Rabu, Juni 12, 2013

7. Amoha = Panna (Tidak Bodoh, Kebijaksanaan)

7. AMOHA =PANNA
Tidak Bodoh, Kebijaksanaan

Amoha berarti kecerdasan, pengetahuan, kebijaksanaan. Faktor mental ini membuat seseorang mampu menghilangkan gelapnya ketidaktahuan dan khayalan yang menutupi kebenaran. Moha (ketidaktahuan) dan amoha (pengetahuan) adalah dua hal yang berlawanan.

Kebijaksanaan (Panna)
Kebijaksanaan ada dua kelompok : sejati dan semu. Kebijaksanaan sejati adalah mengetahui dan memahami hukum perbuatan (kamma) dan akibatnya (vipaka) Mengetahui dan mengerti naskah Dhamma, pengetahuan melalui pandangan terang (vipassana-nana), pengetahuan Jalan (magga-nana), pengetahuan hasil (phala-nana) dan pengetahuan Buddha yang tiada bandingnya. Semua contoh pengetahuan mulia juga disebut kebijaksanaan (panna).

Kebijaksanaan Semu
Beberapa orang yang disebut “orang pintar” ahli dalam berbicara, membujuk, berbohong, mengelabui, dan berpura-pura. Kepintaran semacam ini bukanlah kebijaksanaan sejati, melainkan kebijaksanaan palsu atau semu (vancana-panna), yang berarti pengetahuan menipu orang lain. Pengetahuan semacam ini sungguh merupakan keadaan batin yang buruk, yang dikuasai oleh kemelekatan (tanha). Sebagian orang mungkin pintar dalam peperangan atau terampil dalam membuat dan menggunakan senjata canggih. Pengetahuan sedemikian tidak lain adalah pemikiran hebat yang tidak sehat.

Perlu dicatat bahwa kebijaksanaan semu tidak dapat ditemukan pada orang yang bodoh. dungu. dan ber-IQ rendah; tetapi hanya dapat ditemukan pada orang dengan kecerdasan tinggi atau orang terpelajar. Bisa dikatakan bahwa kepintaran juga bisa menjadi sebuah kondisi bagi kebijaksanaan semu dengan mekanisme Kondisi Alami Pendukung Penting (Pakatupanissaya Paccayo) seperti yang diajarkan dalam Patthana, Hukum Kondisi yang Berhubungan. Oleh karena itu orang pintar bisa mengikuti jalan yang benar dan mencapai tataran tertinggi dalam melakukan kusala, kebajikan, demikian pula mereka bisa sangat lihai dalam berbuat kejahatan dan luar biasa membahayakan.

Kebijasanaan Bawaan dan Kebijaksanaan Bentukan
Kebijaksanaan juga dapat dibedakan menjadi dua : jati-panna dan pavatti-panna. Mereka yang terlahir dengan alobha, adosa , dan amoha disebut Tihetuka-puggala (pribadi tiga akar). Sejak lahir mereka terberkahi dengan tiga akar kebaikan. Karena sejak lahir mereka sudah amoha, maka mereka belajar dan paham dengan cepat dan mampu berpikir mendalam meskipun umur mereka masih muda. Kebijaksanaan seperti itu disebut jati-panna.

Pavatti-panna berarti kepintaran dan kebijaksanaan yang diperoleh dalam hidup melalui pelatihan dan pembelajaran. Dengan bertanya, mengikuti perkuliahan, dan berusaha semampu mereka untuk mengumpulkan pengetahuan. Kebijaksanaan perolehan hasil belajar seperti ini disebut pavatti-panna. Mereka yang kurang dalam jati-panna dapat mengembangkan pavatti-panna dengan giat belajar, tentunya dibawah bimbingan guru yang ahli. Mereka yang terberkahi dengan jati-panna sejak lahir dan juga berusaha mendapatkan pavatti-panna akan meraih kesuksesan hidup yang gilang-gemilang.

Bagaimana Mengembangkan Jati-Panna
Kebijaksanaan yang didapatkan sejak lahir tidak hanya membawa kesuksesan dan manfaat duniawi, tetapi juga membawa akibat baik untuk meditasi atau dalam praktik Dhamma. Hanya orang dengan jati-panna yang dapat mencapai pencerahan atau magga-nana dan phala-nana. Oleh karena itu, setiap orang harus mengembangkan jati-panna sekarang juga untuk kehidupan-kehidupan mendatang. Untuk itu, pertama seseorang harus mengembangkan tekad kuat untuk mendapatkan kebijaksanaan pada kehidupan sekarang. Tekadkan pikiran Anda untuk memperoleh kecerdasan dan pengetahuan. Setelah membulatkan cita-cita mulia ini, Anda harus membaca berbagai buku yang bermanfaat dan berdiskusi dengan para Guru besar dan orang bijaksana. Dapatkan nasihat mereka. Usaha tersebut akan melipatgandakan pavatti-panna dan membuat Anda berpikiran rasional dan luas, serta menanam benih kebijaksanaan bagi kehidupan mendatang dalam rangkaian samsara. Bagaimanapun juga, dalam hal ini Anda jangan cepat merasa puas dengan pencapaian Anda saat ini.

Untuk mendapatkan pengetahuan dan kebijaksanaan Anda harus berkebiasaan rapi dan bersih dalam berbusana dan bersikap. Kapanpun Anda ingin memberikan dana atau perbuatan baik lainnya, Anda harus mengembangkan pengharapan mulia dan berucap :” Semoga saya mendapatkan pengetahuan dan kebijaksanaan atas perbuatan baik yang saya lakukan.” Ketika Anda memberikan dana kepada bhikkhu, Anda juga harus mengembangkan niat baik :” Semoga bhikkhu belajar dan bisa mengajarkan Dhamma setiap hari dan selalu terberkai dengan kebijaksanaan.” Jika memungkinkan, Anda bisa menghormati dan mendirikan vihara tempat bhikkhu bisa belajar Dhamma serta menghormati dan mendukung para orang tua yang akan menyebarkan ajaran Buddha.

Jika memungkinkan, Anda harus memberikan bantuan kepada sekolah, kursus, dan lembaga pendidikan lainnya, dengan maksud untuk membantu pendidikan negara. Anda juga harus selalu siap membagikan apa yang sudah Anda pelajari. Terdorong oleh usaha semacam itu, Anda akan terlahir sebagai orang bijaksana selama mengarungi samsara, siklus kehidupan. Ini adalah panduan ringkas agar Anda terberkahi dengan jati-panna pada kehidupan yang akan datang.

Perbedaan Saddha (Keyakinan) dan Panna (Kebijaksanaan)
Sifat dari keyakinan (saddha) adalah kesungguhan dalam memberi dan mempraktikkan kedermawanan dengan suatu pandangan agar dirinya berbahagia di dalam samsara. Pencurahan keyakinan semacam itu jarang mengandung pemikiran untuk memajukan negara, bangsa dan agama.

Panna (kebijaksanaan) mengembangkan perbuatan baik dengan pemikiran serius untuk perkembangan negara, bangsa, dan agama serta tidak berupaya untuk mengedepankan tujuan pribadinya untuk masa depan karena dia tahu betul bahwa perbuatan baik akan menghasilkan akibat yang baik. Demikian perbedaan dasar antara Saddha dan Panna.

Negara Myanmar ini dapat dipandang melalui kacamata saddha atau panna, ataupun keduanya. Jika keyakinan dan kebijaksanaan berjalan secara berlebihan, pandangan dan penilaian seseorang akan rancu. Sangat penting sekali bahwa seseorang harus memiliki suatu keseimbangan sikap yang memadukan antara keyakinan dan kebijaksanaan agar menuju hasil terbaik. Ada sebuah pepatah mengatakan :” Keyakinan berlebihan akan menjadi Tanha (nafsu), sedangkan kebijaksanaan berlebihan berakhir pada maya (kepalsuan).”

Sebuah anjuran
Terlepas dari apakah pengetahuan itu nyata atau semu, yang terpenting terletak pada pikiran kita sendiri. Seperti halnya hati sangat penting bagi kelangsungan suatu makhluk, niat baik selalu menjadi yang paling penting, sekarang dan seterusnya. Kebijaksanaan menentukan kesejahteraan pada kehidupan saat ini maupun masa depan. Hanya orang bijaksana yang sepenuhnya memahami manfaat dari dana, sila, dan parami (kesempurnaan) lainnya. Hanya dengan kebijaksanaanlah seseorang dapat memenuhi parami.

Dalam hal keduniawian, kebahagiaan kehidupan rumah tangga semata-mata bergantung pada kebijaksanaan suami dan istri. Dalam  pengelolaan keluarga dan juga kemakmuran, kebijaksanaan membawa ketekunan untuk mencapai suatu tujuan. Dalam khalayak ramai, hanya mereka yang bijaksana yang mendapatkan penghargaan tertinggi. Mereka yang kurang bijaksana dan tak berpendidikan, tidak akan menempati kedudukan puncak dalam masyarakat sekalipun memiliki kekayaan berlimpah.

Pengetahuan adalah kekuatan dominan dalam dunia saat ini. Orang kaya mengumpulkan kekayaan dan pakar teknologi yang bekerja sama dengan mereka. Dari pertikaian kecil sampai perang dunia, kemenangan hampir selalu berada di sisi yang pintar, yang unggul secara teknis. Dalam Catudhamma Jataka, Bodhisatta-yang telahir sebagai seekor kera-mengalahkan buaya besar di sarangnya- di Sungai- dengan taktik cerdik. Meskipun taktik tersebut tidak bisa dikatakan sebagai kebijaksanaan sejati, tetapi membuktikan bahwa kebijaksanaan dapat membawa kemenangan dalam urusan duniawi; inilah pesan moral dari Jataka tersebut.

Dalam Mahosadha Jataka, kerajaan Bodhisatta diserang oleh pasukan besar yang dipimpin oleh Raja Culani dan Menteri Kevatta. Dengan kepintaran dan taktiknya, Mahosadha mampu membuat musuh-musuhnya kabur tunggang-langgang.

Dahulu Myanmar tertinggal dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Myanmar jatuh dalam kekuasaan penjajah selama lebih dari seratus tahun. Myanmar yang kaya dengan sumber daya alam merupakan incaran menggiurkan bagi orang-orang asing yang menggunakan keunggulan teknologi untuk mengeksploitasi kekayaan negara, seperti minyak, mineral, dan hasil hutan.

Bahkan sampai kini beberapa pedagang asing, dengan kerajinan dan ketekunan, berhasil dalam usahanya di Myanmar. Kita kalah dari orang asing karena kita tidak mampu menjawab tuntutan zaman. Kita kalah dalam keterampilan dan kepandaian. Kenyataannya kita masih “tidur mendengkur bagaikan seorang pesuruh di bawah pohon beringin.”

Sebuah bangsa dengan teknologi dan keterampilan rendah akan dipandang rendah dalam perkumpulan bangsa-bangsa dunia. Para guru dan pendidik yang patriotik harus membimbing masyarakat menuju jalan yang benar. Para pelajar harus mengejar ilmu dengan kesungguhan. Para dermawan dan bhikkhu harus berperan serta dalam peningkatan pendidikan dan kecerdasan. Usaha tersebut di skala nasional akan mampu memulihkan (menumbuhkan generasi baru dengan kecerdasan tinggi) dalam kehidupan ini dan menjadi pembimbing bijaksana (pewaris jati-panna) dalam kehidupan berikutnya.


Sumber :

Abhidhamma sehari-hari Bab III. hal 94-101 _ Oleh : Ashin Janakabhivamsa.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar