Senin, Maret 14, 2011

Buku Pintar Agama Buddha (A 1)


BUKU PINTAR AGAMA BUDDHA

oleh : Tanhadi

KELOMPOK : A (1)

Abayapadasankhappa : Pikiran yang bebas dari kebencian dan selalu berpikir untuk membahagiakan makhluk lain.

Ãbhassara /(skt. abhasvara) : 1). Alam Cahaya, 2). Cahaya.
Alam para Brahma yang bersinar, merupakan makhluk yang hidup dari ciptaan batin (mano maya), diliputi kegiuran, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang diangkasa, hidup dalam kemegahan.

Abhaya/(skt. Abraya): Tidak merasa takut, aman, keselamatan.

Abhayadãna/(skt.Abrayadana) : Pemberian rasa aman.
Kata-kata yang memberi keyakinan dan ketenangan akan ketakutan seseorang terhadap hal-hal yang mungkin bisa terjadi.

Abhidhamma/(skt. abhidharma) : 1). Ajaran Sang Buddha yang lebih tinggi, 2). Uraian Metafisik, 3). Filosofi/Ilmu Jiwa.

Abhidhamma Pitaka ini terdiri dari 7 Buku, yaitu :
1. Dhammasangani : Klasifikasi Dhamma ; perincian Dhamma-Dhamma, yakni unsur-unsur atau  proses-proses batin.

2. Vibhanga : Analisis kebenaran tertinggi ; perbedaan atau penetapan. Pendalaman mengenai soal-soal dalam Dhammasangani dengan metode yang berbeda. Buku ini terbagi menjadi 8 bab (vibhanga) dan masing-masing mempunyai 3 bagian.

3. Dhatukatha : Kotbah tentang unsur-unsur ; penjelasan mengenai unsur-unsur, yaitu mengenai unsur-unsur batin dan hubungannnya dengan kategori lain. Buku ini terbagi menjadi 14 bagian.

4. Puggala Pannati : Kitab tentang individual ; penjelasan mengenai orang-orang, terutama menurut tahap-tahap pencapaian merka sepanjang Jalan. Dikelompokkan menurut urutan bernomor, dari kelompok satu sampai  sepuluh, seperti sistem dalam Kitab Anguttara Nikaya.

5. Kathavatthu : Pemurnian doktrin Buddha Dhamma ; pokok-pokok pembahasan, yaitu pembebasan dan bukti-bukti kekeliruan dari berbagai sekte (aliran-aliran) tentang hal-hal yang berhubungan dengan theologi dan metafisika. Terdiri atas 23 bab yang merupakan kumpulan percakapan- percakapan (katha).

6. Yamaka : Kitab tentang hal-hal yang berpasangan ; kitab pasangan, yang oleh Geiger disebut logika terapan. Pokok masalahnya adalah psikologi dan uraiannya disusun dalam pertanyaan-pertanyaan berpasangan. Kitab ini  terbagi menjadi 10 bab yang disebut Yamaka.

7. Patthana : Kitab tentang sebab yang berhubungan ; kitab hubungan, yaitu analisa mengenai hubungan-hubungan (sebab-sebab dan sebagainya) dari batin dan jasmani yang berkenaan dengan 24 paccaya (kelompok sebab- sebab).

Abhijjhã /(skt. abhidhyã): Ketamakan, keserakahan.

Abhiññā /(skt. abhijñā): Kemampuan batin.
Abhiññā adalah kemampuan batin yang lebih tinggi, yang hanya dapat dimiliki oleh mereka yang berhasil dalam meditasi, bila kehidupan yang lampau maupun saat ini ia sukses dalam meditasi, maka sisa kemampuan itu masih dapat terlihat dalam kehidupan yang sekarang. Pencapaian Abhiññā sangat beragam bagi setiap orang, karena berkaitan dengan obyek meditasi yang digunakannya ketika bermeditasi.

Contoh : Bila kita menggunakan obyek zat padat (paţhavi), maka kita dapat membuat segala sesuatu menjadi padat, walaupun orang lain melihatnya sebagaimana adanya, misalnya seseorang yang dapat berjalan diatas air, baginya air itu telah menjadi padat, tetapi orang lain mengatakan/melihat ia sedang berjalan diatas air.

Dalam pencapaian kemampuan batin ini, Karma pada kehidupan yang lampau sangat kuat pengaruhnya, ada seseorang yang belum lama bermeditasi telah mencapai keadaan ini, tetapi bagi karmanya yang kurang baik, akan sangat kesulitan untuk bermeditasi dan kemampuannyapun sangat terbatas.

Macam-macam Abhiññā
Memiliki Abhiññā adalah sangat berguna bagi seseorang untuk memperluas dan memperdalam pandangan kita tentang kehidupan, alam semesta serta dapat menembus  “Pengertian” yang selama ini belum dimengerti.

Penggunaan Abhiññā ini harus sesuai dengan Sila, karena kemampuan ini bisa merosot dan lenyap jika kita melanggar sila.

Chalabhiññā  adalah enam macam kemampuan batin, yaitu :
1. Kemampuan batin fisik ( Iddhividhi/iddhividha)
Yaitu : seseorang mengarahkan pikirannya pada bentuk iddhi, ia bisa menjadi banyak orang, dari banyak orang kembali menjadi satu lagi, ia berjalan menembus dinding, benteng atau gunung, ia dapat menyelam dan muncul melalui tanah, ia dapat menghilang, berjalan diatas air, dengan duduk bersila ia dapat melayang-layang diangkasa, dengan tangan ia menyentuh matahari, ia juga dapat dengan tubuhnya mengunjungi alam-alam dewa.

Manfaatnya :
Dengan kemampuan ini; kita dapat melakukan banyak perbuatan baik untuk menolong orang lain yang letaknya jauh dari keramaian /terpencil, sehingga ketika orang tersebut membutuhkan bantuan kita  (emergency), dengan segera/ secepat itu pula kita sudah berada disana untuk memberikan pertolongan kepadanya.

2. Telinga dewa (Dibbasota)
Yaitu : kemampuan mendengar suara-suara manusia maupun dewa, yang jauh atau dekat.

Manfaatnya :
Dengan kemampuan ini; kita dapat mendengar percakapan makhluk-makhluk disekitar kita ataupun yang jaraknya jauh, sehingga kita bisa mendapatkan informasi dengan cepat.

3. Membaca Pikiran (Cetopariyañãna/paracittavijañãna)
Yaitu: kemampuan untuk mengetahui pikiran makhluk lain, termasuk pikiran orang lain.

Manfaatnya :
Dengan kemampuan ini kita dapat membaca/mengetahui pikiran orang lain, sehingga memungkinkan kita dapat memecahkan persoalan orang lain, walaupun orang tersebut tidak mau membuka rahasianya. Demikian pula dengan memiliki kemampuan batin ini, kita tidak dapat ditipu orang lain yang hendak berbuat jahat.

4. Mengingat kembali kehidupan-kehidupan yang lampau ( Pubbenivāsānussati )
Yaitu : Kemampuan untuk mengingat kehidupan yang lampau dari satu kelahiran sampai ribuan kelahiran secara lengkap, tempat, keluarga, nama, suku bangsa, kebahagiaan, penderitaan, batas umur, banyak masa perkembangan dan kehancuran bumi.dsb.

Manfaatnya :
Dengan kemampuan  ini ; kita dapat menjawab banyak masalah yang berkaitan dengan kehidupan masa lampaunya ataupun riwayat hidup para Buddha dan para siswanya. Dengan Abhiññā inipun kebenaran kitab suci dapat diuji.

5. Mata dewa ( Dibbacakkhu )
Yaitu : kemampuan untuk melihat apa yang bakal terjadi dimasa yang akan datang, memungkinkan seseorang untuk melihat benda-benda atau makhluk-makhluk surgawi dan duniawi, jauh atau dekat, yang tak kasat mata. Kemampuan untuk mengetahui tentang kematian dan kelahiran makhluk, mengapa ada makhluk yang terlahir sengsara, menderita, atau makhluk terlahir dialam neraka, terlahir menyenangkan, bahagia atau terlahir dialam surga.

Manfaatnya :
Dengan Mata dewa ( Dibbacakkhu ); kita dapat membantu seseorang untuk melihat kelahiran-kelahiran makhluk-makhluk, mengapa seseorang bernasib seperti ini dan itu, mengapa seseorang berwajah buruk, ganteng, cantik, sehat dsb. Kitapun dapat mengetahui kehidupan seseorang dimasa yang akan datang, melacak keberadaan seseorang setelah meninggal dan kemana ia akan terlahir kembali sesuai dengan karmanya sekarang ini. Kita juga dapat membuktikan sendiri apakah 31 alam kehidupan itu betul atau tidak dsb.

6. Pelenyapan kekotoran batin ( Ãsavakkhayanana )
 Yaitu : kemampuan yang hanya dimiliki oleh seorang arahat, Pacceka Buddha atau Sammasambuddha. Kemampuan ini tidak dapat dihasilkan oleh Samatha bhavana atau dengan mencapai jhana, kemampuan ini hanya dapat dicapai dengan melaksanakan Vipassana Bhavana.

Manfaatnya :
Adalah lenyapnya semua kekotoran batin, ia mencapai penerangan agung (bodhi) dalam pengertian sebagai orang suci yang bila meninggal dunia tidak akan terlahir kembali.

Bahayanya :
Seseorang yang memiliki Abhiññā sering dikenal sebagai orang sakti , Orang sakti belum tentu suci ia telah mencapai kesucian, dan ada kemungkinan masih mempunyai keinginan untuk memuaskan nafsu-nafsunya, sehingga dapat merugikan orang lain. Orang sakti yang tidak bermoral, kesaktiannya dapat luntur, tetapi kesaktian orang suci tak akan pernah luntur karena orang suci tidak akan melakukan perbuatan yang melanggar sila.

Kemampuan-kemampuan batin ini seolah-olah mustahil bagi pikiran manusia modern( No. 1 s/d 5 ). Tapi perlu diingat bahwa semua kemampuan 1 s/d 5 ini bukanlah merupakan Tujuan dari ajaran Sang Buddha, namun yang terpenting adalah kemampuan no.6, yaitu melenyapkan kekotoran batin secara mutlak atau mencapai nibbana.

Abhithana /(skt.Abhisthana) : 6 macam perbuatan Durhaka. yaitu:
1. Matughata : Membunuh Ibu.
2. Pitughata : Membunuh Ayah
3. Arahantaghata : Membunuh Arahat
4. Lohituppada : Melukai diri Sang Buddha sehingga meneteskan darahnya Keluar
5. Sanghabheda : Memecah belahkan Sangha
6. Annasatthuddesa : Mengikuti dan mengajarkan agama-agama lain (hanya untuk para Bhikkhu).

Abhũta/(skt. Abhũta): Palsu.

Abyãpãda/(skt.Avyãpãda): Cinta kasih, kehendak baik atau penuh kebajikan untuk melawan kebencian, keinginan jahat atau keengganan.

Nafsu lain yang paling memberontak yaitu kemarahan, keengganan, keinginan jahat atau kebencian yang dalam bahasa Pali semuanya disebut byapada. Ia menghancurkan baik orang yang memilikinya maupun yang lain. Kata abyapada dalam bahasa Pali, secara harafiah berarti “ tanpa permusuhan”, sesuai dengan kebajikan yang paling indah Mettã (Skt. Maitri) yang berarti cinta kasih atau kehendak baik terhadap semua makhluk tanpa kecuali. Ia yang pikirannya penuh cinta kasih tidak akan mempunyai kebencian kepada siapapun. Bagaikan seorang ibu yang tidak membedakan antara dirinya dan anak tunggalnya, melindungi sampai bahkan juka harus mengorbankan hidupnya, demikianlah pengembara yang mengikuti jalan tengah memancarkan pikiran cinta kasihnya menyamakan diri sendiri dengan pihak lain. Metta Sang Buddha mencakup semua makhluk hidup, termasuk binatang.

Ãcariya/(skt. ãcãrya) : Guru, Pembimbing.

Acariya-Mutthi : Ajaran rahasia .

Ãciņņa/(skt. Ãcirna) : Kamma kebiasaan.

Acinteyya/(skt. Acintya) : 1). Tak terpikirkan, 2). Tak terbatas, 3). Diluar jangkauan pikiran.

Accuta /(skt.acyuta) : 1). Kekal, 2). Abadi, 3.). Nirvana.

Adesanavidha : Kemampuan-kemampuan menebak pikiran.

Adhamma : 1). Jahat, 2). Tidak bermoral.

Adhimokkha : 1). Keyakinan, 2). Ketetapan, 3). Tekad.
Yaitu kebebasan pikiran untuk menetapkan ya atau tidak, benar atau salah, ada atau tidak ada.

Adhitthana-iddhi : Kemampuan "magis"

Adhivacana-patho : Ekspresi ucapan.

Adhivacana-samphassa : Kontak-ekspresi.

Adhukkhamasukha : Netral.

Adhyesana : Sembahyang.

Adi/(skt. Adi) : 1). Permulaan, 2).Pertama

Adinnãdãna /(skt. adattãdãna): Pencurian.

Ãdinava/(skt. Ãdinava) : 1). Akibat buruk, 2). Bahaya, 3). Ketidakpuasan.
Adiţţhãna /(Skt. Adhisthana): 1). Tekad kuat, 2). Keputusan.

Adosa/(skt. Adosa) : 1). Tidak membenci, 2). Kehendak baik.
Yaitu suatu sifat batin yang berkecenderungan untuk tidak menyakiti makhluk lain dan selalu mengharapkan makhluk lain bahagia, karena ia selalu diliputi oleh perasaan cinta kasih (Metta).

Ãgama : 1). Kedatangan, 2). Aturan latihan, 3). Disiplin.

Agãriya /(skt.agãriya) : 1). Umat awam, 2). Umat perumah tangga.

Áhãra/(skt. Ahãra) : Makanan.
Adalah makanan yang menjadi sebab atau kondisi yang harus dipenuhi agar makhluk-makhluk dapat lahir dan kehidupannya berlangsung terus.

Ada empat macam Áhãra yaitu ;
1) Makanan biasa (kabalinkahara)
2) Kontak dari enam indera kita dengan dunia luar ( phassahara )
3) Kesadaran ( vinnanahara)
4) Kehendak atau kemauan batin ( manosancetanahara ),

Manosancetanãhãra terdiri dari :
1. Mano    =  Batin
2. Sanna   =  Pencerapan
3. Cetana  =  Kemauan, kehendak.

Áhãra keempat merupakan kehendak untuk hidup, lahir, terlahir kembali, melangsungkan kehidupan dan untuk menjadi lebih sempurna. Ahara ini menciptakan akar bagi kelahiran dan kelangsungan yang bergerak maju dengan perbuatan baik dan buruk (kusalakusala kamma). Hal ini sama dengan kehendak (cetana).

Ahirika/(skt.Ahirika) : 1). Tidak malu untuk berbuat buruk, 2). Tidak mengindahkan moral.

Ahosi-kamma/(skt. Ahosi-karma) : Perbuatan yang tidak menimbulkan akibat.

Ajara : Tak busuk

Ajãta : Tak dilahirkan

Ãjiva : 1). Penghidupan, 2). Mata pencaharian.

Ajjhava : Kejujuran.

Ajjhosana : Kemelekatan.

Akata/(skt. Akrta) : Tak diciptakan.

Ãkãsãnañcãyatana : Alam ruang tanpa batas .
Yaitu batin berada dalam ruang yang tak terbatas.

Akãliko/(skt. Akãlika ) : Tanpa penundaan.

Akkhara : Kekal.

Akkodha/(skt. akrodha) : 1). Bebas dari kebencian, 2). Bebas dari kemurkaan / kemarahan.

Akkosati/(skt.ãkrośati) : Menghina.

Ãkiñcaññayatana/(skt.akiñcanyãyatana): 1). Alam kekosongan, 2). Nama tingkat III arupajhana, yaitu batin yang berada dalam keadaan kosong.

Akusala/(skt. Akuśala) : 1). Buruk , 2). Salah,  3). Jahat.
Keadaan akusala dipelopori oleh lobha, dosa, dan moha. Apapun yang dipelopori oleh ketiga hal ini, baik ketika berbuat, berucap, maupun berpikir akan menghasilkan penderitaan sebagai akibatnya. Masalah akan timbul jika mereka muncul. Karena itu, penting sekali untuk menyadari penyebab penderitaan ini agar kita dapat menghindarinya.

Tujuan kita belajar Dhamma (pariyatti) adalah untuk menyadari adanya akusala dalam diri kita. Pengertian Dhamma yang kita miliki akan memungkinkan kita untuk menyadarinya. Karena tanpa menyadarinya, kita tidak akan mampu untuk melenyapkannya. Kemudian, sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah, kita akan mulai untuk mempraktikkan Dhamma dalam kehidupan kita, sehingga mulailah terjadi penyesuaian antara pengetahuan intelektual dengan tingkah laku kita. Apa yang kita ketahui sebagai kebaikan secara teori, akan mulai kita terapkan, sehingga pengetahuan yang kita miliki akan berguna bagi kita. Jika Dhamma tidak kita jalankan, maka tidak akan berguna dan tidak akan mendatangkan hasil apapun.

Akusala Cetasika/(skt. Akusala-caitasika) : Faktor mental negatif.
Ada empat belas faktor mental negatif yang mempengaruhi kesadaran, yaitu :
1. Moha =  Kegelapan batin.
2. Ahirika =  Tidak malu berbuat buruk.
3. Anottappa =  Tidak takut akan akibat berbhuat buruk.
4. Uddhacca =  Kegelisahan, kegalauan.
5. Lobha =  Keserakahan.
6. Ditthi =  Pandangan salah.
7. Mãna =  Kesombongan.
8. Dosa =  Kebencian, kemarahan.
9. Issã =  Iri, dengki.
10. Macchriya =  Egois, kikir.
11. Kukkucca =  Kemurungan.
12. Thina =  Kemalasan.
13. Middha =  Kelambanan.
14. Vicikicchã =  Keragu-raguan, sangsi.

Akãlamaraņa : Kematian yang belum waktunya.

Akaņiţţha : Alam yang tertinggi.

Akinvannayatana :  Alam Kekosongan. 

Akusala-kamma/(skt. Akusala-karma) : Karma buruk.

Akusalamūla/(skt.akuśalamūla) : Akar kejahatan.

Alaya-Vijnana : Gudang kesadaran.

Alãbha/(skt. Alabha) : Rugi.

Alobha/(skt. Alobha) : 1). Tidak Serakah,2).  Kedermawanan.
Yaitu suatu sifat batin yang dipenuhi oleh kasih sayang (Karuna) untuk meringankan penderitaan makhluk lain, karena keinginan untuk membantu makhluk lain.

Amara : Tanpa kematian.

Amata /(skt.amrta) : 1). Keabadian , 2). Sinonim dari Nibbana.

Ãmisa pũjā/(skt. Ãmisa pũjā) : Bentuk pemujaan luar.

Amosadhamma : Segala sesuatu yang nyata.

Amoha/(skt. Amoha) : 1). Berpengetahuan, 2). Tidak bodoh.
Yaitu suatu sifat yang mendasari batin makhluk, untuk mengetahui apa yang baik dan buruk, berguna dan tidak berguna, apa yang perlu dikembangkan dan apa saja yang yang tidak perlu dilakukan. Dengan adanya amoha ini, kebijaksanaan (panna) dapat dikembangkan.

Ammanussa : Bukan manusia.

Anãgami/(skt. anãgãmin) : Yang tidak akan pernah kembali lagi ke dunia ini, tingkat kesucian ke tiga.
Seorang Anagami ("Yang Tidak Terlahir Kembali") telah menghancurkan sepenuhnya kelima belenggu pertama. Ia tidak lagi dilahirkan di alam nafsu. Namun pencapaiannya belumlah memadai untuk menjadikannya seorang Arahat, dan bila ia belum sanggup untuk menjadi seorang Arahat pada kelahiran berikutnya, maka ia akan terlahir kembali di surga pertama dari "lima kediaman suci", atau surga-surga terhalus dan termurni di antara surga-surga di Alam Berwujud. Hanya seorang Anagamin-lah yang dilahirkan di sana. Di surga ini ia mengembangkan penembusannya hingga menjadi dewa-Arahat yang berusia panjang.

Ada lima macam Anãgami :
1) Mereka yang mencapai penerangan selama pertengahan pertama dari masa kehidupan mereka ( Antaraparinibbayi ).

2) Mereka yang mencapai penerangan selama pertengahan kedua dari masa kehidupan mereka ( Antaraparinibbayi .)

3)  Mereka yang mencapai penerangan melalui usaha keras ( Sasankhara parinibbayi )

4) Mereka yang mencapai penerangan melalui usaha ringan ( Asankhara parinibbayi)

5) Mereka yang mencapai alam kehidupan akanittha, yaitu alam kehidupan yang tertinggi ( Uddham-soto-akanitthagami)

Dua yang pertama digolongkan berdasarkan atas masa kehidupan mereka, sedangkan yang ketiga dan keempat berdasarkan usaha-usaha mereka, sedangkan yang kelima ditandai melalui alam tujuan mereka.

Anãgãrika/(skt. Anãgãrika) : Yang tidak tinggal di rumah sendiri, petapa.

Andaja : Makhluk yang dilahirkan melalui telur.

Aneñja : Tak tergoyahkan.

Ańgulimãlã : Si Kalung Jari, nama julukan bhikkhu Ahimsaka.

Añjali : Penghormatan dengan merangkapkan kedua tangan di depan kening.

Anãlaya/(skt.Anãlaya) : Tanpa tempat kediaman.

Ãnanda : Bahagia, senang.

Anannaposi : Tidak melekat pada yang lain.

Ananta : Kekal, tanpa akhir, tanpa batas.

Ãnãpanãssati /(skt. ãnãpãnasmŗti): Pemusatan perhatian pada penapasan.
Menyadari sepenuhnya masuk dan keluarnya napas, satu cara meditasi.

Anariya/(skt.Anarya) : 1). Tidak suci, 2). Hina, 3). Tercela, 4). Rendah

Anãsava/(skt.Anãsrava) : Bebas dari kekotoran batin.

* Bersambung ke .......Buku Pintar Agama Buddha (A2)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar