Senin, Maret 17, 2014

Mimpi dan Maknanya

Mimpi dan Maknanya

Hidup hanyalah sekedar mimpi

Salah satu masalah terbesar manusia yang tidak terpecahkan adalah misteri mimpi. Sejak awal masa, manusia telah mencoba untuk menganalisis mimpi dan mencoba menjelaskannya dalam istilah - istilah tafsir dan psikologis, tetapi sementara telah ada beberapa ukuran keberhasilan akhir-akhir ini, kita mungkin tetap tidak mendekati jawaban pertanyaan yang mengherankan ini : "Apa itu mimpi ?"

Penyair besar zaman Romantik Inggris, William Wordsworth memiliki konsep yang menakjubkan bahwa kehidupan kehidupan kita ini hanya mimpi belaka dan kita akan "terbangun" pada kenyataan yang "sebenarnya" saat kita meninggal, saat ‘mimpi’ kita berakhir. .

" Kelahiran kita hanyalah suatu tidur dan terlupa ;
Jiwa yang bangkit dalam diri kita, bintang kehidupan kita ,
Memiliki tempatnya ditempat lain ,
dan datang dari jauh ."

Konsep serupa digambarkan dalam kisah Buddhis kuno yang menceriterakan tentang seorang dewa yang bermain dengan dewa-dewa lain temannya. Setelah lelah, ia berbaring untuk tidur sejenak, dan meninggal. Ia lahir kembali sebagai seorang gadis di bumi. Disana ia menikah, memiliki beberapa anak, dan hidup sampai tua. Setelah kematiannya, kembali ia lahir sebagai dewa dalam lingkungan teman yang sama yang baru saja selesai bermain.
Ceritera ini juga menggambarkan relativitas waktu, bahwa konsep waktu dalam dunia manusia sangat berbeda dengan alam keberadaan lain .

Apa yang dikatakan ajaran Buddha tentang mimpi ? Ajaran Buddha tidak terlalu terkesan terhadap orang yang mengaku sebagai ahli tafsir mimpi. Orang-orang ini memanfaatkan ketidaktahuan orang yang percaya bahwa setiap mimpi memiliki makna spiritual atau ramalan .

Menurut psikologi Budhis, mimpi adalah proses pembentukan ide yang terjadi sebagai aktivitas pikiran. Dalam mempertimbangkan terjadinya mimpi, bisa diingat bahwa proses tidur dapat dibagi ke dalam lima tahap :

1. mengantuk.
2. tidur ringan.
3. tidur nyenyak.
4. tidur ringan.
5. terbangun.


Makna dan penyebab mimpi merupakan subyek diskusi dalam buku tersohor Milinda Panha atau " Pertanyaan Raja Milinda ( ditulis pada 150 SM ), dimana Yang Ariya Nagasena telah menyatakan bahwa ada enam penyebab mimpi, tiga diantaranya organik : Angin, empedu, dan lendir . Yang keempat terjadi karena campur tangan kekuatan adialami, kelima : bangkitnya kembali pengalaman masa silam, dan keenam : pengaruh kejadian masa depan. Secara kategori dinyatakan bahwa mimpi terjadi hanya pada tahap tidur ringan yang dikatakan seperti tidur pada seekor monyet. Dari keenam penyebab yang diberikan.

Yang Ariya Nagasena menyatakan secara positif bahwa yang terakhir, yaitu mimpi ramalan
adalah satu - satunya hal yang penting dan yang lainnya relatif tidak bermakna .

Mimpi adalah fenomena yang diciptakan pikiran dan merupakan aktivitas pikiran. Semua manusia bermimpi, walaupun sebagian orang tidak dapat mengingatnya. Ajaran Buddha mengajarkan bahwa beberapa mimpi memiliki arti psikologis. Keenam penyebab yang disebutkan diatas dapat juga dikelompokkan dengan cara berikut :

1.    Semua pikiran yang tercipta tersimpan dalam pikiran bawah sadar kita dan beberapa diantaranya sangat mempengaruhi pikiran sesuai dengan kecemasan kita. Saat kita tidur , beberapa dari pikiran ini diaktifkan dan muncul sebagai 'gambar' yang bergerak. Hal ini terjadi karena selama tidur, kelima indra yang merupakan kontak kita dengan dunia luar ber istirahat sementara. Pikiran bawah sadar kemudian bebas menjadi dominan dan ' memainkan ulang' pikiran yang tersimpan. Mimpi ini mungkin bernilai bagi psikiater, tetapi tidak dapat dikelompokkan sebagai ramalan. Hal ini semata - mata refleksi pikiran saat istirahat .

2.    Jenis mimpi kedua juga tidak memiliki makna. Hal ini disebabkan oleh hasutan internal dan eksternal yang menimbulkan sejumlah 'pikiran visual' yang 'terlihat' oleh pikiran pada saat istirahat. Faktor internal adalah hal yang menganggu tubuh ( misalnya : makanan berat yang membuat orang tidak mengalami tidur nyenyak atau ketidak seimbangan dan friksi antara unsur penyusun tubuh ). Hasutan eksternal adalah saat pikiran terganggu ( Walaupun orang yang tidur tidak menyadarinya ) oleh fenomena alami seperti cuaca, angin, dingin, hujan, desir dedaunan, derit cendela, dan lain - lain. Pikiran bawah sadar bereaksi terhadap gangguan ini dan membentuk gambar untuk 'menjelaskan' hal itu. Pikiran mengakomodasi iritasi itu sehinga orang yang bermimpi dapat terus tidur tanpa terganggu. Mimpi ini juga tidak penting dan tidak perlu di tafsirkan .

3.    Kemudian ada mimpi ramalan. Hal ini penting. Hal ini jarang dialami dan hanya jika ada kejadian mendatang yang sangat berhubungan dengan si pemimpi. Ajaran Buddha mengajarkan bahwa disamping dunia nyata yang dapat kita alami, ada para dewa yang ada di alam lain atau roh yang terikat pada bumi ini dan tidak dapat kita lihat. Mereka mungkin kerabat atau teman kita yang telah meninggal dan telah terlahir kembali. Mereka mempertahankan hubungan dan ikatan batin dengan kita. Ketika umat Buddha melimpahkan jasa kepada orang meninggal, mereka mengundang para dewa untuk berbagi kebahagiaan yang terkumpul dalam jasa itu. Jadi mereka mengembangkan hubungan mental dengan orang yang meninggal. Para dewa sebaliknya senang dan mereka mengamati kita dan menunjukan sesuatu dalam mimpi jika kita menghadapi masalah besar tertentu dan mencoba melindungi kita dari bahaya. Jika kita mengatakan bahwa dewa dapat melindungi kita, kita tidak berkontradiksi dengan pernyataan sebelumnya bahwa dewa tidak dapat menyelamatkan kita.

Peningkatan spiritual kita harus kita jalan sendiri. Jadi, jika ada hal penting yang akan terjadi dalam hidup kita, hal itu mengaktifkan energi mental tertentu dalam pikiran kita yang tampak sebagai mimpi. Mimpi ini dapat memperingatkan bahaya yang akan datang atau bahkan menyiapkan kita untuk berita baik dadakan. Pesan ini diberikan dalam istilah simbolis (seperti negatif foto) dan harus ditafsirkan dengan keahlian dan kepandaian. Sayangnya terlalu banyak orang mencampur adukan kedua jenis mimpi ini dan akhirnya hanya membuang waktu dan uang konsultasi dengan cenayang dan penafsir mimpi gadungan. Sang Buddha menyadari bahwa hal ini dapat dimanfaatkan untuk keuntungan pribadi dan karenanya Ia memperingatkan para bhikkhu menentang praktik tukang ramal, astrologi, dan penafsiran mimpi dalam nama  ajaran Buddha .

4.    Akhirnya, pikiran kita adalah simpanan semua energi kamma yang terkumpul pada masa lalu. Kadang - kadang, saat suatu kamma akan matang ( yaitu saat perbuatan yang kita lakukan pada kehidupan lampau atau awal kehidupan kita, akan mengalami akibatnya ) pikiran yang beristirahat selama tidur dapat memicu suatu 'gambar' tentang apa yang akan terjadi. Sekali lagi, tindakan yang akan datang haruslah sesuatu yang penting dan sangat kuat sehinga pikiran 'melepas' energi ekstra itu dalam bentuk mimpi yang gamblang. Mimpi semacam itu sangat jarang terjadi dan hanya pada orang tertentu dengan jenis pikiran khusus. Tanda-tanda akibat kamma tertentu juga muncul dalam pikiran kita pada saat terakhir ketika kita akan meninggalkan dunia ini .

Mimpi dapat terjadi saat dua manusia mengirimkan pesan telepati yang kuat satu sama lain. Jika seseorang memiliki keinginan kuat untuk berkomunikasi dengan orang lain. ia berkonsentrasi kuat pada pesannya dan orang yang ingin diajak berkomunikasi. Saat pikiran beristirahat merupakan keadaan yang ideal untuk menerima pesan ini yang terlihat sebagai mimpi  Biasanya mimpi ini hanya muncul dalam satu momen kuat karena pikiran manusia tidak cukup kuat untuk mempertahankan pesan semacam itu dalam jangka lama .

Semua makhluk duniawi adalah pemimpi, dan mereka melihat hal yang tidak abadi.
Mereka tidak melihat bahwa usia muda berakhir dengan usia tua, kecantikan dengan keburukan, kesehatan dengan penyakit, dan hidup itu sendiri dengan kematian. Dalam dunia mimpi ini, yang benar-benar tanpa inti, terlihat sebagai kenyataan. Mimpi selama tidur merupakan dimensi lain dunia mimpi. orang satu-satunya yang terbangun adalah para Buddha dan Arahat  karena mereka telah melihat kenyataan.

Para Buddha dan Arahat tidak pernah bermimpi. Ketiga jenis mimpi yang pertama tidak dapat terjadi dalam pikiran mereka karena pikiran mereka telah 'ditenangkan' secara permanen dan tidak dapat diaktifkan menjadi mimpi. Jenis mimpi terakhir tidak dapat terjadi karena mereka telah menghilangkan semua energi nafsu mereka secara sempurna dan tidak ada 'sisa' energi kecemasan atau nafsu ketidakpuasan untuk mengaktifkan pikiran untuk menghasilkan mimpi. Sang Buddha juga dikenal sebagai yang terbangun karena cara - Nya menenangkan tubuh fisik bukanlah dengan cara kita tidur yang menghasilkan mimpi.

Seniman dan pemikir besar, seperti Goethe dari jerman, sering berkata bahwa mereka mendapatkan beberapa inspirasi terbaik dari mimpi.  Hal ini dapat disebabkan saat pikiran mereka terputus dari lima indra selama tidur, mereka menghasilkan pikiran jernih yang kreatif dalam tingkat tertinggi. Wordsworth mengacu pada hal yang sama saat ia berkata bahwa puisi yang terbaik dihasilkan dari 'emosi kuat yang dikumpulkan dalam ketenangan.'


Sumber  : “Keyakinan Umat Buddha “- Dr. Kirinde Sri Dhammananda Nayaka Mahathera

-oOo-




Tidak ada komentar:

Posting Komentar