Kamis, Agustus 01, 2013

Ramalan, Percaya Atau Tidak

Ramalan, Percaya Atau Tidak
Sumber : YM. Bhante Uttamo Mahathera
Dhammatalk 31 Maret 2013,
Mega Glodok Kemayoran, Jakarta



Banyak di antara kita yang suka meramal, bahkan menggunakan ramalan itu sebagai petunjuk dalam pengambilan keputusan. Namun ketika ditanya, siapa yang percaya pada ramalan, sedikit sekali orang yang mau mengakuinya.

Selama ini pandangan umum mengkaitkan ramalan dengan hal-hal yang bersifat mistik ataupun takhayul, padahal sesungguhnya, ramalan banyak dipergunakan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Misalnya, ramalan cuaca.. Apakah hari ini cerah, turun hujan, atau ada badai.. Itu semuanya juga sifatnya ramalan.

Apakah ramalan ini bermanfaat? 
Oh ya tentu..

Contoh umumnya dunia penerbangan, sebelum pesawat itu diizinkan untuk terbang, terlebih dahulu dibuatkan perencanaan (flight plan), yang juga berisikan ramalan cuaca pada saat itu.

Jika diramalkan akan ada badai disuatu tempat, maka pesawat akan terbang melewati rute lain, atau bahkan tidak jadi terbang. Bayangkan jika anda naik pesawat terbang tanpa ramalan cuaca.. Tentu sangat berbahaya..

Contoh lain, seorang wanita yang mengandung, dokter memperkirakan kapan bayinya akan lahir.. Ini juga ramalan. Atau seorang pasien yang sakit parah, dokter memperkirakan bisa bertahan sampai waktu tertentu, ini juga ramalan..

Dalam dunia usaha, para pengusaha pun menggunakan perkiraan2 harga dan permintaan di masa mendatang, ini juga ramalan. Sehingga, bisa disimpulkan bahwa, ramalan sebenarnya banyak terdapat dalam keseharian kita..

Jadi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan ramalan?
Ramalan adalah membuat perkiraan akan masa depan dengan menggunakan data2 yang ada saat ini. Dan perkiraan ini bukan dibuat secara asal2an, namun sudah diamati, dipelajari dan diuji dalam waktu yang cukup lama, sehingga tingkat keakuratannya bisa tinggi.

Lalu Apa Ramalan Bisa Dipercaya?

Tergantung..
Ramalan dapat dipercaya atau tidak, tergantung oleh siapa yang meramal..
Misalnya, jika anda menanyakan ramalan cuaca pada seorang dokter, tentu jawabannya tidak dapat dipercaya. Namun, jika ramalan cuaca itu berasal dari seorang pakar cuaca, tentu keakuratannya bisa lebih dipercaya.

Namun namanya juga ramalan, sekalipun diramalkan oleh pakarnya, tidaklah mungkin 100% dijamin kepastiannya.  Tetap saja ada kemungkinan bahwa ramalan tersebut meleset.

Banyak umat pergi ke orang pintar, bahkan ke vihara atau klenteng, untuk meramal nasib.
Kadang suatu tempat itu manjur jika ditanyakan mengenai suatu hal tertentu, misalnya untuk ditanyai tentang obat, tetapi tidak tepat jika ditanyai tentang rumah tangga, usaha, jodoh dll.. Sebaliknya juga demikian. Sudah banyak contoh kasus, seseorang yang sakit parah, ketika meminta petunjuk di suatu tempat, langsung bisa sembuh.

Memang ada tempat2 tertentu yang bisa memberikan petunjuk demikian, namun sebenarnya hal ini hanyalah mematangkan kamma baik dari pemiliknya sendiri. Jika ada kamma baik, maka harapan orang itu akan terpenuhi..Namun jika tidak ada kamma baik yang cukup, maka walaupun tempat itu terkenal manjur, tetap tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan.

Sebagai umat Buddha yang mengenal Dhamma, memang tidak ada larangan untuk meramal ataupun meminta bantuan di tempat2 tertentu. Namun sebenarnya cara itu bukanlah cara yang diajarkan oleh Sang Buddha.

Ada cara untuk mengubah nasib, nasib yang kurang baik menjadi baik, dan nasib yang sudah baik menjadi lebih baik.

Cara mengubah nasib yang diajarkan sesuai dengan Dhamma adalah :

1. Perilaku dan Ucapan yang selalu jujur, yang selalu berisikan kebaikan.
Jika perilaku dan ucapan kita selalu jujur, maka hidup kita akan jauh dari ketakutan dan kecemasan. Apalagi jika perilaku dan ucapan kita baik, maka kita bisa dipercaya dan orang lain akan senang terhadap kita.

2. Pikiran yang selalu diarahkan dengan baik.
Mengembangkan pikiran yang baik senantiasa, menghasilkan pola pikir yang baik, yang membuat kita akan bisa melihat berbagai hal dari segi positif.

Pikiran yang diisi dengan cinta kasih, akan membuat banyak makhluk / orang senang dengan keberadaan kita.
Sebagai mahluk sosial, tentu kita selalu membutuhkan dukungan orang lain untuk mencapai kesuksesan dalam hidup. Maka dengan perilaku, ucapan dan pikiran yang baik, semakin banyak orang senang dan mendukung kita, maka nasib kita pun akan berubah menjadi semakin baik.

3. Bersabar.
Kunci selanjutnya adalah bersabar.. Dalam hukum kamma, apa yang kita tanam, itulah yang akan kita petik.. Pasti demikian adanya. Hanya saja, segala sesuatu itu perlu proses, dari benih hingga berbuah, tentu perlu waktu. Banyak orang yang lupa akan hal ini. Setelah berbuat baik beberapa saat, kok ya nasib belum berubah, kemudian putus asa dan berhenti. Kadang lupa, kita baru menjadi baik setahun belakangan ini, tapi sebelumnya sudah banyak melakukan kesalahan selama puluhan tahun. Bersabar itu sangat penting, dan suatu saat buah yang seharusnya milik anda itu akan datang juga.

4. Kerelaan
Nasib dapat berubah menjadi lebih baik dan bahagia dengan mengembangkan kerelaan. Kerelaan bisa dipraktekkan dalam banyak bentuk. Kerelaan materi sebagai latihan dasar misalnya berdana makanan, pakaian serta materi lainnya. Kerelaan materi ini dilanjutkan dengan kerelaan yang bukan materi yaitu mampu  memaafkan, menerima kenyataan sebagaimana adanya..

Inilah cara2 mengubah nasib yang dapat dilaksanakan oleh seorang umat Buddha.
Dengan menjalankannya secara bersemangat dan dalam waktu tertentu, maka pasti nasib akan berubah menjadi baik apapun hasil ramalan yang pernah diperoleh.


Keterangan :

disarikan dan tulis oleh Yolanda





Tidak ada komentar:

Posting Komentar