Senin, September 26, 2011

Moha (Kegelapan Batin) [1]


1. MOHA

(Kegelapan batin)

Dua Jenis Moha

Tidak mengetahui (kegelapan batin) adalah Moha. Ada dua jenis Moha, yaitu :
-       Anusaya-moha dan
-       Pariyutthana-moha

Istilah anusaya berarti kecenderungan bawaan atau terbaring laten.
Istilah pariyutthana-moha berarti bangkit.

·         Kegelapan batin yang terbaring laten di dalam mental disebut anusaya-moha, kegelapan laten. 

·         Kegelapan batin yang timbul pada saat-saat tertentu bersama dengan kesadaran disebut pariyutthana-moha, kegelapan yang muncul.

Anusaya-moha
Seperti sebatang pohon beracun menghasilkan buah beracun pula, seperti itulah rentetan mental makhluk, ada suatu unsur (dhatu), yang terus menutupi Dhamma yang harus diketahui. Unsur tersebut adalah anusaya-moha, kegelapan laten. Karena anusaya-moha menutupi kebenaran Dhamma, makhluk-makhluk duniawi (puthujjana) tidak mampu menyadari secara mendalam tiga corak umum, yaitu : anicca (kefanaan), dukkha (tidak memuaskan, penderitaan), dan anatta (tiada inti diri), maupun Empat Kebenaran Ariya, serta Paticcasamuppada, Hukum Sebab-Musabab yang Saling Bergantungan.

Makhluk-makhluk keduniawian tidak mampu mengidentifikasikan kegelapan batin yang mengendap dengan pengetahuan mereka yang terbatas. Dewasa ini, meskipun orang menyatakan dirinya mengetahui apa yang dimaksud dengan anicca, dukkha, anatta, dan sebagainya, mereka cuma mengetahui melalui buku, pengetahuan mereka sebatas permukaan saja, bukan merupakan hasil penembusan atau realisasi yang jernih. Sekalipun seseorang menjadi Pemenang Arus (Sotapanna), Yang Sekali Kembali (Sakadagami), atau Yang Tak Kembali (Anagami), anusaya-moha hanya terkikis sedikit demi sedikit. Hanya ketika seseorang mencapai tataran Arahat, anusaya-moha-dhatu, unsur kegelapan batin laten, terhapus sepenuhnya. Olehkarena itu, bahkan pada saat kita melakukan perbuatan baik atau bermanfaat sebelum menjadi Arahat, anusaya-moha masih tetap ada, hanya diam terpendam.

Pariyutthana-moha
Ketika moha muncul bersama pikiran, dikatakan bahwa pikiran buruk, yang negatif, telah timbul. Karena sifat pariyutthana-moha yang menyelubungi inilah, akibat-akibat  buruk yang membuat seseorang menderita pada kehidupan mendatang tidak dipahami sepenuhnya. Keburukan perbuatan negatif pada kehidupan sekarang juga tidak dipahami. Oleh karena itu, bahkan seorang yang terpelajar atau orang baik pun tidak mampu melihat keburukan moha dan akan melakukan perbuatan salah ketika moha muncul. Moha inilah, dalam ladang kejahatan, adalah yang paling jahat. Di dunia ini semua kejahatan dan kebodohan bersumber dari moha; moha adalah akar dari segala kejahatan.

(Sebuah kisah)
Orang Bijak yang dikuasai Kebodohan

Seorang Bodhisatta yang bernama Haritaca, meninggalkan keduniawian, meninggalkan kekayaannya yang sangat besar, menjadi seorang petapa dan mencapai kekuatan adialami yang luar biasa, jhana dan abhinna. Pada suatu saat, ketika hujan turun dengan lebatnya di Himalaya, petapa itu datang ke Baranasi dan tinggal di sebuah taman milik Raja Baranasi. Pada kehidupan lampau, Raja Baranasi adalah teman lamanya yang dalam penyempurnaan kesempurnaan (Parami) kelak terlahir kembali menjadi Bhikkhu Ananda. Oleh karena itu, ketika Raja melihat petapa tersebut, Ia langsung memberikan hormat dan meminta sang petapa untuk tinggal di taman kerajaan; raja juga menyediakan empat kebutuhan pokok; dia sendiri mempersembahkan makanan pagi untuk petapa itu di istananya.

Suatu ketika, sebuah pemberontakan terjadi, raja harus turun tangan untuk memadamkan pemberontakan tersebut. Sebelum raja pergi dengan tentaranya, dia berpesan kepada ratu untuk tidak lalai melayani kebutuhan petapa tersebut. Ratu mematuhi pesan sang raja. Pada suatu pagi, sehabis mandi air wangi, ratu memakai pakaian yang indah dan berbaring di ranjang sembari menanti kedatangan sang petapa.

Bodhisatta tiba melalui udara dengan kekuatan adialaminya (abhinna) di depan jendela istana. Mendengar kelibatan jubah petapa, ratu bergegas bangun dari ranjangnya dan pakaiannya terjatuh di lantai. Melihat pakaian ratu terlepas dari tubuhnya, anusaya-moha yang terpendam dalam pikiran sang petapa muncul menjadi pariyutthana-moha. Terkuasai oleh  hawa nafsu, petapa memegang tangan ratu dan melakukan hubungan amoral.

Catatan : Kita harus secara serius menanggapi kebodohan yang muncul melalui moha dalam cerita tersebut. Jika moha yang sedemikian itu tidak muncul pada dirinya, ia tidak akan melakukan perbuatan hina tersebut, meskipun raja menyetujuinya. Namun pada saat itu, karena dikuasai oleh gelapnya ketidaktahuan, ia tidak melihat akibat buruk dari perbuatannya pada kehidupan sekarang dan mendatang di dalam samsara, akibatnya, ia melakukan pelanggaran moral yang tidak semestinya. Jhana dan abhinna yang telah dia peroleh melalui latihan keras selama hidupnya juga tidak mampu mengenyahkan kegelapan moha; malahan, karena terkuasai oleh moha, jhana dan abhinna yang dimiliki lenyap dengan sendirinya.

Namun demikian, petapa yang telah cukup matang dalam parami itu belajar dari pengalaman pahit dan menyesali perbuatannya kepada raja, sekembalinya raja ke istana. Dia berjuang kembali untuk mendapatkan jhana dan abhinna, dan merenungkan, “ Saya telah melakukan perbuatan keliru karena tinggal berdekatan dengan umat awam.” Petapa Haritaca kembali ke Himalaya.

Ketidaktahuan tidak selalu berarti Moha
Karena moha dijelaskan sebagai ketidaktahuan, beberapa orang berpikir bahwa tidak mengetahui hal yang belum dipelajari, tidak mengetahui nama seseorang yang belum pernah dikenal, juga merupakan moha. Ketidaktahuan seperti contoh tersebut semata-mata karena kurangnya pengetahuan; itu samasekali bukan moha yang sebenarnya; jadi itu bukan suatu faktor mental yang buruk, hanya absennya pengenalan atau persepsi (sanna) yang belum pernah di cerap sebelumnya. Bahkan para Arahat juga memiliki ketidaktahuan yang sedemikian itu, tidak cuma manusia pada umumnya.

Bahkan Bhikkhu Sariputta, yang memiliki kebijaksanaan tertinggi setelah Buddha, mengajarkan praktik meditasi yang kurang sesuai kepada seorang bhikkhu muda. Berpikir bahwa bhikkhu muda itu sedang dalam usia yang penuh nafsu, ia meresepkan asubha kammatthana, yaitu meditasi dengan obyek menjijikkan (seperti mayat yang membusuk), yang mana obyek ini tidak sesuai dengan sifat muridnya. Meskipun sang murid telah bermeditasi selama empat bulan, ia tak kunjung mendapatkan pertanda konsentrasi (nimitta).

Kemudian bhikkhu muda itu dibawa ke hadapan Buddha. Buddha menciptakan bunga teratai mekar dan memberikannya kepada sang bhikkhu muda, yang dengan senang hati menerimanya. Ketika Buddha menunjukkan hancurnya bunga tersebut, bhikkhu muda itu merasakan samvega, suatu perasaan desakan spiritual. Kemudian Buddha membabarkan ceramah yang dirancang-Nya untuk menyadarkan bhikkhu muda itu akan corak anicca, dukkha dan anatta, akhirnya ia mencapai tingkat arahat. Yang perlu dicatatan disini adalah pengetahuan Buddha yang luar biasa; dan ada hal-hal yang tidak diketahui bahkan oleh Bhikkhu Sariputta yang telah terbebas dari moha.

Demikianlah, bahkan Bhikkhu Sariputta tidak mengetahui sesuatu yang di luar wawasannya. Jadi, tidak mengetahui sesuatu yang belum pernah diajarkan dan yang hanya ada dalam lingkup Buddha, bukanlah Moha. Ini semata-mata hanya kurangnya pengetahuan atau pembelajaran. Sebagai contoh, kasus seseorang yang tidak dapat melihat obyek jarak jauh pada siang bolong. Dia tidak bisa melihat bukan karena ada rintangan yang menutupi obyek dari pandangannya, tetapi hanya karena kelemahan matanya.

Moha Kasar dan Halus
Moha yang mana tidak dapat membedakan apa yang buruk atau tidak bermanfaat dan apa yang baik atau bermanfaat adalah moha kasar. Moha yang menghalangi realisasi sifat anicca, dukkha , dan anatta dari nama dan rupa, Empat Kebenaran Ariya, dan Hukum Sebab Musabab Yang saling Bergantungan, adalah moha yang halus. Pikiran yang disertai oleh moha disebut dengan “pikiran khayal, pikiran tolol” dan seseorang yang dikuasai oleh moha disebut “tolol, dungu, bebal, tumpul, liar, bodoh, tidak bermanfaat”

“Dunia ini ada dalam kegelapan pekat.
Hanya segelintir orang di dunia ini yang dapat mencerap dengan luar biasa.
Seperti halnya sedikit burung yang bisa lolos dari jaring,
sangat sedikitlah orang yang dapat terlahir kembali di alam para deva setelah kematian.” (Dhammapada, 174)


Sumber  bacaan : Abhidhamma sehari-hari Bab II – Oleh : Ashin Janakabhivamsa.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar