Kamis, Januari 19, 2012

Bab I : Tuhan Dalam Pandangan Agama Buddha


BAB I

TUHAN DALAM PANDANGAN AGAMA BUDDHA


1. Secara umum, kebanyakan pandangan yang ada menganggap seseorang yang beragama harus mempunyai “Satu Tuhan yang diakui”. Konsep Tuhan dari sudut pandang ini jelas mempersonifikasikan Tuhan sebagai Sosok pribadi atau makhluk seperti halnya manusia. Keyakinan akan konsep ini tentunya bukan sesuatu yang asing bagi kita, karena sejak kecil kita sudah mendapat modal yang kuat akan konsep Tuhan sebagai makhluk Adikuasa yang mencipta alam semesta beserta seluruh isinya dari pendidikan disekolah maupun lingkungan sekitar kita.

2. Yang sulit adalah, ketika kita mendapatkan kebenaran hakiki dari suatu konsep yang lain, yang menyatakan bahwa konsep yang kita yakini selama ini ternyata keliru atau salah. Sulitnya karena  kemelekatan  kita  pada  konsep tersebut (bahwa “Tuhan dipandang sebagai Sosok Pribadi”, pengatur dan pencipta alam semesta beserta isinya) telah begitu kuat. Jika kemelekatan (Kepercayaan) kita terhadap konsep itu sudah demikian kuatnya, maka kita akan selalu menjadi pendebat seluruh konsep yang ada, walaupun konsep yang lain mungkin menawarkan sudut pandang yang sebenarnya.

Sejauh ini masih banyak yang mempertanyakan, dalam agama Buddha itu Tuhannya yang mana, bagaimana pula karakteristiknya, mengapa pula dalam sutta-sutta ataupun ceramah Dhamma, konsep tentang Tuhan ini sangat jarang disinggung ?. Bagaimana sesungguhnya konsep mengenai Tuhan dalam agama Buddha ?

3. Menurut para ahli di luar negeri, dikatakan bahwa agama Buddha digolongkan sebagai agama yang Agnostik (Tidak mengetahui keberadaan Tuhan) dan tidak mengenal Tuhan pencipta (Atheis). Selain itu, menurut para Atheis, dikatakan bahwa Buddhisme tidak bisa disebut sebagai agama, karena tidak adanya Tuhan dan segala macamnya, namun lebih cenderung ke filosofi.


Dalam teori Buddhis, memang tidak dikenal adanya konsep Tuhan dengan definisi sebagai pencipta dan pengatur alam semesta beserta segala isinya dengan watak atau sifat-sifat seperti manusia, yang bisa marah, senang, benci, sayang, dsb. Sehingga agama Buddha sering disebut Atheis.



Tentunya konsep ini sangat tidak memuaskan beberapa pihak dan orang-orang yang sudah terlanjur melekat pada pandangan Tuhan sebagai pribadi atau makhluk Yang Agung, Maha Tinggi dan Maha segala-galanya, dimana menuntut setiap agama harus mempunyai konsep yang sama seperti itu. Namun, cara pandang ajaran Buddha terhadap konsep Tuhan ini memang sangat berbeda dibanding agama-agama lainnya.

4. TUHAN dalam agama Buddha didefinisikan sebagai “Yang Mutlak” , maka jika meminta definisi Tuhan sebagai Yang Mutlak ini, kita dapat merujuk pada uraian sabda Sang Buddha tentang Nibbana yang ada pada Sutta Pitaka, Udana VIII : 3.

“Ketahuilah para Bhikkhu,
bahwa ada sesuatu Yang tidak dilahirkan,
Yang tidak menjelma, Yang tidak tercipta, Yang mutlak.
Apabila tidak ada Yang tidak dilahirkan,
Yang tidak menjelma,Yang tidak diciptakan, Yang mutlak,
maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran,
 penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.
Tetapi, karena ada Yang tidak dilahirkan,
Yang tidak menjelma, Yang tidak tercipta, Yang mutlak,
maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran,
penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu”.

5. Dalam hal ini agama Buddha termasuk agama Theistik (ber-Tuhan). “Yang Mutlak” itu sendiri adalah istilah falsafah, bukan istilah yang biasa dipakai dalam kehidupan keagamaan. Dalam kehidupan keagamaan “Yang Mutlak”  itulah yang disebut dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

6. Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah "Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang" yang artinya "Sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak menjelma, Tidak tercipta dan Yang Mutlak". Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Mahaesa adalah suatu yang “Tanpa Aku” (anatta/anatman), yang tidak dapat dipersonifikasikan (disamakan dengan suatu sosok yang berkepribadian) dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apapun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asamkhata) maka manusia yang berkondisi (samkhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi.

Agama Buddha boleh-boleh saja dikatakan Atheis, karena jika melihatnya hanya dari sudut pandang Personal, agama Buddha memang tidak memiliki Tuhan yang berkepribadian seperti itu. (yang memiliki sifat murka, cemburu, menghukum, pilih kasih, sayang dan sebagainya ).

“Apabila, O para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami penderitaan dan kebahagiaan sebagai hasil atau sebab dari ciptaan Tuhan (Issaranimmanahetu), maka para petapa telanjang ini tentu juga diciptakan oleh satu Tuhan yang jahat/nakal (Papakena Issara), karena mereka kini mengalami penderitaan yang sangat mengerikan”.
(Devadaha Sutta, Majjhima Nikaya 101)



19 komentar:

  1. Thanks pencerahannya.. :)

    BalasHapus
  2. Memang benar adanya demikian, dan saya meyakini itu.

    BalasHapus
  3. Agama yang mungkin orang berpikiran modern banyak pegang...

    BalasHapus
  4. Tuhan telah mengutus beberapa orang nabi dan rasul sebelum nabi Muhammad yang ke semuanya menyerukan bahwa Allah (Tuhan) itu Maha Esa. Ajaran tauhid (mengesakan Allah) ini adalah konsep dasar ajaran para nabi terdahulu. Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa tiap-tiap umat ada mempunyai rasul (nabi yang diutus). Berkemungkinan Sri Krisna dan Sidharta Gautama (Budha) adalah salah seorang nabi dan rasul yang pernah diutus Allah kepada umatnya masing-masing di India. Sebagaimana diketahui ajaran Budha pada mulanya adalah mengesakan Tuhan dan melarang pengikutnya menyembah berhala.
    Tapi kenapa ajaran keesaan Allah itu kabur pada kitab suci agama Budha dan berbeda dengan ajaran nabi Muhammad? Salah satu penyebab adalah kitab suci agama Budha baru ditulis orang 400 tahun lebih setelah Sidharta Gautama meninggal dunia. Ajaran Budha yang asli tidak diketahui orang sampai sekarang karena Sidharta Gautama sendiri tidak pernah menyuruh tulis atau bukukan ajarannya pada muridnya secara langsung. Berbeda dengan wahyu yang diterima nabi Muhammad setiap wahyu yang diterimanya langsung beliau suruh sahabatnya untuk menghafalkan wahyu tersebut dan ditulis langsung oleh para sahabat nabi itu juga.
    Kitab-kitab suci selain kitab Al-Qur'an sudah tercemar dengan tulisan tangan manusia yang merubah isi kitab dan menyatakan bahwa ini dari Tuhan padahal bukan dari Tuhan, sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur'an pada Surat Al-Baqorah ayat 78-79 sbb. :
    “Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Kitab kecuali dongengan bohong belaka, dan mereka hanya menduga-duga.“ (QS Al-Baqarah : 78)
    “Sungguh celakalah orang-orang yang menulis al-kitab dengan tangan mereka, lalu mereka katakan: “Ini adalah dari Allah.” (mereka lakukan itu) untuk mencari keuntungan sedikit. Sungguh celakalah mereka karena aktivitas mereka menulis kitab-kitab (yang mereka katakan dari Allah itu), dan sungguh celakalah mereka akibat tindakan mereka.” (QS Al-Baqarah : 79)
    Contoh kalau seandainya ada ajaran Budha yang asli maka Sidharta Gautama sendiri akan menyuruh umatnya untuk beriman kepada Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir karena ajaran nabi terdahulu
    khusus untuk bangsanya saja bukan untuk seluruh umat manusia di dunia dan terbatas waktunya hanya sampai kedatangan nabi Muhammad yang diutus Allah sebagai rahmat bagi semua alam.
    Kalau manusia tidak beriman kepada Nabi Muhammad apa risikonya?
    Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Demi Allah, yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentang aku seseorang dari umat manusia ini, baik dia Yahudi maupun Nashrani, lalu dia tidak mengimani risalah yang aku bawa, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (HR.Muslim). Jadi semua manusia yang telah mengetahui adanya agama Islam sedangkan dia cuek-cuek saja tidak mau mempelajari dan mengetahui kebenaran Islam yang terdapat pada kitab suci Al-Qur’an serta tidak mau masuk Islam maka manusia tersebut pasti masuk api neraka di akhirat kelak. Kalau sudah di akhirat kita tidak bisa lagi ke dunia ini untuk bertobat. Nasi sudah jadi bubur. Sebelum nasi belum menjadi bubur seyogyanya kita beriman kepada nabi terakhir ini. Al-Qur’an juga mengatakan bahwa banyak orang yang masuk neraka yang minta dikembalikan ke dunia karena tidak tahan azab api neraka dengan maksud untuk beriman dan bertobat kepada Allah namun Allah jelas tidak mengabulkan permohonan mereka karena dunia sudah kiamat dan alam akhirat sudah terbentang sehingga mereka menyesal tidak beriman kepada Allah ketika hidup di dunia ini.
    Tuhan yang menciptakan kita pasti sama, Tuhan orang Arab, India, Cina, Eropah dan lainnya pasti sama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saran saya, sebelum memberikan uraian tentang agama Buddha seperti yang telah Anda tulis tersebut diatas, sebaiknya Anda pelajari terlebih dahulu secara cermat sejarah agama Buddha dengan benar dan berdasarkan pada literatur Buddhisme Awal tentunya, sehingga Anda tidak menjadi salah persepsi seperti tsb. diatas. :D

      Namun saya memakluminya, karena setiap orang yang berbeda keyakinan memang selalu mempertahankan argumentasinya berdasarkan apa yang dia percayai melalui ajaran agamanya masing-masing, saya hargai hal itu dan semoga tidak pernah terlintas dalam pikiran Anda bahwasanya "Agama Anda adalah yang paling benar, dan agama lainnya adalah salah". :)

      Seperti halnya yang Anda tulis tersebut diatas; " ..Ajaran tauhid (mengesakan Allah) ini adalah konsep dasar ajaran para nabi terdahulu...."

      Ini sangat jelas bagi saya, bahwa ketika kita berbicara tentang Tuhan (bagi yang mempercayai keberadaannya), berarti kita sedang berbicara KONSEP TENTANG KEBERADAAN TUHAN.

      Saya sangat memahami bahwa Pernyataan Anda tersebut adalah pernyataan keimanan yang mempercayai KONSEP keberadaan tuhan, namun perlu diketahui bahwa gagasan untuk membuktikan keberadaan Tuhan ditinjau dari DALIL dan KONSEP, hal itu hanya berlaku bagi orang yang sebelumnya ‘sudah percaya’ bahwa Tuhan itu ada. Namun tidak akan pernah meyakinkan seseorang yang tidak percaya adanya Tuhan.

      Namun, Bagaimana sebuah konsep atau sebuah definisi dapat membuktikan Keberadaan sesuatu?

      Sebuah eksistensi yang berangkat dari sebuah konsep bukanlah merupakan “Pembuktian” yang sebenarnya. KEBENARAN ADANYA TUHAN HANYALAH SEBUAH KONSEP, jadi konsep ini TIDAK DAPAT DIPAKAI sebagai Pembuktian keberadaan Tuhan. Keberadaan Tuhan hanya bisa di dalilkan namun tidak dapat dipertunjukkan. Oleh karena itulah Kehadirannya adalah obyek keimanan/kepercayaan, bukan Pengetahuan.

      Lebih daripada itu, Percaya atau tidak mempercayai adanya Tuhan, kedua-duanya tidak pernah dapat memberikan bukti nyata bahwa mereka pernah tahu dan melihat sendiri bahwa Tuhan itu ada atau tidak ada.



      Hapus
    2. Olehkarenanya, dalam Buddhisme tidak terdapat ajaran mengenai Tuhan dalam pemahaman/pengertian sebagai Pencipta, Penguasa,Pengatur alam semesta YANG BERKEPRIBADIAN,yang dipercaya memiliki Super Power. Tidak ada satupun pengertian dari Tuhan diatas yang dapat kita jumpai dalam teks-teks awal Buddhisme, KECUALI beberapa sifat tertentu.

      Demikian pula,Membahas tentang Tuhan- memang akan banyak pertentangan-pertentangan pendapat yang pada dasarnya mereka sama-sama tidak bisa mempertanggung-jawabkan kebenaran argumentasinya sendiri, mengapa? karena mereka HANYA mengetahuinya dari kitab sucinya masing-masing (tidak lebih dari itu), SEHINGGA TIDAK ADA SATU AGAMA PUN YANG SEPAKAT BAHWA TUHAN MEREKA ITU ADALAH 'SATU SOSOK YANG SAMA'. Adapun persamaan-persamaan yang ada dan bisa diterima oleh semua agama hanyalah pada “ SIFAT-SIFAT TUHAN” (Ke-Tuhan-an).

      Demikian pendapat saya, dan tak lupa saya ucapkan terima kasih atas kunjungan Anda ke Blog saya ini.

      Semoga Anda terberkahi kesehatan dan kesuksesan dalam hidup, lahir dan batin.

      Hapus
    3. Salam sejahtera, Bung Andi.
      Sepengetahuan sy, ajaran yg disampaikan oleh Sang Buddha merupakan rangkaian kata dan kalimat dalam bentuk "Sutra" yg disampaikan terus secara turun menurun. Dan, ini dikawal terus oleh para Bikkhu dalam semacam peguyuban yg disebut Sangha. Ada bagian penting dari Sutra dilafalkan oleh ummat awam dalam setiap kebaktian di vihara atau tempat ibadah Agama Buddha.
      Selanjutnya, "Tuhan" dlm Buddhisme itu sangat sakral dan segala rencana-Nya di luar jangkauan pikiran manusia yg sangat terbatas. Maka "Tuhan" itu tdk dapat dipersonifikasikan ato dibuat serupa dgn manusia. Dari sudut pandang literal, jika manusia bisa mengetahui rancangan "Tuhan", justru akan menimbulkan perdebatan yg sia2, bahkan mungkin akan menggugat eksistensi "Tuhan". Sebagai contoh: jika semua manusia seperti kata anda mempunyai "Tuhan" yg sama, mengapa dlm beberapa perang agama, selalu terjadi kekalahan dan kemenangan yg silih berganti dgn korban yg besar dan menyedihkan. Pertanyaannya adalah apakah "Tuhan" membiarkan saja hal ini terjadi thdp ummat-Nya dgn cara memihak silih berganti? Kemudian, bukankah dgn ke maha kuasaan-Nya, dunia dpt dibuat aman dan damai dlm satu hembusan saja?
      Sebetulnya msh banyak sekali pertanyaan2 yg lebih kritis yg justru membuat kita bisa menjadi "Atheis". Oleh krn itu lebih baik diamalkan saja sifat2 "Ilahi" daripada memperdebatkan hal yg di luar kapasitas kita sbg manusia, apalagi memandang agama lain menurut perspektif kita sendiri. Dalam hal ini, mohon koreksi, bila sy salah.

      Hapus
    4. Bahwa seperti yang kita yakini, Tuhan telah menciptakan alam semesta dengan segala isinya, dan melalui ciptaanNYA ini Tuhan memberikan tanda – tanda mengenai keberadaan dan kekuasaanNYA. Dan Tuhan juga memberikan tanda-tanda melalui ciptaanNYA bahwa di semesta ini Cuma ada satu Tuhan.  Hal ini terlihat bagaimana rapi dan teraturnya alam ini. Matahari selalu terbit dari Timur, bulan juga selalu mengikuti gerakan Bumi, semua ini menandakan bahwa hanya ada satu kendali penguasa di alam ini , dan itulah yang kita sebut TUHAN .
      Bagaimana jadinya bila Tuhan itu lebih dari satu ? , tentunya akan terjadi perebutan kekuasaan, perbedaan keinginan, saling adu kekuatan, sehingga akan hancurlah semesta ini menjadi ajang adu kekuatan.
      Firman Tuhan dalam Al-Qur'an :
      Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)? Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai `Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.     (Al-Qur'an Surat  AL  ANBIYAA’  :  21 – 22)
      Nah...... melalui ayat di atas ALLAH menyatakan bahwa seandainya ada Tuhan lain di alam semesta ini selain ALLAH, tentulah hancur alam ini, karena akan terjadi adu kekuatan akibat perbedaan keinginan antara Tuhan satu dengan Tuhan yang lainnya .
      Sudah barang tentu sesuai logika di atas, yang benar adalah : bahwa hanya ada satu agama yang benar dengan satu Tuhan di alam semesta ini.  Nah berdasar logika di atas , maka berarti suatu agama yang menyatakan bahwa Tuhan itu lebih dari satu, adalah salah dan bisa dipastikan agama tersebut bukan turun dari Tuhan yang asli.
      Manusia hanya mampu menangkap tanda – tanda adanya Tuhan melalui alam ciptaannya, namun tidak akan bisa mengenal Tuhannya jika Tuhan tidak memberi pengetahuan keberadaanNYA melalui Nabi-Nabi utusanNYA.  Nah...., melalui Nabi utusan-NYA lah kita bisa mengenal Tuhan dengan segala sifatnya . Dialah ALLAH , Tuhan alam semesta yang maha Tunggal, tidak berawal dan senantiasa hidup kekal abadi. Dan karena Dia kekal, maka tidak butuh untuk berketurunan, karena sesungguhnya berketurunan itu adalah cara untuk mempertahankan kelangsungan hidup sesuatu yang bisa mati, yang menunjukkan kelemahan sebagaimana makhluk ciptaan. Bayangkan jika Tuhan mempunyai anak, sudah barang tentu dari dulu hingga sekarang kita tidak bisa menduga berapa banyak anak Tuhan, jadi hal tersebut tidaklah mungkin. Tuhan tidak pernah lelah dan tidak pernah mengantuk maupun tertidur . Tidak butuh makan dan minum. Pendek kata Dialah yang maha sempurna, yang dzat dan sifatnya tidak sama dengan makhluk ciptaannya.  Dengan demikian maka secara logika, kita bisa mengetahui terhadap sesuatu, apakah dia Tuhan atau Makhluk (ciptaan) dengan cara mengujinya dengan pertanyaan sebagai berikut :
      1.    Apakah dia berawal ? (dilahirkan ?), jika semula tidak ada, yang kemudian menjadi ada, berarti dia berawal. Dan sesuatu yang berawal, pastilah bukan Tuhan.  Misal nya Isa , karena dia dilahirkan berarti berawal, dan juga bisa mati, berarti dia bukan Tuhan, melainkan manusia yang diutus Tuhan. Jadi anggapan yang menyatakan dia Tuhan, tentu salah.
      2.    Apakah dia mempunyai kelemahan ? , misalnya mengantuk dan tidur, bisa mati , butuh makan dan minum ?. Jika ya , berarti dia bukan Tuhan, melainkan hanya makhluk ciptaan. Bisa kita bayangkan, apabila Tuhan tertidur, sudah pasti hancurlah alam semesta ini kehilangan keseimbangan, pada saat tuhan tertidur . Dan bayangkan jika Tuhan butuh makan dan minum , yang berarti Tuhan tergantung dengan makanan dan minuman, dan itu berarti suatu kelemahan karena hidupnya bergantung pada kebutuhan makan.  Jadi itu semua tidak mungkin, karena Tuhan maha sempurna dan tidak bergantung pada sesuatupun.
      3.    Apakah wujudnya sama dengan makhluk ?? , jika ya, berarti dia bukan Tuhan. Dzat Tuhan pasti tidak sama dengan makhluk, karena tidak mungkin wujud yang maha kuasa sama dengan wujud makhluk yang serba terbatas kemampuannya.

      Hapus
    5. Bahwa seperti yang kita yakini, Tuhan telah menciptakan alam semesta dengan segala isinya, dan melalui ciptaanNYA ini Tuhan memberikan tanda – tanda mengenai keberadaan dan kekuasaanNYA. Dan Tuhan juga memberikan tanda-tanda melalui ciptaanNYA bahwa di semesta ini Cuma ada satu Tuhan.  Hal ini terlihat bagaimana rapi dan teraturnya alam ini. Matahari selalu terbit dari Timur, bulan juga selalu mengikuti gerakan Bumi, semua ini menandakan bahwa hanya ada satu kendali penguasa di alam ini , dan itulah yang kita sebut TUHAN .
      Bagaimana jadinya bila Tuhan itu lebih dari satu ? , tentunya akan terjadi perebutan kekuasaan, perbedaan keinginan, saling adu kekuatan, sehingga akan hancurlah semesta ini menjadi ajang adu kekuatan.
      Firman Tuhan dalam Al-Qur'an :
      Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)? Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai `Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.     (QS  AL  ANBIYAA’  :  21 – 22)
      Nah...... melalui ayat di atas ALLAH menyatakan bahwa seandainya ada Tuhan lain di alam semesta ini selain ALLAH, tentulah hancur alam ini, karena akan terjadi adu kekuatan akibat perbedaan keinginan antara Tuhan satu dengan Tuhan yang lainnya .
      Sudah barang tentu sesuai logika di atas, yang benar adalah : bahwa hanya ada satu agama yang benar dengan satu Tuhan di alam semesta ini.  Nah berdasar logika di atas , maka berarti suatu agama yang menyatakan bahwa Tuhan itu lebih dari satu, adalah salah dan bisa dipastikan agama tersebut bukan turun dari Tuhan yang asli.
      Manusia hanya mampu menangkap tanda – tanda adanya Tuhan melalui alam ciptaannya, namun tidak akan bisa mengenal Tuhannya jika Tuhan tidak memberi pengetahuan keberadaanNYA melalui Nabi-Nabi utusanNYA.  Nah...., melalui Nabi utusan-NYA lah kita bisa mengenal Tuhan dengan segala sifatnya . Dialah ALLAH , Tuhan alam semesta yang maha Tunggal, tidak berawal dan senantiasa hidup kekal abadi. Dan karena Dia kekal, maka tidak butuh untuk berketurunan, karena sesungguhnya berketurunan itu adalah cara untuk mempertahankan kelangsungan hidup sesuatu yang bisa mati, yang menunjukkan kelemahan sebagaimana makhluk ciptaan. Bayangkan jika Tuhan mempunyai anak, sudah barang tentu dari dulu hingga sekarang kita tidak bisa menduga berapa banyak anak Tuhan, jadi hal tersebut tidaklah mungkin. Tuhan tidak pernah lelah dan tidak pernah mengantuk maupun tertidur . Tidak butuh makan dan minum. Pendek kata Dialah yang maha sempurna, yang dzat dan sifatnya tidak sama dengan makhluk ciptaannya.  Dengan demikian maka secara logika, kita bisa mengetahui terhadap sesuatu, apakah dia Tuhan atau Makhluk (ciptaan) dengan cara mengujinya dengan pertanyaan sebagai berikut :
      1.    Apakah dia berawal ? (dilahirkan ?), jika semula tidak ada, yang kemudian menjadi ada, berarti dia berawal. Dan sesuatu yang berawal, pastilah bukan Tuhan.  Misal nya Isa , karena dia dilahirkan berarti berawal, dan juga bisa mati, berarti dia bukan Tuhan, melainkan manusia yang diutus Tuhan. Jadi anggapan yang menyatakan dia Tuhan, tentu salah.
      2.    Apakah dia mempunyai kelemahan ? , misalnya mengantuk dan tidur, bisa mati , butuh makan dan minum ?. Jika ya , berarti dia bukan Tuhan, melainkan hanya makhluk ciptaan. Bisa kita bayangkan, apabila Tuhan tertidur, sudah pasti hancurlah alam semesta ini kehilangan keseimbangan, pada saat tuhan tertidur . Dan bayangkan jika Tuhan butuh makan dan minum , yang berarti Tuhan tergantung dengan makanan dan minuman, dan itu berarti suatu kelemahan karena hidupnya bergantung pada kebutuhan makan.  Jadi itu semua tidak mungkin, karena Tuhan maha sempurna dan tidak bergantung pada sesuatupun.
      3.    Apakah wujudnya sama dengan makhluk ?? , jika ya, berarti dia bukan Tuhan. Dzat Tuhan pasti tidak sama dengan makhluk, karena tidak mungkin wujud yang maha kuasa sama dengan wujud makhluk yang serba terbatas kemampuannya.

      Hapus
  5. Manusia hanya mampu menangkap tanda – tanda adanya Tuhan melalui alam ciptaannya, namun tidak akan bisa mengenal Tuhannya jika Tuhan tidak memberi pengetahuan keberadaanNYA melalui Nabi-Nabi utusanNYA seperti Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Muhammad, SAW dan lain-lainnya.  Nah...., melalui Nabi utusan-NYA lah kita bisa mengenal Tuhan dengan segala sifatnya . Dialah ALLAH , Tuhan alam semesta yang maha Tunggal, tidak berawal dan senantiasa hidup kekal abadi. Dan karena Dia kekal, maka tidak butuh untuk berketurunan, karena sesungguhnya berketurunan itu adalah cara untuk mempertahankan kelangsungan hidup sesuatu yang bisa mati, yang menunjukkan kelemahan sebagaimana makhluk ciptaan. Bayangkan jika Tuhan mempunyai anak, sudah barang tentu dari dulu hingga sekarang kita tidak bisa menduga berapa banyak anak Tuhan, jadi hal tersebut tidaklah mungkin. Tuhan tidak pernah lelah dan tidak pernah mengantuk maupun tertidur . Tidak butuh makan dan minum. Pendek kata Dialah yang maha sempurna, yang dzat dan sifatnya tidak sama dengan makhluk ciptaannya.  Dengan demikian maka secara logika, kita bisa mengetahui terhadap sesuatu, apakah dia Tuhan atau Makhluk (ciptaan) dengan cara mengujinya dengan pertanyaan sebagai berikut :
    1.    Apakah dia berawal ? (dilahirkan ?), jika semula tidak ada, yang kemudian menjadi ada, berarti dia berawal. Dan sesuatu yang berawal, pastilah bukan Tuhan.  Misal nya Isa , karena dia dilahirkan berarti berawal, dan juga bisa mati, berarti dia bukan Tuhan, melainkan manusia yang diutus Tuhan. Jadi anggapan yang menyatakan dia Tuhan, tentu salah.
    2.    Apakah dia mempunyai kelemahan ? , misalnya mengantuk dan tidur, bisa mati , butuh makan dan minum ?. Jika ya , berarti dia bukan Tuhan, melainkan hanya makhluk ciptaan. Bisa kita bayangkan, apabila Tuhan tertidur, sudah pasti hancurlah alam semesta ini kehilangan keseimbangan, pada saat tuhan tertidur . Dan bayangkan jika Tuhan butuh makan dan minum , yang berarti Tuhan tergantung dengan makanan dan minuman, dan itu berarti suatu kelemahan karena hidupnya bergantung pada kebutuhan makan.  Jadi itu semua tidak mungkin, karena Tuhan maha sempurna dan tidak bergantung pada sesuatupun.
    3.    Apakah wujudnya sama dengan makhluk ?? , jika ya, berarti dia bukan Tuhan. Dzat Tuhan pasti tidak sama dengan makhluk, karena tidak mungkin wujud yang maha kuasa sama dengan wujud makhluk yang serba terbatas kemampuannya.

    BalasHapus
  6. Klaim tanpa bukti = HOAX :v Apa dasarnya kalo ajaran Buddha sudah tercemar? Dan apa yang membuktikan kalo tuhan anda yang menciptakan semesta??? Kitab suci? lol :v Belajar lagi hukum kekekalan energi dan peristiwa Invasi India Utara dan kehancuran Nalanda, lihat siapa yang sebenarnya menghilangkan Buddhisme di tanah kelahirannya sendiri :D

    BalasHapus
  7. Malaikat tercipta dari cahaya, Cahaya diketahui memiiliki kecepatan tertinggi di dunia yaitu 300 ribu km/detik. Maka dalam 1 detik malaikat dapat mengitari bumi 8 kali. Dalam Al Quran disebutkan masalah relatifitas waktu, dimana 1 hari disurga sama dengan 1000 hari di bumi, atau malaikat jibril menghadap Tuhannya dalam waktu 1 hari yang sama dengan 50 ribu tahun di bumi. Jika malaikat jibril saja yang berkecepatan cahaya butuh waktu 50 ribu tahun maka sungguh tak terbayangkan bagi manusia untuk melihat Wujud Allah. Karena penglihatan manusia dihubungkan dengan cahaya ini mempunyai keterbatasan dan membentuk ilusi. Melihat warna energy, jin atau penglihatan tembus pandang masih dimungkinkan karena penglihatan dihubungkan dengan kemampuan cahaya, melihat wujud malaikat saja bisa dianggap suatu yang mustahil bagi orang biasa.
    Maka sangat mustahil bagi manusia meskipun dia memiiki kemampuan penglihatan super untuk melihat wujud Allah, kecuali dengan kehendak-Nya seperti yang dialami nabi Muhammad dalam peristiwa mi’raj. Dalam mi’raj nabi dikaruniai penglihatan wujud asli malaikat jibril yang memiliki 60 ribu sayap yang telapak kakinya saja bisa menutupi seluruh bumi. Namun demikian malaikat jibril yang berbadan cahaya tidak diizinkan naik ke hadirat illahi karena jika melangkah selangkah lagi wujudnya akan musnah hangus. Kesucian dan Ke Maha besaran dzat-Nya bisa di pahami dari peristiwa jabal nur, dimana nabi Musa AS yang berkeinginan melihat secara fisik langsung tersungkur ketika Allah menampakkan sedikit Nur sejatinya pada bukit yang langsung hancur. Dari arsy dan hadirat Allah inilah Nabi Muhammad mendapat perintah langsung Shalat 5 waktu. yang merupakan suatu cara meminta pertolongan dan menghadap Allah.
    Jadi dari peristiwa mikraj ini, Allah bukanlah sebuah konsep yang menggambarkan keterbatasan pikiran yang gagal mengungkap sebab pertama, asal-mula terjadinya alam semesta dan kebenarannya. Allah itu jelas ada (wujud), Terdahulu(qidam), kekal (baqa), berbeda dengan makluk, berdiri sendiri,….dsb. Namun demikian wujud dan keberadaan Tuhan tidak akan bisa terlihat oleh makluk yang serba terbatas ini. Manusia hanya bisa melihat wujudNya besok di Surga (akherat) karena Ridwan dan Rahim Allah saja.

    BalasHapus
  8. Malaikat adalah makhluk yang tercipta dari cahaya (roh berbadan Cahaya). Karena segala sesuatu hakekatnya Cahaya maka malaikat adalah bentuk penjelmaan energi yang paling tinggi dan dekat dengan Yang Mutlak. Malaikat adalah makluk yang selalu melaksanakan ketentuan Tuhan nya. Ia hanya melaksanakan segala sesuatu sesuai dengan apa yang diperintahkan Tuhan yang menjadi karakternya. Allah menciptakan alam semesta dan menempatkan banyak malaikat penjaga jumlahnya tak terhingga. Setiap bagian dari penciptaan dan keteraturannya dihubungkan dengan malaikat tertentu yang melindungi dan menjalankan perintah pada daerah kekuasaannya
    Hukum alam seperti gravitasi, gaya tarik aksi reaksi, 7 getaran yang berulang, 5 anasir yang menumbuhkan dan melemahkan dan semua hukum yang bekerja di seluruh semesta adalah malaikat yang bekerja menjalankan tugasnya sesuai ketentuan Allah (sunatullah). Ada juga malaikat yang mengatur dan mengawasi kehidupan tinggi seperti jin dan manusia.
    Malaikat Jibril adalah jenis malaikat yang berhubungan dengan pewahyuan, akal dan pikiran,dan sifat Rohim Tuhan
    Malaikat Mikail jenis malaikat yang mengatur perputaran energi dan rejeki (hukum alam), dan sifat Rahman Tuhan
    Isrofil adalah malaikat peniup sangkakala, yang berhubungan dengan waktu yang mengawali dan mengakhiri proses penciptaan alam semesta,
    malaikat Izrail adalah malaikat yang berhubungan dengan penempatan dan pencabutan ruh dalam setiap badan makluk hidup.
    Malaikat Roqib Atid yang merekam mencatat setiap kejadian baik buruk memori alam semesta,
    Munkar Nakir malikat yang mengadili dan menimbang semua catatan kehidupan makluk, Malik malaikat yang menjaga dan menghuni hukum neraka, Ridwan malaikat penjaga surga, ridho, kebahagian dll.
    Jadi pada hakekatnya semua penciptaan diliputi oleh malaikat penjaga. Namun wujud sejatinya tersebunyi di alam yang lebih tinggi dan kita menyadarinya sebagai hukum alam dan kehidupan. Malaikat merupakan perwujudan akal statis yang akan bersujud kepada adam yang dianugerahi akal dinamis, akal yang mempunyai kemampuan menjabarkan nama nama,pengetahuan ilmu dan teknologi untuk memanipulasi,merubah dan menggerakkan perubahan di semesta dalam batas yang ditentukan.
    Jadi saat penglihatan dan pemikiran tak mengjangkau hakikat ketuhanan maka sandarkan pada petunjuk Tuhan. Kebenaran pemikiran makluk adalah terbatas dan relative. Fenomena alam semesta dan segala hukum yang bekerja padanya adalah kerja malaikat yang menjaga Arsy dan ciptaan Allah. Pada mulanya, yang benar tampak benar, setelah melihat fakta baru dan dipikirkan seksama yang benar ada menjadi salah. Akhirnya segalanya tampak benar sekaligus salah, baik sekaligus buruk, ya sekaligus tidak. Oleh karena lebih bijak mengajarkan apa yang perlu diajarkan, bukan apa yang seharusnya diajarkan.

    BalasHapus
  9. Buat yang agama lain...agar bisa tahu seperti apa ajaran buddha...kami mengundang anda untuk melihatnya sendiri dan membuktikannya sendiri (tidak mendengar dari sumber-sumber lain, yang tidak tahu seperti apa agama Buddha sebenarnya), buktikan oleh diri sendiri.

    Soalnya komen yang di atas...kesannya "Cocoklogi" yang aneh untuk agama Buddha:

    1.Sebagaimana diketahui ajaran Budha pada mulanya adalah mengesakan Tuhan (saya tak pernah membaca ini)

    2. Tapi kenapa ajaran keesaan Allah itu kabur pada kitab suci agama Budha dan berbeda dengan ajaran nabi Muhammad? (Kitab Suci kami ada berlemari-lemari...Tripitaka bukan hanya 1 buku tebal...untuk membacanya butuh berpuluh-puluh tahun...apa bapak sudah membacanya?)...saya kagum kalau bapak sudah pernah melahap semuanya...karena masih banyak umat awam Buddha yang masih belum selesai membacanya, Dhammapada (Ada banyak buku), kisah hidup sang Buddha (Ada banyak buku), Syair-syair (Ada banyak buku)...dan masih banyak yang lain.

    3.Kitab-kitab suci selain kitab Al-Qur'an sudah tercemar dengan tulisan tangan manusia yang merubah isi kitab dan menyatakan bahwa ini dari Tuhan (Tenang saja pak...kami di ajari Ehipasikko...tidak lansung di tuntut harus lansung percaya kepada segala sesuatu bahkan terhadap kitab suci sendiri (walau dibilang asli pun, kami di ajar untuk tidak lansung percaya mentah2)...Tidak suruh dilansung harus percaya membabi buta segala tentang ajarannya).

    4. ajaran Budha yang asli (maka datang...dan mari berdiskusi antar umat secara bijak..dan anda akan tahu seperti apa ajaran Buddha yang asli...sumber dari kami yang mempelajarinya lansung...bukan sumber dari orang yang merasa bahwa agama buddha itu "begini" dan "begitu"...berusaha mecoba "cocok-logi yang terdengar konyol"

    5.Kalau sudah di akhirat kita tidak bisa lagi ke dunia ini untuk bertobat (Konsep Akhirat kita pun berbeda...Surga dan Neraka kami tidak kekal...ajaran kami masih ada tumimbal lahir, ajaran anda tidak...Tujuan terakhir anda adalah Surga...dan Tujuan akhir kami, alam di atas surga...yang kami sebut Nibbana"

    6.Tuhan yang menciptakan kita pasti sama, (Maaf...tidak sama pak...kami tidak ada Tuhan Pencipta...kami hanya ada Nibana)

    7.Bagaimana jadinya bila Tuhan itu lebih dari satu ? , tentunya akan terjadi perebutan kekuasaan, perbedaan keinginan, saling adu kekuatan, sehingga akan hancurlah semesta ini menjadi ajang adu kekuatan. (Tapi kalau memang Tuhan lebih dari satu...menurut saya, mereka tidak akan merebut kekuasaan, keinginan, kekuatan, sehingga hancur alam semesta...karena mereka adalah Tuhan (bukan manusia yang masih punya keinginan dan punya rasa saing bgtu)...yang ada mereka bekerja sama membuat semesta lebih baik)...#saya tidak tahu kenapa anda melihat Tuhan anda buruk seperti itu

    8.Tuhan mempunyai anak (ini sudah membawa ranah ke ajaran lain)...tidak ikut campur.

    9. ketiga pertanyaan terakhir anda...tidak berawal, tidak menjelma, tidak dapat dikatakan dan mutlak...Dzat itu adalah Nibanna (walau ketiga pernyataan anda itu menyerang ajaran ranah lain)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut anda tuhan itu bekerja sama dengan tuhan lainnya, kalau tuhan itu bekerja sama maka tentu berarti tuhan itu lemah dan tuhan itu butuh ditolong, tuhan itu butuh dengan pihak lain, yang namanya tuhan itu pasti Maha Sempurna, Maha Kuat dan Maha Kuasa dan pasti tidak butuh pertolongan siapa pun juga. Yang butuh pertolongan itu adalah makhluk seperti manusia tidak masuk akal tuhan itu butuh ditolong. Secara akal dan logika yang namanya tuhan itu tidak mungkin bersifat lemah dan pasti Maha Sempurna. Tuhan itu bersifat dengan sifat ke Maha Sempurna-an. Jadi kesimpulannya tetap Tuhan itu Maha Esa dan Maha Sempurna dan Maha Berdiri Sendiri tidak butuh pertolongan dari siapa pun juga.
      Firman Allah dalam Al-Qur'an pada Surat Al-Anbiyaa(21):21-24 yang artinya : “Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)? Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy dari apa yang mereka sifatkan. Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanya. Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah: "Unjukkanlah hujjahmu!. (Alquran) ini adalah peringatan bagi orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang yang sebelumku". Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui yang hak, karena itu mereka berpaling.”

      Firman Allah kepada Nabi Muhammad yang berbunyi :
      "Katakanlah, 'Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; Tidak ada Tuhan selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, 'maka berimanlah kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (Kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk," (QS Al-A'raf: 158) Mudah-mudahan Saudara diberi hidayah oleh Allah karena Nabi Muhammad diutus kepada semua umat manusia termasuk juga kepada Saudara.

      Hapus
  10. anonim : kami tidak ngurusin malaikat :)

    Iya saya setuju kebenaran pemikiran makluk adalah terbatas dan relative (baik itu saya maupun anda, dan semua orang).

    Fenomena alam semesta dan segala hukum yang bekerja padanya adalah kerja malaikat yang menjaga Arsy dan ciptaan Allah (ini juga adalah salah satu pemikiran makluk yang terbatas dan relative)

    Pada mulanya, yang benar tampak benar, setelah melihat fakta baru dan dipikirkan seksama yang benar ada menjadi salah. Akhirnya segalanya tampak benar sekaligus salah, baik sekaligus buruk, ya sekaligus tidak. Oleh karena lebih bijak mengajarkan apa yang perlu diajarkan, bukan apa yang seharusnya diajarkan.(iya setuju...saya juga kembalikan kata-kata ini kepada anda)

    BalasHapus
  11. Salam Damai,
    Kata Surga sebenarnya berasal dari istilah hindu budha, dalam islam adalah jannah, merujuk nama tempat di alam akherat yang berisi atau mendeskripsikan suatu keadaan kebahagiaan, balasan bagi amal baik seseorang. Meskipun surga dalam dimensi yang berbeda ada bersama dunia ini. Namun surga yang sejati seperti yang diberitakan alquran adalah bentuk dunia dalam dimensi yang baru setelah terjadi kiamat (akhir dunia, kemusnahan bumi langit yang sekarang).

    Banyak penjelasan rinci mengenai surga dan neraka dalam alquran, tetapi dengan penegasan bahwa tiada sesuatupun di dunia ini yang dapat menjelaskan secara konkrit. Tak ada keindahan, nikmat, bahagia , ketentraman dan kemuliaan yang terdapat didunia ini untuk melukiskan kondisi di surga karena semua lebih cemerlang. Sebaliknya tiada keburukan kesulitan, penderitaan dan kehinaan di dunia ini yang dapat dipakai untuk menggambarkan neraka, karena keadaaan di neraka teramat sangat kelam.
    Dalam al-Quran kebahagiaan spiritual sering ditandai oleh penegasan bahwa tidak ada ukuran umum untuk kegembiraan duniawi dan ukhrawi. Semisal firman Allah, “ Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas”. Surga sering dilambangkan dengan taman kebahagiaan, symbol ini merupakan proyeksi langsung agar perasaan dalam hati mengenai surga tersebut menjadi tali ingatan spiritual yang menggetarkan.
    Jika ada istilah melampui surga neraka, maksudnya ialah dalam tujuan mengerjakan ibadah dan amal kebajikan jangan seperti pedagang yang selalu menghitung segala sesuatu atas dasar untung rugi , tapi jadilah seorang pecinta. Ada niat yang lebih baik, yaitu ikhlas mencari ridho dan kedekatan dengan Allah. Insya Allah surga dengan derajat yang lebih tinggi akan tercapai. Namun demikian niatan mencari surga tetap baik karena bisa membedakan dan mencegah perbuatan buruk. Surga tertinggi bagi orang islam ialah saat bersama dan diperkenankan memandang Allah.
    Jika dalam istilah budha, nirwana/nibbana adalah bentuk pencapaian spiritual dan kesadaran tertinggi, suatu keadaan kebahagiaan dan pengetahuan tertinggi, tanpa deskripsi yang tak bisa dilukiskan dengan kata, maka pada hakekatnya adalah bentuk surga juga. (yang dihuni orang pada tahap itu).
    “Adapun orang-orang yang berbahagia maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal didalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain), sebagai karunia yang tiada putus-putusnya” (Q S Hud : 108).

    BalasHapus
  12. Salam damai,..
    Dalam khazanah tasawuf islam ada Konsep Fana. Istilah ini hampir mirip dengan moksha, nibbana dalam agama hindu/budha yang berarti hilangnya identitas diri meskipun dijabarkan dengan cara yang berbeda. Fana adalah peluruhan, yaitu kondisi musnah dan padamnya kehendak dan hakekat diri karena lebur dalam kehendak dan hakekat Tuhan. Ada beberapa bentuk fana yang bisa menjadi renungan karena berhubungan dengan pencapaian makrifah dan hakekah, seperti Al hulul (penitisan Ruh, al bustami), Al ittihad (penyatuan Jiwa, al Hallaj), wihdatul wujud (kesatuan wujud, Ibn Arabi), maupun fana penyatuan kehendak hamba dengan kehendak Tuhan ( Al junayd). Dan hendaknya dipahami bahwa Pengalaman sukr di alam kesadaran yang lebih tinggi adalah suatu hal yang bersifat pribadi yang tidak bisa diceritakan pada orang awam.

    Prinsip yang terkait dengan definisi nabi mengenai Ikhsan, ”ikhsan ialah engkau akan beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak mampu melihat-Nya maka ketahuilah Dia melihatmu”. Bagaimana melihat-Nya jika menjumpai saja tidak bisa.
    Maka imam Junayd mengatakan, “Allah bisa dijumpai manakala engkau melenyapkan dirimu sendiri”. Untuk menjumpai kenyataan Tuhan seseorang harus melampui sifat tabiat unsur nafsunya, menemukan hatinya selanjutnya melampui diri dan egonya, melepas pusat diri menuju hukum cahaya. Semua yang mengatakan ruh mempunyai individualitas sendiri dan tetap ada walaupun dalam keadaan bebas akan tetap berhenti pada tingkat sebelumnya. Takkan menjumpai kenyataan kesadaran Tuhan yang dimulai dengan kesadaran sebagai insan semesta (kosmos), melampui kesadaran individu, tiada pusat. Sang pencari pada tahap ini harus telah kehilangan diri tapi tidak dengan keberadaan. Ia ada tidak sebagai individu tetapi sebagai insan kosmik terlebih dahulu. Karena tetes air akan hilang bila samodra telah dicapai. Sebenarnya ia tidak hilang tetapi ia telah menyatu dengan samodra.
    Ada fase yang tidak bisa diceritakan dengan kata kecuali dengan diam karena begitu takjubnya yaitu Kesadaran illahi. “Cahaya di atas cahaya, engkau akan memasuki cahaya-Nya tetapi tidak akan pernah menyentuh nyala api-Nya”.

    BalasHapus
  13. Tiga tingkat keyakinan dalam Al Quran sebagaimana yang didefinisikan para sufi, dimana analoginya bisa di bandingkan dengan pengetahuan tentang nyala api. Pertama ilmuyaqin, ialah keyakinan akan kebenaran yang berasal dari mendengar cerita api dengan segala sifat dan wataknya yang panas dan membakar (pengetahuan). Kedua ialah ainulyaqin keyakinan yang timbul setelah datang dan melihat dari dekat nyala api. Yang ketiga adalah haqqulyaqin ialah keyakinan yang timbul setelah menyentuh api dan terbakar olehnya.
    Keyakinan yang pertama disebut Ilmuyaqin karena keyakinan ini diperoleh dari ilmu pengetahuan. Syariat adalah kumpulan aturan dan ilmu pengetahuan yang benar karena berasal dari Tuhan. Merupakan standar nilai yang menyaring semua jenis pemikiran dan pengetahuan manusia yang kebenarannya bersifat relative.
    pengetahuan yang benar dapat dikumpulkan melalui apa saja, para guru, cerita buku atau kitab suci, tetapi mengetahui dan menyakini dengan penglihatan makrifat (ainulyaqin) menjadi lebih tinggi nilainya karena bersifat langsung. Dan rasa cinta dalam diri (hati) seseorang kepada penciptanya karena makrifahnya, akan membakar dirinya dan melahirkan keyakinan lebih tinggi dan haq (haqqulyaqin)
    Dan tingkat keyakinan kedua dan ketiga ini hanya bisa diperoleh jika seseorang terjun dalam spiritualitas kebatinan. Dari syariat (peraturan) menuju tarekah (jalan), melalui makrifat (penyaksian) mencapai hakekat (kebenaran). Dari hakekat akan menemukan kembali sinar syariat, karena setiap aturan dan hukum dari Tuhan (syariat) maupun manusia bertujuan menciptakan keteraturan, keamanan dan kebaikan. Semua berjalan dengan baik bila terdapat akhlak yang baik, suatu etika, moralitas dan spiritualitas yang benar.

    BalasHapus