Kamis, Januari 19, 2012

Benarkah Tuhan mencobai Ciptaannya Sendiri ?


BENARKAH TUHAN MENCOBAI CIPTAANNYA SENDIRI ?


15. Seringkali kita mendengar dari seseorang yang sedang mengalami musibah, kemalangan dan kesialan dalam hidupnya mengatakan bahwa hal itu merupakan Cobaan dari Tuhan untuk melihat apakah pengikutnya itu benar-benar setia padanya  Lalu apa pendapat kita dengan cerita kisah nyata ini ?....

Beberapa tahun yang lalu, pada suatu malam selesai dari kebaktian di tempat ibadahnya, seorang pengabar agama yang taat pada agamanya pulang kerumahnya didaerah Surabaya Barat dengan mengendarai sepeda motor. Ditengah  perjalanan dia dihadang perampok yang hendak merampas sepeda motornya. Karena mungkin dia mengadakan perlawanan, akhirnya selain sepeda motornya dirampas, ia juga dianiaya dan ditinggal sendirian di jalan sepi tersebut dengan kondisi terluka parah. Dengan sisa tenaga yang ada ia berusaha untuk meminta bantuan dari kendaraan yang lewat, namun tidak ada satupun yang berani berhenti untuk menolong karena takut dengan penampilannya yang penuh dengan luka dan darah tersebut. Akhirnya iapun memutuskan untuk terus berjalan dan merangkak sampai ke lokasi perumahannya, kemudian ia ditolong oleh Satpam perumahan yang mengenalinya.


Dari cerita diatas, orang tidak akan berhenti berpikir dan bertanya-tanya kenapa ia mengalami kejadian yang mengerikan itu, apa penyebabnya? Bagaimana orang yang sudah begitu taat sembahyang dan baru saja keluar dari pelayanan di tempat ibadahnya bisa menerima musibah seperti itu ? Benarkah itu adalah Cobaan dari Tuhan? Apabila kita menggambarkan Tuhan sedang mencoba manusia yang sudah begitu taat kepadaNya dengan cara seperti itu, kita tentunya boleh merasa ngeri dengan sosok Tuhan seperti itu, dan tentunya sosok Tuhan tersebut tidak bisa disebut bersifat Maha pengasih dan penyayang.

16. Apabila seorang ibu mencoba membuat roti kukus yang enak, maka disitu ada resiko roti kukus itu tidak “mengembang” atau sering dikatakan orang, rotinya “bantat”. Ibu itu memang tidak tahu apa hasil akhir dari coba-cobanya terhadap roti itu, karena itu ia harus mencoba dan mencoba lagi membuat roti kukus itu sampai benar-benar enak dan sukses.

Konsep cobaan sebagai jawaban atas kejadian yang dialami oleh pengabar agama tersebut diatas sulit diterima kecuali Tuhan memang sedang coba-coba dan tidak tahu bagaimana hasil percobaannya itu. Dengan demikian berarti Tuhan tersebut tidak maha tahu. Tetapi kalau benar-benar Tuhan tersebut maha tahu, bahwa hasilnya akan mengerikan, mengapa masih saja mencobai manusianya hingga menderita seperti itu ?  Hal ini tentunya mirip dengan sifat manusia yang iseng dan kejam.

17. Bagaimana pula dengan musibah Tsunami yang menelan korban ribuan jiwa itu ?, apakah juga merupakan salah satu dari sekian banyak Percobaan dari Tuhan, atau bahkan Hukuman dari Tuhan? Inilah wujud kesalahan-kesalahan manusia yang menggambarkan Tuhan sebagai Suatu Sosok yang berkepribadian dan bukan gambaran Tuhan yang sesungguhnya.

18. Jawaban lain yang sering dikatakan adalah bahwa kejadian yang terjadi sudah merupakan Rencana Tuhan. Apabila kita telaah penjelasan ini, tentunya timbul suatu pengertian bahwa kejadian yang terjadi pada teman kita tersebut sudah direncanakan sebelumnya oleh Tuhan bahkan mungkin pada saat ia belum lahir dimana perampok tersebut juga merupakan bagian dari rencana tersebut. Misalkan ada suatu pentas sandiwara dimana ada seorang yang baik hati dirampok oleh perampok, maka aktor perampok harus betul-betul menjalankan perannya dengan baik agar sandiwara itu bagus  jadinya.  Apabila  dalam skenarionya (Rencana) dia harus merampok lalu dia malah menolong orang itu, tentunya hal itu akan menyebabkan Sutradara marah. Dia sudah merusak jalan cerita dan melawan perintah. Tetapi bila dia benar-benar berperan sebagai perampok yang bengis maka seharusnya akan mendapatkan pujian dari Sang sutradara, harusnya dia dapat penghargaan tertinggi dalam seni peran seperti halnya piala Oscar !

Bila kita kembali pada cerita diatas, maka seharusnya perampok sepeda motor tadi masuk surga karena sudah menjalankan perintah sesuai Rencana-NYA.Tetapi yang terjadi biasanya perampok itu dikatakan akan masuk Neraka karena kejahatannya.


Konsep bahwa semua kejadian sudah direncanakan oleh Tuhan, sulit diterima. Apabila semua sudah direncanakan berarti sejak awal diciptakan manusia sudah ditentukan mana yang akan masuk Neraka dan mana yang akan masuk Surga. Lalu mana letak keadilanNya dan lagipula apa fungsinya menciptakan manusia dengan rencana seperti itu ? atau konsep ini murni buatan manusia sehingga akhirnya menyebabkan gambaran Tuhan jadi seperti itu ?


Seringkali ada orang yang menjelaskan bahwa kejadian itu untuk mengingatkan manusia bahwa Tuhan memiliki kekuasaan penuh atas nasib manusia. Apabila hal itu yang terjadi, maka berarti Tuhan tersebut bukan Maha pencipta karena telah menciptakan manusia yang tidak sempurna, sehingga perlu terus menerus untuk diingatkan. Apalagi teman kita itu tadi kerjaannya tiap saat melayani Tuhan, kenapa ia yang harus diingatkan dan bukannya si perampok ?

19. Terkadang orang menyalahkan Iblis atau Setan, yang diceritakan sebagai ciptaan Tuhan yang bertugas untuk menguji kesetiaan dan keteguhan iman manusia terhadap Tuhannya. Jika Tuhan maha tahu, maha kuasa dan maha pengasih, tentunya tidak perlu alat penguji dengan menciptakan Iblis atau Setan dan kalau toh sudah terlanjur diciptakan, harusnya dikendalikan supaya tidak membuat penderitaan dan musibah bagi manusia yang merupakan ciptaanNya pula. Kecuali memang Iblis atau Setan sengaja diciptakan dan dibiarkan supaya menggoda manusia, sehingga manusia yang punya pilihan bebas, bisa punya alternatif pilihan mau masuk surga atau neraka. Bila memiliki sifat maha tahu tentunya sudah bisa diketahui bahwa manusia mana yang bakal tahan godaan lalu masuk surga dan mana yang tidak tahan lalu masuk neraka. Tetapi bila Tuhan tidak tahu mana yang akan dipilih manusia, maka sebagai perwujudan rasa cinta kasih, seharusnya tidak menciptakan iblis penggoda karena besar kemungkinan manusia akan tergoda lalu masuk neraka.

20. Saat kita mengingat kejadian Tsunami yang menghancurkan jutaan hidup manusia dengan cara yang sangat mengerikan, belum lagi penderitaan dan trauma berkepanjangan bagi yang masih hidup, tentunya kita juga boleh bertanya-tanya, mengapa hal tersebut terjadi ? Pada waktu itu tidak ada satu tokoh agamapun bisa membahas mengapa hal itu terjadi ? Apakah Tuhan sedang murka pada jutaan orang-orang tidak berdosa itu ? Sebesar apa kesalahan mereka sehingga patut menerima hukuman seperti itu ? Saat itu para tokoh agama hanya menjelaskan bahwa betapa kecilnya kita dibanding kekuasaan Tuhan, sehingga kita tidak seharusnya menjadi sombong dan belajar rendah hati, serta mengembangkan kepedulian kita pada korban bencana tersebut. Penjelasan tokoh agama itu memang benar dan sudah seharusnya kita berpikir seperti itu, tetapi dibalik penjelasan itu akan tetap tersimpan tanda tanya besar, kenapa Tuhan begitu tega melakukan penghukuman seperti itu ? Apabila manusia dilarang untuk mempertanyakan segala rencana Tuhan, maka manusia seharusnya tidak diciptakan dengan akal budi yang  sedemikian rupa sehingga mampu berpikir logis dan mempertanyakan “ Policy ” Tuhan.

Dalam kitab Jataka VI : 208 tercatat :

“Dengan mata,
seseorang dapat melihat pemandangan memilukan,
Mengapa  “Maha Dewa”  itu tidak menciptakan secara baik ?
Bila kekuatannya dikatakan tak terbatas,
Mengapa tangannya begitu jarang memberkati ,
Mengapa dia tidak menganugerahi kebahagiaan saja?
Mengapa kejahatan, kebohongan dan
ketidaktahuan merajalela ?
Mengapa kepalsuan menang,
sebaliknya kebenaran dan keadilan gagal?
Aku menganggap, pandangan  tentang “ Maha Dewa ” adalah ketidak-adilan yang membuat dunia yang diatur keliru.” 

21. Dalam suatu kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Indonesia, salah seorang Bhikkhu kita ditanya apakah agama Buddha mengakui adanya Tuhan. Bhikkhu tersebut menjawab; tidak mengakui Tuhan kalau Tuhan itu suatu makhluk, Paus sempat bingung, mungkin juga kebanyakan orang yang belum mengenal betul ajaran Sang Buddha, akan mengalami kebingungan seperti Beliau.

22. Pernah dalam suatu pertemuan dengan tokoh-tokoh agama, seorang Bhikkhu kita ditanya oleh seorang tokoh agama sebagai berikut :

“ Bapak bhikkhu yang terhormat, saya telah membaca banyak kitab suci agama Buddha, tetapi saya tidak bisa menemukan kata-kata Tuhan dimanapun juga. Apakah agama Buddha tidak ber-Tuhan ? ” .

Menanggapi pernyataan yang bersifat tuduhan ini, bhikkhu kita dengan entengnya menjawab dengan pertanyaan lain: ”Manakah agama di Indonesia yang bertuhan?”

Tentu saja para pemuka agama itu langsung tersentak kaget dan merah padam mukanya. Mereka seolah tidak percaya dengan pertanyaan bhikkhu tersebut.

Namun, bhikkhu tersebut segera melanjutkan dengan keterangan bahwa istilah ‘tuhan' sesungguhnya berasal dari Bahasa Kawi. Oleh karena itu, pengertian kata ‘tuhan' terdapat dalam kamus Bahasa Kawi. Disebutkan dalam kamus tersebut bahwa ‘tuhan' berarti penguasa atau tuan. Dan, karena di Indonesia tidak ada agama yang mempergunakan Bahasa Kawi sebagai bahasa kitab sucinya, lalu agama manakah di Indonesia yang bertuhan dan mencantumkan istilah ‘tuhan' dalam kitab suci aslinya?

Menyadari kebenaran tentang bahasa asal kitab suci masing-masing, barulah mereka menerima bahwa memang tidak ada istilah ‘tuhan' dalam kitab suci mereka.

23. Jika demikian dalam Tipitaka, kitab suci Agama Buddha, tentu juga tidak akan pernah ditemukan istilah ‘tuhan' karena Tipitaka menggunakan Bahasa Pali yaitu bahasa yang dipergunakan di India pada jaman dahulu. Namun, tidak adanya istilah ‘tuhan' dalam kitab suci Tipitaka tentunya tidak boleh dengan mudah dan sembarangan kemudian orang menyebutkan bahwa ‘Agama Buddha tidak bertuhan'. Salah pengertian dan penafsiran sedemikian sembrono tentunya berpotensi menjadi pemicu pertentangan antar umat beragama di Indonesia bahkan di berbagai belahan dunia.

24. Tujuan dari pembahasan diatas murni untuk melakukan koreksi atas konsep keliru yang masih sering dimiliki umat Buddhis, yaitu yang menggambarkan Tuhan sebagai “ Sosok berkepribadian “ yang mengatur nasib manusia. Sangat tidak tepat menggambarkan kesucian dengan cara seperti itu. Karena itu agama Buddha tidak pernah menggambarkan Tuhan sebagai Suatu Sosok pencipta, penguasa, pemberi berkah, penghukum dsb. Tuhan adalah YANG MUTLAK, tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, tetapi bisa direalisasikan dalam batin bagi mereka yang mau mengembangkan kebijaksanaan dalam kehidupannya saat ini dan tidak harus menunggu kematian datang menjemput.

Jawaban-jawaban yang menggambarkan keterlibatan Tuhan atas nasib manusia tersebut diatas memang tidak dapat diterima dengan logika. Tetapi buat sebagian orang bisa menjadi penghibur dan harapan untuk bertahan atas penderitaan hidup yang sedang mereka alami, terutama bagi yang mau percaya penuh atas konsep-konsep tersebut.


Dalam agama Buddha, Tuhan tidak dipandang sebagai suatu Pribadi. Sang Buddha tidak mengajarkan paham yang menempatkan suatu kekuasaan Adikodrati merencanakan dan menakdirkan kehidupan semua Makhluk .

Jika ada suatu “Makhluk” yang merancang hidup dan kehidupan semua makhluk di alam semesta ini, maka semua tindakan kebajikan dan kejahatan di dunia ini berarti sudah ditentukan sebelumnya, maka sesungguhnya manusia tiada lain hanyalah sebagai “Alat” dari kehendakNya dan jika demikian, apapun yang dilakukan oleh manusia, perbuatan bajik atau jahat, tentu saja seharusnya “Makhluk itulah” yang bertanggung jawab sepenuhnya. Namun, mengapa pula diciptakan Surga dan Neraka? dan atas dasar apakah “Makhluk itu” menghakimi perbuatan para “Alat” /makhluk ciptaanNya?

Hujan memberikan kita air murni untuk diminum, akan tetapi terkadang hujan yang terlalu deras menimbulkan banjir dan menyebabkan orang kehilangan nyawa, rumah, dan mata pencaharian. Sebaliknya terkadang tidak ada hujan sama sekali, sehingga jutaan orang meninggal karena kemarau dan kelaparan yang berkepanjangan.

Gunung-gunung menjulang ke angkasa yang indah sedap dipandang mata. Akan tetapi tanah longsor dan gunung meletus yang terjadi dari abad ke abad telah menimbulkan banyak kerugian dan kematian.

Hembusan angin yang sejuk memang menyenangkan, akan tetapi badai dan topan telah seringkali menyebabkan kehancuran dan hilangnya banyak nyawa. Apakah semua itu yang disebut rancangan yang sempurna?

Untuk menghidupi kehidupan beragama yang berarti, kita harus memiliki kebebasan kehendak, kita harus bisa memilih yang baik dan yang buruk. Kalau kita tidak memiliki kehebasan kehendak, kita tidak dapat bertanggung-jawab atas kelakuan kita sendiri.




1 komentar: