Kamis, April 26, 2012

Memahami Batin


MEMAHAMI BATIN

Dalam praktik meditasi, kita berlatih untuk mengembangkan penyadaran murni sehingga kita akan senantiasa sadar. Berlatih dengan energi dan kesabaran, batin bisa menjadi teguh. Kemudian, fenomena indra apapun yang kita alami, baik menyenangkan ataupun tak menyenangkan, dan apa fenomena batin pun seperti reaksi kegembiraan dan kekecewaan, kita akan misa melihatnya dengan jernih. Fenomena adalah satu hal, dan batin adalah hal lainnya. Mereka adalah hal yang terpisah.

Ketika sesuatu berkontak dengan batin dan kita menjadi senang karenanya, kita ingin mengejarnya. Ketika sesuatu tidak menyenangkan, kita ingin lari darinya. Ini bukanlah melihat batin, melainkan mengejar-ngejar fenomena. Fenomena adalah fenomena, batin adalah batin. Kita harus memisahkan mereka dan mengenali apa batin itu dan apa fenomena itu. Barulah kita bisa tenteram.

Ketika seseorang berbicara kasar kepada kita dan kita marah, itu berarti kita terkelabui oleh fenomena dan mengejar mereka, batin tertangkap oleh obyeknya dan mengikuti suasana hatinya. Tolong pahami semua hal yang kita pahami di luar dan di dalam batin ini hanyalah tipuan. Mereka tidaklah pasti atau nyata, dan ketika kita mengejar mereka, kita kehilangan jalan kita. Buddha ingin kita bermeditasi dan meliha kesejatian mereka, kesejatian dunia. Dunia adalah fenomena enam inda; fenomena adalah dunia.

Jika kita tidak memahami Dhamma, jika kita tidak mengetahui batin, dan tidak mengetahui fenomena, maka batin dan obyek-obyeknya menjadi tercampur aduk. Kemudian kita mengalamai derita dan merasa batin kita menderita. Kita merasa batin kita berkelana, tak terkendali mengalami berbagai kondisi tidak bahagia, berubah menjadi berbagai keadaan. 

Sebenarnya bukan itulah yang terjadi : Tidak ada banyak batin, melainkan banyak fenomena. 

Namun jika kita tidak sadar akan kita sendiri, kita tidak tahu batin kita, sehingga kita mengikuti hal-hal ini. Orang bilang, "Batinku sedih", "Batinku tidak bahagia", " Batinku kacau balau." Tapi sebenarnya tidak demikian. Batin bukanlah apa-apa; namun kotoran batinlah yang begitu. 

Orang-orang pikir batin mereka tak nyaman atau tak bahagia, namun sesungguhnya batin adalah hal yang paling nyaman dan bahagia. Ketika kita mengalami berbagai keadaan yang tidak memuaskan , itu bukanlah batin.

Catat ini : ketika nanti Anda sedang mengalami hal-hal ini, ingat “ Ajahn Chah bilang,’ Ini bukanlah batin.’”

Kita berlatih untuk menjangkau batin-batin yang “tua”. Batin orisinil ini tak terkondisi. Di dalamnya tiada baik atau buruk, panjang atau pendek, hitam atau putih. Namun kita tidak puas menetap dengan batin ini, karena kita tidak melihat dan memahami segala sesuatu dengan jernih.

Dhamma berada diluar kebiasaan batin yang biasa. Sebelum kita berlatih dengan baik, kita mungkin mengelirukan yang salah sebagai benar dan yang benar sebagai salah. Jadi, adalah penting untuk mendengarkan ajaran untuk mendapatkan pemahaman Dhamma dan mampu mengenali Dhamma dalam batin kita sendiri. Kebodohan ada di dalam batin. Kecerdasan ada dalam batin. Kegelapan dan khayalan berada dalam batin. Pengetahuan dan Pencerahan berada dalam batin.

Ini seperti piring kotor, atau lantai kotor, di rumah Anda yang dinodai dengan lemak dan kotoran. Dengan sabun dan air untuk mencucinya, Anda bisa menyingkirkan kotorannya. Ketika kotoran lenyap, Anda mendapatkan piring atau lantai yang bersih. Disini, yang ternodai adalah batin. Ketika kita berlatih dengan benar, hal yang bersih ditemukan, seperti halnya lantai kotor yang dibuat bersih. Ketika kotoran disikat habis, maka kondisi bersihpun muncul. Hanya kotoranlah yang menutupinya.

Batin dalam keadaan alaminya, batin sejati, adalah sesuatu yagn stabil dan tak ternoda. Batin terang dan bersih. Batin menjadi terselimuti dan terkotori karena batin bertemu dengan obyek-obyek indra dan menjadi terpengaruh oleh obyek-obyek tersebut lewat suka dan tidak suka. Ini bukan berarti batin secara alaminya ternoda, namun batin hanya belum mantap dalam Dhamma, sehingga fenomena bisa mencemarinya.

Sifat batin orisinil tidaklah tergoyahkan. Batin orisinil itu hening. Kita tidak hening karena kita bergejolak oleh obyek-obyek indra, dan kita berakhir sebagai budak keadaan batin yang berubah-ubah. Jadi, praktik sesungguhnya berarti mencari jalan pulang ke batin orisinil kita, batin yang “tua”.

Praktik menemukan rumah lama kita, batin orisinil yang tak goyah dan tak berubah mengikuti berbagai fenomena. Batin orisinil bersifat damai sempurna; itu adalah sesuatu yang sudah di dalam kita.


Buku : Ini Pun Akan Berlalu – Ajahn Chah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar