Kamis, Mei 12, 2011

Mencari Sumber Kebahagiaan


MENCARI SUMBER KEBAHAGIAAN

Oleh : Selamat Rojali


Di antara semua keinginan manusia di dunia ini, mungkin hanya satu yang serupa, yaitu kebahagiaan. Permintaan (demand) akan kebahagiaan tak akan pernah berkurang sepanjang sejarah kemanusiaan. Apapun yang manusia lakukan pada prinsipnya adalah untuk kebahagiaan, walaupun mungkin mereka mengatakannya demi uang, demi kekuasaan dan sebagainya. Bahkan dalam kehidupan religius, apapun yang dilakukan adalah demi kebahagiaan.

Namun, apakah mereka dapat mencapainya? Tidak, karena kebahagiaan yang mereka peroleh sangat sementara sifatnya. Mengapa demikian? 

Karena mereka umumnya mencari kebahagiaan pada tempat yang salah!

Orang-orang berpikir bahwa mereka dapat menemukan kebahagiaan di dalam uang, sehingga mereka memburu sekuatnya agar kaya, namun ketika mereka telah kaya, apakah mereka bahagia? Apabila kekayaan merupakan sumber kebahagiaan, maka orang-orang kaya tentu akan lebih bahagia daripada orang miskin, namun dapat kita jumpai pada banyak kasus bahwa orang-orang awam yang tidak begitu kaya justru 
lebih bahagia dibandingkan si kaya.

Bahkan kita sering mendengar bahwa seorang jutawan telah mencoba untuk bunuh diri. Mereka tidak mungkin mencoba bunuh diri apabila kekayaan merupakan sumber utama kebahagiaan.

Selanjutnya, kekuasaan, nama baik atau status bagi sementara orang mungkin merupakan sumber kebahagiaan sejati, namun ketika orang-orang terancam kehilangan nama baik, kemasyuran atau kekuasaannya, mereka berada dalam  keadaan gelisah dan khawatir. Ini menunjukkan bahwa nama baik, kemashyuran dan kekuasaan bukanlah sumber utama kebahagiaan, karena hal ini dapat juga menjadi sumber kegelisahan dan merupakan subjek ketidakkekalan.

Seseorang mungkin juga berpendapat bahwa seorang partner merupakan sumber kebahagiaan dan hal ini memang mungkin pada taraf tertentu, namun tidak sebagai sumber utama kebahagiaan.

Beberapa orang lainnya berpikir bahwa anak-anak merupakan sumber kebahagiaan, namun mereka kelak harus menghadapi apa yang disebut perpisahan, dan dengan segera atau lambat laun mereka akan merasa tidak bahagia.

Orang lainnya lagi menganggap bahwa perlombaan (balap) kuda atau anjing atau 
mobil merupakan sumber kebahagiaan, sehingga mereka bertaruh, dan ketika mereka menang, timbul kebahagiaan yang bersifat sementara. 

Banyak juga orang yang mencari kebahagiaan pada minuman keras, namun kemudian mereka pasti "tidak bahagia" seperti sedia kala.

Sumber-sumber luar bukanlah sumber kebahagiaan sejati. Sumber utama yang sesungguhnya adalah sikap batin. Batin yang terkendali dan terpelihara itulah yang merupakan sumber kebahagiaan sejati.

Kebahagiaan sejati adalah satu faktor batin yang dapat dicapai hanya melalui budidaya batin yang mengarah ke terkikisnya keserakahan, kebencian dan kegelapan batin, dan oleh karenanya berbeda dengan sumber luar seperti kekayaan, nama baik, kemasyuran, posisi sosial dan popularitas yang merupakan sumber kebahagiaan temporer semata.

Dalam pemuasan kebutuhan manusia, kebahagiaan dapat dibedakan ke dalam 4 tingkat, yaitu tingkat materi, tingkat emosi, tingkat intelek dan tingkat spiritual.

Agar lebih jelas, mari kita ambil contoh: makanan yang enak.

Apabila saudara adalah seorang yang bangga akan pencapaian fisik, saudara memiliki kebahagiaan dari materi yang berasal dari makanan. Bila saudara telah lama tidak memakan sesuatu yang pernah dimakan, saudara akan memperoleh kebahagiaan secara emosi, dan akan mengatakan, "Saya menyukai makanan ini karena sangat baik dan enak"; saudara akan menghargai 'dinner' atau makanan tersebut karena dirasakan sangat enak; saudara tidak akan mau tahu apakah baik bagi kesehatan atau kekuatan, tetapi hanya karena rasanya. Apabila saudara bersifat intelektual, selalu memakai alasan dan logika, mungkin saudara memandang kebahagiaan pada tingkat intelek. Saudara akan mengatakan,"makanan ini baik dan mengandung kadar gizi tinggi karenanya cocok bagi kesehatan saya", saudara akan mengambil keputusan tentang makanan tersebut melalui segi intelektual.

Lain lagi dengan tingkat spiritual, dalam makan siang atau makan malam saudara mungkin mengatakan, "makanan ini baik karena murni, baik bagi prinsip-prinsip moral; baik karena efeknya sangat mendukung bagi pengembangan batin saya, bagi konsentrasi saya".

Dengan demikian, kebahagiaan saudara dalam kasus-kasus ini berbeda, keputusan saudarapun akan berbeda dari orang lainnya. Keputusan tersebut diambil secara alamiah sesuai level pencarian kebahagiaan yang saudara miliki.

Kebahagiaan yang tertinggi yang seseorang dapat capai apabila faktor batin terpuasi oleh keempat tingkatan di atas, namun umumnya tidaklah mudah memperoleh keempat tingkat itu sekaligus. 

Apabila tak dapat diperoleh sekaligus, maka harmoni pada tingkat yang lebih tinggi tentu akan memberikan nilai kebahagiaan yang lebih baik.

Kita melakukan aksi atau reaksi terhadap rangsangan luar sesuai sifat alamiah kita di atas. Apabila kita tidak berada pada tingkat spiritual yang 'advance', kita belum dapat bersifat objektif penuh terhadap semua rangsangan luar. Sekarang, bagaimana kita mengenal pada tipe apakah kita, sangat ditentukan oleh kejujuran pada diri sendiri dalam melakukan pengamatan sendiri atas respon kita terhadap rangsangan luar.

Sekarang, misalnya pada level/tingkat fisik/materi.
Seseorang pada level ini bersifat materialistik, akan tertarik pada pencapaian materi; maksud utama dan konsentrasinya selalu ditujukan pada akuisisi materi, dan kenyamanan fisik /materi sangat penting baginya. Orang materialis ini sangat praktis dan menyukai segala sesuatu, bahkan filsafat dan agama asalkan dapat  mendatangkan keuntungan materi dan tidak lainnya. Segala sesuatu yang membutuhkan pemikiran dan konsentrasi batin tidak akan menarik baginya; mereka tak suka akan filsafat atau religius semata.

Oleh karena itu tidaklah mengherankan mengapa banyak orang tidak tertarik akan agama, karena agama, seperti saudara ketahui, tidak secara langsung memberikan materi dan kenyamanan fisik. Berapa banyakkah manusia di dunia ini yang kehilangan ketertarikannya akan agama? Bagi kebanyakan orang, perolehan materi sangat utama dan penting. Ketika mereka berkata,"saya sibuk", artinya "saya sibuk tentang perolehan, uang"; dan untuk apa? Untuk kebahagiaan fisik, kenyamanan, pakaian, makanan, rumah dan untuk kenyamanan fisik lainnya; dengan demikian dapat kita sadari bahwa kebanyakan di antara kita agak materialis.

Berikutnya adalah tingkat/level emosional.
Orang yang berada pada level ini sangat sensitif, dan umumnya 'concerned' pada suka atau tidak suka, perasaan senang atau tidak senang, sensasi. Mereka memutuskan sesuatu tergantung emosinya, tak peduli apakah keputusannya itu benar atau keliru. Orang emosional ini tertarik pada kepercayaan religius yang cocok dengan emosinya, dan mencari kepercayaan religius yang upacaranya banyak dan membuta.

Level ketiga, yaitu level intelektual.
Mereka yang berada pada level ini terutama 'concerned' terhadap 'reasoning', mempelajari sesuatu secara intelek. Mereka mendapatkan kebahagiaan dari literatur, ilmu pengetahuan dan sebagainya, dan memperoleh kebahagian melalui tujuan intelektual, aktif secara mental dan pasif secara fisik. Mereka banyak tahu melalui bacaan dan pelajarannya, namun dalam praktek seringkali tidak aktif.

Level keempat, yaitu level spiritual.
Mereka yang berada pada level ini 'concerned' dengan pengertian, simpatik dan cenderung melayani dan membantu; mereka menekankan pentingnya keadilan atau sesuatu secara 'fair' dan selaras dengan prinsip moral; mereka bersikap realistis dan lebih sabar menghadapi rangsangan indera.

Dengan demikian dapat dilihat, bahwa setiap orang berbuat dan bereaksi terhadap sesuatu, mengkritik, merasakan dan memutuskan dan melihat kehidupan sesuai sesuai levelnya. Mengetahui bagaimana dan mengapa kita berbeda dalam berpikir, merasakan, memutuskan dan memandang kehidupan ini, kita dapat memaklumi 
orang yang beragam jenisnya yang berbuat sesuai sifat alamiahnya itu, sehingga dapat menumbuhkan sikap toleransi, kesabaran terhadap orang lainnya.

Kita dapat mengarahkan dan melatih diri kita untuk menapak ke jenjang/level yang lebih tinggi dan hal ini tidaklah begitu sulit bila dicoba.

Memang banyak juga yang cukup bangga pada level yang paling rendah (level materialis) dan hal ini akan menghambat batin orang itu sehingga tingkat kebahagiaan yang diperolehnya saat menerima rangsangan objek inderanya tentu akan lebih terbatas; mereka menganggap bahwa belajar dan mengarahkan diri secara benar merupakan pemborosan waktu.

Secara ideal, dihimbau agar kita bersama-sama berevolusi secara spiritual dari tingkat yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi sehingga dapat merealisasi kebahagiaan yang lebih tinggi dan diingatkan bahwa tulisan ini bukan dimaksudkan bahwa kita tidak boleh menjadi kaya, termasyhur, berfisik baik dan sebagainya, tapi jika kita mengalami hal tersebut, janganlah terpukau olehnya karena masih banyak kebahagiaan yang jauh lebih tinggi nilainya.




Sabbe satta bhavantu sukhitatta
Semoga semua makhluk berbahagia


]˜


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar