Minggu, Maret 27, 2011

Buku Pintar Agama Buddha (P 2)

BUKU PINTAR AGAMA BUDDHA
Oleh : Tanhadi


KELOMPOK : P(2)


Panca Dharma : adalah lima kesunyatan yang harus dilaksanakan oleh para siswa Sang Buddha Gotama, yang terdiri dari :

1)     Metta-Karuna :
Adalah cinta kasih dan belas kasihan (welas asih ) terhadap semua makhluk hidup. Kalau  seseorang dapat melaksanakan metta-karuna dengan baik, maka ia akan dapat melaksanakan  sila pertama dari Pancasila Buddhis dengan baik.

2)     Samma-Avijja :
Adalah mata pencaharian benar, maksudnya adalah mencari penghidupan dengan cara yang  baik, yaitu :

-                     Tidak mengakibatkan pembunuhan.
-                     Wajar dan halal ( bukan karena mencuri, merampok , mencopet )
-                     Tidak berdasarkan penipuan.
-        Tidak berdasarkan ilmu yang rendah, seperti meramal, perdukunan,  tukang tenung dan lain-  lain.

Kalau kita dapat melaksanakan dhamma kedua ini dengan baik, maka kita akan dapat melaksanakan sila yang kedua dari Pancasila Buddhis.

3)     Santutthi :
Adalah puas dengan apa yang dimiliki. puas dalam hal ini adalah puas dalam hal hawa nafsu  birahi. Kalau sudah beristeri, maka kita harus merasa puas beristerikan satu dan tidak  berzinah dengan orang lain. Bagi yang belum punya isteri, harus puas dengan keadaan yang  sekarang yang sedang dialami sampai nanti menjelang dewasa, sehingga dapat melaksanakan sila ketiga dari Pancasila Buddhis.

4)     Sacca :
Adalah kebenaran atau kejujuran. Jujur disini berhubungan dengan pembicaraan seseorang terhadap orang lain yang disertai kehendak.

5)     Sati-Sampajanna :
Adalah ingat dan waspada, kalau kita selalu ingat pada jenis-jenis makanan dan minuman yang dapat menimbulkan lemahnya kewaspa-daan serta tidak akan terjerat oleh semua hal sejenisnya. Dengan selalu ingat dan waspada, kita tidak akan tergiur oleh lingkungan atau  bujukan teman-teman kita untuk berbuat perbuatan  salah, sehingga kita dapat melaksanakan sila kelima dari pancasila Buddhis.

Dari uraian diatas jelaslah bagi kita bahwa Pancasila dan Pancadharma adalah dua hal yang saling berhubungan. Pancasila adalah penghindaran dari perbuatan yang tidak baik, sedang Pancadharma adalah pelaksanaan dari perbuatan yang baik. Pancasila gunanya untuk pengendalian diri, sedang Pancadharma adalah untuk mengembangkan perbuatan baik.

Pañña / (skt. Prajna ) : 1). Kebijaksanaan luhur, 2). Pandangan terang.
Pañña merupakan kemampuan untuk membeda-bedakan sesuatu yang benar dan yang salah, yang sejati dan yang palsu, yang berguna dan yang tak berguna, yang merupakan penderitaan dan yang bukan penderitaan. gunanya adalah untuk mengusir kegelapan batin dan membebaskan diri dari penderitaan, dasarnya adalah kesadaran, pemusatan pikiran dan pengertian., untuk mengembangkan hal ini adalah dengan melaksanakan Vipassanã bhavanã.

Paññãvantã : Bijaksana.

Pañña sikkha : Latihan kebijaksanaan.
Terdiri dari Pandangan benar dan Pikiran benar, termasuk pengetahuan tentang Tilakkhana atau Tiga Corak Umum/Universal.

Pañña -vimutti : Kebebasan melalui kekuatan kebijaksanaan.
Yaitu Seseorang yang hanya mencapai kebebasan dari cengkeraman kilesa (kekotoran batin)saja tanpa mencapai hasil sampingan apapun.

Pañña -Bala: Kekuatan dari kebijaksanaan atau Pandangan Terang.

Pañña -Cakkhu :  Mata kebijaksanaan.

Pannindriya : Unsur kebijaksanan.

Papa : Hal buruk.

Papa-Desana : Pengakuan kesalahan.

Papakamma : Perbuatan-perbuatan jahat.

Papa Mitta : Sahabat yang tidak baik.
Adalah tipe sahabat yang menyukai kita, bukan karena siapa kita, tapi karena apa yang dapat diperolehnya dari kita

Para : Yang tertinggi.

Pãra : Diluar.

Pãrãjika: 1). Terkalahkan, 2). Pelanggaran peraturan yang berat.

Paramattha/(skt. Paramartha ) : Kesunyataan/kebenaran mutlak (lihat huruf “D” pada Dhamma).

Ada empat hal yang disebut sebagai Kebenaran Mutlak, yaitu :
1.      Kesadaran (Citta)
2.      Faktor-faktor Mental (Cetasika)
3.      Bentuk (Rupa )
4.      Nibbana

Paramãtma : Intisari dewa.

Paramattha Sacca / (skt. Paramartha Satya ) : Kebenaran Mutlak (lihat huruf “S”- Sacca )

Paramã sakhã : Teman yang paling baik.

Pãrami : Kesempurnaan.

Paramita/Parama : Menyatakan pada kesucian atau pelaksanaan yang mulia /agung.

Paranimmitavatti : Alam Surga Para Dewa yang menikmati ciptaan-ciptaan para dewa lain. Kehidupan para Dewa di alam ini bagaikan orang yang selalu diundang ke pesta besar, meriah dan mewah.
Parãyana : Tempat perlindungan yang tertinggi

Pariccaga : Melepas.

Parideva : 1). Keluhan, 2). Tangisan, 3). Ratapan.

Pariññeyya : Cermat.

Pãrisuddhi : 1). Kesucian, 2). Kesempurnaan, 3). Bebas dari kejahatan.

Paracittavijãnana  : Kemampuan membaca pikiran orang lain.

Parichaya dana : Pemberian tenaga.
Yaitu memberikan bakat, keahlian dan waktu untuk bekerja secara suka-rela pada usaha-usaha kemanusiaan

Pariyesena : Pencarian.

Pariyãya : Tipu daya.

Pariggaha :  Penguasaan.

Parikamma samadhi : Meditasi pendahuluan.
Meditasi pendahuluan dengan menggunakan salah satu dari 40 obyek meditasi yang sesuai dengan sifatnya (carita). selanjutnya ia akan mencapai Upacara Samadhi ( tingkat pikiran mendekati konsentrasi ), dan akhirnya ia mencapai.

Pariyatti-nana : 1). Kemampuan belajar, 2). Menghafal.

Parinamana : Penyerahan jasa-jasa .

Parinibbãna /(skt. Parinirvãna ) : 1). Pembebasan sempurna, 2). Padam dengan sempurna, 3). Mangkatnya seorang Buddha atau Arahat.

Parittãbhã : Alam yang kurang bercahaya.

Parittasubha : Alam para Brahma dengan sedikit cahaya.

Passaddhi : 1). Melemaskan otot-otot, 2). Pelepasan, 3). Relaxation, 4). Tenang dan relaks.

Passaddhi sambojjhanga : Penerangan sempurna ketentraman.

Patisandhi/(skt.Pratisandhi) : Tumimbal lahir, kesadaran yang menyambung ke kehidupan baru.

Patisambhidã : Pengetahuan analisa.

Paţhavi : Zat padat.

Paţhavi-dhãtu : Unsur tanah, unsur padat.

Pattãnumodana : Bergembira atas jasa orang lain.

Paticca-samuppãda : Hukum sebab musabab yang saling bergantungan.
Secara sederhana Paticcasamuppada yang juga merupakan hukum sebab akibat yang dapat dipahami dengan rumusan seperti di bawah ini:

1.     Imasming Sati Idang Hoti 
(Dengan adanya ini, maka terjadilah itu.)

2.     Imassuppada Idang Uppajjati
(Dengan timbulnya ini, maka timbulah itu.)

3.     Imasming Asati Idang Na Hoti
(Dengan tidak adanya ini, maka tidak adalah itu.)

4.     Imassa Nirodha Idang Nirujjati.
(Dengan terhentinya ini, maka terhentilah juga itu.)

Dengan menganalisa rumusan atau prinsip yang saling menjadikan, relatifitas, dan saling bergantungan ini, maka dapat ditemukan 12 sebab-musabab (nidana) yang ada dalam setiap makhluk khususnya manusia.

Keduabelas nidana itu yaitu:

1.     Avijjã Paccayã Sankhãrã
Dengan adanya Avijjã (ketidaktahuan/kebodohan), maka muncullah Sankhãrã (bentuk-bentuk perbuatan/kamma). );
Artinya tidak mengetahui kebenaran dan hakekat sesungguhnya segala sesuatu. Hakekat sesungguhnya bahwa batin dan jasmani itu dicengkeram oleh anicca, dukkha, dan anatta yang timbul dan padam dengan sebab akibat yang saling bergantung. Artinya ia tidak mengetahui paticcasamuppada. Avijja itu ibarat orang buta. Ia bingung mau berjalan ke kiri, ke kanan, ke depan, atau ke belakang. Seperti orang buta yang disuruh memegang gajah. Ia yang memegang kuping gajah mengira “Oh, gajah itu lebar". Jadi bukan yang sebenarnya, yang benar menjadi salah, yang salah menjadi benar. Karena ketidaktahuannya, ia berjalan semaunya maka akhirnya mengkondisikan sankhara.

2.     Sankhãrã Paccayã Viññãnang
Dengan adanya Sankhara (bentuk-bentuk perbuatan/kamma), maka muncullah Viññãna (kesadaran). ;
Diibaratkan dengan seseorang yang membuat pot. Ada pot yang sudah dibuat, ada yang masih utuh, ada juga yang pecah. Membuat pot itu ibarat melakukan sesuatu. Ada yang potnya sudah pecah artinya kammanya sudah berbuah dan ada pot yang belum pecah, sementara ia terus membuat pot terus menerus, karena masih avijja.

3.     Viññãna Paccayã Nãma-Rũpang
Dengan adanya Vinnana (kesadaran), maka muncullah Nama-Rupa (batin dan jasmani).
Artinya : untuk melihat, mendengar, membaui, mengecap, mengalami sentuhan, ataupun menyadari sesuatu. Yang umum dibahas vinnana itu adalah patisandhi vinnana. Karena melakukan nidana kedua, maka mengkondisikan tumimbal lahir. Mengkondisikan ini diibaratkan dengan seekor kera. Kera yang pindah dari pohon yang berdaun kering dan buahnya sudah tidak ada, ke pohon yang baru, yang daunnya masih hijau dan buahnya masih merah. Ini ibarat pohon yang baru tetapi bukan berarti vinanna itu pindah dari badan yang lama ke badan yang baru. Tumimbal lahir ini mengkondisikan nama-rupa.

4.     Nãma-Rũpa Paccayã Salãyatanang
Dengan adanya Nama-Rupang (batin dan jasmani), maka muncullah Salayatana (enam indera).
Diibaratkan pria dan wanita. Anggaplah pria ini jasmani dan wanita itu batin dalam suatu perahu. Perahu ini terdiri dari batin dan jasmani. Kemudian batin dan jasmani ini mengkondisikan salayatana.

5.     Salãyatana Paccayã Phasso
Dengan adanya Salayatana (enam indera), maka muncullah Phassa (kesan-kesan).
Diumpamakan dengan sebuah rumah dengan 5 jendela dan satu pintu. Lima landasan adalah fisik dan satu lagi batin. Karena ada 6 landasan indera ini maka mengkondisikan phassa.

6.     Phassa Paccayã Vedanã
Dengan adanya Passa (kesan-kesan), maka muncullah Vedana (perasaan).
Ibarat wanita dan pria yang mengadakan kontak, maka muncullah perasaan, mengkondisikan vedana.

7.     Vedanã Paccayã Tanhã
Dengan adanya Vedana (perasaan), maka muncullah Tanha (keinginan/kehausan)
yang muncul dari kontak telinga, hidung, lidah, sentuhan jasmani dan batin, sehingga muncullah tanha.

8.     Tanhã Paccayã Upãdãnang
Dengan adanya Tanha (keinginan/kehausan), maka muncullah Upadana (kemelekatan).
Ibarat orang yang sedang minum minuman keras, akibatnya mabuk. Nafsu keinginan ini bisa menimbulkan upadana.

9.     Upãdãna Paccayã Bhavo
Dengan adanya Upadana (kemelekatan), maka muncullah Bhava (proses tumimbal lahir).
Ibarat orang yang sedang mengambil buah. Buah terus diambil walaupun keranjangnya sudah penuh, terus saja mengambil. Karena melekat itulah menimbulkan dorongan melakukan sesuatu, sehingga menimbulkan bhava.

10.  Bhava Paccayã Jãti
Dengan adanya Bhava (proses tumimbal lahir), maka muncullah Jati (kelahiran kembali).

11.  Jãti Paccayã Jarãmaranang
Dengan adanya Jati (kelahiran kembali), maka muncullah Jaramaranang (kelapukan, kematian, keluh-kesah, sakit, dan sebagainya).

12.  Jara Marana
Kelapukan/ketuaan, kematian, keluh-kesah, ratap tangis , penyakit, dan sebagainya merupakan akibat dari adanya kelahiran kembali karenanya berarti dukkha.

Kemudian dalam Paticca-samuppada-vibhanga Sutta; Samyutta Nikaya 12.2, juga dijelaskan dengan terhentinya dan tidak munculnya salah satu penyebab yaitu Avijja (ketidaktahuan/kebodohan), maka terhenti dan tidak muncul pula sebab-musabab yang mengikutinya. Dengan terhentinya Avijja maka tidak akan muncul Sankhara, Vinnana, Nama-Rupa, Salayatana, Phassa, Vedana, Tanha, Upadana, Bhava, Jati, dan Jaramaranang.

Dalam kehidupan sehari-hari kita, yaitu dalam diri kita sendiri, kita dapat menemukan dan menganalisa sebagian dari Hukum Paticcasamuppada. Sebagai contoh, diuraikan dibawah ini.

Kita dilahirkan di dunia ini dengan memiliki jasmani dan batin/pikiran. Dengan menganalisa kita dapat memahami bahwa kita memiliki tubuh yang bermateri yang sifatnya adalah kasatmata. Kita memiliki kepala, tubuh, kedua tangan dan kaki dan lain sebaginya. Kemudian kita menganalisa bahwa kita dapat berpikir, memiliki kehendak, maka dengan demikian itu berarti kita memiliki batin atau pikiran yang sifatnya tidak kasatmata. Pada tahap ini, kita telah menganalisa tentang keberadaan nidana no.4 mengenai keberadaan Nama-Rupa (jasmani dan batin).

Kemudian dengan adanya jasmani dan batin pada umumnya kita memiliki indera antara lain, indera penglihatan (mata), indera pendengaran (telinga), indera pengecap (lidah), indera penciuman (hidung), indera peraba/sentuhan (kulit) dan indera pikiran. Dengan indera-indera ini kita dapat melihat bentuk dan warna, mendengar suara, merasakan rasa, merasakan aroma/bau, merasakan tekstur, lembut dan kasar. Pada tahap ini, kita telah menganalisa tentang keberadaan nidana no.5 mengenai keberadaan Salayatana (6 indera).

Dengan memiliki indera, kita dapat mengalami berbagai kesan-kesan. Kita bisa melihat bentuk dan warna yang memberi kesan indah atau buruk, suara yang merdu atau sumbang, rasa yang lezat atau tidak, aroma yang harum atau bau busuk, merasakan kelembutan atau kekasaran. Pada tahap ini, kita telah menganalisa tentang keberadaan nidana no.6 mengenai keberadaan Phassa (kesan-kesan).

Setelah kita memiliki kesan-kesan terhadap sesuatu melalui indera kita, kemudian kita mulai merasakan dan memisahkan mana yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Kita merasa senang dengan bentuk dan warna yang indah dan menolak bentuk-bentuk yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Kita merasa senang dengan suara-suara yang merdu dan nyaman di telinga kita dan menolak suara yang tidak merdu, kita merasa senang dengan rasa yang nikmat, aroma yang harum dan merasa tidak senang dengan rasa yang tidak enak dan aroma yang berbau busuk. Pada tahap ini, kita telah menganalisa tentang keberadaan nidana no.7 mengenai keberadaan Vedana (perasaan).

Ketika perasaan, baik perasaan yang menyenangkan ataupun perasaan yang tidak menyenangkan telah muncul, bagi kita yang belum sadar, kita terlena dengan perasaan-perasaan tersebut. Kita terlena pada perasaan yang menyenangkan sehingga kita menginginkan terus sesuatu yang membuat perasaan senang tersebut muncul. Inilah nidana no.8 yaitu Tanha (keinginan/kehausan).

Keinginan kita untuk terus menerus memiliki, menikmati, memeluk erat, tidak ingin kehilangan, tidak ingin berpisah atau berjauhan dari sesuatu yang membuat perasaan kita senang, membuat diri kita tidak bisa melepaskannya, tidak merelakan jika sesuatu itu harus hilang, pergi, menjauh dari diri kita. Inilah nidana no.9 yaitu Upadana (kemelekatan).

Dengan munculnya kemelekatan pada pikiran kita, maka kita tidak bisa terlepas dari Bhava (proses kelahiran kembali). Hal ini dapat digambarkan sebagai seseorang yang kembali lagi dan lagi ke sebuah restoran yang menyajikan makanan kesukaannya. Hanya dengan menghentikan kemelekatan akan hidup dan kehidupan maka kita dapat menghentikan proses kelahiran kembali.

Pãtimokkha /(skt. pratimoksa ) : 227 tata-tertib untuk seorang Bhikkhu.

Pãtimokkhasamvara : Mengendalikan diri dengan mentaati peraturan
/disiplin.

Patiloma : Urutan mundur.

Patigha : 1). Kemarahan, 2). Ketidasenangan.

Patighasanna : Pencerapan tentang ketidaksenangan.

Patipada : Praktek.

Patipadananadassana  Visuddhi : Kesucian pengetahuan dan penglihatan tentang praktik ( lihat huruf “V” pada “Visuddhi Magga ).

Paţisandhi : Tumimbal lahir (lihat huruf ”P” pada Punabbhava).

Paţisandhi viññãņa / Patisandhi-citta : Kesadaran tumimbal lahir.

Patisotagami : Bergerak menentang arus.

Pativedha : 1). Menembus, 2). Pengertian yang mendalam.

Pattidãna : Pelimpahan jasa.

Payoga : Usaha.

Peta-yoni/(skt.pretayoni) : Alam Roh Lapar , Alam setan.
Adalah alam makhluk yang batinnya senantiasa tersiksa oleh kerinduan, keinginan dan perasaan frustrasi karena tidak mendapatkan yang diinginkan, mereka senantiasa mengembara mencoba memuaskan lapar.

Peta/(skt.preta): Makhluk-makhluk yang telah meninggal dan tanpa kebahagiaan samasekali, setan atau hantu. (lihat huruf “ T “ pada Tiloka / Triloka ).

Pharusãvãca : Bicara kasar.

Phassa  : 1). Kontak, 2). Kesan, 3). Sentuhan.
Phassa (kontak); yaitu kemampuan untuk menyentuh atau menekan Obyek yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan. Ibarat wanita dan pria yang mengadakan kontak, maka muncullah perasaan, mengkondisikan vedana.(perasaan), terdiri dari kesan mata, kesan telinga, kesan lidah, kesan hidung, kesan sentuhan dan kesan batin.

Phassahara : Kesan sebagai “ makanan” untuk perasaan.

Pindapãta : Mengumpulkan dana makanan.

Pisunavãcã : Memfitnah.

Piti : 1). Kegiuran, 2). Kenikmatan, 3). Kegembiraan.
Sifat yang bertentangan dengan batin yang pesimistis, murung dan sedih,
merupakan kegiuran atau kegembiraan dari pikiran yang telah terlepas dari keruwetannya.

Piti sambojjhanga : Penerangan sempurna gairah.

Ponobbhavika/(skt.paunarbhavika): kelahiran yang berulang-kali, menuntun ke kelahiran kembali.

Pūja :1). Penghormatan, 2). Persembahan.

Puggala / (skt. Pudgala) : 1). Perorangan,2). Individu.

Puggala pannatti : Penggolongan individu.

Puggala vimutti-nana : Kemampuan untuk mengingat orang-orang tertentu.

Pubbenivasanussati nana :  Kemampuan untuk mengingat  kehidupan yang lampau.

Pubbekatahetu : Perbuatan masa lalu.

Punyanumodana : Kegembiraan dalam mengusahakan jasa-jasa.

Purisa sila samacara : Laku sila manusia.


Bersambung ke -------Buku Pintar Agama Buddha (P 3)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar