Sabtu, September 22, 2012

Berhati-Hatilah


BERHATI-HATILAH
Oleh : Ajahn Chah

Sang Buddha mengajarkan untuk melihat tubuh yang ada di dalam tubuh. Apa artinya ? Kita semua mengenal bagian-bagian tubuh seperti rambut, kuku, gigi dan kulit. Jadi bagaimana kita melihat tubuh yang ada di dalam tubuh ? Jika kita mengenali semuanya ini sebagai hal-hal yang tidak kekal, tidak memuaskan dan tidak mempunyai jati diri, itulah yang dinamakan "melihat tubuh yang ada di dalam tubuh." Maka selanjutnya tidak perlu lagi untuk mengetahui secara detil dan bermeditasi terhadap bagian-bagian yang terpisah-pisah tersebut. Ia seperti sekeranjang buah-buahan. Jika kita telah menghitung jumlah buahnya terlebih dahulu, maka kita mengetahui apa yang ada di sana, dan bila kita memerlukannya, kita bisa mengangkat keranjang tersebut dan membawanya pergi, dan semua buah itu akan ikut terbawa bersamanya. Kita tahu buah-buahan itu semua ada di sana, jadi kita tidak perlu menghitungnya lagi.

Dengan bermeditasi terhadap ke-tigapuluhdua bagian dari tubuh, dan mengenali mereka sebagai sesuatu yang tidak stabil atau kekal, kita tidak perlu lagi menghabiskan tenaga untuk memisah-misahkan mereka seperti ini dan bermeditasi dengan begitu mendetil. Sama seperti sekeranjang buah - kita tidak perlu mengeluarkan semua buahnya dan menghitungnya berkali-kali. Tetapi kita memang membawa keranjang itu sepanjang perjalanan kita, berjalan dengan penuh perhatian dan waspada, berjaga-jaga agar tidak tersandung dan jatuh.

Bila kita melihat tubuh yang ada di dalam tubuh, yang artinya kita melihat Dhamma di dalam tubuh, mengetahui tubuh kita sendiri dan tubuh orang lain sebagai fenomena yang tidak permanen, maka kita tidak memerlukan penjelasan yang mendetil. Duduk di sini, kita memiliki kesadaran yang tetap terkendali, mengetahui segala sesuatu sebagaimana adanya, dan meditasi pun kemudian menjadi cukup sederhana. Sama halnya ketika kita bermeditasi dengan Buddho - jika kita memahami apa Buddho itu sebenarnya, maka kita tidak perlu mengulang-ulang kata "Buddho". Itu artinya memiliki pengetahuan penuh dan kesadaran yang kokoh. Inilah meditasi.

Tetapi masih saja meditasi itu pada umumnya tidak dipahami dengan baik. Kita berlatih secara berkelompok, tetapi seringkali kita tidak tahu apa itu sebenarnya. Beberapa orang menganggap meditasi sangat sulit untuk dipraktekkan. "Saya datang ke vihara, tetapi saya tidak bisa duduk. Saya tidak memiliki daya tahan yang cukup. Kaki saya sakit, punggung saya nyeri, saya merasa sakit di sekujur tubuh." Jadi mereka pun menyerah dan tidak mau datang lagi, berpikir bahwa mereka tidak bisa melakukannya. 

Tetapi sebenarnya samadhi itu bukan duduk. Samadhi itu bukan berjalan. Ia bukan berbaring atau berdiri. Duduk, berjalan, memejamkan mata, membuka mata, ini semua hanyalah berupa tindakan saja. Dengan memejamkan mata, belum tentu anda sedang berlatih samadhi. Anda bisa saja sedang mengantuk dan berkhayal. Jika anda duduk dengan mata terpejam tetapi anda tertidur, kepala anda naik turun dan mulut anda terbuka lebar, itu bukanlah duduk di dalam samadhi. Itu namanya duduk dengan mata terpejam. Samadhi dan mata terpejam adalah dua hal yang berbeda. Samadhi yang sesungguhnya, bisa dilakukan baik dengan mata terbuka maupun terpejam. Anda bisa duduk, berjalan, berdiri atau berbaring.

Samadhi artinya pikiran yang terpusat secara kokoh, dengan diliputi kesadaran penuh, pengekangan, dan kewaspadaan. Anda secara terus-menerus menyadari yang benar dan yang salah, terus-menerus memperhatikan segala kondisi yang muncul di dalam pikiran. Bila ia tiba-tiba memikirkan sesuatu, mengalami suasana hati yang diliputi kebencian atau nafsu keinginan, anda pun menyadarinya. Beberapa orang menjadi patah semangat: "Saya tidak bisa melakukannya. Begitu saya duduk, pikiran saya mulai memikirkan rumah. Itu adalah kejahatan (bahasa Thai: bahp)." Hei ! Jika hanya sebegitu saja sudah merupakan kejahatan, Sang Buddha tidak akan pernah menjadi seorang Buddha. Beliau menghabiskan enam tahun berjuang melawan pikirannya yang memikirkan rumah dan keluarganya. Hanya setelah enam tahun, barulah beliau mencapai pencerahan.

Beberapa orang merasa bahwa pikiran-pikiran yang tiba-tiba muncul ini adalah kesalahan atau kejahatan. Anda mungkin mempunyai dorongan untuk membunuh seseorang. Tetapi anda menyadarinya pada kesempatan berikutnya, anda menyadari bahwa pembunuhan adalah salah, jadi anda berhenti dan menahan diri. Apakah ada yang jahat di sini ? Bagaimana menurut anda ? Atau jika anda memiliki pikiran untuk mencuri sesuatu dan kemudian ia dibarengi dengan ingatan yang kuat bahwa melakukan hal itu adalah suatu kesalahan, sehingga anda menahan diri untuk tidak melakukannya - apakah itu kamma buruk ? Adalah tidak benar bahwa setiap kali anda memiliki dorongan, maka seketika itu juga anda telah melakukan kamma buruk. Kalau demikian halnya, lalu bagaimana mungkin kita bisa menuju pembebasan ? Dorongan hanyalah dorongan. Pikiran hanyalah pikiran. Pada saat pertama, anda masih belum menciptakan apa-apa. 

Pada saat yang kedua, jika anda melakukannya dengan tubuh fisik, ucapan ataupun pikiran, maka saat itulah anda telah menciptakan sesuatu. Avijja (kegelapan batin) telah mengambil alih. Jika anda memiliki dorongan untuk mencuri dan kemudian anda menyadari diri anda sendiri dan menyadari bahwa itu adalah suatu kesalahan, inilah kebijaksanaan, dan di sana pun muncul vijja (pengetahuan). Dorongan batin menjadi tidak terpenuhi. 

Ini adalah kesadaran yang tepat pada waktunya, kebijaksanaan yang muncul dan memberitahukan pengalaman kita. Jika ada pikiran awal yang ingin mencuri sesuatu dan kemudian kita melakukannya, itu adalah dhamma khayalan; tindakan tubuh fisik, ucapan dan pikiran yang mengikuti dorongan hati itu akan menimbulkan akibat yang negatif. 

Beginilah cara kerjanya. Dengan hanya memiliki pikiran saja, bukan merupakan kamma negatif. Jika kita tidak memiliki pikiran apa pun, bagaimana kebijaksanaan akan tumbuh berkembang ? Beberapa orang cuma ingin duduk dengan pikiran yang kosong saja. Itu adalah pemahaman yang keliru.

Saya sedang berbicara tentang samadhi yang dibarengi kebijaksanaan. Sebenarnya, Sang Buddha tidak mengharapkan samadhi yang banyak. Beliau tidak menginginkan jhana dan samapatti. Beliau memandang samadhi sebagai salah satu komponen dari Sang Jalan. Sila, samadhi dan panna adalah komponen-komponen atau bahan-bahan baku, seperti bahan baku untuk memasak. Kita memakai rempah-rempah untuk membuat makanan jadi lezat. Intinya bukan terletak pada rempah-rempah tersebut, tetapi pada makanan yang kita makan. Mempraktekkan samadhi juga sama. Guru-guru Sang Buddha, Uddaka dan Alara, memberikan penekanan kuat pada praktek jhana, dan untuk memperoleh berbagai jenis kekuatan seperti kekuatan supranatural misalnya. Tetapi jika anda sudah mencapai begitu jauh, sangat sulit untuk melepaskannya. Di beberapa tempat diajarkan tentang ketenangan yang mendalam, untuk duduk dalam ketenangan yang nikmat. Para meditator kemudian menjadi mabuk akan samadhi mereka. Jika mereka memiliki sila, mereka pun dimabukkan oleh sila mereka. Jika mereka berjalan melalui Sang Jalan, mereka menjadi mabuk akan Sang Jalan, terpesona akan keindahan dan keajaiban yang mereka alami, dan mereka pun tidak mencapai tujuan yang sebenarnya. 

Sang Buddha mengatakan bahwa hal ini adalah suatu kesalahan yang teramat halus/tidak kentara (subtle). Tetapi hal ini masih saja merupakan sesuatu yang benar bagi mereka yang berada pada level yang kasar (coarse). Tetapi sebenarnya apa yang Sang Buddha inginkan adalah supaya kita memiliki samadhi yang secukupnya, tanpa terjebak di sana. Setelah kita berlatih dan mengembangkan samadhi, maka kemudian samadhi akan mengembangkan kebijaksanaan. 

Samadhi yang berada pada level samatha - ketenangan - adalah seperti sebongkah batu yang menutupi rumput. Di dalam samadhi yang kokoh dan stabil, walaupun dengan mata yang terbuka, kebijaksanaan ada di sana. Bila kebijaksanaan sudah muncul, ia menyelimuti dan mengetahui ("menguasai") segala sesuatunya. Jadi, sang guru tidak menginginkan tingkatan konsentrasi dan penghentian yang murni seperti itu, karena mereka bisa menjadi penghalang dan Sang Jalan pun bakal dilupakan. 

Jadi, yang penting adalah untuk tidak melekat pada posisi duduk atau posisi-posisi tertentu yang lainnya. Samadhi tidak timbul hanya dengan memejamkan mata, membuka mata, atau dengan duduk, berdiri, berjalan atau berbaring. Samadhi menembus segala macam posisi tubuh dan aktifitas. Orang-orang yang lanjut usia, yang seringkali tidak bisa duduk dengan baik, justru malah bisa merenungkan dengan baik dan mempraktekkan samadhi dengan mudah; mereka juga bisa mengembangkan banyak kebijaksanaan.

Bagaimana mereka bisa mengembangkan kebijaksanaan ? Segala hal bisa membangkitkan mereka. Bila mereka membuka mata, mereka tidak bisa lagi melihat dengan jelas. Gigi mereka menyulitkan mereka dan banyak yang sudah copot. Tubuh mereka sakit sepanjang waktu. Cuma itu saja tempat bagi mereka untuk belajar. Jadi, memang benar, meditasi itu mudah bagi orang-orang yang sudah tua. Meditasi itu sulit bagi anak-anak muda. Gigi mereka masih kuat, jadi mereka bisa menikmati makanan mereka. Mereka tidur dengan lelap. Pancaindera mereka masih utuh dan dunia sungguh menarik dan menyenangkan bagi mereka, sehingga mereka menjadi mudah terperdaya. Bagi mereka yang sudah tua, bila mereka mengunyah sesuatu yang keras, mereka akan segera merasa sakit. Tepat di sanalah devaduta (utusan dewa) sedang berbicara kepada mereka; ia mengajari orang-orang tua itu setiap hari. Bila mereka membuka mata mereka, penglihatan mereka tidak jelas. Di pagi hari punggung mereka nyeri. Di sore hari kaki mereka sakit. Itu dia ! Ini merupakan topik belajar yang sangat bagus. Beberapa dari anda para orang tua akan bilang kalau anda tidak bisa bermeditasi. Apa yang ingin anda meditasikan ? Dari siapa anda akan belajar meditasi ?

Ini artinya melihat tubuh yang ada di dalam tubuh dan kesan-kesan indera yang ada di dalam kesan-kesan indera. Apakah anda melihat hal-hal ini atau apakah anda melarikan diri ? Berkata bahwa anda tidak bisa berlatih hanya karena anda terlalu tua, merupakan pemahaman yang keliru. Pertanyaannya adalah, apakah segala sesuatunya jelas bagi anda ? Orang-orang lanjut usia terlalu banyak pikiran, terlalu banyak kesan-kesan indera, terlalu banyak kegelisahan dan rasa sakit. Semuanya muncul ! Jika mereka bermeditasi, mereka benar-benar bisa menjadi saksinya. Jadi, saya katakan meditasi itu mudah bagi orang-orang tua. Mereka bisa melakukannya dengan sangat baik. Ini seperti yang setiap orang katakan, "Bila saya sudah tua, saya akan pergi ke vihara." Jika anda memahami ini, ia memang benar. Anda harus melihatnya di dalam diri anda sendiri. Bila anda duduk, ia benar; bila anda berdiri, ia benar; bila anda berjalan, ia pun benar. Semuanya adalah perjuangan, semuanya merupakan rintangan - dan semuanya mengajari anda. Bukankah begitu ? Mampukah anda berdiri dan berjalan pergi dengan mudah saat ini ? Ketika anda berdiri, "Aduh !" Atau anda tidak memperhatikannya ? Dan lagi-lagi, "Aduh !" ketika anda berjalan. Rasanya seperti ditusuk-tusuk. 

Ketika anda masih muda, anda bisa berdiri dan berjalan, pergi ke mana pun yang anda suka. Tetapi anda tidak benar-benar mengetahui apa pun. Ketika anda sudah tua, setiap kali anda berdiri, rasanya "Aduh !" Bukankah itu yang anda katakan ? "Aduh ! Aduh !" Setiap kali anda bergerak, anda mempelajari sesuatu. Jadi bagaimana anda bisa bilang kalau meditasi itu sulit ? Ke mana lagi anda harus melihat ? Semuanya benar adanya. Devaduta sedang memberitahukan anda sesuatu. Sejelas-jelasnya. Sankhara sedang memberitahukan anda bahwa mereka itu tidak stabil atau kekal, bukan diri anda atau milik anda. Mereka sedang memberitahukan anda di setiap saat. 

Tetapi kita berpikir dengan cara yang berbeda. Kita tidak berpikir bahwa ini adalah benar adanya. Kita menghibur pandangan salah dan pendapat-pendapat kita adalah jauh dari kebenaran. Tetapi sesungguhnya, orang-orang tua bisa melihat ketidakkekalan, penderitaan dan tidak adanya jati diri, dan memberikan kesempatan bagi kekecewaan dan ke-tanpa-nafsu-an untuk tumbuh - karena bukti-buktinya sudah ada di sana di dalam diri mereka setiap saat. Saya pikir itu hal yang bagus.

Memiliki kepekaan internal yang selalu menyadari apa yang benar dan yang salah disebut Buddho. Tidak perlu berulang-ulang melafalkan "Buddho." Anda telah menghitung buah-buahan di dalam keranjang anda. Setiap kali anda duduk, anda tidak perlu lagi mencari masalah dengan mengeluarkan semua buah itu dan menghitungnya lagi. Anda bisa membiarkannya di dalam keranjang. Tetapi seseorang dengan kemelekatan yang keliru, akan terus-menerus menghitung. Dia akan berhenti di bawah pohon, mengeluarkan semuanya dan menghitungnya, dan kemudian memasukkannya lagi ke dalam keranjang. Kemudian dia akan berjalan menuju tempat perhentian yang berikutnya dan melakukannya lagi. Tetapi dia cuma menghitung buah-buahan yang sama. Ini adalah nafsu keinginan. Dia takut jika dia tidak menghitungnya, akan ada kesalahan. Kita takut jika kita tidak terus-menerus melafalkan "Buddho", maka kita akan salah. Bagaimana kita bisa salah ? Hanya orang yang tidak mengetahui jumlah buah di dalam keranjang sajalah yang perlu menghitung. Begitu anda sudah tahu, anda bisa tenang-tenang saja dan membiarkannya di dalam keranjang. Bila anda duduk, anda hanya duduk. Bila anda berbaring, anda hanya berbaring, karena buah-buahan anda semuanya ada pada anda. 

Mempraktekkan keluhuran dan melakukan kebajikan, "Nibbana paccayo hotu" - semoga ia menjadi sebuah kondisi untuk mencapai Nibbana. Sebagai sebuah kondisi untuk merealisasi Nibbana, memberikan persembahan itu bagus. Menjalankan aturan-aturan kemoralan itu bagus. Mempraktekkan meditasi itu bagus. Mendengarkan ajaran Dhamma itu bagus. Semoga mereka menjadi kondisi-kondisi untuk mencapai Nibbana.

Tetapi apa sebenarnya Nibbana itu ? Nibbana artinya tidak menggenggam. Nibbana berarti tidak memberi arti pada segala hal. Nibbana berarti melepaskan. Memberikan persembahan dan melakukan berbagai kebajikan, menjalankan aturan-aturan kemoralan, dan melakukan meditasi cinta kasih, semuanya ini bertujuan untuk menghilangkan kekotoran batin dan nafsu keinginan, untuk mengosongkan pikiran - kosong dari kemelekatan pada diri sendiri, kosong dari konsep ke-akuan atau pihak lain, dan untuk tidak mengharapkan apa pun - tidak mengharapkan untuk menjadi apa pun.

Nibbana paccayo hotu : jadikanlah ia sebagai suatu faktor penyebab untuk mencapai Nibbana. Mempraktekkan kedermawanan adalah untuk melepaskan, untuk merelakan. Mendengarkan ajaran-ajaran bertujuan agar kita mengetahui cara untuk merelakan dan melepaskan, untuk menumbangkan kemelekatan pada apa yang baik dan yang jahat. Pertama-tama, kita bermeditasi untuk mengenali hal-hal yang salah dan jahat. Ketika kita sudah mengenalinya, kita melepaskannya dan kita pun mempraktekkan hal-hal yang baik. Lalu, ketika beberapa hal yang baik sudah tercapai, jangan melekat pada kebaikan itu. Tetaplah berada pada pertengahan jalan dari kebaikan, atau di atas kebaikan - jangan berkutat di bawah kebaikan. Jika kita berada di bawah kebaikan maka kebaikan akan mempermainkan kita, dan kita pun menjadi budaknya. Kita menjadi budak, dan ia memaksa kita untuk membuat berbagai jenis kamma dan kesalahan. Ia bisa menuntun kita kepada apa pun, dan akan mengakibatkan suatu keadaan ketidakbahagiaan dan ketidakberuntungan seperti yang telah kita alami sebelumnya. 

Melepaskan kejahatan dan mengembangkan kebajikan - melepaskan yang negatif dan mengembangkan hal-hal yang positif. Mengembangkan kebajikan, tetap berada di atas kebajikan. Tetap berada di atas kebajikan dan ketidakbajikan, di atas yang baik dan jahat. Teruslah berlatih dengan pikiran yang merelakan, melepaskan, dan bebas. Apa pun yang anda lakukan, ia sama saja : jika anda melakukannya dengan pikiran yang melepaskan, maka ia merupakan sebuah kondisi untuk merealisasi Nibbana. Bebas dari nafsu, bebas dari kekotoran batin, bebas dari keinginan, dan kemudian mereka semua menyatu dengan Sang Jalan, yang artinya Kebenaran Mulia, yang berarti saccadhamma. Ia adalah Kebenaran Mulia, memiliki kebijaksanaan untuk mengenali tanha, yang merupakan sumber dari dukkha. Kamatanha, bhavantanha, vibhavatanha (nafsu indera, nafsu untuk menjadi sesuatu, nafsu untuk tidak menjadi sesuatu) : inilah asal mulanya, sumbernya. Jika anda pergi ke sana, jika anda mengharapkan sesuatu atau menginginkan untuk menjadi sesuatu, anda hanya akan memupuk dukkha, memunculkan dukkha, karena hal-hal inilah yang melahirkan dukkha. Ini adalah penyebab-penyebabnya. Jika kita menciptakan penyebab-penyebab dukkha, maka dukkha akan terjadi. Penyebabnya adalah vibhavatanha : ini adalah nafsu keinginan yang meresahkan, menggebu-gebu. Seseorang menjadi budak dari nafsu keinginan dan membuat berbagai jenis kamma dan kesalahan dikarenakan hal ini, sehingga penderitaan pun muncul. Secara sederhana dikatakan, dukkha adalah anak dari nafsu keinginan. Nafsu keinginan adalah orangtua dari dukkha. Bila ada orangtua, maka dukkha bisa dilahirkan. Bila tidak ada orangtua, dukkha tidak bisa terjadi - tidak akan ada keturunannya.

Di sinilah seharusnya meditasi itu dipusatkan. Kita seharusnya melihat semua bentuk tanha, yang menyebabkan kita memiliki nafsu keinginan. Tetapi berbicara tentang nafsu keinginan, bisa membingungkan. Beberapa orang berpendapat bahwa segala macam nafsu keinginan, seperti keinginan akan makanan dan kebutuhan materi untuk kelangsungan hidup, adalah tanha. Tetapi kita bisa memiliki jenis keinginan ini dengan cara yang biasa dan alami. Bila anda lapar dan menginginkan makanan, anda bisa makan dan masalahnya selesai. Itu hal yang biasa. Ini adalah keinginan yang masih berada di dalam ambang batas dan tidak memiliki akibat yang buruk. Keinginan seperti ini bukan hawa nafsu inderawi. Jika ia adalah hawa nafsu inderawi, maka ia akan menjadi sesuatu yang melebihi nafsu keinginan. Akan ada keinginan untuk mengkonsumsi lebih banyak lagi, mencari kenikmatan, mencari kesenangan dengan cara-cara yang bisa mengakibatkan kesengsaraan dan masalah, seperti meminum minuman keras dan bir. 

Beberapa wisatawan mengatakan kepada saya tentang sebuah tempat di mana orang-orang memakan otak kera yang masih hidup. Mereka meletakkan seekor kera di tengah meja dan membelah tengkorak kepalanya. Lalu mereka mengorek keluar otaknya dengan sendok untuk dimakan. Cara makan seperti itu mirip dengan cara makan setan atau hantu kelaparan. Itu bukan makan dengan cara yang biasa atau alami. Melakukan hal seperti ini, makan pun menjadi tanha. Mereka bilang kalau darah kera itu bisa membuat mereka kuat. Jadi, mereka mencoba menangkap hewan tersebut dan ketika mereka memakannya, mereka juga meminum minuman keras dan bir. Ini bukan cara makan yang biasa. Ia merupakan cara setan dan hantu yang terjerumus ke dalam hawa nafsu inderawi. Mereka memakan batubara, memakan api, memakan segalanya di mana-mana. Jenis nafsu keinginan seperti inilah yang disebut tanha. Tidak ada kontrol. Berbicara, berpikir, merias diri, apa pun yang dilakukan orang-orang ini, selalu saja berlebihan. Jika cara makan kita, tidur, dan kegiatan-kegiatan penting lainnya dilakukan secara terkontrol, maka tidak akan ada bahaya di sana. Jadi, anda seharusnya mewaspadai diri anda sendiri terhadap hal-hal seperti ini; maka mereka tidak akan menjadi sumber penderitaan. Jika kita mengetahui cara untuk menjadi terkontrol dan cermat di dalam memenuhi kebutuhan kita, maka kita pun bisa merasa nyaman.

Mempraktekkan meditasi dan membuat kebajikan, bukanlah hal yang terlalu sulit untuk dilakukan, asalkan kita memahami mereka dengan baik. Apakah perbuatan salah itu ? Apakah kebajikan itu ? Kebajikan adalah sesuatu yang baik dan indah, tidak melukai diri kita sendiri atau pihak lain dengan pikiran, ucapan, dan tindakan kita. Maka akan ada kebahagiaan di sana. Tidak ada hal-hal negatif yang diperbuat. Kebajikan adalah seperti ini. Kemahiran adalah seperti ini.

Sama halnya dengan memberikan persembahan dan sumbangan. Ketika kita memberi, apa yang coba kita berikan ? Pemberian bertujuan untuk menghancurkan kemelekatan pada diri sendiri, kepercayaan akan adanya jati diri yang dibarengi dengan sifat egois. Egois itu sangat kuat, penderitaan yang ekstrim. Orang-orang yang egois selalu ingin menjadi lebih baik dari pihak lain dan ingin mendapatkan dalam jumlah yang lebih banyak dari orang lain. Contoh yang sederhana adalah setelah orang-orang seperti ini selesai makan, mereka tidak mau mencuci piring-piring mereka. Mereka membiarkan orang lain yang melakukannya. Jika mereka makan secara berkelompok, mereka akan meninggalkan pekerjaan ini untuk kelompoknya. Setelah mereka makan, mereka pun angkat kaki. Ini adalah sifat mementingkan diri sendiri, tidak bertanggungjawab, dan ia meletakkan beban pada pihak lain. Orang-orang seperti ini sebenarnya adalah orang yang tidak peduli pada dirinya sendiri, yang tidak menolong dirinya sendiri dan orang yang benar-benar tidak menyayangi dirinya sendiri. Dalam mempraktekkan kemurahan hati, kita mencoba membersihkan hati kita dari sifat-sifat seperti ini. Inilah yang dinamakan melakukan kebajikan melalui pemberian, dengan tujuan untuk memiliki batin yang penuh belas kasih dan yang memiliki kepedulian terhadap semua makhluk hidup tanpa kecuali. 

Jika kita bisa bebas dari hanya satu hal ini saja, sifat mementingkan diri sendiri, maka kita akan menjadi seperti Sang Buddha. Beliau berjuang bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kebaikan bagi semuanya. Jika Sang Jalan dan Buah muncul di hati kita seperti ini, kita tentu bisa mengalami kemajuan. Dengan bebas dari sifat egois, maka segala perbuatan baik, kemurahan hati, dan meditasi, akan menuntun kita kepada pembebasan. Siapa pun yang berlatih seperti ini akan menjadi bebas dan pergi melampaui - melampaui segala konvensi dan penampilan.

Prinsip-prinsip dasar dari latihan itu, tidak melampaui pemahaman kita. Dalam mempraktekkan kedermawanan, sebagai contoh, jika kita kurang bijaksana, maka tidak akan ada kebajikan di sana. Tanpa adanya pemahaman, kita berpikir bahwa kedermawanan dan kemurahan hati itu berarti memberikan benda-benda saja. "Bila saya merasa ingin memberi, saya akan memberi. Jika saya merasa ingin mencuri sesuatu, saya akan mencurinya. Lalu jika saya merasa murah hati, saya akan memberikan sesuatu." Itu seperti tong yang terisi penuh dengan air. Anda mengambil satu ember air, dan kemudian anda menuang kembali satu ember. Ambil lagi, tuang kembali, ambil lagi dan tuang kembali - seperti ini. Kapan anda akan mengosongkan tong air itu ? Apakah anda bisa melihat akhirnya ? Apakah praktek semacam ini bisa menjadi faktor penyebab untuk merealisasi Nibbana ? Akankah tong itu kosong ? Ambil satu ember, tuang lagi satu ember - bisakah anda melihat kapan itu akan berakhir ? 

Bergerak maju dan mundur seperti ini adalah vatta, siklus atau perputaran. Jika kita berbicara tentang pelepasan yang sebenarnya, melepaskan yang baik maupun yang jahat, maka di sana hanya ada mengambil air saja. Bahkan jika tinggal sedikit air saja, anda pun mengambilnya. Anda tidak mengisi apa pun lagi di sana, dan anda terus-menerus mengambilnya. Walaupun sekiranya anda hanya memiliki ember yang kecil, anda melakukan apa yang bisa anda lakukan dan dengan cara ini, waktunya akan tiba ketika tong itu pun akhirnya kosong. Jika mengambil satu ember air dan menuangkan kembali satu ember, mengambil lagi dan menuangkan kembali - cobalah pikir. Kapan anda akan melihat tong itu kosong ? Dhamma yang seperti ini tidak berada jauh di sana. Ia berada di sini di dalam tong. Anda bisa melakukannya di rumah. Cobalah. Bisakah anda mengosongkan tong dengan cara ini ? Lakukanlah besok sepanjang hari dan lihat apa yang akan terjadi. 

"Melepaskan semua kejahatan, mempraktekkan kebajikan, memurnikan pikiran." Melepaskan perbuatan salah terlebih dahulu, kita lalu mulai mengembangkan kebajikan. Apa keluhuran dan kebajikan itu ? Di manakah ia ? Ia seperti ikan di air. Jika mengeluarkan semua airnya, kita akan mendapatkan ikannya - itu cara yang sederhana untuk menjelaskannya. Jika mengambil air dan menuangkannya kembali, ikan itu tetap ada di dalam tong. Jika kita tidak menghilangkan segala bentuk tindakan salah, kita tidak akan melihat kebajikan dan kita takkan melihat apa yang benar dan nyata. Mengambil dan menuangkan kembali, mengambil dan menuangkan kembali, kita hanya tetap seperti sedia kala. Maju mundur seperti ini, kita hanya menghabiskan waktu kita dan apa pun yang kita lakukan menjadi tidak berarti. Mendengarkan ajaran menjadi tidak berarti. Memberikan persembahan menjadi tidak berarti. Semua usaha kita untuk berlatih menjadi sia-sia. Kita tidak memahami prinsip-prinsip dari jalan Sang Buddha, sehingga tindakan-tindakan kita tidak berbuah seperti yang diharapkan.

Ketika Sang Buddha mengajarkan tentang praktek, beliau tidak berbicara tentang sesuatu yang diperuntukkan hanya untuk orang-orang yang sudah ditahbiskan saja. Beliau berbicara tentang latihan yang baik, latihan yang benar. Supatipanno artinya mereka yang berlatih dengan baik. Ujupatipanno berarti mereka yang berlatih secara langsung. Nayapatipanno artinya mereka yang berlatih untuk merealisasi Sang Jalan, Buahnya dan Nibbana. Samicipatipanno adalah mereka yang berlatih menuju kebenaran. Bisa siapa saja. Ini adalah Sangha dari murid-murid sejati (savaka) Sang Buddha. Umat awam wanita yang tinggal di rumah bisa menjadi savaka. Umat awam pria bisa menjadi savaka. Dengan memenuhi kualitas-kualitas seperti inilah yang membuat seseorang menjadi savaka. Seseorang bisa menjadi murid sejati Sang Buddha dan mencapai pencerahan.

Kebanyakan dari kita yang beragama Buddha tidak memiliki pemahaman yang menyeluruh seperti ini. Pengetahuan kita tidak sejauh ini. Kita melakukan berbagai aktifitas sambil berpikir bahwa kita akan memperoleh sejumlah balas jasa darinya. Kita berpikir dengan mendengarkan ajaran atau memberikan persembahan, merupakan perbuatan yang akan mendapat balas jasa. Itulah yang dikatakan kepada kita. Tetapi seseorang yang memberikan persembahan untuk "memperoleh" balas jasa, sebenarnya telah membuat kamma buruk.

Anda kurang bisa memahami hal ini. Seseorang yang memberi dengan maksud untuk mendapatkan balas jasa, seketika itu juga telah menimbun kamma buruk. Jika anda memberi dengan maksud untuk melepaskan dan membebaskan pikiran, itulah yang memberikan balas jasa kepada anda. Jika anda melakukannya untuk mendapatkan sesuatu, itu adalah kamma buruk.

Mendengarkan ajaran supaya benar-benar memahami jalan Sang Buddha adalah sulit. Dhamma menjadi sulit untuk dipahami bila yang orang-orang praktekkan - menjalankan aturan kemoralan, duduk bermeditasi, memberi - adalah untuk mendapatkan sesuatu sebagai balasannya. Kita ingin jasa, kita ingin sesuatu. Kalau begitu, jika sesuatu bisa didapat, lalu siapa yang mendapatkannya ? Kita yang mendapatkannya. Bila ia hilang, milik siapa yang hilang ? Orang yang tidak memiliki apa-apa, tidak akan kehilangan apa pun. Dan bila ia hilang, siapa yang menderita karenanya ?

Apakah anda tidak berpikir bahwa hidup dengan mendambakan sesuatu atau yang lain, akan membuat anda menderita ? Kalau tidak, anda boleh meneruskan kebiasaan seperti sebelumnya, mencoba untuk mendapatkan semuanya. Dan sebaliknya, jika kita mengosongkan pikiran, maka kita akan mendapatkan segalanya. Alam yang lebih tinggi, Nibbana dan semua pencapaian mereka - kita mendapatkan semuanya. Di dalam memberikan persembahan, kita tidak memiliki kemelekatan atau tujuan apa pun; pikiran kosong dan tenang. Kita bisa melepaskan dan meletakkannya. Ia seperti mengangkat balok kayu dan kemudian mengeluh kalau itu berat. Jika seseorang menyuruh anda meletakkannya, anda akan bilang, "Jika saya meletakkannya, saya tak akan memiliki apa pun." Kalau begitu, sekarang anda benar-benar memiliki sesuatu - anda merasa berat. Tetapi anda tidak merasa ringan. Jadi, apakah anda ingin merasa ringan, atau anda ingin terus mengangkatnya ? Seseorang menyuruhnya untuk meletakkannya, yang lain bilang dia takut tidak akan memiliki apa pun. Mereka hanya saling berdebat satu sama lain.

Kita menginginkan kebahagiaan, kita ingin kemudahan, kita ingin ketenangan dan kedamaian. Itu artinya kita ingin merasa ringan. Kita mengangkat balok, dan lalu seseorang melihat kita melakukan hal tersebut dan menyuruh kita untuk meletakkannya. Kita bilang kita tidak bisa karena apa lagi yang kita miliki setelah itu ? Tetapi orang itu berkata bahwa jika kita meletakkannya, maka kita bisa mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Kedua belah pihak menjadi sulit berkomunikasi. 

Jika kita memberikan persembahan dan melakukan perbuatan baik dengan maksud untuk mendapatkan sesuatu, ia tidak akan berhasil. Apa yang kita dapat adalah proses untuk menjadi sesuatu dan kelahiran. Ini bukan faktor penyebab untuk merealisasi Nibbana. Nibbana adalah merelakan dan melepaskan. Jika kita mencoba untuk mendapatkan, untuk memegang, untuk memberi arti pada segala sesuatunya, itu bukanlah faktor penyebab untuk merealisasi Nibbana. Sang Buddha ingin agar kita melihat di sini, di tempat kosong untuk pelepasan ini. Inilah kebajikan. Inilah kemahiran.

Bila kita melakukan perbuatan baik apa pun, begitu kita selesai melakukannya, kita seharusnya merasa bahwa bagian kita sudah selesai. Kita seharusnya tidak membawanya lagi. Kita melakukannya dengan tujuan untuk melepaskan kekotoran batin dan nafsu keinginan. Kita tidak melakukannya dengan tujuan untuk menimbulkan kekotoran batin, nafsu keinginan dan kemelekatan. Lalu ke mana kita akan pergi ? Kita tidak pergi ke mana-mana. Praktek kita sudah bagus dan benar.

Kebanyakan dari kita umat Buddha, walaupun kita mengikuti aturan-aturan praktek dan belajar, mengalami kesulitan untuk memahami pembicaraan seperti ini. Itu dikarenakan Mara, yang berarti kebodohan, yang berarti nafsu keinginan - keinginan untuk mendapatkan, untuk memiliki, untuk menjadi - telah menyelimuti pikiran kita. Kita hanya menemukan kebahagian yang sementara. Sebagai contoh, ketika kita dipenuhi kebencian terhadap seseorang, ia mengambil alih pikiran kita dan membuat kita tidak tenang. Kita memikirkan orang tersebut setiap saat, memikirkan apa yang bisa kita perbuat untuk menyerangnya. Pemikiran tersebut tidak pernah berhenti. Kemudian barangkali suatu hari nanti kita memiliki kesempatan untuk pergi ke rumahnya dan memaki-makinya. Hal itu memberikan kita sedikit kelegaan. Apakah hal itu menghilangkan kekotoran batin kita ? Kita menemukan cara untuk melepaskan kemarahan dan kita merasa lebih lega karenanya. Tetapi kita belum melenyapkan penderitaan yang diakibatkan oleh kemarahan itu, bukan ? Ada sejumlah kebahagiaan di dalam kekotoran batin dan nafsu keinginan, tetapi ia adalah seperti ini. Kita masih menyimpan kekotoran batin di dalam dan bila kondisinya memungkinkan, ia akan menyala dengan lebih besar lagi daripada sebelumnya. Lalu kita akan kembali mencari sejumlah pelepasan yang bersifat sementara. Akankah kekotoran-kekotoran batin itu bisa dilenyapkan dengan cara ini ?



Sama seperti ketika seseorang kehilangan pasangan hidup atau anaknya yang meninggal, atau ketika orang-orang mengalami kerugian finansial yang hebat. Mereka minum-minum untuk mengurangi penderitaan mereka. Mereka pergi menonton di bioskop untuk mengurangi kesengsaraan mereka. Apakah itu benar-benar mengurangi kesengsaraan ? Sebenarnya penderitaan terus bertambah; tetapi untuk sementara waktu mereka bisa melupakan tentang apa yang telah terjadi, jadi mereka menyebutnya sebagai salah satu cara untuk mengobati kesengsaraan mereka. Sama seperti jika telapak kaki anda terluka sehingga ketika berjalan anda merasa sakit. Apa pun yang bersentuhan dengannya akan menyebabkan rasa sakit, dan anda berjalan terpincang-pincang sambil mengeluhkan ketidaknyamanan ini. Tetapi jika anda melihat seekor harimau datang mendekati anda, anda akan berdiri dan mulai berlari tanpa memikirkan kaki anda yang terluka. Ketakutan akan harimau menjadi jauh lebih kuat dari rasa sakit di kaki anda, jadi seolah-olah rasa sakitnya hilang. Rasa takut membuatnya menjadi sesuatu yang kecil. 

Anda barangkali menghadapi masalah di tempat kerja atau di rumah yang kelihatannya begitu besar. Lalu anda pun mabuk dan karena terpengaruh khayalan yang lebih kuat di saat anda mabuk, masalah-masalah itu menjadi tidak begitu mengganggu anda lagi. Anda berpikir bahwa ia telah menyelesaikan masalah-masalah anda dan mengurangi ketidakbahagiaan anda. Namun ketika mabuk anda hilang, masalah-masalah lama pun muncul kembali. Jadi apa yang terjadi dengan solusi anda ? Anda terus-menerus menekan masalah dengan minum-minum dan mereka terus-menerus muncul kembali. Pada akhirnya anda mungkin akan terkena penyakit lever, tetapi anda tidak melenyapkan masalahnya; dan suatu hari nanti anda pun meninggal dunia.

Ada sedikit rasa nyaman dan kebahagiaan di sini; ini adalah kebahagiaan dari orang yang bodoh. Ini adalah cara orang yang bodoh untuk menghentikan penderitaan mereka. Tidak ada kebijaksanaan di sana. Kondisi-kondisi berbeda yang membingungkan ini tercampur aduk di dalam hati yang merasakan kondisi tubuh. Jika pikiran dibiarkan untuk mengikuti suasana hati dan kecenderungannya, ia pun merasakan sejumlah kebahagiaan. Tetapi kebahagiaan ini selalu menyimpan ketidakbahagiaan di dalamnya. Setiap kali ia meledak, penderitaan dan keputus-asaan kita akan semakin bertambah. Ia seperti luka. Jika kita mengobatinya di bagian luar saja tetapi tidak pada bagian dalamnya, ia akan tetap terinfeksi, ia belum terobati. Ia kelihatannya baik-baik saja untuk beberapa waktu, tetapi ketika infeksi sudah menyebar, kita harus mulai membedahnya. Jika infeksi di dalam tak pernah diobati, kita hanya menanganinya di bagian luar saja secara berulang-ulang tanpa ada akhirnya. Apa yang kelihatan dari luar, bisa terlihat baik-baik saja untuk sementara waktu, tetapi di bagian dalam, ia sama seperti sebelumnya.

Dunia memang seperti ini. Hal-hal duniawi tidak pernah selesai. Jadi, hukum-hukum duniawi di dalam berbagai kelompok masyarakat, terus-menerus muncul untuk mengatasi berbagai persoalan. Peraturan-peraturan baru selalu diciptakan untuk mengatasi berbagai situasi dan persoalan yang berbeda-beda. Sesuatu ditangani untuk sementara waktu, tetapi selalu saja ada kebutuhan akan peraturan dan solusi yang baru. Tidak pernah ada penyelesaian secara internal, yang ada hanya perbaikan di permukaan saja. Infeksi masih tetap ada di dalam, jadi selalu saja ada kebutuhan untuk pembedahan terus-menerus. Orang-orang hanya kelihatan bagus di bagian luar, di dalam ucapan-ucapan mereka dan penampilan mereka. Kata-kata mereka bagus dan wajah mereka terlihat seperti orang yang baik, tetapi pikiran mereka tidak begitu baik. 

Bila kita naik kereta api dan bertemu dengan beberapa orang kenalan kita di sana, kita bilang, "Oh, sungguh senang melihatmu ! Saya selalu memikirkanmu akhir-akhir ini ! Saya sudah berencana untuk mengunjungimu !" Tetapi itu hanya basa basi saja. Kita tidak benar-benar punya maksud seperti itu. Kita hanya baik di bagian luar saja, tetapi kita tidak begitu baik di bagian dalam. Kita mengucapkan beberapa patah kata, namun begitu kita sudah merokok dan minum secangkir kopi dengannya, kita pun berpisah. Lalu suatu hari kita bertemu lagi dengannya, dan kita akan mengucapkan kata-kata yang sama lagi: "Hai, senang bertemu denganmu ! Apa kabar ? Saya sudah bermaksud mengunjungimu, tetapi saya tidak punya cukup waktu." Begitulah adanya. Orang-orang hanya baik di luar saja, tetapi biasanya mereka tidak begitu baik di dalam.

Sang guru agung mengajarkan Dhamma dan Vinaya. Ia lengkap dan menyeluruh. Tidak ada yang melebihinya dan tidak ada satu pun di dalamnya yang perlu diubah atau disesuaikan, karena ia adalah yang terakhir. Ia sudah lengkap, jadi di sinilah kita bisa berhenti. Tidak ada yang ditambahkan atau dikurangi, karena ia adalah sesuatu dari alam yang tidak bertambah atau tidak berkurang. Ia sudah benar adanya. 

Jadi, kita umat Buddha datang untuk mendengarkan ajaran Dhamma dan untuk mempelajari kebenaran-kebenaran ini. Jika kita mengetahui mereka, batin kita akan memasuki Dhamma; Dhamma akan memasuki batin kita. Bilamana batin seseorang memasuki Dhamma, maka orang tersebut akan sehat sejahtera, orang tersebut memiliki pikiran yang damai. Kemudian pikiran akan mampu untuk mengatasi kesulitan-kesulitan, tetapi tidak akan merosot. Bila rasa sakit dan penyakit menyerang tubuh, pikiran memiliki banyak cara untuk mengatasi penderitaan. Ia bisa mengatasinya secara alami, memahami hal ini sebagai sesuatu yang alami dan tidak terjebak dalam kefrustrasian atau ketakutan terhadapnya. Mendapatkan sesuatu, kita tidak terbuai di dalam kesenangan. Kehilangannya, kita tidak bersedih hati secara berlebihan, melainkan kita memahami hakikat dari segala sesuatunya bahwa setelah muncul maka mereka pun akan merosot dan lenyap. Dengan sikap seperti ini, kita bisa membuka jalan kita di dunia ini. Kita adalah lokavidu, mengetahui dunia secara jernih. Kemudian samudaya - penyebab penderitaan - tidak diciptakan, dan tanha tidak dilahirkan. Di sana ada vijja, mengetahui segala sesuatu sebagaimana adanya, dan ia menerangi dunia. Ia menerangi pujian dan cercaan. Ia menerangi keberhasilan dan kegagalan. Ia menerangi status terhormat dan reputasi jelek. Ia secara jelas menerangi kelahiran, usia tua, penyakit dan kematian, di dalam pikiran para praktisi.

Itu adalah seseorang yang telah mencapai Dhamma. Orang-orang seperti ini tidak lagi berjuang melawan kehidupan dan tidak lagi terus-menerus mencari solusi-solusi. Mereka mengatasi apa yang bisa diatasi, bertingkah laku dengan sepantasnya saja. Begitulah cara Sang Buddha mengajar : beliau mengajar orang-orang yang bisa diajar. Mereka-mereka yang tidak bisa diajar, beliau abaikan dan biarkan. Walaupun jika beliau tidak mengabaikan mereka, mereka tetap akan mengabaikan diri mereka sendiri - jadi beliau membiarkan mereka pergi. Anda mungkin akan berpikir bahwa Sang Buddha tidak memiliki metta dengan mengabaikan orang-orang. Hei ! Jika anda membuang mangga yang sudah busuk, apakah itu artinya anda tidak memiliki metta ? Anda sudah tidak bisa lagi memanfaatkannya sama sekali, itu saja. Tidak ada jalan lagi untuk mengajari orang-orang seperti ini. Sang Buddha dipuji sebagai seseorang yang memiliki kebijaksanaan sejati. Beliau tidak mengumpulkan semua orang dan segala sesuatunya secara sembrono. Beliau memiliki mata surgawi dan bisa melihat secara jelas segala sesuatu sebagaimana adanya. Beliau adalah yang mengetahui dunia ini.

Sebagai seseorang yang mengetahui dunia, beliau melihat bahaya di dalam lingkaran samsara. Bagi kita yang menjadi pengikut beliau, juga sama. Jika kita mengetahui segala sesuatu sebagaimana adanya, hal itu akan membawa kesejahteraan bagi kita. Di manakah tepatnya hal-hal yang menjadi penyebab kita mengalami kebahagiaan dan penderitaan itu berada ? Pikirkanlah baik-baik. Mereka hanyalah hal-hal yang kita ciptakan sendiri. Bilamana kita menciptakan sebuah pemikiran bahwa sesuatu adalah diri kita atau milik kita, saat itulah kita menjadi menderita. Segala sesuatunya bisa menjadi berbahaya ataupun sebaliknya menjadi bermanfaat bagi kita, tergantung dari pemahaman kita. Jadi, Sang Buddha mengajari kita agar memperhatikan diri kita sendiri, memperhatikan tingkah laku kita sendiri dan munculnya pikiran-pikiran kita. Bilamana kita memiliki rasa cinta atau kebencian yang berlebihan terhadap siapa pun atau apa pun, bilamana kita menjadi terlalu bersemangat, hal itu akan menuntun kita pada penderitaan yang sangat hebat. Hal ini sangat penting, jadi cobalah untuk memperhatikannya. Selidiki perasaan-perasaan cinta ataupun benci yang kuat ini, dan kemudian mundurlah selangkah. Jika anda berada terlalu dekat, mereka akan menggigit. Apakah anda mendengarnya ? Jika anda menangkap dan membelai-belai hal-hal ini, mereka akan menggigit dan menendang. Bila anda memberi makan rumput pada kerbau anda, anda harus berhati-hati. Jika anda berhati-hati, ketika ia menendang, ia takkan menendang anda. Anda harus memberinya makan dan merawatnya, tetapi anda seharusnya melakukannya dengan cerdik tanpa terkena gigitannya. Cinta kepada anak-anak, sanak saudara, harta dan kekayaan, akan menggigit. Anda mengerti hal ini ? Bila anda memberinya makan, jangan berada terlalu dekat. BIla anda memberinya air, jangan terlalu dekat. Ikatkan talinya jika perlu. Beginilah Dhamma, mengenali ketidakkekalan, ketidakpuasan dan tanpa jati diri, mengenali bahaya dan bersikap waspada dan menahan diri dengan penuh kesadaran. 

Ajahn Tongrat tidak mengajar terlalu banyak; beliau selalu berkata kepada kita, "Berhati-hatilah ! Berhati-hatilah !" Begitulah cara beliau mengajar. "Berhati-hatilah ! Jika anda tidak berhati-hati, anda akan menderita !" Ia memang benar-benar seperti ini. Walaupun jika beliau mengatakannya, ia tetap saja seperti ini. Jika anda tidak benar-benar waspada, anda akan menangkapnya di dagu. Tolong pahami hal ini. Ia bukan urusan orang lain. Persoalannya bukan pada apakah orang lain mencintai atau membenci kita. Orang-orang yang jauh di sana tidak menyebabkan kita membuat kamma dan penderitaan. Adalah harta kekayaan kita, rumah kita, keluarga kita lah yang harus kita perhatikan. Atau bagaimana menurut anda ? Di zaman sekarang, di manakah anda mengalami penderitaan ? Di manakah anda terlibat di dalam rasa cinta, benci dan takut ? Kontrol diri anda sendiri, jagalah diri anda sendiri. Hati-hati anda bisa terkena gigitan. Jika mereka tidak menggigit, mereka mungkin akan menendang. Jangan berpikir kalau hal-hal ini tidak akan menggigit atau menendang. Jika anda benar-benar digigit, pastikan kalau itu hanya sedikit saja. Jangan ditendang atau digigit sampai hancur berkeping-keping. Jangan coba berkata pada diri anda sendiri bahwa tidak ada bahaya di sana. Harta, kekayaan, reputasi, yang dicintai, semuanya ini bisa menendang dan menggigit jika anda tidak sadar. Jika anda sadar, anda akan tenang-tenang saja. Waspadalah dan menahan diri. Bila pikiran mulai menggenggam sesuatu dan membesar-besarkannya, anda harus menghentikannya. Ia akan berdebat dengan anda, tetapi anda harus berdiri kokoh. Tetaplah berada di tengah, ketika pikiran datang dan pergi. Letakkan pemanjaan nafsu inderawi pada satu sisi. Letakkan penyiksaan diri pada sisi yang lain. Cinta pada satu sisi, benci pada sisi yang lain. Kebahagiaan pada satu sisi, penderitaan pada sisi yang lain. Tetaplah berada di tengah tanpa membiarkan pikiran pergi ke salah satu sisi.

Seperti tubuh kita ini : tanah, air, api dan angin - di manakah orangnya ? Tidak ada seorang pun di sana. Unsur-unsur kecil yang berbeda-beda ini digabungkan dan itu yang disebut dengan orang. Itu adalah sebuah kesalahan. Ia tidak nyata; ia hanya nyata pada tataran konvensi. Bila saatnya tiba, unsur-unsur tersebut akan kembali pada keadaan semula. Kita hanya datang untuk tinggal dengan mereka untuk sementara waktu, jadi kita harus membiarkan mereka kembali ke asalnya. Bagian yang berupa tanah, dikirimkan kembali ke tanah. Bagian yang berupa air, dikirimkan kembali ke air. Atau apakah anda akan mencoba pergi bersama mereka dan mempertahankan sesuatu ? Kita datang untuk bergantung pada mereka untuk sementara waktu; bila waktunya tiba bagi mereka untuk pergi, biarkan mereka pergi. Bila mereka datang, biarkan mereka datang. Semua fenomena-fenomena (sabhava) ini muncul dan kemudian lenyap. Itu saja. Kita memahami bahwa semua hal-hal ini berkembang, muncul dan lenyap secara terus-menerus. 

Memberikan persembahan, mendengarkan ajaran, mempraktekkan meditasi, apa pun yang kita lakukan seharusnya dilakukan dengan tujuan untuk mengembangkan kebijaksanaan. Mengembangkan kebijaksanaan bertujuan untuk kebebasan, bebas dari segala kondisi dan fenomena. Bila kita bebas, maka tidak peduli apa pun keadaan kita, kita tidak perlu menderita. Jika kita memiliki anak, kita tidak perlu menderita. Jika kita bekerja, kita tidak perlu menderita. Jika memiliki rumah, kita tidak perlu menderita. Sama seperti bunga teratai di permukaan air. "Saya tumbuh di air, tetapi air tidak membuat saya menderita. Saya tidak bisa tenggelam atau terbakar, karena saya hidup di air." Bila airnya surut dan mengalir, itu tidak mempengaruhi bunga teratai. Air dan bunga teratai bisa hidup bersama tanpa ada pertikaian. Mereka hidup bersama, namun terpisah. Apa pun yang ada di air, menjadi sumber makanan bunga teratai dan membantunya tumbuh menjadi sesuatu yang indah. 

Di sinilah letak persamaannya dengan kita. Kekayaan, rumah, keluarga, dan semua kekotoran batin, mereka tidak lagi mengotori kita melainkan mereka membantu kita untuk mengembangkan parami, penyempurnaan spiritual. Di hutan bambu, daun-daun tua menumpuk di sekitar pepohonan dan ketika hujan turun, mereka terurai dan menjadi pupuk. Tunas-tunas pun tumbuh dan pohon-pohon berkembang karena pupuk tersebut, dan kita memiliki sumber makanan dan penghasilan. Tetapi ia sama sekali tidak terlihat sebagai sesuatu yang bagus. Jadi, berhati-hatilah - pada musim kering, jika anda menyalakan api di hutan, ia akan membakar habis semua bahan baku pupuk dan pupuk akan berubah menjadi api yang membakar pohon-pohon bambu. Lalu anda tidak akan memiliki tunas-tunas bambu lagi untuk dimakan. Jadi, jika anda membakar hutan, anda juga membakar pupuk untuk pohon bambu. Jika anda membakar pupuk itu, anda juga membakar pepohonan dan hutan pun akan lenyap.

Anda mengerti ? Anda dan keluarga anda bisa hidup bahagia dan harmonis dengan rumah dan harta kekayaan anda, bebas dari bahaya banjir atau api. Jika sebuah keluarga terkena banjir atau terbakar, itu semata-mata disebabkan oleh orang-orang yang ada di dalam keluarga tersebut. Ia seperti pupuk untuk pohon bambu. Ia bisa mengakibatkan hutan terbakar, atau sebaliknya hutan bisa tumbuh berkembang dengan indah juga disebabkan olehnya.

Segala sesuatu akan tumbuh dengan indah dan lalu tumbuh dengan tidak indah dan selanjutnya menjadi indah kembali. Tumbuh dan merosot, lalu tumbuh lagi dan merosot lagi - ini adalah sifat-sifat dari fenomena duniawi. Jika kita mengetahui pertumbuhan dan kemerosotan seperti apa adanya, kita bisa mengakhirinya. Segala sesuatunya tumbuh berkembang dan mencapai batas mereka. Segala sesuatunya merosot dan mencapai batas mereka. Tetapi kita tetap tidak berubah. Ia seperti ketika terjadi kebakaran di kota Ubon. Orang-orang meratapi kehancuran dan meneteskan begitu banyak air mata karenanya. Tetapi setelah kebakaran itu, semuanya dibangun kembali dan bangunan-bangunan baru justru menjadi semakin besar dan jauh lebih bagus dari yang sebelumnya, dan orang-orang pun menjadi lebih menikmati kota ini sekarang.

Beginilah proses perputaran lenyap dan berkembang. Semuanya memiliki batasnya sendiri. Jadi, Sang Buddha ingin agar kita selalu merenungkan hal ini. Ketika kita masih hidup, kita seharusnya memikirkan tentang kematian. Jangan menganggapnya sebagai sesuatu yang berada jauh di sana. Jika anda miskin, jangan coba menyakiti atau mengeksploitasi pihak lain. Hadapilah situasinya dan bekerja keras untuk menolong diri anda sendiri. Jika anda berkecukupan, jangan menjadi lupa diri dengan kekayaan dan kenikmatan anda. Anda bisa saja kehilangan segalanya, itu tidak begitu sulit. Seorang yang kaya raya bisa menjadi miskin dalam beberapa hari saja. Seorang yang miskin bisa menjadi kaya. Itu semua berdasarkan pada fakta bahwa kondisi-kondisi ini adalah tidak kekal dan tidak stabil. Oleh karena itu Sang Buddha berkata, "Appamado maccuno padam : Ketidakpedulian adalah jalan menuju kematian." Orang yang tidak punya kepedulian adalah seperti orang mati. Jangan menjadi orang yang tak punya kepedulian ! Semua makhluk dan semua sankhara adalah tidak stabil dan tidak kekal. Jangan menimbulkan kemelekatan apa pun terhadap mereka ! Bahagia atau sedih, kemajuan atau hancur lebur, pada akhirnya semuanya akan menuju tempat yang sama. Tolong pahamilah hal ini.

Hidup di dunia dan memiliki sudut pandang seperti ini, maka kita bisa lepas dari bahaya. Apa pun yang mungkin bisa kita dapatkan atau capai di dunia yang disebabkan oleh kamma baik kita, adalah tetap saja bagian dari dunia dan tidak terlepas dari proses pelapukan dan lenyap, jadi janganlah terlalu dibuai olehnya. Sama seperti seekor kumbang yang mengais di tanah. Ia bisa mengais setumpukan tanah sampai berukuran jauh lebih besar dari dirinya sendiri, tetapi tetap saja itu hanya berupa setumpukan tanah saja. Jika ia bekerja keras, ia membuat lubang yang dalam di dalam tanah, tetapi tetap saja itu hanya berupa sebuah lubang di dalam tanah saja. Jika seekor kerbau membuang setumpuk kotorannya di sana, itu akan menjadi lebih besar dari tumpukan tanah si kumbang, tetapi tetap saja itu belum mencapai setinggi langit. Itu semua adalah tanah. Prestasi-prestasi di dunia adalah seperti ini. Betapa pun kerasnya kumbang itu bekerja, mereka hanya berkutat di dalam tanah, membuat lubang dan tumpukan. 

Orang-orang yang memiliki kamma duniawi yang bagus, memiliki kecerdasan untuk bekerja dengan baik di dunia. Tetapi sebaik apa pun mereka bekerja, mereka masih hidup di dunia. Semua yang mereka lakukan bersifat duniawi dan memiliki batasannya sendiri, seperti kumbang yang mengais tanah. Lubangnya mungkin bisa dalam, tetapi ia berada di dalam tanah. Tumpukan mungkin bisa menjulang tinggi, tetapi ia hanyalah setumpukan tanah saja. Bekerja dengan baik, mendapatkan jumlah yang banyak, kita hanya bekerja dengan baik dan mendapatkan jumlah yang banyak di dunia ini.

Tolong pahamilah hal ini dan cobalah untuk mengembangkan ketidakterikatan. Jika anda tidak mendapatkan dalam jumlah yang banyak, merasa puaslah, pahamilah bahwa hal itu hanyalah sifat-sifat dunia ini. Jika anda mendapatkan jumlah yang banyak, pahamilah bahwa itu hanyalah sifat-sifat dari dunia ini. Renungkan kebenaran-kebenaran ini dan jangan menjadi orang yang tak memiliki kepedulian. Lihatlah kedua sisi dari segala sesuatunya, jangan terjebak pada salah satu sisi saja. Bila sesuatu menyenangkan anda, sisakan sebagian diri anda sebagai cadangan, karena kesenangan itu tidak akan bertahan. Bila anda merasa bahagia, jangan pergi semuanya ke sisi itu, karena sebentar saja anda akan kembali lagi ke sisi yang lain dengan ketidakbahagiaan.


Sumber : "About Being Careful" (The Teachings Of Ajahn Chah - Everything Is Teaching Us) - http://www.forestsangha.org





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar