Minggu, Februari 19, 2012

Asal usul Bakpao


ASAL USUL BAKPAO
Disarikan oleh : Tanhadi


Asal Kata Bakpao

Bakpao (Hanzi: 肉包, Hokkian: Bakpao, Hanyu pinyin: Roubao) merupakan makanan tradisional Tionghoa. Dikenal sebagai Bakpao di Indonesia karena diserap dari bahasa Hokkian yang dituturkan mayoritas orang Tionghoa di Indonesia.

Bakpao terdiri dari dua kata yaitu : “Bak” yang artinya babi dan “Pao” yang berarti bungkus, jadi kata Bakpao secara harfiah artinya adalah “ Daging babi yang dibungkus”, karena memang di negara asalnya Bakpao ini adalah makanan bulat yang isinya daging babi.

Didalam perkembangannya, Bakpao ini memiliki banyak variasi isi dan rasa, yaitu dapat diisi dengan bahan lainnya seperti daging ayam, sayur-sayuran, srikaya manis, selai nanas, selai kacang kedelai, selai strawberry ,kacang hijau, kacang hitam, kacang tanah, cokelat, keju dan masih banyak lagi variasi isi dan rasa lainnya sesuai selera.

Bahan utama pembungkus atau rotinya dibuat dari adonan tepung terigu dan setelah diisi dengan daging atau bahan isian lainnya tsb. Bakpao ini dikukus sampai mengembang dan matang.

Pada umumnya untuk membedakan Bakpao tanpa daging (vegetarian) dari Bakpao yang berisi daging ,biasanya di atas Bakpao yang berisi daging diberi tanda titik warna merah.


Asal usul legenda Bakpao

Asal usul Bakpao ini berasal dari salah satu bagian kecil dari roman terbaik sepanjang masa, Kisah Tiga Negara (Sānguó Yǎnyì).

Zhuge Liang (181 – 234) adalah salah satu ahli strategis terbaik China, juga sebagai perdana menteri, insinyur, ilmuwan, dan pencipta legendaris Bakpao ini.


Legenda ini berawal pada zaman tiga negara (Sam Kok : 220-280) ketika terjadi pemberontakan besar-besaran di daerah selatan Tiongkok. Zhuge Liang meminta izin kepada kaisarnya, Liu Chan untuk menumpas pemberontakan di selatan itu, (terkenal dengan sebutan ‘The Southern Campaign’ )– Suku selatan itu disebut juga ‘Nanman’ atau ‘orang barbar dari selatan’. Sedangkan Raja di daerah selatan yang memberontak itu bernama Meng Huo.

Tak lama setelah Zhuge Liang sampai di daerah selatan itu, Ia sudah mengalahkan Meng Huo sebanyak 7 kali dan membebaskannya 7 kali juga, dimana pada saat pembebasan ketujuhnya Meng Huo akhirnya menyerah dan berjanji tidak akan memberontak lagi kepada Shu Guo (saat itu belum ada sebutan Zhong Guo karena Tiongkok masih terpecah menjadi tiga negara: Shu, Wu, Wei).

Setiap kali membebaskan Meng Huo, Zhuge Liang selalu ditentang oleh jenderal-jenderalnya: “ Kenapa dia dibebaskan ? Bagaimana jika dia memberontak lagi? ”, Namun Zhuge Liang dengan tenang menjawab: “ Aku dengan mudah dapat menangkapnya kembali semudah mengeluarkan tanganku dari saku. Kini aku sedang mengalahkan hatinya ”

Zhuge Liang tahu jika Meng Huo ditangkap dan dibunuh, akan ada pengganti Meng Huo lainnya dan memberontak ke Shu, karena itu dia berpikir bahwa adalah lebih baik membuat pemimpin daerah selatan yang berpengaruh ini berpihak kepadanya dan Meng Huo bisa memimpin daerah selatan untuk setia kepada Shu.

Pada peperangan yang terakhir, yaitu yang ketujuh kalinya, Zhuge Liang telah mengatur strategi agar Meng Huo dan pasukannya masuk ke lembah yang dikelilingi pegunungan. Dilembah itu Zhuge Liang telah menaruh kereta pengangkut makanan, sehingga ketika Meng Huo melihat kereta itu, Ia langsung tertarik dan memimpin pasukannya untuk memasuik lembah itu.

Setelah pasukan Meng Huo mendekati kereta pengangkut makanan itu, ternyata kereta itu tidak berisi makanan melainkan bubuk mesiu! Langsung saja pasukan Shu yang sudah menunggu di kaki gunung memanah kereta-kereta yang penuh bubuk mesiu itu dengan panah api. Terjadilah ledakan besar-besaran di lembah itu, dan dalam sekejap lembah itu menjadi lautan api yang menewaskan hampir semua pasukan Meng Huo.

Kemenangan ini tidak membuat Zhuge Liang senang, ia hanya menyesali: “Jasaku sangat besar kepada negara, namun dosaku juga sangat besar kepada Langit (Thian/Tuhan); semoga Langit berkenan mengampuniku karena aku hanya menjalankan kewajiban menjaga keamanan negara.” Setelah kejadian ini, Meng Huo kembali ditangkap pasukan Liang.

Ketika Zhuge Liang menemui Meng Huo, ia langsung melepaskan ikatan tali Meng Huo dan berkata: “ Silahkan anda pergi lagi dan mempersiapkan pasukan baru anda untuk bertarung kembali ”.

Mendengar itu Meng Huo terharu dan berkata: “ Tujuh kali tertangkap, tujuh kali juga dibebaskan! Kejadian seperti ini seharusnya tidak pernah dan tidak akan terjadi!! Meskipun aku tidak punya adat istiadat, aku masih punya upacara keagamaan yang masih menjunjung etika. Tidak, aku tidak sehina itu! ” Setelah kejadian ini, suku selatan tidak pernah memberontak lagi kepada Shu.

kemudian, ketika dalam perjalanan akan kembali ke Cheng Du (ibu kota Shu), Zhuge Liang harus melewati sebuah sungai besar Lu Shui. Di sungai itu Ia tertahan karena terjadi gelombang besar dan badai tiada henti-hentinya, sehingga ia dan pasukannya tidak mungkin bisa berlayar dengan aman pada saat yang demikian. Hal ini menurut warga primitif setempat disebabkan oleh kemarahan para arwah pasukan Nanman yang mati gentayangan karena korban perang.

Zhuge Liang kemudian meminta pendapat Meng Huo yang ikut mengantarnya dan Meng Huo berkata: “Sejak zaman nenek moyang kami, orang yang ingin melewati sungai itu harus mengorbankan 50 kepala manusia guna dijadikan tumbal untuk menenangkan para arwah gentayangan yang berada di sungai ini, agar gelombang besar dan badai itu bisa segera reda dan dapat berlayar dengan selamat.”

Karena Zhuge Liang sudah tidak mau membuat pertumpahan darah lagi, apalagi ia tidak sampai hati harus membantai orang-orang yang tak berdosa, maka Ia pun berpikir keras selama beberapa waktu, dan akhirnya ia menemukan sebuah ide !.  Ia pun segera memerintahkan pasukannya untuk mencincang daging babi dan setelah daging itu dibumbui , diremas-remas, kemudian dimasukkan kedalam adonan tepung. Adonan tersebut dibentuk menyerupai kepala manusia sebesar kepalan tangan orang dewasa, bulat namun rata didasarnya. Selanjutnya bulatan tepung itu dikukus hingga mengembang dan matang. Penganan ini kemudian diberi nama Bakpao (Baozi) yang selanjutnya dipersembahkan kepada para arwah gentayangan itu dalam bentuk ritual.

Dan setelah upacara ritual tersebut selesai, keajaiban pun terjadi, gelombang besar dan badai pun perlahan mereda, maka Zhuge Liang dan pasukannya pun dapat berlayar menyeberangi sungai Lu Shui untuk pulang ke Cheng Du dengan selamat.
  
Sejak peristiwa itu, oleh masyarakat Cina, Zhuge Liang disebut juga sebagai Guru Leluhur Usaha Kue.

Sekarang, meskipun banyak yang tidak mengetahui asal usulnya, Bakpao telah populer di seluruh dunia sebagai salah satu makanan tradisional Cina.

 


 

Referensi:
http://www.woamu.mangaku.net/2009/09/bakpao-makanan-tradisi-china.html







1 komentar:

  1. Membuka Usaha BakPao sekarang bisa membuat omset Jutaan loh silahkan klik Bisnis Usaha BakPao Dengan Omset Jutaan Salam Sukses. :)

    BalasHapus