Rabu, Oktober 10, 2012

Hidup Hanya Sepanjang Satu Tarikan Nafas


HIDUP HANYA SEPANJANG SATU TARIKAN NAFAS


Dalam Shi Si Er Zhang Jing (Sutra 42 Bab)….

Buddha bertanya pada salah satu siswa, “Hidup manusia itu berapa lama?” 

Siswa itu menjawab, “Beberapa hari.” 

Buddha berkata, “Kamu belum memahami Jalan.” 

Buddha bertanya pada siswa yang lain, “Hidup manusia itu berapa lama?” 

Siswa itu menjawab, “Sepanjang waktu makan.” 

Buddha berkata, “Kamu belum memahami Jalan.” 

Buddha bertanya pada siswa yang lain lagi, “Hidup manusia itu berapa lama?”

Siswa menjawab, “Dalam satu tarikan nafas.” 

Buddha berkata, “Sadhu, kamu memahami Jalan.”

***

Hidup kita yang berharga ini ternyata hanya sepanjang satu tarikan nafas. 

Namun hidup ini sungguh ironis. 
Saat diterpa panasnya terik matahari, alih-alih merenungkan makna cahaya matahari bagi kehidupan di bumi, kita justru mengeluh kenapa udara terasa panas.

Ketika diguyur lebatnya air hujan, 
alih-alih memahami betapa berharganya nilai setetes air bagi setiap makhluk, kita malah mengomel mengapa hujan lagi hujan lagi. 

Demikian pula ketika masih bisa bernafas, 
kita tidak pernah menyadari bahwa setiap tarikan 
dan hembusan nafas itu sebenarnya mengajarkan kita untuk menghayati adanya ‘perubahan’, baik ketidakkekalan hal-hal eksternal maupun gejolak batin internal kita.


Dalam satu tarikan nafas , hidup kita bisa berakhir. Itu hanya soal waktu, semua orang tidak terkecuali akan mengalaminya. 

Tapi jangan tanyakan kapan waktu itu akan tiba, tetapi tanyakan pada diri sendiri apa yang telah kita perbuat selama masih bisa bernafas ?

Di kala kebahagiaan itu berbuah, tak ada yang bertanya kenapa kebahagiaan itu datang pada kita. Tapi di saat penderitaan itu tiba, kita tiada hentinya mengeluh mengapa penderitaan itu jatuh pada kita, atau menyesali perbuatan buruk yang pernah kita lakukan di masa lalu.

Daripada mencari tahu jawaban kenapa atau menyesali yang telah berlalu, akan lebih baik bila kita mengisi hari-hari ini dengan perbuatan yang bermanfaat.

Tetapi ada kalanya melakukan perbuatan yang bermanfaat pun juga tidak selancar yang kita harapkan. Bila demikian, haruskah kita tetap bertanya: adakah hari esok itu?

Sukses atau gagal, jangan terlalu dipikirkan; 
sikon mendukung atau tidak mendukung, jangan berhenti. 
Segala sesuatu yang berkondisi tidak kekal adanya, 
hanya hukum karma yang kekal, 
jadi jangan kita berhenti dalam berbuat bajik. 

Ingat, selama masih bernafas, 
jangan berhenti untuk berpikir, berucap dan berbuat bajik!

Andai ada hari esok, biarkan dia datang diam-diam tanpa syarat;
Andai tidak ada hari esok, aku tetap akan menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya;
Andai dapat kembali ke hari kemarin, aku tetap tidak akan mengubahnya;
Andai tidak dapat kembali ke hari kemarin,
aku tetap tidak mengeluh dan tidak menyesal.

-oOo-




Tidak ada komentar:

Posting Komentar