Rabu, September 09, 2009

Kepercayaan-kepercayaan yang bukan merupakan ajaran Agama Buddha

Disusun oleh : tanhadi

1. HONG SUI / FENG SHUI
2. RAMALAN 12 SHIO
3. CHIONG
4.CIE SWAK
5. HU/ FU/ JIMAT
6. RAMALAN NASIB
7. CIAM SIE

1. HONG SUI / FENG SHUI

Feng shui merupakan unsur filsafat dan ilmu arsitektur China tradisional yang dengan selaras menghubungkan seseorang dengan lingkungannya. Ahli filsafat China membagi potensi kehidupan seseorang dalam lima aspek yang mempengaruhi kemungkinan keberhasilan kehidupan seseorang yaitu : takdir, keberuntungan, Feng shui, amal dan upaya.

Bagaimana pandangan Buddhisme mengenai Feng shui?

Dalam  pandangan  agama  Buddha ,  takdir  dan  keberuntungan merupakan buah dan akibat karma (perbuatan) seseorang. Karma masa lalu memang telah berlalu dan telah menjadi takdir dalam kehidupan seseorang. Untuk mengatur takdir hidup kita berikutnya, justru harus melalui amal dan upaya.

Di sinilah perbedaan pandangan agama Buddha dan ahli feng shui. Ahli Feng shui berpandangan bahwa jalan kehidupan kita dapat diselaraskan dengan Feng shui buatan. Tapi dalam pandangan agama Buddha jalan kehidupan seseorang akan berubah secara alami jika buah karmanya telah matang, karena setiap orang akan mewarisi karmanya masing-masing. Seperti yang disabdakan Sang Buddha dalam Culakammavibhanga Sutta berikut :

"...Setiap makhluk adalah pemilik karmanya sendiri,
pewaris karmanya sendiri,
lahir dari karmanya sendiri,
bersaudara dengan karmanya sendiri
dan dilindungi oleh karmanya sendiri.
Karma yang menentukan makhluk-makhluk,
 menjadikan mereka hina dan mulia."
( Majjhima Nikaya 55 )

Jadi kehidupan seseorang ditentukan oleh perbuatannya, hina atau mulianya tidak bisa  ditentukan  dengan mengatur Feng shui. Seseorang akan menerima akibatnya sesuai dengan apa yang telah dilakukannya.

Adanya pengaruh perbuatan ( Karma ) yang lebih kuat daripada  Fengshui ini dapat dilihat dengan melakukan pertukaran rumah orang sukses ber- Fengshui baik dengan rumah orang kurang sukses ber-Fengshui kurang baik. Setelah keduanya bertukar rumah untuk waktu tertentu, maka belum tentu orang yang kurang sukses itu menjadi sukses setelah menempati rumah yang ber-Fengshui baik tersebut. Sebaliknya, belum tentu orang yang sudah sukses tersebut setelah beberapa lama tinggal dirumah yang ber-Fengshui kurang baik itu, ia menjadi orang yang menderita.

Jadi segalanya tergantung pada Karmanya masing-masing. Mempercayai Fengshui adalah baik, karena hal itu merupakan seni arsitektur Tiongkok klasik yang memang memberikan arahan agar rumah yang dibangun akan mendapatkan kondisi ideal untuk cahaya, sirkulasi udara maupun unsur-unsur pendukung yang lainnya, dengan tujuan untuk dapat memberikan kenyamanan bagi penghuninya.

Agama Buddha memandang Feng Shui ini sebagai tradisi suatu bangsa tertentu yang boleh diikuti ataupun tidak, itu hanyalah pilihan saja. Namun yang paling penting dalam kehidupan ini adalah memperbaiki perilaku, ucapan dan pikiran agar selalu bertujuan untuk memberikan kebahagiaan bagi diri sendiri, lingkungan maupun kepada semua makhluk. Dengan banyaknya kebajikan yang dimiliki, maka otomatis orang akan mendapatkan kebahagiaan walaupun memiliki rumah dengan Feng Shui yang kurang baik.

2. RAMALAN 12 SHIO

Kepercayaan akan adanya 12 macam shio sebagai penanda kelahiran seseorang bukanlah berasal dari tradisi Buddhis apalagi Ajaran Sang Buddha. Memang, ada cerita Buddhis yang melatar belakangi terjadinya ke 12 shio tersebut, hanya saja, kebenaran cerita itu masih perlu dipertanyakan kembali.

Astrologi Cina (Ilmu yang mempelajari tentang pengaruh benda-benda diangkasa terhadap kehidupan manusia ) berdasarkan kepada siklus 12 tahun, masing-masing diberi nama binatang. Menurut legenda kuno, Buddha memanggil semua binatang untuk menghadap kepadanya pada  bulan purnama sebelum Ia meninggalkan bumi. Tapi hanya ada 12 binatang yang datang memenuhi panggilannya.

Sebagai hadiah, Ia menamakan tiap-tiap tahun  itu menurut nama para binatang dan urutannya menurut binatang yang datang terlebih dahulu yaitu : Tikus, Kerbau, Macan, Kelinci, Naga, ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing dan Babi. Berdasarkan hal inilah Astrologi Cina mempercayai bahwa nasib seseorang dan kepribadiannya dipengaruhi oleh  binatang yang menentukan tahun kelahirannya.

3.CHIONG

Dari 12 shio itu, masing-masing ditarik garis-garis dan dikelompokkan sedemikian rupa sehingga ada shio yang serasi dan ada juga shio yang kurang serasi bila disatukan/menjalin suatu hubungan dengan shio lainnya  ketidak serasian antar shio ini biasa kita kenal dengan istilah  'Chiong '. ‘Chiong’ ini dipercayai membawa kesialan bagi masing-masing pemilik shio yang sedang berada dalam siklus tidak serasi.

4. CIE SWAK

Untuk menghindari ‘Chiong’ ini, biasanya seseorang berupaya untuk mencari ‘jalan keluar’ agar tidak membawa akibat buruk / sial pada nasibnya. Satu-satunya cara yang dianggap bisa menangkal atau menghindari kesialan itu adalah dengan cara melakukan upacara buang sial / Cie Swak.

5. HU /FU / JIMAT

Selain Cie Swak, masih ada juga yang mempercayai adanya ‘ kekuatan gaib’ sebagai pelindung, penolak bala , untuk keselamatan dsb, yang disebut dengan Hu/Fu atau Jimat. Bentuknya bisa beraneka macam, kalau Hu/Fu terbuat dari selembar kertas berwarna merah atau kuning dan berisi tulisan-tulisan yang sulit untuk diterjemahkan, kemudian ada yang dibungkus dengan kain untuk ditaruh di dompet atau dijadikan kalung , Ada pula yang ditempelkan diatas pintu rumah dan tempat-tempat yang disarankan oleh para praktisi.

6.  RAMALAN NASIB
7. CIAM SIE

Ramalan nasib yang popular digunakan antara lain ;
- Ramalan garis tangan
- Ramalan membaca wajah
- Ramalan kartu Tarot
- Ramalan metode I Ching
- Ciam Sie, dsb.

Semua bentuk ramalan itu biasanya dipergunakan untuk meramal  nasib ,  rejeki,  karier, usaha dan jodoh/percintaan seseorang.

Agama Buddha berisikan Ajaran Sang Buddha yang bertujuan untuk membersihkan pikiran dari ketamakan, kebencian dan kegelapan batin/kebodohan. Ajaran Sang Buddha ini merupakan tuntunan perjuangan diri sendiri untuk mengendalikan pikiran. Namun, dalam kehidupan seorang umat Buddha,kadang mereka tidak bisa terlepas dari tradisi tempat mereka berasal.

Seorang umat Buddha dapat saja mempercayai adanya  , Ramalan 12 Shio, ’ Chiong ‘,  Ramalan garis tangan (Palmistri) dan wajah (Fisiognomi), pengambilan Ciam Sie dsb,Tidak masalah.  Namun, hendaknya  memahami dengan jelas bahwa pengertian ini berasal dari tradisi  masyarakat Cina, sama sekali bukan Ajaran Sang Buddha.

Dalam Agama Buddha, suka dan duka, nasib, rejeki dan jodoh adalah  ditentukan oleh karmanya  sendiri , bukan karena   perbedaan   tahun   kelahiran   ataupun   Takdir.

Semua bentuk Ramalan nasib tersebut diatas sebenarnya adalah merupakan perkiraan akan kejadian di masa yang akan datang dengan melihat kondisi saat ini. Ramalan nasib ini bisa disamakan dengan prakiraan cuaca yang sering kita lihat di televisi. Prakiraan cuaca untuk besok pagi ditentukan oleh kondisi angin maupun kelembaban saat ini. Namun , apabila esok hari terjadi sesuatu hal diluar prakiraan yang ada, maka prakiraan  itupun akan meleset.

Demikian pula dengan ramalan nasib, kalau seseorang yang diramal nasibnya dapat terus mengembangkan kebajikan melalui pikiran, ucapan dan perbuatan, maka isi ramalan nasib itupun dapat berubah. Dengan demikian tidak diperlukan adanya ‘ Cie Swak ’ yang merupakan suatu upacara untuk membuang sial.

Ketepatan sebuah ramalan memang banyak tergantung dari Karma yang dimiliki oleh seseorang, kemungkinan kebenaran suatu ramalan adalah 50 % - 50 % artinya,  ramalan itu bisa benar dan juga bisa salah. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi ramalan itu. Misalnya ada seseorang yang diramalkan bahwa ia akan menjadi orang sukses, namun, karena ia hanya bermalas-malasan dan tidak bekerja, maka tentu saja ia tidak menjadi orang yang sukses. Sebaliknya, dalam ramalan itu disebutkan bahwa ia tidak akan sukses dalam  usahanya,  namun  ia ternyata sangat rajin, tekun dan kerja keras dalam berusaha, maka ada kemungkinan ia akhirnya menjadi orang yang sukses dan hal ini berlawanan dengan apa yang telah diramalkan sebelumnya.

Sabda Sang Buddha :

 " Engkau masing-masing wajib
membuat dirimu sendiri sebagai pulaumu,
 dirimu sendiri dan bukan hal-hal yang lain
sebagai perlindunganmu ;
 masing-masing kamu wajib
membuat Dhamma sebagai pulaumu,
 hanya Dhamma dan bukan hal-hal yang lain
sebagai perlindunganmu."
(Samyutta Nikaya 47 : 13)

Dengan memahami  sabda Sang Buddha tersebut diatas,jelas, yang terpenting adalah berpusat pada diri kita sendiri, semakin banyak kebajikan yang kita lakukan, niscaya semakin baik pula kehidupan kita dibumi ini maupun kelak pada kehidupan kita di alam lainnya.

Sabbe satta bhavantu sukhitatta
Semoga semua makhluk berbahagia

2 komentar:

  1. Infonya sangat bermanfaat dan bagu sekali artikel yang tertulis di website ini. Benar-benar sangat membantu

    Cara Buang Sial Praktis Dengan RUWATAN SENGKALA - Kunjungi www.RuwatanSengkala.com

    BalasHapus
  2. saya tahun ni bnsib mlg apa yg sya buat sntiasa tdk bjln lncar bgaimna sya nk mmbuang smua nasib mlg sya tu

    BalasHapus