Aku diculiiiik !” . cacing kecil yang licin itu menggeliat dan meronta sampai terlepas, lalu kembali menyelam ke onggokan tahi untuk bersembunyi.

Sang Dewa yang baik hati ini kembali merogohkan tangannya ke dalam tahi, dapat, dan mencoba menariknya keluar sekali lagi. Nyaris bisa keluar, tetapi karena si cacing berlumuran lendir dan terus menggeliat membebaskan diri, akhirnya terlepas lagi untuk kedua kalinya, dan bersembunyi makin dalam lagi di dalam tahi. Seratus delapan kali sang dewa mencoba mengeluarkan cacing malang itu dari onggokan tahinya, namun si cacing begitu melekat dengan tahi kesayangannya, sehingga dia terus meloloskan diri !

Akhirnya sang dewa menyerah dan kembali ke surga, meninggalkan si cacing bodoh didalam onggokan kotoran kesayangannya.

Makna cerita : Si Cacing diibaratkan kita-kita manusia; kotoran diibaratkan nikmat kehidupan dunia gemerlap nan fana ini. kita tinggal dan bersenang-senang di dalamnya, berpandangan bahwa kenikmatan duniawi adalah kebahagiaan yang lumrah kita lekati, bahkan layak kita perjuangkan dengan segala cara dan segala harga. Sementara itu, kita bersikap apatis, apriori dan pesimis terhadap adanya jenis kebahagiaan lain yang lebih luhur dan lebih langgeng, tanpa berupaya untuk “ datang dan melihat” sendiri.

Dari: buku “ 108 cerita Pembuka Pintu Hati, oleh Ajahn Brahm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar