Kamis, Januari 19, 2012

Bab I : Tuhan Dalam Pandangan Agama Buddha


BAB I

TUHAN DALAM PANDANGAN AGAMA BUDDHA


1. Secara umum, kebanyakan pandangan yang ada menganggap seseorang yang beragama harus mempunyai “Satu Tuhan yang diakui”. Konsep Tuhan dari sudut pandang ini jelas mempersonifikasikan Tuhan sebagai Sosok pribadi atau makhluk seperti halnya manusia. Keyakinan akan konsep ini tentunya bukan sesuatu yang asing bagi kita, karena sejak kecil kita sudah mendapat modal yang kuat akan konsep Tuhan sebagai makhluk Adikuasa yang mencipta alam semesta beserta seluruh isinya dari pendidikan disekolah maupun lingkungan sekitar kita.

2. Yang sulit adalah, ketika kita mendapatkan kebenaran hakiki dari suatu konsep yang lain, yang menyatakan bahwa konsep yang kita yakini selama ini ternyata keliru atau salah. Sulitnya karena  kemelekatan  kita  pada  konsep tersebut (bahwa “Tuhan dipandang sebagai Sosok Pribadi”, pengatur dan pencipta alam semesta beserta isinya) telah begitu kuat. Jika kemelekatan (Kepercayaan) kita terhadap konsep itu sudah demikian kuatnya, maka kita akan selalu menjadi pendebat seluruh konsep yang ada, walaupun konsep yang lain mungkin menawarkan sudut pandang yang sebenarnya.

Sejauh ini masih banyak yang mempertanyakan, dalam agama Buddha itu Tuhannya yang mana, bagaimana pula karakteristiknya, mengapa pula dalam sutta-sutta ataupun ceramah Dhamma, konsep tentang Tuhan ini sangat jarang disinggung ?. Bagaimana sesungguhnya konsep mengenai Tuhan dalam agama Buddha ?

3. Menurut para ahli di luar negeri, dikatakan bahwa agama Buddha digolongkan sebagai agama yang Agnostik (Tidak mengetahui keberadaan Tuhan) dan tidak mengenal Tuhan pencipta (Atheis). Selain itu, menurut para Atheis, dikatakan bahwa Buddhisme tidak bisa disebut sebagai agama, karena tidak adanya Tuhan dan segala macamnya, namun lebih cenderung ke filosofi.


Dalam teori Buddhis, memang tidak dikenal adanya konsep Tuhan dengan definisi sebagai pencipta dan pengatur alam semesta beserta segala isinya dengan watak atau sifat-sifat seperti manusia, yang bisa marah, senang, benci, sayang, dsb. Sehingga agama Buddha sering disebut Atheis.



Tentunya konsep ini sangat tidak memuaskan beberapa pihak dan orang-orang yang sudah terlanjur melekat pada pandangan Tuhan sebagai pribadi atau makhluk Yang Agung, Maha Tinggi dan Maha segala-galanya, dimana menuntut setiap agama harus mempunyai konsep yang sama seperti itu. Namun, cara pandang ajaran Buddha terhadap konsep Tuhan ini memang sangat berbeda dibanding agama-agama lainnya.

4. TUHAN dalam agama Buddha didefinisikan sebagai “Yang Mutlak” , maka jika meminta definisi Tuhan sebagai Yang Mutlak ini, kita dapat merujuk pada uraian sabda Sang Buddha tentang Nibbana yang ada pada Sutta Pitaka, Udana VIII : 3.

“Ketahuilah para Bhikkhu,
bahwa ada sesuatu Yang tidak dilahirkan,
Yang tidak menjelma, Yang tidak tercipta, Yang mutlak.
Apabila tidak ada Yang tidak dilahirkan,
Yang tidak menjelma,Yang tidak diciptakan, Yang mutlak,
maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran,
 penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.
Tetapi, karena ada Yang tidak dilahirkan,
Yang tidak menjelma, Yang tidak tercipta, Yang mutlak,
maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran,
penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu”.

5. Dalam hal ini agama Buddha termasuk agama Theistik (ber-Tuhan). “Yang Mutlak” itu sendiri adalah istilah falsafah, bukan istilah yang biasa dipakai dalam kehidupan keagamaan. Dalam kehidupan keagamaan “Yang Mutlak”  itulah yang disebut dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

6. Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah "Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang" yang artinya "Sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak menjelma, Tidak tercipta dan Yang Mutlak". Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Mahaesa adalah suatu yang “Tanpa Aku” (anatta/anatman), yang tidak dapat dipersonifikasikan (disamakan dengan suatu sosok yang berkepribadian) dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apapun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asamkhata) maka manusia yang berkondisi (samkhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi.

Agama Buddha boleh-boleh saja dikatakan Atheis, karena jika melihatnya hanya dari sudut pandang Personal, agama Buddha memang tidak memiliki Tuhan yang berkepribadian seperti itu. (yang memiliki sifat murka, cemburu, menghukum, pilih kasih, sayang dan sebagainya ).

“Apabila, O para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami penderitaan dan kebahagiaan sebagai hasil atau sebab dari ciptaan Tuhan (Issaranimmanahetu), maka para petapa telanjang ini tentu juga diciptakan oleh satu Tuhan yang jahat/nakal (Papakena Issara), karena mereka kini mengalami penderitaan yang sangat mengerikan”.
(Devadaha Sutta, Majjhima Nikaya 101)



6 komentar:

  1. Thanks pencerahannya.. :)

    BalasHapus
  2. Memang benar adanya demikian, dan saya meyakini itu.

    BalasHapus
  3. Agama yang mungkin orang berpikiran modern banyak pegang...

    BalasHapus
  4. Tuhan telah mengutus beberapa orang nabi dan rasul sebelum nabi Muhammad yang ke semuanya menyerukan bahwa Allah (Tuhan) itu Maha Esa. Ajaran tauhid (mengesakan Allah) ini adalah konsep dasar ajaran para nabi terdahulu. Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa tiap-tiap umat ada mempunyai rasul (nabi yang diutus). Berkemungkinan Sri Krisna dan Sidharta Gautama (Budha) adalah salah seorang nabi dan rasul yang pernah diutus Allah kepada umatnya masing-masing di India. Sebagaimana diketahui ajaran Budha pada mulanya adalah mengesakan Tuhan dan melarang pengikutnya menyembah berhala.
    Tapi kenapa ajaran keesaan Allah itu kabur pada kitab suci agama Budha dan berbeda dengan ajaran nabi Muhammad? Salah satu penyebab adalah kitab suci agama Budha baru ditulis orang 400 tahun lebih setelah Sidharta Gautama meninggal dunia. Ajaran Budha yang asli tidak diketahui orang sampai sekarang karena Sidharta Gautama sendiri tidak pernah menyuruh tulis atau bukukan ajarannya pada muridnya secara langsung. Berbeda dengan wahyu yang diterima nabi Muhammad setiap wahyu yang diterimanya langsung beliau suruh sahabatnya untuk menghafalkan wahyu tersebut dan ditulis langsung oleh para sahabat nabi itu juga.
    Kitab-kitab suci selain kitab Al-Qur'an sudah tercemar dengan tulisan tangan manusia yang merubah isi kitab dan menyatakan bahwa ini dari Tuhan padahal bukan dari Tuhan, sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur'an pada Surat Al-Baqorah ayat 78-79 sbb. :
    “Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Kitab kecuali dongengan bohong belaka, dan mereka hanya menduga-duga.“ (QS Al-Baqarah : 78)
    “Sungguh celakalah orang-orang yang menulis al-kitab dengan tangan mereka, lalu mereka katakan: “Ini adalah dari Allah.” (mereka lakukan itu) untuk mencari keuntungan sedikit. Sungguh celakalah mereka karena aktivitas mereka menulis kitab-kitab (yang mereka katakan dari Allah itu), dan sungguh celakalah mereka akibat tindakan mereka.” (QS Al-Baqarah : 79)
    Contoh kalau seandainya ada ajaran Budha yang asli maka Sidharta Gautama sendiri akan menyuruh umatnya untuk beriman kepada Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir karena ajaran nabi terdahulu
    khusus untuk bangsanya saja bukan untuk seluruh umat manusia di dunia dan terbatas waktunya hanya sampai kedatangan nabi Muhammad yang diutus Allah sebagai rahmat bagi semua alam.
    Kalau manusia tidak beriman kepada Nabi Muhammad apa risikonya?
    Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Demi Allah, yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentang aku seseorang dari umat manusia ini, baik dia Yahudi maupun Nashrani, lalu dia tidak mengimani risalah yang aku bawa, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (HR.Muslim). Jadi semua manusia yang telah mengetahui adanya agama Islam sedangkan dia cuek-cuek saja tidak mau mempelajari dan mengetahui kebenaran Islam yang terdapat pada kitab suci Al-Qur’an serta tidak mau masuk Islam maka manusia tersebut pasti masuk api neraka di akhirat kelak. Kalau sudah di akhirat kita tidak bisa lagi ke dunia ini untuk bertobat. Nasi sudah jadi bubur. Sebelum nasi belum menjadi bubur seyogyanya kita beriman kepada nabi terakhir ini. Al-Qur’an juga mengatakan bahwa banyak orang yang masuk neraka yang minta dikembalikan ke dunia karena tidak tahan azab api neraka dengan maksud untuk beriman dan bertobat kepada Allah namun Allah jelas tidak mengabulkan permohonan mereka karena dunia sudah kiamat dan alam akhirat sudah terbentang sehingga mereka menyesal tidak beriman kepada Allah ketika hidup di dunia ini.
    Tuhan yang menciptakan kita pasti sama, Tuhan orang Arab, India, Cina, Eropah dan lainnya pasti sama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saran saya, sebelum memberikan uraian tentang agama Buddha seperti yang telah Anda tulis tersebut diatas, sebaiknya Anda pelajari terlebih dahulu secara cermat sejarah agama Buddha dengan benar dan berdasarkan pada literatur Buddhisme Awal tentunya, sehingga Anda tidak menjadi salah persepsi seperti tsb. diatas. :D

      Namun saya memakluminya, karena setiap orang yang berbeda keyakinan memang selalu mempertahankan argumentasinya berdasarkan apa yang dia percayai melalui ajaran agamanya masing-masing, saya hargai hal itu dan semoga tidak pernah terlintas dalam pikiran Anda bahwasanya "Agama Anda adalah yang paling benar, dan agama lainnya adalah salah". :)

      Seperti halnya yang Anda tulis tersebut diatas; " ..Ajaran tauhid (mengesakan Allah) ini adalah konsep dasar ajaran para nabi terdahulu...."

      Ini sangat jelas bagi saya, bahwa ketika kita berbicara tentang Tuhan (bagi yang mempercayai keberadaannya), berarti kita sedang berbicara KONSEP TENTANG KEBERADAAN TUHAN.

      Saya sangat memahami bahwa Pernyataan Anda tersebut adalah pernyataan keimanan yang mempercayai KONSEP keberadaan tuhan, namun perlu diketahui bahwa gagasan untuk membuktikan keberadaan Tuhan ditinjau dari DALIL dan KONSEP, hal itu hanya berlaku bagi orang yang sebelumnya ‘sudah percaya’ bahwa Tuhan itu ada. Namun tidak akan pernah meyakinkan seseorang yang tidak percaya adanya Tuhan.

      Namun, Bagaimana sebuah konsep atau sebuah definisi dapat membuktikan Keberadaan sesuatu?

      Sebuah eksistensi yang berangkat dari sebuah konsep bukanlah merupakan “Pembuktian” yang sebenarnya. KEBENARAN ADANYA TUHAN HANYALAH SEBUAH KONSEP, jadi konsep ini TIDAK DAPAT DIPAKAI sebagai Pembuktian keberadaan Tuhan. Keberadaan Tuhan hanya bisa di dalilkan namun tidak dapat dipertunjukkan. Oleh karena itulah Kehadirannya adalah obyek keimanan/kepercayaan, bukan Pengetahuan.

      Lebih daripada itu, Percaya atau tidak mempercayai adanya Tuhan, kedua-duanya tidak pernah dapat memberikan bukti nyata bahwa mereka pernah tahu dan melihat sendiri bahwa Tuhan itu ada atau tidak ada.



      Hapus
    2. Olehkarenanya, dalam Buddhisme tidak terdapat ajaran mengenai Tuhan dalam pemahaman/pengertian sebagai Pencipta, Penguasa,Pengatur alam semesta YANG BERKEPRIBADIAN,yang dipercaya memiliki Super Power. Tidak ada satupun pengertian dari Tuhan diatas yang dapat kita jumpai dalam teks-teks awal Buddhisme, KECUALI beberapa sifat tertentu.

      Demikian pula,Membahas tentang Tuhan- memang akan banyak pertentangan-pertentangan pendapat yang pada dasarnya mereka sama-sama tidak bisa mempertanggung-jawabkan kebenaran argumentasinya sendiri, mengapa? karena mereka HANYA mengetahuinya dari kitab sucinya masing-masing (tidak lebih dari itu), SEHINGGA TIDAK ADA SATU AGAMA PUN YANG SEPAKAT BAHWA TUHAN MEREKA ITU ADALAH 'SATU SOSOK YANG SAMA'. Adapun persamaan-persamaan yang ada dan bisa diterima oleh semua agama hanyalah pada “ SIFAT-SIFAT TUHAN” (Ke-Tuhan-an).

      Demikian pendapat saya, dan tak lupa saya ucapkan terima kasih atas kunjungan Anda ke Blog saya ini.

      Semoga Anda terberkahi kesehatan dan kesuksesan dalam hidup, lahir dan batin.

      Hapus