Senin, Februari 06, 2012

Jalan Mulia Berunsur Delapan


JALAN MULIA BERUNSUR DELAPAN
(ariya atthangika magga)


151. Dalam Dhammacakkappavattana Sutta; Samyutta Nikaya 56.11(S 5.420), Sang Buddha mengajarkan Empat Kebenaran Mulia (Cattari Ariya Saccani) yang di dalamnya terdapat Jalan yang Menuju Terhentinya Dukkha. Jalan itu disebut dengan Jalan Mulia berunsur Delapan (Ariya Atthangika Magga . Di dalam Jalan ini mengandung unsur Sila (kemoralan), Samadhi (konsentrasi), dan Panna (kebijaksanaan). Jalan Mulia Berunsur Delapan ini secara tradisional dibagi dalam tiga bagian /kelompok, yang disebut dengan istilah tiga latihan (tisso-sikka)yaitu :


I.  PANNA (Kelompok Kebijaksanaan)

1. Pengertian Benar (samma-ditthi)
2. Pikiran Benar (samma-sankappa)

Adalah sebagai latihan intelektual/akal budi, dimaksudkan agar kita hendaknya memahami terlebih dahulu secara jelas dan realistis mengenai konsep Empat Kebenaran Mulia, lalu kemudian secara bertahap mengembangkan langkah-langkah lain dari Jalan.

1)  Pengertian /Pemahaman Benar (Samma-ditthi)  ;
Adalah pengetahuan yang disertai dengan penembusan terhadap:
  1. Empat Kebenaran Mulia
  2. Tiga Corak Umum  (Tilakkhana)
  3. Sebab-musabab yang saling bergantungan (Paticca Samuppada)
  4. Hukum Kamma

2) Pikiran Benar (Samma- Sankappa);
Adalah pikiran yang bebas dari:
  1. Pikiran yang bebas dari nafsu - nafsu keduniawian (nekkhamma-sankappa)
  2. Pikiran yang bebas dari kebencian (avyapada-sankappa)
  3. Pikiran yang bebas dari kekejaman (avihimsa-sankappa)


II.  SILA (Kelompok Moral/Kebijaksanaan )

 3.   Ucapan Benar (samma-vaca)
 4.   Perbuatan Benar (samma-kammanta)
 5.   Pencaharian Benar (samma-ajiva)

Adalah merupakan latihan etika, dimana kita menentukan sendiri apa yang baik, kemudian melaksanakannya untuk diri sendiri maupun tindak-tanduk / sikap kita dalam bermasyarakat.

3)  Ucapan Benar (Samma-vaca)
Adalah berusaha menahan diri dari :
  1. Berbohong  (musavada)
  2. Memfitnah  (pisunavaca)
  3. Berucap kasar/caci maki (pharusavaca)
  4. Percakapan yang tidak bermanfaat / pergunjingan  (samphapalapa). 

Dapat dinamakan Ucapan Benar, jika memenuhi syarat dibawah ini :
  • Ucapan itu benar
  • Ucapan itu beralasan
  • Ucapan itu berfaedah
  • Ucapan itu tepat pada waktunya

Sang Buddha bersabda :
“ Kata-kata yang mempunyai empat nilai adalah yang diucapkan baik, bukan pembicaraan jahat, tidak salah dan tidak dicela para bijaksana. Apa empat itu ? Mengenai ini,……….
seseorang berbicara dengan kata-kata yang indah, bukannya buruk;
seorang berbicara dengan kata-kata yang benar, bukannya salah;
seseorang berbicara dengan kata-kata yang halus, bukannya kasar ;
seorang berbicara dengan kata-kata penuh kebenaran, bukan kepalsuan”.
( Sutta Nipata : 449-450 )

4)  Perbuatan Benar (Samma-kammanta)
Adalah berusaha menahan diri dari :
  1. Pembunuhan, 
  2. Pencurian , 
  3. Perbuatan melakukan perbuatan seksualitas yang tidak dibenarkan (asusila),
  4. Perkataan  tidak benar,
  5. Penggunaan cairan atau obat–obatan yang menimbulkan  ketagihan dan melemahkan kesadaran.

“ Semua gemetar pada kekerasan, semua takut kematian,
tempatkan dirimu pada tempat orang yang lain.
Oleh karenanya jangan membunuh
ataupun menyebabkan mereka terbunuh.”
( Dhammapada : 129-130 )


5)  Mata Pencaharian Benar (Samma-ajiva)
Berarti menghindarkan diri dari bermata pencaharian yang menyebabkan kerugian atau penderitaan makhluk lain.

Terdapat lima objek perdagangan yang seharusnya dihindari (Anguttara Nikaya, III, 153), yaitu:
  1. Makhluk hidup
  2. Senjata
  3. Daging atau segala sesuatu yang berasal dari penganiayaan makhluk-makhluk hidup.
  4. Minum-minuman yang memabukkan atau yang dapat menimbulkan ketagihan.
  5. Racun

Dan terdapat pula lima mata pencaharian salah yang harus dihindari (Majjima Nikaya. 117), yaitu:
  1. Penipuan
  2. Ketidak-setiaan
  3. Penujuman
  4. Kecurangan
  5. Memungut bunga yang tinggi (praktek lintah darat)


III.  SAMADHI ( Kelompok Pemusatan Pikiran/Konsentrasi )

6.  Daya-upaya Benar (samma-vayama)
7.  Perhatian Benar (samma-sati)
8.  Konsentrasi Benar (samma-samadhi)

Adalah merupakan latihan kejiwaan, menyadari perubahan batin dari yang bersifat keduniawian ke keadaan batin yang murni.


6) Upaya Benar (Samma-vayama)
Dapat diwujudkan dalam empat bentuk tindakan, yaitu:
  1. Berusaha mencegah munculnya kejahatan baru,
  2. berusaha menghancurkan kejahatan yang sudah ada,
  3. berusaha mengembangkan kebaikan yang belum muncul, berusaha memajukan kebaikan yang telah ada.


7) Perhatian Benar (Samma-sati)
Dapat diwujudkan dalam empat bentuk tindakan, yaitu:
  1. Perhatian penuh terhadap badan jasmani  (kayanupassana)
  2. Perhatian penuh terhadap perasaan (vedananupassana)
  3. Perhatian penuh terhadap pikiran (cittanupassana)
  4. Perhatian penuh terhadap batin (dhammanupassana)

Keempat bentuk tindakan tersebut bisa disebut sebagai  Vipassana Bhavana.

8) Konsentrasi Benar ( Samma-samadhi )
Berarti pemusatan pikiran pada obyek yang tepat sehingga batin mencapai suatu keadaan yang lebih tinggi dan lebih dalam. Cara ini disebut dengan Samatha Bhavana.

Siswa yang telah berhasil melaksanakan Delapan Jalan Kebenaran  memperoleh :
a.  Sila-visuddhi - Kesucian Sila sebagai hasil dari pelaksanaan Sila dan terkikis habisnya Kilesa (Kekotoran batin).

b.  Citta-visuddhi - Kesucian  Bathin  sebagai hasil dari  pelaksanaan Samadhi  dan terkikis  habisnya  Nivarana ( Rintangan batin).

c.  Ditthi-visuddhi - Kesucian Pandangan sebagai hasil dari  pelaksanaan Panna dan terkikis habisnya Anusaya (Kecenderungan berprasangka).

Kekotoran bathin (Asava), dapat dibagi dalam 3 (tiga)   golongan besar, yaitu:
1.    Kilesa : Kekotoran bathin yang kasar dan dapat jelas dilihat atau  didengar.
2.    Nivarana : Kekotoran bathin yang agak halus, yang agak sukar diketahui.
3.    Anusaya : Kekotoran bathin yang halus sekali dan sangat    sukar untuk diketahui.


Jalan Mulia Berunsur Delapan ini secara tradisional dibagi dalam tiga bagian/kelompok

Agama Buddha mengenal 2 (dua) macam meditasi (Bhavana) :

1) Samatha-bhavana adalah Meditasi untuk mendapatkan ketenangan bathin. Dengan melaksanakan Samatha Bhavana, rintangan-rintangan batin tidak dapat dilenyapkan secara menyeluruh. Jadi kekotoran batin hanya dapat diendapkan, seperti batu besar yang menekan rumput hingga tertidur di tanah. Dengan demikian, Samatha Bhavana hanya dapat mencapai tingkat-tingkat konsentrasi yang disebut Jhana dan mencapai berbagai kemampuan batin. Ada 5  tingkatan Jhana yaitu :

a)    Jhana pertama :
·         Vitakka = Usaha dalam tingkat permulaan untuk memegang obyek.
·         Vicara = Pikiran yang berhasil memegang obyek dengan kuat.
·         Piti = Kegiuran
·         Sukha = Kebahagiaan.
·         Ekaggata = Pemusatan pikiran yang kuat.

b)    Jhana kedua :
·         Vicara, Piti, Sukha, Ekaggata.

c)    Jhana ketiga :
·         Piti, Sukha, Ekaggata.

d)    Jhana keempat :
·         Sukha, Ekaggata.

e)    Jhana kelima :
·         Ekaggata dan keseimbangan bathin.

Sesungguhnya pikiran yang tenang bukanlah tujuan terakhir dari meditasi. Ketenangan pikiran hanyalah salah satu keadaan yang diperlukan untuk mengembangkan pandangan terang atau Vipassana Bhavana.

Meditasi Samatha-bhavana yang sangat dipujikan ialah Brahma-Vihara-bhavana yang terdiri dari :

·      Metta-bhavana
Usaha dalam tingkat permulaan untuk memegang obyek.

·      Karuna-bhavana :
Meditasi welas-asih terhadap semua mahluk yang sedang menderita.

·      Mudita-bhavana :
Meditasi yang mengandung simpati terhadap kebahagiaan orang lain.

·      Upekkha-bhavana
Meditasi keseimbangan bathin.

Brahma-Vihara-bhavana dapat juga dipakai untuk melemahkan kecenderungan- kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang tidak baik.

2) Vipassana-bhavana adalah Meditasi untuk memperoleh Pandangan Terang tentang hidup, tentang hakikat sesungguhnya dari benda-benda. Dalam melaksanakan Vipassana Bhavana, obyeknya adalah nama-rupa (batin-materi) atau pancakhandha (lihat tentang ‘PerhatianBenar-samma-sati’). Ini dilakukan dengan memperhatikan gerak-gerik nama dan rupa terus menerus, sehingga dapat melihat dengan nyata bahwa nama dan rupa itu dicengkeram oleh anicca (ketidak-kekalan), dukkha (derita), dan anatta (tanpa aku).

Tujuan dari latihan-latihan bhavana ialah untuk menyingkirkan Nivarana  yang dianggap sebagai rintangan untuk memperoleh ketenangan bathin maupun Pandangan Terang tentang hidup dan hakekat sesungguhnya dari benda-benda. Perincian dari Nivarana adalah sbb. :

·      Kamacchanda : nafsu keinginan
·      Vyapada : keinginan jahat, kebencian dan amarah.
·      Thina-middha : lamban, malas dan kesu.
·      Uddhacca-kukkucca : gelisah dan cemas.
·      Vicikiccha : keragu-raguan.
           
TIGA AKAR PERBUATAN

152. Tiga hal yang di bawah ini dapat disebut sebagai Tiga Akar atau sumber untuk melakukan perbuatan, yaitu :

·      Lobha : Kemelekatan yang sangat terhadap sesuatu sehingga menimbulkan keserakahan.

·      Dosa : Penolakan yang sangat terhadap sesuatu sehingga menimbulkan kebencian.

·      Moha : Kebodohan ; tidak dapat membeda-bedakan mana yang buruk dan mana yang baik.

( Nidana sutta ; Anguttara Nikaya III : 33)


TINGKAT KESUCIAN

153. Dalam tingkat kesucian, umat Buddha dapat dibagi dalam dua golongan :

·  Puthujjana - Ialah para bhikkhu dan orang-orang berkeluarga yang belum mencapai tingkat kesucian.

  • Ariya-puggala - Ialah para bhikkhu dan orang-orang berkeluarga yang setidak-tidaknya telah  mencapai tingkat kesucian pertama.

Setiap orang yang belum menapaki jalan kesucian dikenal sebagai puthujjana, yang secara harafiah berarti "orang awam". Jika dibandingkan dengan orang yang telah menapaki jalan kesucian (ariya-magga), maka puthujjana akan terkesan "gila" atau "kacau", oleh karena belum memiliki keseimbangan batin.

154.  Empat Tingkat Kesucian
Buddhisme mengenal empat jenis orang suci (ariya) yang terdiri dari Sotapanna (Skt Srotapanna), Sakadagami (Skt Sakrdagamin), Anagami, dan Arahat.

155. Derajat kesucian ini didasarkan atas jumlah belenggu (samyojana) yang telah mereka patahkan. Aliran Theravada mengenal adanya sepuluh belenggu yang menyebabkan para makhluk terus berputar-putar dalam samsara.

Kesepuluh belenggu itu adalah:
1.     Sakkayaditthi  : Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa atau aku yang kekal.

2.     Vicikiccha: Keragu-raguan terhadap Sang Buddha dan AjaranNya.

3. Silabbataparamasa : Kepercayaan tahyul bahwa upacara agama saja dapat membebaskan manusia dari penderitaan.

4.    Kamaraga : Nafsu Indriya.

5.    Vyapada : Benci, keinginan tidak baik.

6.    Ruparaga = Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk. (rupa-raga).

7.    Aruparaga = Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk.

8.    Mana = Ketinggian hati yang halus, Perasaan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain .

9.    Uddhacca = Bathin yang belum seimbang benar.

10.  Avijja = Kegelapan bathin, Suatu kondisi batin yang halus sekali karena yang bersangkutan belum mencapai tingkat kebebasan sempurna (arahat).

1.    Sotapanna
Kebanyakan umat Buddhis berusaha melatih sila dasar dan menjadi sempurna hanya dalam diri orang-orang yang telah mendekati tingkatan Sotapanna (Skt Srotapanna), dimana kata ini secara harafiah berarti "Pemasuk Arus". Pada tingkatan Sotapanna, seorang mendapatkan sekilas pandangan yang pertama atas Nibbana dan mulai menapaki jalan kesucian.

Seorang Sotapanna diyakini telah mematahkan tiga belenggu pertama (Samyutta-Nikaya) , yaitu :

1)    Sakkayaditthi  : Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa atau aku yang kekal.

2)    Vicikiccha: Keragu-raguan terhadap Sang Buddha dan AjaranNya.

3)  Silabbataparamasa : Kepercayaan tahyul bahwa upacara agama saja dapat membebaskan manusia dari penderitaan.

Tetapi Ia belum berhasil membebaskan dirinya dari hawa nafsu. la telah terbebas dari kelahiran kembali sebagai makhluk neraka, hantu, binatang, atau asura. la dipastikan menjadi Arahat setelah mengalami kelahiran kembali maksimum tujuh kali lagi (Anguttara-Nikaya).

Belenggu pertama dihancurkan dengan penembusan mendalam ke dalam Empat Kebenaran mulia dan Sebab Musabab yang Saling Bergantungan. Belenggu kedua dihancurkan karena ia telah "melihat" dan "terjun ke dalam" Dhamma (Majjhima-Nikaya). Belenggu ketiga dihancurkan karena kendati moralnya murni, namun ia menyadari bahwa itu saja masih belum memadai untuk mencapai Nibbana.

Ada tiga macam Sotapanna :
a)    Ekabiji Sotapanna adalah Sotapanna yang akan terlahir kembali sekali lagi.

b)    Kolamkola Sotapanna adalah Sotapanna yang akan terlahir kembali dua atau tiga kali lagi.

c)    Sattakkhattuparana Sotapanna adalah Sotapanna yang akan terlahir kembali tujuh kali lagi.

2.    Sakadagami
Dengan memperdalam penembusan pandangan terangnya, seseorang bisa mencapai tingkatan Sakadagami ("Yang Hanya Kembali Sekali Lagi"). Seorang Sakadagami telah mematahkan tiga belenggu Sotapanna (Sakkayaditthi, Vicikiccha , Silabbataparamasa) dan melemahkan belenggu-belenggu Anagami , yaitu :

4)    Kamaraga : Nafsu Indriya.
5)    Vyapada : Benci, keinginan tidak baik.

Seorang Sakadagami dilahirkan kembali maksimum sekali lagi di dalam dunia alam nafsu keinginan (kamadhatu) sebagai manusia atau makhluk surga tingkat bawah sebelum mencapai Nibbana.

3.    Anagami
Seorang Anagami ("Yang Tidak Terlahir Kembali") telah mematahkan sepenuhnya kelima belenggu (Sakkayaditthi, Vicikiccha , Silabbataparamasa, Kamaraga dan Vyapada). Ia tidak lagi dilahirkan di alam nafsu (manusia). Namun pencapaiannya belumlah memadai untuk menjadikannya seorang Arahat, dan bila ia belum sanggup untuk menjadi seorang Arahat pada kelahiran berikutnya, maka ia akan terlahir kembali di surga pertama dari "lima kediaman suci" (Alam Suddhavasa), atau surga-surga terhalus dan termurni di antara surga-surga di Alam Berwujud. Hanya seorang Anagami- lah yang dilahirkan di sana. Di surga ini ia akan mengembangkan penembusannya hingga mencapai tingkat kesucian Arahat dan mencapai parinibbana.

Ada lima macam Anagami :
1.  Mereka yang mencapai penerangan selama pertengahan pertama dari masa kehidupan mereka (Antaraparinibbayi)

2. Mereka yang mencapai penerangan selama pertengahan kedua dari masa kehidupan mereka (Antaraparinibbayi)

3.    Mereka yang mencapai penerangan melalui usaha keras ( Sasankhara parinibbayi )

4.    Mereka yang mencapai penerangan melalui usaha ringan ( Asankhara parinibbayi)

5.   Mereka yang mencapai alam kehidupan akanittha, yaitu alam kehidupan yang tertinggi (Uddham-soto-akanitthagami)

Dua yang pertama digolongkan berdasarkan atas masa kehidupan mereka, sedangkan yang ketiga dan keempat berdasarkan usaha-usaha mereka, sedangkan yang kelima ditandai melalui alam tujuan mereka.

4.    Arahat
Seorang Arahat telah mematahkan seluruh sepuluh belenggu ini , sehingga dengan demikian mengakhiri dukkha dan semua kelahiran kembali dalam pengalaman Nibbana yang penuh kebahagiaan. Seorang Arahat mempunyai kemampuan terbang dengan tubuh jasmaninya, sedangkan tingkatan-tingkatan yang lebih rendah daripadanya hanya dapat terbang dengan menggunakan kesadarannya.

Catatan:
·      Untuk Belenggu ruparaga dan aruparaga, Apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan samadhi dan telah mencapai Jhana I, Jhana II, Jhana III atau Jhana IV , maka ia dilahirkan di Alam bentuk (rupa-raga).

·      Lima samyojana/Belenggu pada Sotapanna dan Anagami dikenal sebagai lima belenggu rendah atau Orambhagiya-samyojana, Lima samyojana berikutnya pada Belenggu arahat dikenal dengan nama belenggu tinggi atau Uddhambhagiya-samyojana. Orambhagiya-samyojana dan Uddhambhagiya-samyojana telah dimusnahkan oleh Arahat.

156. Sang Buddha mengajarkan Dhamma hanya untuk membebaskan manusia dari dukkha yang mencengkeram semua makhluk hidup. bahkan dewa-dewa sekalipun tidak terhindar daripadanya. Kebahagiaan atau sukha akan datang sendirinya, bilamana derita telah dilenyapkan. Maka itu ajaran agama Buddha berkisar di sekitar Cattari Ariya Saccani atau Empat Kesunyataan Mulia dan ini harus ditembusnya. Barang siapa yang dapat menembusnya akan memperoleh tingkat kesucian.

Didalam sutta yang terdapat pada Kitab Samyutta Nikaya V : 453, menunjukkan betapa sukarnya penembusan itu , sebagai berikut:

“ Bagaimanakah pendapatmu, Ananda? Manakah tugas yang lebih berat, manakah yang lebih sukar dilakukan : Memanah melalui sebuah lubang kunci dari jarak jauh dan membelah sebatang anak panah, atau dengan ujung rambut membelah sepeseratus bagian dari ujung rambut?”

“ Tugas yang banyak lebih berat, Bhante, banyak lebih berat untuk dilakukan ialah tugas yang belakangan”.

“ Benar, Ananda, bahkan tugas yang terlebih berat pula ialah menembus makna daripada ‘Inilah derita, inilah munculnya derita, inilah lenyapnya derita, inilah jalan untuk melenyapkan derita.’”

“ Untuk itu, Ananda, kau harus bertekun untuk melaksanakan kebenaran ini.”

Tugas ini dapat dilaksanakan jika kita dengan tekun dan ulet melatih diri dalam Sila (budi pekerti/tatasusila), Samadhi (meditasi/konsentrasi pikiran) dan Panna ( kebijaksanaan luhur).

“ Tidaklah mungkin, O para siswa, untuk menguasai Samadhi tanpa menguasai sila. Tidaklah mungkin pula untuk menguasai Panna tanpa menguasai Samadhi.”
(Majjhima Nikaya 10 = Satipatthana Sutta)

“ Dalam tujuh tahun, mungkin juga dalam satu tahun, mungkin juga dalam tujuh bulan, enam bulan, lima bulan, empat bulan, tiga bula, dua bulan, satu bulan, setengah bulan, satu minggu, ia akan mempeoleh hasil jerih payahnya”.
( saduran Satipatthana Sutta)

157. Jalan menuju lenyapnya penderitaan telah ditunjukkan oleh Sang Buddha melalui Jalan Mulia Berunsur Delapan atau disebut juga sebagai Jalan Tengah (Majjhima Patipada), karena dalam mempraktekkan Buddha Dhamma, Sang Buddha menasehatkan kepada para siswanya untuk mengikuti Jalan Tengah dan menghindarkan diri dari Dua cara ekstrim yang salah, yaitu :

  1. Mencari kebahagiaan dengan menuruti atau memuaskan nafsu-nafsu indera.
  2. Mencari kebahagiaan dengan menyiksa diri.

Mencari kebahagiaan dengan cara ekstrim itu tidak akan menghasilkan kebahagiaan sejati, cara itu tidak akan dapat menghentikan daur tumimbal lahir yang terus menerus, yang berarti tidak dapat melenyapkan penderitaan bahkan menimbulkan penderitaan-penderitaan baru.

158. Disebut ‘Jalan Mulia’ karena bila dilaksanakan dengan benar, maka akan menuntun seseorang ke kehidupan yang mulia., disebut ‘ Berunsur Delapan ‘, karena terdiri dari delapan unsur/ruas/jalur yang menuntun seseorang menuju tercapainya Nibbana.

159. Demikianlah Empat Kebenaran Mulia (Cattari Ariya Saccani) yang tidak dapat dipisahkan antara Kebenaran yang satu dengan Kebenaran yang lainnya. Empat Kebenaran Mulia (Cattari Ariya Saccani) bukanlah ajaran yang bersifat pesimistis yang mengajarkan hal-hal yang serba suram dan serba menderita. Dan juga bukan bersifat optimistis yang hanya mengajarkan hal-hal yang penuh harapan, tetapi merupakan ajaran yang realitis, ajaran yang berdasarkan analistis yang diambil dari kehidupan di sekitar kita.

Dengan uraian tersebut diatas, jelaslah bahwa ajaran Empat kebenaran Mulia tidak pernah menakut-nakuti kepada para umatnya dengan segala macam ancaman dalam ajarannya, tetapi juga tidak menjanjikan sesuatu yang bersifat tidak masuk diakal pikiran manusia.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar