Kamis, September 15, 2011

(Lanjutan)... Dhamma Vibagha II (Penggolongan Dhamma) Kelompok Empat


11. BANJIR (OGHA)
  1. Banjir kenafsuan (kamogha)
  2. Banjir perwujudan (bhavogha)
  3. Banjir pandangan-pandangan (ditthogha)
  4. Banjir ketidaktahuan (avijjogha)

Sam. Maha. 19/88

·       KETERANGAN

Empat di atas adalah disebut 'banjir,' karena mereka memiliki kekuatan menghanyutkan makhluk-makhluk yang telah jatuh menjadi korban kekuatan-kekuatan mereka. Untuk keterangan lebih lanjut mengenai kenafsuan, lihat; Kenafsuan dalam Kelompok Dua (kama).

Banjir perwujudan menunjukkan semua alam kehidupan, di mana kelahiran dan kematian dapat diharapkan (lihat alam-alam kehidupan, No. 21 dari bab ini). Keterangan lebih lanjut mengenai banjir pandangan-pandangan dapat dilihat dalam 'pandangan-pandangan salah' (No. 14, Kelompok Tiga) dan mengenai banjir ketidaktahuan dalam No. 8 dari bab ini.

Empat ini disebut juga 'ikatan' (yoga) dan pengotoran-pengotoran atau secara harafiah pengaliran (asava) atas dasar bahwa mereka adalah pusat dengan mana makhluk-makhluk terikat pada lingkaran kelahiran kembali dengan mana bathin mereka menjadi kotor.


12. FUNGSI-FUNGSI TERHADAP EMPAT KEBENARAN MULIA
  1. Fungsi mengetahui (pariñña) terhadap empat kebenaran mulia pertama.
  2. Fungsi meninggalkan (pahana) terhadap kebenaran mulia kedua.
  3. Fungsi menyadari (sacchikarana) terhadap kebenaran mulia ketiga.
  4. Fungsi mengembangan (bhavana) terhadap kebenaran mulia keempat.

Sam. Maha. 19/529

·       KETERANGAN

Kebenaran mulia pertama, kebenaran tentang penderitaan harus diketahui oleh seorang umat Buddhis (dalam semua segi, secara mendalam dan pasti).

Kebenaran mulia kedua, sebab penderitaan harus ditinggalkan atau dihancurkan oleh seorang umat Buddhis, sampai tidak ada jumlah yang tertinggal.

Kebenaran mulia ketiga, akhir penderitaan harus disadari oleh seorang umat Buddhis. Hal ini mungkin dengan melalui pemadaman atau penghancuran nafsu-nafsu keinginan.

Kebenaran mulia keempat merupakan jalan yang membawa pada akhir penderitaan harus dikembangkan oleh seorang umat Buddhis sampai pada tingkatnya yang paling sempurna, yang secara serentak menghasilkan pemadaman keinginan, penyadaran terhadap akhir penderitaan dan pengetahuan sempurna terhadap penderitaan.

·       CATATAN :

Jadi tingkat yang sempurna dari salah satu, secara serentak menghasilkan kesempurnaan terhadap yang selanjutnya. Ini mungkin hanya dengan melalui perkembangan terakhir dari Sang Jalan dan Sang Hasil (lihat No. 22 dan 23 dari bab ini; Sang Hasil).


13. TINGKAT MEDITASI YANG LEBIH TINGGI (JHANA)
  1. Tingkat pertama
  2. Tingkat kedua
  3. Tingkat ketiga
  4. Tingkat keempat

Ma. Mu. 12/72

·       KETERANGAN

Secara harafiah, istilah jhana berarti perenungan untuk memusatkan perhatian pada suatu obyek dengan tingkat perhatian yang tidak tergoyahkan (yang membuat seseorang tidak sadar pada keadaan luar, tetapi aktif dan waspada di dalam). Ini mungkin hanya dengan melalui perkembangan meditasi (samadhi) sampai ketingkat yang disebut; appana, yang kadang-kadang secara harafiah diterjemahkan dengan 'meditasi pencapaian', (lihat Kelompok Tiga, No. 18).

Jhana pertama terdiri atas pikiran yang tidak kacau dan perhatian yang bebas (untuk sementara) dari nafsu-nafsu ke-indria-an dan sikap-sikap bathin tidak baik lainnya. Ini berdasarkan pada pencapaian ketenangan atau keseimbangan dan secara serentak dirangkaikan dengan kegiuran dan kebahagiaan. Jadi tingkat pertama ini terdiri dari lima faktor.

Jhana kedua lebih halus daripada yang pertama, bahkan telah bebas dari pikiran dan perhatian yang tidak kacau (vitakka dan vicara), dengan demikian hanya mempertahankan tiga faktor; keseimbangan yang dirangkaikan dengan kegiuran dan kebahagiaan.

Jhana ketiga lebih mendalam dari yang kedua, karena telah meninggalkan kegiuran, dan hanya memiliki faktor-faktor kebahagiaan dan keseimbangan.

Jhana keempat, merupakan tingkat yang tertinggi dari keempatnya, bahkan telah mengatasi kebahagiaan. Keadaan yang tidak tergoncangkan melalui kesucian keseimbangan yang lebih dalam, karena telah meninggalkan kegiuran dan perasaan bahagia sekalipun, yang setiap saat didasari dengan kesadaran atau sati.

Empat tingkatan jhana itu disebut meditasi yang berdasarkan pada 'bentuk' (obyek atau rupa), sebagai lawan dari meditasi 'tanpa bentuk' (No. 7 dari bab ini). Seperti kategori 'tidak berbentuk', keempat meditasi 'bentuk' atau rupa jhana ini adalah nama dari alam-alam kehidupan (yang dimasuki setelah kehancuran badan jasmani), juga masing-masing tingkat perkembangan meditasi itu sendiri. Alasan mengapa keadaannya dimasukkan ke dalam kategori 'bentuk,' adalah karena dikembangkan melalui meditasi yang berdasarkan pada obyek nyata, bukan dengan obyek abstrak atau tidak berbentuk seperti kategori arupa atau meditasi tidak berbentuk.


14. KESUCIAN SUMBANGAN ATAU KEMURAHAN HATI (DAKKHINA VISUDDHI)
  1. Pemberian yang 'murni' pada pihak si pemberi, tetapi bukan pada pihak si penerima.
  2. Pemberian yang 'tidak murni' pada pihak si pemberi, tetapi 'murni' pada pihak si penerima.
  3. Pemberian yang 'tidak murni' pada kedua belah pihak, baik si pemberi maupun si penerima.
  4. Pemberian yang 'murni' pada kedua belah pihak, baik si pemberi maupun si penerima.

An. Ca. 21/104

·       KETERANGAN

Yang dimaksud dengan kata sumbangan atau kemurahan hati di sini adalah suatu pemberian atau persembahan kepada para Bhikkhu. Ini adalah suatu hal yang memiliki dua pihak, yaitu pihak si pemberi dan pihak si penerima. Hasil dari suatu pemberian demikian tergantung pada gabungan kemurnian dari kedua belah pihak, dan harus dipertimbangkan dari kedua belah pihak sebagai berikut:

1.    Apabila si pemberi seorang yang saleh, kemudian memberikan bantuan kepada seorang penerima yang jahat, perbuatan berjasa atau kemurahan hati itu dikatakan 'murni' pada pihak si pemberi, tetapi tidak pada pihak si penerima.
2.    Sebaliknya, apabila seorang pemberi yang jahat memberikan suatu pemberian kepada seorang penerima yang saleh, ini adalah 'murni' pada pihak si penerima, tetapi tidak pada pihak si pemberi.
3.    Apabila keduanya, baik si pemberi maupun si penerima adalah orang-orang yang jahat, perbuatan kemurahan hati itu tidak murni pada pihak manapun juga.
4.    Suatu pemberian yang dipersembahkan oleh seorang pemberi yang saleh kepada seorang penerima yang saleh, perbuatan itu adalah 'murni' pada kedua belah pihak.

·       CATATAN :

Di antara keempat macam hal diatas, yang keempat (murni pada kedua belah pihak) adalah yang terbaik, sedang yang ketiga (tidak murni pada pihak manapun) adalah yang terburuk. Yang pertama dan yang kedua (murni hanya pada satu pihak) adalah bentuk-bentuk pertengahan.


15. CARA-CARA KAMMA MEMBERIKAN HASIL, PADA SAAT-SAAT YANG BERBEDA (DHAMMASAMADANA)
  1. Suatu perbuatan yang menghasilkan penderitaan baik pada masa sekarang maupun pada masa yang akan datang.
  2. Suatu perbuatan yang menghasilkan penderitaan lebih dahulu, tetapi menghasilkan kebahagiaan dikemudian waktu.
  3. Suatu perbuatan yang memberikan kebahagiaan bathin lebih dahulu, tetapi menghasilkan penderitan kemudian waktu.
  4. Suatu perbuatan yang memberikan kebahagiaan baik dimasa sekarang maupun pada masa yang akan datang.

Ma. Mu. 12/556

·       KETERANGAN

Contoh dari empat perbuatan diatas dapat dikutip dari khotbah-khotbah sebagai berikut:

1.    Seseorang yang dipaksa untuk berbuat jahat, meskipun ia sendiri yakin akan menderita, baik sewaktu berbuat jahat maupun sewaktu ia menerima akibat perbuatan jahat itu. Ini dapat dilihat pada seorang yang secara tidak sadar berkawan dengan para penjahat, dan kemudian dipaksa ikut serta dengan mereka dalam melakukan kejahatan-kejahatan. Tidak mengikuti kehendak mereka berarti kematiannya. Suatu perbuatan yang demikian adalah perbuatan yang menghasilkan penderitaan baik sewaktu berbuat maupun di kemudian waktu.
2.    Contoh dari suatu perbuatan yang menghasilkan penderitaan lebih dahulu dan menghasilkan kebahagiaan pada masa yang akan datang dapat dilihat pada orang yang berusaha untuk berbuat baik di hadapan godaan-godaan, rintangan-rintangan atau bahaya-bahaya. Para mahasiswa mempertahankan belajar mereka, para pekerja yang bekerja dengan keras dalam cara mereka mencari nafkah secara jujur, dan juga para rohaniawan yang secara tabah menghadapi semua penderitaan, bahaya dan godaan demi tercapainya cita-cita keagamaan mereka, adalah contoh dari kategori perbuatan ini.
3.    Sebaliknya, suatu perbuatan yang menghasilkan kebahagiaan terlebih dahulu, tetapi menghasilkan penderitaan di kemudian waktu adalah perbuatan dari mereka yang senang berbuat jahat, tidak sadar akan bahaya dan penderitaan yang dikandung oleh perbuatan tersebut. Orang-orang seperti ini akan mengalami penyesalan dan penderitaan pada akhirnya.
4.    Sebaliknya, suatu perbuatan yang memberikan kebahagiaan baik sewaktu berbuat maupun di kemudian waktu adalah perbuatan dari mereka yang senang berbuat baik. Orang kaya dan pemurah hati yang senang membantu orang lain adalah termasuk dalam kategori ini. Menurut khotbah-khotbah itu, mereka berbahagia pada masa kehidupan kini dan juga akan mengalami kebahagiaan yang lebih besar di kemudian waktu.


16. KELOMPOK UMAT BUDDHIS (PARISADDO)
  1. Para rohaniawan atau para bhikkhu.
  2. Para rohaniawati atau para bhikkhuni.
  3. Para umat awam laki-laki atau para upasaka.
  4. Para umat awam perempuan atau para upasika.

An. Ca. 21/178

·       KETERANGAN

1.    Para samanera juga termasuk dalam kategori para rohaniawan atau para bhikkhu. Golongan umat Buddhis ini dibedakan dari golongan-golongan lainnya dengan peraturan kedisiplinan ke-vihara-an dan kelakuan mereka sendiri.
2.    Persaudaraan para bhikkhuni dengan peraturan ke-vihara-an seperti yang ada pada masa kehidupan Sang Buddha sekarang telah punah, karena kelangsungan-nya telah terputus selama beberapa abad setelah wafatnya Sang Buddha. Jadi dewasa ini, tidak ada para bhikkhuni dalam arti yang dikenal pada masa kehidupan Sang Buddha. Seperti halnya para bhikkhu, para bhikkhuni juga mengenakan jubah kuning dan juga mempunyai peraturan disiplin ke-vihara-an yang jauh lebih keras daripada peraturan milik para bhikkhu.
3.    Pada hakekatnya, para umat awam yaitu upasaka dan upasika, adalah mereka yang menyatakan telah menerima Tiratana (Buddha, Dhamma, dan Sangha) sebagai pelindung atau perlindungan mereka.


17. KELOMPOK ATAU GOLONGAN MASYARAKAT (PARISADDO)
  1. Para Raja
  2. Para Brahmana
  3. Para Perumah Tangga
  4. Para Petapa

An. Ca. 21/179

CATATAN :

1.    Keluarga Raja juga termasuk di dalam kelompok pertama (para raja).
2.    Para 'brahmana' menyatakan para pandita dari agama Brahmin yang bertugas mengurus segala tata cara dan upacara keagamaan serta bertugas memberikan khotbah tentang ajaran Brahminisme.
3.    Dengan 'para perumah tangga' berarti semua umat awam, baik lelaki maupun wanita.
4.    Istilah 'para petapa' disini adalah dimaksudkan untuk mengartikan para petapa secara umum (kemungkinan mereka yang tidak termasuk di dalam agama Brahmin).


18. EMPAT MACAM ATAU TINGKATAN MANUSIA
  1. Para jenius (ugghatitaññu)
  2. Para intelektual (vipacitaññu)
  3. Mereka yang dapat dilatih (neyya)
  4. Mereka yang tidak dapat dilatih (padaparama)

An. Ca. 21/183

·       KETERANGAN

1.    Para jenius menunjukkan macam manusia yang dapat memahami ajaran hanya dengan mendengarkan pokok ajaran. Jenis ini dapat dibandingkan dengan bunga teratai yang telah muncul di atas permukaan air dan pasti akan mekar pada sinar fajar hari yang pertama. Suatu contoh dapat dilihat dalam hal bhikkhu Sariputta Thera, petapa Bahiya, samanera Sankicca dan beberapa lainnya lagi yang dengan segera mencapai penerangan sempurna sewaktu mendengarkan syair-syair yang pertama.
2.    Manusia jenis kedua dengan tingkat kebijaksanaan yang lebih rendah adalah disebut para intelektual, yang memerlukan keterangan dan uraian lebih jauh sebelum mereka dapat mencapai Penerangan Sempurna. Contoh dari jenis ini adalah lima orang petapa dan rombongan seribu petapa penyembah api yang dipimpin oleh Uruvela Kasapa. Mereka dapat dibandingkan dengan bunga-bunga teratai yang masih berada di bawah permukaan air, sedang menunggu untuk muncul di atas permukaan air pada hari berikutnya.
3.    Mereka yang dapat dilatih menunjukkan mayoritas manusia biasa (yang tidak begitu bodoh tetapi juga tidak begitu bijaksana). Orang-orang ini memerlukan instruksi-instruksi dan uraian-uraian serta suatu jangka waktu latihan dan praktek sebelum mereka dapat mengharapkan suatu kemajuan atau perkembangan yang nyata. Mereka dapat dibandingkan dengan bunga teratai yang masih berada agak jauh di bawah permukaan air. Mereka memerlukan suatu jangka waktu lebih lama untuk pertumbuhan dan kemunculan mereka di atas permukaan air.
4.    Mereka yang tidak dapat dilatih atau tidak ada harapan adalah mereka yang tidak mungkin mengerti atau maju dalam masa kehidupan ini. Mereka dapat mendengarkan ajaran-ajaran atau mencoba untuk mempraktekkan sesuai dengan perintah-perintah, tetapi karena keterbelakangan atau kebutaan bathin mereka, tidak ada hasilnya yang dapat diharapkan. Mereka adalah seperti bunga teratai yang diharuskan untuk dimakan habis oleh binatang air, tidak mempunyai harapan untuk tumbuh di atas permukaan air.


19. CARA-CARA PRAKTEK (PATIPADA)
  1. Praktek yang sukar dengan kemajuan yang lambat.
  2. Praktek yang sukar dengan kemajuan yang cepat.
  3. Praktek yang ringan dengan kemajuan yang lambat.
  4. Praktek yang ringan dengan kemajuan yang cepat.

An. Ca. 21/ 200

·       KETERANGAN

1.    Kemajuan atau penerangan yang dicapai dengan susah payah dan memakan waktu yang lama adalah cara praktek dari kategori pertama (praktek yang sukar dengan kemajuan yang lambat). Sebuah contoh dari hal ini dapat dilihat dalam halnya bhikkhu Cakkhupala, yang harus mengalami banyak sekali penderitaan dan kesulitan dengan sumpahnya untuk tidak berbaring tiga bulan selama musim hujan. Akhirnya ia kehilangan indria penglihatannya sebelum mencapai Penerangan Sempurna. Berhasilnya pun ternyata lebih belakangan daripada teman-temannya. Ini dalam bahasa Pali disebut: dukkhapatipada dandhabhiñña.
2.    Kelompok kedua menunjukkan, misalnya pada para bhikkhu yang sakit keras dan yang menderita kesakitan luar biasa serta siksaan karena penyakit mereka. Tetapi mereka berusaha memusatkan perhatian mereka pada perasaan sakit itu sendiri, dengan menjadikannya sebagai obyek meditasi sampai mereka mencapai Penerangan Sempurna melalui cara ini disebut Jivitasamasisi, dan walaupun disertai dengan kesukaran yang serupa seperti kelompok pertama, bentuk praktek ini memberikan suatu kemajuan yang lebih cepat daripada yang pertama. Ini dalam bahasa Pali disebut; dukkhapatipada khippabhiñña.
3.    Akan tetapi, terdapat mereka yang tidak harus mengalami banyak kesukaran dan penderitaan dalam praktek mereka. Mereka dapat mencoba suatu metode untuk beberapa waktu, kemudian berhenti dan mencoba cara lain dan yang lain lagi. Sudah tentu, metode praktek ini memakan waktu percobaan dan kesalahan yang lama sebelum mereka dapat menemukan suatu metode yang sesuai dengan watak dan kemampuan mereka masing-masing. Ini adalah suatu metode praktek yang ringan dengan kemajuan yang lambat, dalam bahasa Pali disebut: sukhapatipada dandhabhiñña.
4.    Contoh dari kategori keempat adalah bhikkhu Bahiya Thera (praktek yang ringan dengan kemajuan yang cepat). Pada akhir dari suatu ajaran yang singkat, ia dengan segera mencapai Penerangan Sempurna di tempat itu juga, pencapaian macam ini adalah demikian mudah dan cepat, yang dalam bahasa Pali disebut; Sukhapatipada khippabhiñña.

·       CATATAN :

Untuk kategori yang pertama dan kedua, mereka adalah suatu jalan yang berduri, sedangkan kategori yang ketiga dan yang keempat dapat dibandingkan dengan sebuah jalan yang licin.


20. KELANCARAN ATAU KEPANDAIAN (PATISAMBHIDA)
  1. Kelancaran dalam memberikan keterangan atau kepandaian mengetahui akibat-akibat (atthapatisambhida).
  2. Kelancaran dalam meringkaskan atau kepandaian mengetahui sebab-sebab (dhammapatisambhida).
  3. Kelancaran dalam menggunakan kata-kata atau bahasa (niruttipatisambhida)
  4. Kelancaran dalam cara-cara pengetrapan atau penyesuaian (patibhanapatisambhida).

Khu. P. 31/175; An. Pa. 22/135

·       KETERANGAN

Ada dua pengertian untuk macam yang pertama: kelancaran dalam memberikan suatu keterangan yang jelas mengenai ajaran yang diringkaskan dan kemampuan untuk menilai atau mempertimbangkan akibat-akibat dengan cara pandangan terang ke dalam kejadian-kejadian yang akan datang. Bhikkhu Kaccayana adalah salah satu di antara para siswa Sang Buddha yang dipuji untuk kelancaran ini.

Macam yang kedua juga mengandung dua arti: kemampuan meringkaskan keterangan-keterangan yang terlalu panjang dan luas untuk memudahkannya mengingat dan menunjukkannya dengan cepat, yang merupakan kebalikan dari yang pertama, dan juga kemampuan untuk meneliti kembali akibat-akibat pada sebab-sebab mereka dengan cara Pandangan Terang mengenai kejadian-kejadian yang telah lampau.

Yang ketiga adalah pengetahuan berkhotbah dengan mempergunakan kata-kata atau bahasa yang bijaksana dan tepat untuk membuat ajaran itu dapat dimengerti dan menarik lingkungan pendengar yang luas.

Yang keempat adalah memiliki kebijaksanaan dan akal, kemampuan untuk menyesuaikan atau mengetrapkan suatu praktek tertentu pada orang tertentu dalam suatu kesempatan tertentu. Ini juga menunjukkan kemampuan untuk menguasai kejadian yang tidak disangka atau situasi yang tidak diharapkan.


21. ALAM-ALAM KEHIDUPAN (BHUMI)
  1. Alam-alam ke-indria-an (kamavacarabhumi).
  2. Alam-alam berbentuk (rupavacarabhumi).
  3. Alam-alam tidak berbentuk (arupavacarabhumi).
  4. Alam-alam diatas keduniawian (lokuttarabhumi).

Khu. P. 31/122

·       KETERANGAN

Alam-alam kehidupan di sini menyatakan tingkatan atau tahapan dari perkembangan bathin.

1.    Yang dimaksud dengan 'alam-alam keindria-an' adalah alam dari makhluk-makhluk yang pikirannya masih dikuasai oleh keinginan akan kesenangan-kesenangan indria. Bathin manusia biasa dan enam alam ke-dewa-an (lihat Kelompok Enam, No. 6) adalah termasuk dalam tingkat perkembangan ini.
2.    Tingkat perkembangan selanjutnya adalah alam pikiran mereka yang telah mencapai meditasi 'bentuk' (meditasi yang berdasarkan pada perenungan terhadap suatu obyek materi). Dari tingkat ini seterusnya, pikiran dapat mengatasi keinginan untuk kesenangan kesenangan indria dan sebaliknya terserap dalam kegiuran dan kebahagiaan yang timbul dari meditasi.
3.    Selanjutnya pikiran dari para Yogi yang telah memasuki meditasi 'tanpa, bentuk' (meditasi yang berdasarkan pada perenungan terhadap obyek tidak bermateri).
4.    Tingkat tertinggi di antara semuanya ini adalah pikiran-pikiran dan mereka yang telah menyadari 'keadaan di atas keduniawiaan'. Bathin yang demikian tidak dapat mengalami kemunduran apapun juga dan dimiliki oleh para siswa mulia atau mahluk-mahluk ariya (lihat No. 22 berikut ini).


22. SANG JALAN (MAGGA)
  1. Sang Jalan dari pemasuk arus (sotapattimagga)
  2. Sang Jalan dari seorang yang kembali sekali (sakadagamimagga)
  3. Sang Jalan dari seorang yang tidak kembali lagi (anagamimagga)
  4. Sang Jalan dari seorang yang telah mencapai Penerangan Sempurna (arahatamagga)

Vis. Ñana. Ta. 319

·       KETERANGAN

Apa yang dimaksud dengan 'Sang Jalan' di sini adalah Pandangan Terang yang karenanya sejumlah rintangan-rintangan bathin (lihat Kelompok Sepuluh) dihancurkan dengan seketika dan untuk selamanya.

Sang Jalan pertama (sotapattimagga) adalah Pandangan Terang dengan mana tiga yang pertama dari sepuluh rintangan bathin dihancurkan. Sejak itu dan seterusnya, sang siswa telah memasuki arus kebahagiaan diatas keduniawiaan, tidak mungkin mengalami kemunduran dari pencapaiannya, mengarah ke nibbana dan pasti akan mencapai Penerangan Sempurna paling lama tujuh kelahiran lagi.

Sang Jalan kedua (sakadagamimagga) adalah Pandangan Terang dengan mana, seperti jalan yang pertama, tiga yang pertama dari sepuluh rintangan bathin dihancurkan, tetapi tidak seperti yang pertama, tujuh sisanya telah dikurangi dalam suatu tingkat yang lebih besar. Dengan Pandangan Terang ini sang siswa dianggap lebih tinggi dari pemasuk arus, tetapi tidak begitu jelas, seberapa jauh ia lebih maju. Kita hanya tahu bahwa ia pasti akan dilahirkan sekali lagi sebagai manusia dan mencapai Penerangan Sempurna di alam manusia ini.

Sang Jalan ketiga (anagamimagga) adalah Pandangan Terang dengan lima yang pertama dari sepuluh rintangan bathin dihancurkan dan hanya lima rintangan lagi yang masih tersisa.

Sang Jalan keempat (arahattamagga) adalah Pandangan Terang dengan sepuluh rintangan bathin dihancurkan semuanya. Ini disebut Penerangan Sempurna terakhir yang menjadikan kehidupannya sekarang ini sebagai kehidupan yang terakhir.


23. SANG HASIL (PHALA)
  1. Sang Hasil dari Pemasuk Arus (sotapattiphala).
  2. Sang Hasil dari seorang yang kembali sekali lagi (sakadagamiphala)
  3. Sang Hasil dari seorang yang tidak kembali lagi (anagamiphala)
  4. Sang Hasil dari seorang yang telah mencapai Penerangan Sempurna (arahattaphala)

Di. Pati. 11/240

·       KETERANGAN

Saat pikiran yang secara berturut-turut menyusul Sang Jalan (dalam arti yang dimaksudkan dalam No. 22 akibat langsung dari Sang Jalan disebut Sang Hasil. Itu juga terdiri atas empat macam yang berhubungan dengan Sang Jalan.

Hubungan antara Sang Jalan dan Sang Hasil dapat dilihat dalam persamaan-persamaan mengenai penyakit atau para perampok. Dalam hal yang pertama, rintangan-rintangan bathin adalah seperti penyakit, Sang Jalan adalah seperti kesembuhan abadi dari penyakit-penyakit itu melalui proses-proses pengobatan, dan Sang Hasil adalah seperti kesehatan dan kebahagiaan yang diakibatkan oleh kesembuhan itu. Dalam contoh yang terakhir, rintangan-rintangan bathin adalah seperti para perampok, Sang Jalan adalah seperti penghancur mutlak dari para perampok dan Sang Hasil adalah seperti keadaan normal dan damai yang diakibatkan dari hancurnya para perampok itu.

·       CATATAN :

Dari hal ini harus dimengerti bahwa Sang Jalan (Pandangan Terang dengan bermacam-macam tingkat kehalusan) terjadi hanya dalam satu saat pikiran. Setelah itu Sang Hasil berlangsung. Ini agak menyerupai, dengan arti yang dinyatakan oleh kata kerja 'mengenakan' dan 'memakai'; yang pertama -seperti Sang Jalan- berakhir hanya dalam satu saat, sedangkan yang kedua -seperti Sang Hasil- berakhir selamanya setelah sepotong kain itu dikenakan.

24. MACAM-MACAM KELAHIRAN (YONI)
  1. Kelahiran melalui suatu kandungan (jalabuja)
  2. Kelahiran melalui sebuah telur (andaja)
  3. Mahluk-makhluk yang lahir melalui materi kotor atau busuk (samsedaja)
  4. Mahluk-makhluk yang lahir secara spontan (opapatika)

Ma. Mu. 12/147

·       KETERANGAN

Dalam pengertian lain, yang disebutkan di atas itu adalah cara-cara terjadinya kelahiran makhluk hidup.

Yang pertama menyatakan kelahiran binatang-binatang menyusui yang meliputi manusia dan beberapa binatang lain yang lahir dari kandungan ibu, seperti: kucing, anjing, kuda, dan sebagainya.

Yang kedua adalah kelahiran dari telur yang harus ditetaskan diluar tubuh ibu, seperti kelahiran ayam, itik, burung, dan sebagainya.

Yang ketiga menyatakan kelahiran dari binatang-binatang rendah atau kuman-kuman yang terjadi dalam materi kotor (walaupun beberapa di antaranya mungkin dihasilkan dari telur). Kelahiran dengan pembagian sel-sel juga termasuk dalam kelompok ini.

Dari sudut pandangan lain bahwa (di antara mereka yang ditetaskan dari telur) mereka yang berdarah merah seharusnya digolongkan dalam kelahiran melalui telur, sedangkan yang berdarah putih digolongkan dalam kelahiran melalui kotoran.

Cara kelahiran yang keempat adalah kelahiran dari makhluk-makhluk yang tidak terlihat seperti: hantu, setan, dan makhluk-makhluk ke-dewaan lainnya, semuanya ini lahir tanpa orang tua (tetapi semata-mata dengan kekuatan timbunan kamma). Pada saat kelahiran, mereka memiliki tubuh yang telah dewasa, lengkap dengan anggota badan, organ indria, serta kemampuan-kemampuan mereka (penglihatan, pendengaran, dan sebagainya; ahindriyo). Jadi tidak usah mengalami masa kanak-kanak terlebih dahulu. Pada saat kematian mereka hilang dengan segera, tidak meninggalkan mayat atau sisa-sisa yang dapat dilihat.

·       CATATAN :

1.   Menurut khotbah yang disebut potthapada, Sang Buddha menerangkan pada seorang petapa bernama Potthapada, bahwa tubuh dari makhluk-makhluk yang dilahirkan secara spontan ini terbuat dari unsur-unsur pikiran (manomaya) lengkap dengan organ dan anggota badan (sabbangappaccangi) dan dikaruniai dengan kemampuan-kemampuan yang baik (pengelihatan, pendengaran, dan sebagainya; ahindriyo). Ini dapat dipersamakan dengan apa yang disebut tubuh astral oleh aliran kebathinan pada umumnya. Sedangkan alam kehidupan dari makhluk-makhluk dengan macam kelahiran yang keempat atau opapatika, dapat dipersamakan dengan alam-alam astral.
2. Berapa banyak alam opapatika: Dalam suatu cara alam-alam tidak terlihat ini dapat digolongkan sebagai berikut:
  1. Empat alam, kehidupan sengsara (lihat No. 1 dari bab ini).
  2. Enam alam dewa ke-indria-an (Kelompok Enam, No. 6).
  3. Enam belas alam bentuk (Kelompok Tiga, No. 26)
  4. Empat alam, tidak berbentuk (No. 21 dari bab ini)

Terdapat juga alam-alam bagian yang lebih kecil dari hampir semua alam-alam yang telah disebutkan diatas. Ada juga dua pokok lainnya yang berhubungan dengan makhluk-makhluk kelahiran opapatika:

  1. Tujuh alam, kesadaran atau viññanaphiti (Kelompok Tujuh, No. 3)
  2. Sembilan alam makhluk hidup (sattavasa; Kelompok Sembilan, No. 7)
3.   Mengenai bukti kenyataan tentang makhluk-makhluk dan alam opapatika, dapat dilihat dalam Navakanipata, dari Anguttara Nikaya, Sang Buddha menceritakan pengalaman meditasinya secara jelas kepada para bhikkhu, yang menyatakan bahwa dengan sinar yang dipancarkan dari meditasi, Beliau dapat melihat, bercakap-cakap dan mengetahui tentang usia, kamma dan sebagainya dari semua makhluk-makhluk ke-dewa-an di semua alam ke-dewa-an.



25. KASTA-KASTA (VANNA)

  1. Para Raja atau para Kesatria (khattiya)
  2. Para Brahmana (Brahmana)
  3. Para Pedagang (vesaya)
  4. Para Pekerja (sudda)

Ma. Ma. 13/520

·       CATATAN :

Empat kasta-kasta di atas menggambarkan metode penggolongan masyarakat di India:

·         Para Raja adalah para kesatria atau golongan yang berkuasa.
·     Para Brahmin adalah para pandita dari Brahminisme dan Hinduisme atau golongan pengajar.
·         Para pedagang termasuk juga para pekerja yang memiliki keahlian.
·         Para pekerja adalah pekerja-pekerja yang tidak memiliki keahlian.


26. KEGAGALAN ATAU CACAT (VIPATTI)
  1. Cacat kemoralan (silavipatti)
  2. Cacat sopan santun (acaravipatti)
  3. Cacat pandangan-pandangan (dibbhivipatti)
  4. Cacat penghidupan (ajivavipatti)

Cul. Pa. 336

·       KETERANGAN

     Pelanggaran kemoralan yang diakibatkan perbuatan-perbuatan salah adalah cacat kemoralan.

    Kegagalan untuk menjalankan cara-cara dan kelakuan dari orang-orang berkebudayaan yang berakibatkan dengan perbuatan-perbuatan tidak sopan dan tidak pantas adalah disebut cacat sopan santun atau etiket.

   Memiliki pandangan-pandangan salah yang membawa pada perbuatan tidak bermoral dan kemerosotan bathin adalah apa yang dimaksudkan dengan cacat pandangan.

   Dengan 'cacat penghidupan' berarti cara-cara mencari nafkah yang tidak halal dan salah, seperti melakukan suatu kejahatan, yang menggunakan ilmu hitam atau hal-hal yang gaib, dengan akibat-akibat yang menimbulkan keragu-raguan.


27. PENGETAHUAN YANG MEYAKINKAN SANG BUDDHA (VESARAJJAÑANA)
Ada empat fakta dengan pengelihatan Sang Buddha yang tiada seorangpun sanggup membantah mengenai dirinya. Empat ini adalah:

  1. Engkau telah menyatakan dirimu sebagai seorang Buddha, sekalipun demikian masih ada sesuatu yang belum engkau ketahui.
  2. Engkau telah menyatakan dirimu bebas dari nafsu-nafsu secara mutlak. Sekalipun demikian, masih ada beberapa nafsu yang belum engkau tinggalkan.
  3. Praktek-praktek apapun yang engkau nyatakan merugikan, mereka telah membuktikan tidak demikian pada mereka yang mengikutinya.
  4. Demi faedah apapun engkau telah mengajar, faedah itu, yaitu padamnya penderitaan, tidak dapat timbul pada mereka yang mengikuti ajaran-ajaranmu.

Dengan melihat tak ada seorangpun yang dapat menyangkal pernyataan-pernyataan-Nya, Beliau tidak pernah mempunyai suatu ketakutan atau kecemasan, tetapi selalu yakin dihadapan semua orang. Beliau membuat 'raungan singa' dan memproklamirkan Roda Dhamma di dalam kemampuannya sebagai yang Pertama dan paling tinggi di seluruh dunia.

An. Ca. 21/10; Ma. Mu. 12/144



Bersambung ke > Dhamma Vibagha II (Penggolongan Dhamma) Kelompok L...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar