Selasa, Januari 03, 2012

Pilihan


Pilihan merupakan suatu bagian yang tidak terlepas dari kehidupan manusia. Setiap hari kita dihadapkan dengan berbagai pilihan. Pada saat membaca tulisan ini, secara sadar maupun tidak sadar kita telah melakukan sebuah pilihan yaitu melilih untuk membaca. Manusia sering melaku¬kan pilihan yang salah atau pun sering bingung untuk memilih. Bagaimana pilihan menurut pandangan Buddhisme?

Pilihan Dalam Buddhisme
Tinggalkanlah kejahatan, o para bhikkhu! Para bhikkhu, manusia dapat meninggalkan kejahatan. Seandainya saja manusia tidak mungkin meninggalkan kejahatan, aku tidak akan menyuruh kalian melakukannya. Tetapi, karena hal itu dapat dilakukan maka kukatakan,”Tinggalkanlah kejahatan!”

Seandainya saja meninggalkan kejahatan ini akan membawa kerugian dan penderitaan, aku tidak akan menyuruh kalian meninggalkan kejahatan. Tetapi, karena meninggalkan kejahatan membawa kesejahteraan dan kebahagiaan, maka kukatakan,“Tinggalkan kejahatan!”

Kembangkan kebaikan, o para bhikkhu! Para bhikkhu, manusia dapat mengembangkan kebaikan. Seandainya saja manusia tidak mungkin mengembangkan kebaikan, maka aku tidak akan menyuruh kalian melakukannya. Tetapi, karena hal itu dapat dilakukan maka kukatakan,”Kembangkanlah kebaikan!”

Seandainya saja mengembangkan kebaikan ini akan membawa kerugian dan penderitaan, aku tidak akan menyuruh kalian mengembangkannya. Tetapi, karena mengembangkan kebaikan membawa kesejahteraan dan kebahagiaan, maka kukatakan,“ Kembangkanlah kebaikan!”
(Anguttara Nikaya II, ii, 9)

Kebaikan dan Kejahatan
Sutta ini menyatakan bahwa manusia mempunyai potensi untuk berbuat kebaikan dan kejahatan. Potensi itu menjadi nyata bergantung pada pilihan kita. Sang Buddha dengan tegas menyatakan untuk meninggalkan kejahatan demi memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan. Tidak hanya meninggalkan perilaku jahat, beliau pun menganjurkan pengembangan kebaikan!

Jadi tidak cukup hanya dengan meninggalkan kejahatan untuk memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan. Kita perlu melakukan tindakan lebih lanjut, yakni berbuat baik dan terus-menerus mengembangkannya.

Landasan untuk meninggalkan kejahatan karena mengakibatkan penderitaan bagi orang lain secara langsung dan memberikan tekanan psikilogis bagi diri sendiri. Tekanan psikologis itu bisa berupa perasaan bersalah, ketakutan, kesedihan atau rasa malu, sehingga hidup akan dijalani dengan ketidaktenangan dan jauh dari kebahagiaan.

Sedangkan alasan kenapa seseorang harus mengembangkan kebaikan karena memberikan manfaat bagi orang lain dan efek psikologis yang positif bagi diri sendiri. Diri akan menjadi tenang dan bahagia karena tidak mempunyai musuh serta kesulitan-kesulitan yang dihadapi pun akan menjadi lebih mudah karena bantuan dan dukungan dari orang lain.

Pilihan
Apapun pilihan tindakan yang dilakukan, diri sendiri yang akan menerima akibatnya. Sang Buddha telah menganjurkan dan mendorong kita untuk menghindari perbuatan jahat dan banyak berbuat baik, sisanya tergantung kepada diri sendiri untuk membuat pilihan mana yang mau dilakukan. Yang jelas pilihan tersebut akan menentukan akibat baik atau buruk yang akan diterima.

Dalam Dhammapada : 12, disebutkan bahwa:
“Saran ca sarato natva asaran ca asarato, te saram adhigacchant sammasankappagocara”

Arti: Mereka yang mengetahui kebenaran sebagai kebenaran dan ketidak benaran sebagai ketidak benaran, maka mereka yang mempunyai pikiran benar seperti itu dapat menyelami kebenaran”

Ajaran Buddha sangat menghormati martabat manusia dan kebebasanya untuk menentukan pilihannya sendiri. Buddha tidak pernah menghendaki bahkan memaksakan para pengikut-Nya untuk mengikuti ajaran-Nya tanpa meneliti, mencoba, dan mengiji berdasarkan analisa secara kongret. Buddha hanya menunjukkan jalan bagi pengikutnya dan pengikutnya sendirilah yang akan menentukan jalan yang akan dilalui. Mereka sendiri yang akan merasakan manfaatnya. Apa yang diajarkan oleh Buddha akan bermanfaat bagi mereka yang menjalankan ajaran tersebut. Buddha menganjurkan agar umat manusia melaksanakan ajaran bukan karena demi Buddha atau karena “Kemahatahuan” Buddha, melainkan karena kehendak bebas dalam menentukan pilihannya sendiri.

Mereka telah menguji dan menyadari kebenaran ajaran-Nya terutama untuk kepentingan mereka sendiri dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, serta dalam kaitannya menuju kebahagiaan sejati. Manusia sering tertipu dengan naluri kebahagiaan yang sifatnya semu, yaitu kebahagiaan sesaat yang justru akan menambah pendiritaan yang cukup lama.

Kepada kaum Kalama Buddha bersabda “ Janganlah hanyut terbawa oleh ucapan orang atau tradisi atau desas-desus atau oleh otoritas kitab suci, oleh penalaran, logika, atau oleh bentuknya yang berkesan di hati, tetapi apabila ia mengetahui sendiri bahwa hal-hal seperti itu patut dicela oleh para bijak, dan bila dilakukan akan berakibat kerugian dan penderitaan, maka tolaklah hal-hal demikian. Sebaliknya apabila ia mengetahui sendiri bahwa hal-hal itu tidak tercela dan patut dipuji oleh para bijak dan bila dilakukan akan menghasilkan kesejahteraan dan kebahagiaan, maka lakukanlah dan kembangkanlah hal-hal demikian”.
( Kalama Sutta, Angutara Nikaya I : 190).

Hidup adalah Pilihan
Terakhir utk kita renungkan, hidup ini adalah pilihan. Maka tentukan lah pilihan kita dan tinggalkan hal lainnya. Jika tidak, kita tidak akan pernah menjadi orang yg bahagia karena tidak puas dengan apa yg telah kita pilih sebelumnya. Kita bisa memilih untuk melakukan perbuatan jahat atau pun perbuatan baik. Kita bisa memilih untuk bermalas-malasan ataupun selalu giat dan bersemangat. sebenarnya kita sendiri lah yang memilih untuk hidup bahagia atau pun menderita.

Pada dasarnya, semua yang telah kita terima atau yang akan kita terima itu adalah pilihan kita. Hanya saja kita sebagai manusia sering tidak sadar bahwa sebenarnya hidup ini adalah pilihan. Membaca artikel ini tentu saja juga merupakan pilihan anda!....

Banyak orang yang ingin hidup sukses dan bahagia. Tetapi mereka sendiri tidak memilih demikian. Mereka yang tidak memilih akhirnya tidak mendapatkan apa-apa dan hidup mereka tidak akan pernah berubah. Sedangkan mereka yang bisa menentukan pilihan akan terus berusaha mewujudkan pilihan tersebut. Akhirnya pilihan-pilihan itu terwujud satu per satu. Orang jahat memilih untuk berbuat kejahatan, akibatnya dia akan menerima karma atas perbuatannya.

Sedangkan orang yang memilih berbuat baik akan memetik buah karma baik dari perbuatannya. Ternyata pilihan menjadi begitu penting bagi kita semua untuk bertindak. Pilihan yang tepat harus lah menjadi pegangan hidup kita sebagai umat Buddha yang bijak.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar