Minggu, Oktober 27, 2013

Kesucian yang Dibeli

KESUCIAN YANG DIBELI
( Kisah Kala, Putra Anathapindika )

Kisah ini menceritakan tentang Kala, anak seorang jutawan yang bernama Anathapindika. Meskipun ayahnya amat gemar berdana dan percaya akan hasil dari perbuatan baik yang dilakukannya, Kala tidak pernah menunjukkan keinginannya untuk mengunjungi Sang Buddha atau menemui Sang Buddha apabila Beliau datang ke rumah ayahnya, atau mendengarkan Dhamma, ataupun melayani Anggota Sangha. Ayahnya selalu menasehatinya:

"Anakku, jangan berlaku begitu".

Tetapi Kala tidak pernah memperhatikan nasehat ayahnya. Suatu ketika ayahnya berpikir: "Kalau anakku ini tetap bertingkah laku seperti itu, apa bila meninggal ia akan masuk ke Neraka Avici. Bagaimana mungkin saya biarkan hal itu terjadi di depan mata saya?, Tetapi, di dunia ini segala sesuatu dapat dilemahkan oleh hadiah".

Ia berkata kepada anaknya: "Anakku, pergilah ke Vihara, dengarkanlah Dhamma yang di ajarkan oleh Sang Buddha, setelah selesai pulanglah. Kalau kamu mau pergi ke Vihara, saya akan memberikan seratus keping uang".

"Ayah, benarkah ayah akan memberikan saya seratus keping uang, kalau saya pergi ke Vihara?". 

"Benar, anakku", jawab ayahnya.

Sesudah  ayahnya  berjanji,  Kala  lalu  pergi   ke Vihara.  Tetapi  ia  tidak  mendengarkan Dhamma, melainkan ia tidur nyenyak di tempat yang nyaman di Vihara, keesokkan harinya ia baru pulang.

Ayahnya berkata: "Hari ini anakku sudah ke Vihara, cepat sediakan bubur dan makanan lainnya". Jutawan itu segera memberikan bubur dan makanan lain kepada anaknya dan menyuruhnya makan. Tetapi Kala berkata:

"Saya tidak mau makan, kecuali diberi uang terlebih dahulu".

Ia tidak mau menyentuh makanannya. Ayahnya tidak memaksanya untuk makan, tetapi ia memberi uang yang dijanjikannya. Setelah menerima uang, Kala makan makanan yang tersedia di hadapannya.

Keesokan harinya si ayah ingin anaknya pergi lagi ke Vihara, ia berkata: "Anakku, saya akan berikan kamu seribu keping uang kalau kamu mau duduk di hadapan Sang Buddha dan mendengarkan AjaranNya. Pulanglah setelah selesai".

Kala segera pergi ke Vihara. Ia duduk di hadapan Sang Buddha. Dan ketika Sang Buddha mengucapkan satu syair, ia tidak mengerti arti syair itu, tetapi ia tidak mau pulang. Ia berpikir:  "Saya pasti akan dapat mengerti arti syair".

Karena penasaran ia tetap duduk dan mendengarkan Ajaran Sang Buddha, ia berusaha untuk mengerti. Sang Buddha yang mengetahui sebab dari kedatangannya ke Vihara, sengaja membuatnya tidak dapat mengerti dengan jelas arti syair itu.

"Saya harus mengerti arti syair itu", pikir Kala. Jadi ia tetap tinggal dan mendengarkan Ajaran Sang Buddha, akhirnya ia mengerti dan mencapai Tingkat Kesucian.

Keesokan harinya, Kala bersama dengan para bhikkhu ikut menyertai Sang Buddha   pergi   ke   Savatthi.   Ketika   Anathapindika  melihat  anaknya, ia berkata: "Hari ini, kelakuan anakku amat menyenangkan hatiku".

Dan pada saat itu pula Kala berpikir: "Saya harap ayah tidak memberikan saya uang yang dijanjikannya di hadapan Sang Buddha. Saya harap ia tidak bercerita karena sejumlah uanglah saya mau pergi ke Vihara". (Sang Buddha mengetahui bahwa karena sejumlah uang, Kala mau pergi ke Vihara).

Jutawan Anathapindika mempersembahkan bubur dan makanan lainnya kepada Sang Buddha dan kepada bhikkhu Sangha, ia juga mempersembahkan makanan kepada anaknya. Kala duduk dengan diam, ia makan bubur dan makanan lainnya. Ketika Sang Buddha selesai makan, Jutawan itu memberikan sebuah dompet yang berisi seribu keping uang kepada anaknya, dan berkata:

"Anakku, tentu kamu masih ingat bahwa saya membujukmu untuk pergi ke Vihara, dengan janji akan memberimu seribu keping uang, ambillah uang ini".

Ketika Kala melihat kepada Sang Buddha, ia merasa amat malu dan berkata:

"Saya tidak mau uang ini".

"Ambillah, anakku", kata ayahnya.

Tetapi Kala tetap menolaknya. Jutawan Anathapindika itu mengucapkan terima kasih kepada Sang Buddha, seraya berkata:

"Yang Mulia, kelakuan anak saya pada hari ini amat menyenangkan saya".

"Mengapa, saudara?"

"Yang Mulia, kemarin dulu saya menyuruhnya pergi ke Vihara sambil berkata, 'Saya akan memberi kamu seratus keping uang'. Kemarin ia menolak untuk makan sebelum saya berikan uang itu kepadanya. Tetapi pada hari ini, ketika saya berikan uang, ia malahan menolaknya".

Sang Buddha berkata: "Itulah yang telah terjadi, saudara. Hari ini ia telah mencapai Tingkat Kesucian, telah mencapai Alam Surga dan Alam Brahma". Kemudian Sang Buddha mengucapkan syair:

"Ada yang lebih baik dari pada kekuasaan mutlak atas bumi,
dari pada pergi ke Surga atau dari pada memerintah seluruh dunia,
yakni hasil kemuliaan dari seorang Suci
yang telah memenangkan arus (Sotapatti-phala)".

(Dhammapada.178)






1 komentar:

  1. Cerita ini juga memberikan kita 1 gambaran, setiap orang mempunyai karakter yg berbeda, maka demi keberhasilan pembabaran Dhamma, semoga para pengemban Dhamma dapat lebih bersabar dlm menghadapi karakter dari umat awam yg sedang belajar

    BalasHapus