Rabu, April 20, 2011

Ya beginilah

YA BEGINILAH
By: Ajahn Chah


Di mana Dhamma?
Segenap Dhamma sedang duduk di sini bersama kita.
Apa pun yang anda alami adalah benar, seperti apa adanya.
Ketika anda menjadi tua, jangan pikir bahwa itu adalah sesuatu yang salah.
Ketika punggung anda sakit, jangan pikir itu semacam kekeliruan.
Jika anda menderita, jangan pikir itu salah.
Jika anda bahagia, jangan pikir itu salah.

Semuanya ini adalah Dhamma.
Penderitaan hanyalah penderitaan.
Kebahagiaan hanyalah kebahagiaan.
Panas hanyalah panas.
Dingin hanyalah dingin.
Dhamma bukanlah ”Aku bahagia, aku menderita, aku baik, aku buruk,aku mendapat sesuatu, aku kehilangan sesuatu.”
Apakah ada yang bisa dihilangkan seseorang?
Tidak ada sama sekali.

Mendapatkan sesuatu adalah Dhamma.
Kehilangan sesuatu adalah Dhamma.
Bahagia dan nyaman adalah Dhamma.
Sakit adalah Dhamma.
Dhamma berarti tidak melekat pada kondisi-kondisi ini,
namun mengenali mereka apa adanya.

Jika anda memiliki kebahagiaan, Anda sadari, ”Oh! Kebahagiaan tidaklah tetap.”
Jika Anda menderita, Anda sadari, ”Oh! Duka tidaklah tetap.”
”Oh, ini benar-benar baik!”—tidak tetap.
”Itu benar-benar buruk!”—tidak tetap.
Mereka punya keterbatasan, jadi jangan berpegang begitu erat pada mereka.

Buddha mengajarkan mengenai ketidaktetapan.
Beginilah segala sesuatu sebagaimana adanya.
mereka tidak mengikuti kehendak siapapun. Itulah kebenaran mulia.
Ketidaktetapan menguasai dunia, dan itu adalah sesuatu yang tetap.
Inilah titik tempat kita terkelabui, jadi inilah tempat di mana seharusnya Anda lihat.

Apapun yang terjadi, kenalilah itu sebagai benar.
Segala sesuatu benar dalam sifat alaminya sendiri,
yaitu pergerakan tiada henti dan perubahan.

Tubuh kita demikian.
Semua fenomena badan dan batin pun demikian.
Kita tidak bisa menghentikan mereka; mereka tidak bisa dibuat diam.
Tidak diam berarti sifat mereka adalah tidak tetap.
Jika kita tidak bergulat dengan kenyataan ini,
maka di mana pun kita berada, kita akan bahagia.
Di mana pun kita duduk, kita bahagia.
Di mana pun kita tidur, kita bahagia.
Bahkan ketika kita menjadi tua, kita tidak akan terlalu menggubrisnya.
Anda berdiri dan punggung Anda sakit,
lalu Anda pikir, ”Ya, ini kira-kira benar seperti ini.” Itu benar, jadi jangan melawannya. 
Ketika rasa sakit itu berhenti, Anda mungkin berpikir, ”Ah! Lebih baik!”
Tapi itu bukannya lebih baik. Anda masih hidup, jadi punggung Anda akan sakit lagi.

Inilah jalan sebagaimana adanya,
sehingga Anda harus terus mengarahkan batin pada perenungan ini,
dan jangan membiarkan batin berpaling dari praktik.

Tetaplah gigih di dalamnya, dan jangan memercayai segala sesuatu terlalu banyak; 
alih-alih percayailah Dhamma, bahwa kehidupan itu ya seperti ini.
Jangan memercayai kebahagiaan.
Jangan memercayai duka.
Jangan terpaku mengejar apa pun.

Dengan landasan seperti ini, maka apa pun yang terjadi, janganlah dipikirkan
itu bukanlah sesuatu yang tetap, itu bukanlah sesuatu yang pasti.

Dunia adalah seperti ini.
Maka di sana ada jalan bagi kita, jalan untuk menata hidup kita dan melindungi kita. 
Dengan penyadaran murni dan pemahaman jernih terhadap kita sendiri,
dengan kebijaksanaan yang melingkupi-segalanya,
itulah jalan dalam keselarasan.

Tak ada yang bisa mengelabui kita, karena kita telah memasuki jalan.
Tetaplah melihat ke sini, kita bertemu dengan Dhamma sepanjang masa.


]˜

Sumber: Inipun Akan Berlalu - Ajahn Chah, Ehipassiko Foundation



Tidak ada komentar:

Posting Komentar