Rabu, April 20, 2011

hukum Karma adalah Omong kosong dan Takhayul?

HUKUM KARMA ADALAH OMONG KOSONG DAN TAKHAYUL?


Oleh : Tanhadi

Pernyataan-pernyataan seperti ini sering kita dengar dari umat Non-Buddhis yang pada umumnya memang tidak mempercayai tentang adanya hukum karma. 

Mereka menganggap segala sesuatu yang terjadi didunia ini adalah atas Kehendak Tuhan semata.

Akan tetapi ‘lucunya’, kita sering mendengar pula dari mereka bahwa Hukum Karma itu sifatnya turun-temurun ,bahwasanya bila Nenek Moyangnya atau  Bapaknya yang berbuat kejahatan akan berdampak/berakibat buruk kepada anak, cucu dan cicitnya. Bukankah ini mirip dengan istilah “ Kutukan”?. 

Dalam kehidupan sehari-hari, pada umumnya Karma diartikan sebagai sesuatu yang buruk dan selalu dihubungkan dengan karma buruk. Pandangan-pandangan keliru seperti itu menunjukkan bahwa mereka sama sekali tidak memahami ajaran tentang karma dan dengan hanya tahu sedikit sudah berani menyimpulkan dan nekad mengatakan bahwa karma itu seperti itulah !.

Jadi apakah sesungguhnya Karma itu ?

Karma adalah Kehendak / niat untuk melakukan perbuatan, Kehendak / Niat itulah yang disebut dengan Karma ! Ada niat baik dan niat buruk, demikian pula ada karma baik dan karma buruk. Jadi tidak benar jika dikatakan bahwa karma itu hanya merupakan karma buruk saja. Hal ini dengan jelas dikatakan oleh Sang Buddha dalam sabdaNya : 

“ Aku katakan, Kehendak adalah Karma,
karena didahului oleh kehendak ,
seseorang lalu bertindak dengan jasmani, ucapan dan pikiran “.
( Anguttara Nikaya III : 415 )

“ Sesuai dengan benih yang ditanam,
itulah buah yang akan engkau peroleh.
Pelaku kebaikan akan memperoleh kebaikan.
Pelaku keburukan akan memperoleh keburukan.
Jika engkau menanamkan benih yang baik  ,
maka engkau menikmati buah yang baik “.
( Samyutta Nikaya I : 227 )

Bagaimana dengan Karma yang turun-temurun itu ?

Sang Buddha bersabda :

“ Semua makhluk adalah pemilik karmanya sendiri, pewaris karmanya,
karmanya adalah kandungan yang melahirkannya ,
dengan karmanya dia berhubungan,
karmanya adalah pelindungnya .
Apapun karmanya , baik atau buruk  ,
mereka akan mewarisinya “.
( Majjhima Nikaya III : 135 ). 

Jadi jelaslah disini bahwa pandangan tentang karma turun-temurun itu adalah pandangan yang Salah!  Bagaimana mungkin, Bapaknya yang makan.... koq anaknya yang merasa kenyang ?. Kakeknya yang ngerampok... koq cucunya yang dipenjara ?.

Benarkah segala sesuatu yang terjadi didunia ini adalah atas kehendak Tuhan semata ?

Pandangan seperti  itu lazim disebut sebagai paham Deterministik ( Takdir ), yang berarti seluruh kehidupan kita Telah diputuskan dan Telah ditentukan sebelumnya, sehingga kita tidak dapat lagi berupaya dan merubah keadaan kita sendiri. ( “.....pasrah aja deh...., kalau ditakdirkan jadi orang miskin , ya terima sajalah kemiskinan itu, sebab kalau kita berusaha menjadi orang kaya berarti sama dengan menentang kehendak Tuhan dan itu adalah Dosa! )

·         Bagaimana dengan Perampok, pencopet, maling dan penipu, apakah mereka juga telah ditakdirkan menjadi jahat seperti itu ?, 

·         Bagaimana dengan orang-orang yang cacat  sejak lahir ? ,

·         Bagaimana dengan orang-orang yang ditimpa bencana alam ?,

·         Bagaimana dengan seseorang yang pekerjaannya sebagai pembunuh makhluk lainnya?

Apakah semua itu juga merupakan Takdir yang telah ditentukan oleh Tuhan ?

Wah....... bila memang demikian adanya, apa gunanya kita berdoa, bersembahyang ( beribadah), berusaha menjadi orang yang saleh / baik, mengasihi sesama, ber-amal , dan melakukan perbuatan-perbuatan baik lainnya ?,  lha wong sudah pasti kita ini telah ditentukan oleh-NYA menjadi ini dan menjadi itu, walaupun kita telah ber-amal-ibadah didunia ini dengan perbuatan-perbuatan super baik, tapi kalau memang sudah ditentukan masuk Neraka ...... ya masuk nerakalah !, kan ama Tuhan udah ditakdirkan sebelumnya!?,

iiiiih... ngeri deh punya Tuhan yang punya skenario kayak sutradara film, kita dianggap sebagai aktor dan aktris yang sedang memerankan rencanaNya, dan kalau kita keluar dari skenarioNya, akan dimarahi dan dihukum  karena tidak sesuai dengan skenarioNya... alias berdosa, ...ketemunya Neraka lagi !!....... Bila sudah nggak kuat menerima TakdirNya, maka kita akan mengeluh dan bertanya dalam doa : “ Tuhan... dosa apa yang telah kuperbuat sehingga KAU takdirkan aku menjadi orang buruk rupa, cacat, miskin dan  jahat seperti ini ?”.

Kalau boleh saya berandai-andai/mengkhayal menjadi Tuhan, maka saya akan menjawab keluhan dan pertanyaan orang itu seperti ini :

“ Wahai manusia yang buruk rupa, cacat, miskin dan jahat sepertimu, ketahuilah dengan benar, bahwa Aku tidak pernah menentukan kamu seperti itu, baik diwaktu saat ini, esok maupun kelak dikemudian hari, karena Aku adalah Sang Pencipta Dunia ini dan seisinya, Aku adalah Maha Pengasih lagi Maha penyayang, Aku Maha Tahu dan Maha Kuasa atas ciptaanKU, Aku adalah Maha Adil dan Maha Bijaksana terhadap semua makhluk CiptaanKU, Akulah Maha Penentu didunia dan di akhirat. Jadi periksalah kembali pemahamanmu dan Kepercayaanmu itu, carilah seorang Guru Agama yang Bijaksana dan benar, sehingga kamu akan mengerti, memahami, meyakini dan mempercayai bahwasanya bukan Aku yang menjadikan kamu sejelek ini. Mana mungkin Aku yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang ini membuat makhluk-Ku sejelek kamu ?”

Khayalan tersebut diatas, bila kita kaji kembali unsur kebenarannya, maka kita akan sampai pada suatu makna yang tersirat didalamnya yaitu ;

- Melihat sifat-sifat Tuhan yang Maha segalanya tersebut, Apakah mungkin Ia bersikap se-TEGA tu  menentukan ciptaanNYA menjadi ini dan menjadi itu ? 

- Dimana letak keadilanNYA, jika dikatakan bahwa Tuhan adalah Maha Adil ? ( Lahir cacat, miskin dsb)

-  Mengapa pula Ia menghidupkan seorang bayi yang baru dilahirkan, kemudian dalam sekejap bayi itu dimatikan lagi, apakah salah produksi ?

-  Apakah Ia terlalu kesepian dan perlu hiburan dengan menciptakan kekisruhan dunia dan seisinya ini?

- Apakah Ia memang sengaja membuat umatNya berlainan kepercayaan dan keyakinannya ( Agama ), sehingga umatnya saling berdebat, berselisih, bermusuhan dan bahkan saling membunuh demi mempertahankan kebenaran Agamanya masing-masing?

- Apakah Ia senang dengan permainan Teka-teki, sehingga umatNYA jadi bingung untuk menjawab semua pertanyaan mengenai hakekat keberadaanNYA. RencanaNYA, Cobaan-cobaanNYA dan Ke-Maha Segalanya-galanya?.

-  Atau mungkin Ia kurang kerjaan dan iseng –iseng belaka pada saat Ia menciptakan Alam semesta dan seisinya ini, sehingga tidak terpikirkan bahwa CiptaanNYA itu penuh dengan ketidak sempurnaan, kacau-balau dan morat-marit tak terkendali?.

Pertanyaannya adalah : “ Ngapain Dia  susah-susah menciptakan Alam semesta dan seisinya sedemikian rupa kalau ternyata kemudian banyak kekacauan dan penderitaan bagi penghuninya ??” , Apakah Dia tidak tahu kalau akibatnya seperti ini ?

Wahh.... kalau Dia nggak tahu.....berarti Dia nggak Maha Tahu dong , jadi ke-Maha segala-galanya juga bisa dianggap gugur kan ?

Kembali ke Topik semula,....., Dengan demikian kita dapat membandingkan dengan logika bahwasanya KARMA itulah yang sangat adil, tidak pilih kasih terhadap semua makhluk. Bila kita berbuat sesuatu, cepat atau lambat - kita “PASTI” akan menerima hasilnya .(aksi – reaksi / sebab-akibat yang saling bergantungan).

Sebagai Contoh :

1.Tanpa alasan apapun tiba-tiba kita menempeleng pipi orang lain (perbuatan/ penyebab), orang itu pasti marah bahkan mungkin akan membalas dengan tempelengan pula kepipi kita ( akibat ), dan sangatlah tidak mungkin saat itu ia bereaksi dengan menempeleng orang lain yang ada disekitarnya.                

2. Karena ketahuan mencuri barang milik orang lain ( Sebab ), akhirnya orang itu  digebukin rame-rame sampai babak-belur (akibat).

Pada contoh tersebut diatas, terlihat jelas adanya hubungan sebab - akibat yang saling mempengaruhi /bergantungan. Jadi sekarang jelas sekali bahwa Selama ada Niat / kehendak, pasti ada perbuatan yang dilakukan oleh pikiran, ucapan atau jasmani dan pasti pula akan mengakibatkan sesuatu / ber-akibat. 

Sekali lagi bahwasanya Karma bukanlah suatu hukuman yang diberikan oleh Dewa-Dewi, makhluk halus ataupun sosok Tuhan yang berkepribadian, akibat baik atau buruk semata-mata hanyalah karena perbuatan kita sendiri, inilah hukum alam yang pasti dan Maha-adil.

Masihkah hukum karma dianggap omong kosong dan takhayul?


Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta


]˜

3 komentar:

  1. Namo Buddhaya.....

    Anumodana untuk artikelnya..

    Metta

    pri

    BalasHapus
  2. saya setuju akan pemaparannya dan di agama h**** bahkan hkum krma mnjadi slh satu landasan pokoknya dgn sebutan panca sraddha (prcaya tuhan, prcya atman/roh, prcya hk krma, prcya reinkarnasi, prcya moksa/brsatunya jiwa dgn tuhan),,jadi bkn tujuan akhir ke surga krn surga tdk kekal..tpi mslh adanya krma turun-tmurun dlm prakteknya itu ada! prnh ad ksus, dgn pnglihatan org pintr, bhwa sang leluhur tlah mlakukan kslahan di msa lalu dan tdk ditebus dgn upacara maka kturunannya yg kena dan stelah ditebus, maka keadaan brubah jd lbh baik..apa itu kbetulan?

    BalasHapus
  3. Didalam konsep Hukum Karma Buddhis ada tertulis tentang “ Delapan Pandangan Keliru mengenai Karma “ dan salah satunya adalah pandangan tentang Karma yang turun-temurun tsb.sebagai berikut :

    ** Karma orang tua diwarisi oleh anaknya**.

    Pandangan ini beranggapan bahwa orang tua yang melakukan karma buruk maka hasilnya (vipaka) akan di terima oleh anaknya atau keluarga lainnya.

    Pandangan ini keliru karena prinsip kerja karma adalah siapa yang melakukan perbuatan maka ia akan yang menerima hasilnya.

    Dalam Cullakammavibhanga Sutta; Majjhima Nikaya 135 ,Sang Buddha bersabda :
    "Semua mahluk hidup mempunyai kamma sebagai milik mereka, mewarisi kammanya sendiri, lahir dari kammanya sendiri, berhubungan dengan kammanya sendiri, dilindungi oleh kammanya sendiri. Kamma itulah yang membedakan makhluk hidup dalam keadaan rendah atau tinggi."

    Dalam kasus tertentu terlihat sepertinya orang tua yang melakukan karma buruk dan anaknya yang mengalami penderitaan. Hal ini bukan berarti karma buruk orang tua diwarisi oleh anaknya, tetapi ini lebih berarti bahwa karma buruk orang tua tersebut memicu karma buruk si anak untuk berbuah. Dengan kata lain seseorang akan menerima akibat dari karmanya sendiri, tetapi karmanya dapat mempengaruhi atau mengkondisikan karma orang lain untuk berbuah.

    Demikian penjelasan saya, semoga bermanfaat.

    Mettacittena,

    Semoga anda berbahagia, bebas dari penderitaan batin-jasmani dan semoga semua makhluk berbahagia.

    BalasHapus