Rabu, Juni 12, 2013

11. Upekkha (Keseimbangan Batin)

11. UPEKKHA
Keseimbangan Batin

Upekkha adalah keseimbangan batin atau berpikiran setara kepada semua makhluk. Dalam Abhidhamma, upekkha disebut sebagai tatramajjhattata cetasika.

Upekkha tidaklah seperti cinta kasih, karena tidak ada cinta didalamnya; bukan pula kegembiraan simpatik karena tidak ada kegembiraan didalamnya; juga bukan kebencian karena tidak ada kebencian dan dengki didalamnya. Upekkha berada pada suatu kenyataan bahwa kamma membawa akibat baik dan buruk, bergantung pada perbuatan baik atau buruk. Tema pokok upekkha adalah kammassaka; setiap makhluk mewarisi kamma-nya sendiri.

Sekarang ini kita sering memakai istilah upekkha untuk menyikapi anak-anak dan murid-murid yang nakal. Maksudnya, orang tidak peduli dengan kesejahteraan anak atau muridnya, apakah mereka berkelakuan baik atau buruk. Ini termasuk meninggalkan kewajiban. Dalam hal upekkha, pihak-pihak yang berkenaan dengan dirinya disikapi dengan pikiran yang tidak berat sebelah, bebas dari ekstrem cinta dan benci. Upekkha dapat muncul dalam pikiran orang biasa, tetapi jhana-upekkha hanya bisa dicapai setelah menguasai tiga pelopor, yaitu : metta, karuna, dan mudita.

Empat Kediaman Luhur (Brahmavihara)
Metta (Cinta kasih), Karuna (Belas kasihan), Mudita (Kegempiraan simpatik), dan Upekkha (Keseimbangan batin) secara bersama disebut Empat Brahmavihara, yaitu empat keadaan pikiran yang luhur (brahma=luhur, vihara=kediaman). Dengan kata lain "tinggal dengan memancarkan pikiran cinta kasih, atau belas kasihan, atau kegembiraan simpatik, atau keseimbangan batin kepada semua makhluk adalah kehidupan yang luhur."

Menjalani hidup dengan sifat-sifat tersebut membuat hidup tidak gersang karena panas kebencian, iri hati, dan kedengkian. Ini adalah suatu. Kehidupan yang diselimuti oleh sejuknya brahmavihara.

Mengembangkan Metta
Penuhilah pikiran Anda terus-menerus dengan metta, dengan begitu Anda akan sungguh-sungguh mengembangkan metta kepada semua makhluk. Dengan kata lain metta harus dikembangkan agar pikiran menjadi terpenuhi dengan cinta kasih.

Memancarkan Metta.
Ketika Anda memancarkan metta secara langsung kepada seseorang, sementara. Anda memusatkan pikiran kepada orang tersebut dan berharap :" Semoga dia berbahagia.", metta Anda akan terhubung dengan orang yang menerima metta. Ini terjadi karena seakan metta Anda telah menjangkau pikiran orang itu. Ketika Anda memancarkan metta kepada seseorang, dewasa ini orang bilang "Anda mengirimkan metta kepada seseorang."

Bagaimana mengirimkan Metta
Untuk mengirimkan metta, uncarkan kalimat pali berikut :

"Sabbe satta avera hontu, abhayapajja hontu, anigha hontu, sukhi attanang pariharantu.",

artinya adalah :

1). Semoga semua makhluk bebas dari marabahaya.
2). Semoga semua makhluk bebas dari penderitaan batin
3). Semoga semua makhluk bebas dari penderitaan jasmani
4). Semoga semua makhluk menjaga diri dengan bahagia.

Cara efektif mengirimkan Metta
Hanya ketika Anda sungguh-sungguh mengharapkan kesejahteraan orang lain atau makhluk hidup lain, kita dapat katakan bahwa metta telah terpancarkan dengan baik. Jika Anda hanya mengatakan "Avera hontu..dst, mencoba menghafal namun pikiran berkeliaran kemana-mana dan tanpa konsentrasi, Anda tidak. Mengirimkan metta secara efektif. Lebih baik memancarkan metta dengan ungkapan kita sendiri daripada dengan bahasa pali, jadi Anda harus menyebutkan nama orang yang Anda tuju ketika Anda memancarkan metta kepada orang tsb.

Contohnya : "Semoga Ibuku terbebas dari bahaya dan kesulitan; semoga Ibuku berbahagia batin dan jasmani; semoga Ibuku sehat dan panjang usia."

Anda harus mengulang kalimat tsb. dengan kesungguhan dan ketulusan yang besar. Demikian pula ketika Anda memancarkan metta kepada ayah, guru, dan lain-lain.

Untuk memancarkan metta kepada semua makhluk, Anda tinggal mengganti nama "Ibuku" dengan "Semua makhluk."

Singkat kata, Anda cukup menguncarkan :" Semoga Ibuku bebas dari bahaya dan baik-baik saja," " Semoga ayahku...Semoga guruku..." Yang paling hakiki dalam memancarkan metta adalah memiliki minat dan kesungguhan yang kuat demi kesejahteraan, kedamaian, dan kemajuan semua makhluk.

Bagaimana Mengirimkan Karuna
Karuna cetasika adalah belas kasihan kepada semua makhluk yang menderita karena kesengsaraan. Intinya adalah mengharapkan dengan tulus untuk meringankan mereka dari kesengsaraan. Untuk menyebarkan karuna, kita menguncarkan kalimat Pali : “ Dukkha muccantu” yang berarti “ Semoga mereka terbebas dari penderitaan”. Karuna sejati adalah pengharapan kuat agar makhluk lain terbebas dari penderitaan dan mendapatkan kebahagiaan. Pengharapan “ Semoga dia cepat meninggal” agar dia cepat terbebas dari penderitaan bukanlah karuna, melainkan byapada-duccarita (perbuatan jahat melalui pikiran).

Karuna sejati berarti sikap luhur belas kasihan kepada orang atau makhluk yag menderita. Hanya dengan mengucapkan “Dukkha muccantu” tanpa dilandasi dengan aksi nyata bukan merupakan karuna sejati.

Bagaimana mengirimkan Mudita
Mudita adalah bersimpati, turut bergembira terhadap kesuksesan, kemakmuran, dan prestasi yang diraih orang lain. Ini adalah pengharapan tulus agar orang lain terus menikmati kekayaan, kedudukan, kemajuan, kebahagiaan, ketenaran, dan sebagainya. Untuk mengirimkan mudita, seseorang harus menguncarkan “ Yathaladdhasampattito ma vigacchantu”, yang berarti “ Semoga mereka tidak kehilangan keberhasilan atau kebahagiaan yang telah mereka raih “ serta memancarkan kegembiraan simpatik ketika Anda menyaksikan kesejahteraan seseorang. Sekadar mengucapkan kalimat Pali tersebut tanpa dilandasi dengan ketulusan dan kesungguhan bukan merupakan mudita sejati.

Bagaimana memancarkan Upekkha
Upekkha adalah keseimbangan batin, memandang dengan benar dan tidak memihak. Memancarkan upekkha adalah untuk merenungkan: “ Setiap orang mewarisi kamma masing-masing; apa pun yang terjadi baik atau buruk adalah karena kamma mereka sendiri.”

Dengan kata lain, kita merenungkan :” Meskipun saya memancarkan metta demi kebahagiannya, dia hanya akan berbahagia jika memiliki kamma baik; meskipun saya menaruh belas kasihan kepadanya, dia hanya akan terbebas dari penderitaan jika memiliki kamma baik; meskipun saya berbahagia dengan kemakmurannya dan tidak menginginkan kehilangan kebahagiaannya, dia hanya akan bisa menjaga kesejahteraan dan hidupnya jika memiliki kamma baik. Maka dari itu, saya tidak seharusnya merasa khawatir dengan keadaannya; dia memiliki kamma sebagai hartanya sendiri.”

Catatan tentang Brahmavihara
Empat Kediaman Luhur pikiran ini memiliki pancaran yang berbeda-beda. Metta memancarkan cinta kasih dan kasih sayang kepada semua makhluk. Karuna memancarkan belas kasihan kepada semua makhluk yang menderita. Mudita akan mengambil kebahagiaan makhluk sebagai objeknya dan memancarkan kegembiraan simpatik. Upekkha memandang semua makhluk sebagai pewaris kamma masing-masing dan memancarkan keseimbangan kepada mereka.

Perlu dicatat bahwa seseorang tidak bisa memancarkan keempat brahmavihara secara bersamaan kepada semua makhluk atau orang tertentu. Jika Anda ingin memancarkan gelombang pikiran metta dengan efektif, Anda harus menguncarkan keempat baris Pali diatas “ Avera hontu..pariharantu” atau sesuai dengan bahasa kita sendiri dengan penuh konsentrasi.

Sama halnya jika Anda ingin memancarkan karuna terhadap penderitaan makhluk lain, dalam bahasa Pali atau bahasa kita sendiri. Jika kita mengucapkan kalimat tersebut tanpa dilandasi dengan pengertian artinya atau tanpa niat tulus, usaha Anda tidak efektif. Kegiatan ritual asal-asalan banyak dijumpai di kalangan umat Buddha dewasa ini. Oleh karena itu orang yang yakin dan taat kepada Tiga Permata (Tiratana) mengemban kewajiban untuk memberikan contoh yang baik untuk diteladani oleh generasi masa depan.

Sumber :

Abhidhamma sehari-hari Bab III. hal 108-113 _ Oleh : Ashin Janakabhivamsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar