Selasa, September 13, 2011

Kejujuran dan Kebohongan

KEJUJURAN DAN KEBOHONGAN


Salah satu poin penting untuk mencapai kedamaian sejati[1] adalah melatih diri dalam ucapan yang sesuai dengan samma-vacca (Pali) atau samyak-vaca (Sansekerta) dalam Jalan-Mulia-Berunsur-Delapan[2]. Di dalam Aturan-Moralitas Buddhis (Pancasila Buddhis) sendiri terdapat aturan bagi umat biasa, yakni aturan ke-4 yang berbunyi “Menahan diri dari berbicara yang tidak benar.”

Dalam tulisan ini, penulis akan meninjau tentang ‘kejujuran-kebohongan’ dari dua perspektif. Perspektif pertama dilihat dari kesesuaiannya dengan Aturan-Moralitas Buddhis. Menurut aturan ke-4 pada Aturan-Moralitas Buddhis kebohongan terbagi menjadi tiga tingkat[3]:


1. Kebohongan Langsung
Syarat terjadinya adalah : Pernyataan yang salah dan suatu usaha dengan sadar dilakukan untuk membuat kesalahan. Kebohongan dapat dilakukan secara fisik atau ucapan—gerakan isyarat/sikap dan termasuk tulisan.
Wujudnya antara lain : Berbohong terang-terangan (menghasut, menipu, menjilat, pengingkaran pernyataan sendiri), pelanggaran sumpah, tipu-muslihat, munafik, permainan kata-kata[4], melebih-lebihkan atau omong besar, menyembunyikan[5]).

2. Kebohongan tidak Langsung
Kebohongan ini biasanya tidak direncanakan dan terbagi menjadi :
·         Kata-kata melukai (termasuk melebih-lebihkan dalam memuji, menghina);
·         Kebohongan yang tidak terpikir (tidak sengaja dilakukan dan sudah terlanjur diucapkan);
·         Sindiran dengan tujuan menghasut, menimbulkan perselisihan dan memang berdasarkan kenbenaran namun tetap salah karena didorong niat buruk.

3. Pelanggaran Janji
Melanggar janji juga dikategorikan berbohong baik itu perjanjian dua pihak, satu pihak, maupun pembatalan kata-kata (berjanji memberikan sesuatu kepada orang lain kemudian kata-kata itu diingkarnya)

Hal-hal berikut yang kelihatannya seperti berbohong namun sebenarnya tidak dapat dianggap sebagai kebohongan karena tidak adanya niat untuk menipu, antara lain :
·         Euphemisme[6], cerita kiasan (fabel),
·         Salah pengertian (terkadang salah jawab terhadap suatu pertanyaan—bukan ada niat).

Perspektif yang ke dua akan ditinjau dari salah satu unsur dalam Jalan-Mulia-Berunsur-Delapan, yakni Perkataan-Sempurna[7].

Sang Buddha membagi Perkataan-Sempurna menjadi empat bagian[8]:
1. Menjauhkan diri dari perkataan bohong.
Pernyataan Sang Buddha dalam Anguttara Nikaya 10:176, menunjukkan dua sisi dari perkataan sempurna, yaitu dari sisi negatif berarti menjauhkan diri dari berbohong dan sisi positifnya adalah mengatakan kebenaran. Faktor yang menentukan dari suatu perkataan dapat dianggap bohong adalah kehendak untuk berbohong.

2. Menghindari diri dari fitnah.
Fitnah ditujukan untuk menciptakan permusuhan dan perpecahan. Biasanya didasari kebencian, iri hati atau sakit hati. Fitnah adalah salah satu pelanggaran moral yang berat karena dilandasi kebencian dan biasanya ketika melaksanakannya akan melakukan kebohongan sehingga karma/kamma negatifnya akan berlipat ganda.

3. Menghindari diri dari kata-kata kasar.
Kata-kata kasar biasanya dilontarkan seseorang dalam keadaan marah atau emosi. Akar utamanya adalah kebencian yang diwujudkan dengan kemarahan. Jika dibandingkan dengan fitnah, akibat karma/kamma dari kata-kata kasar pada umumnya lebih ringan karena tanpa direncanakan. Cara mengatasinya adalah dengan melatih kesabaran.

4. Menghindari diri dari obrolan kosong
Obrolan kosong yang dimaksud adalah pembicaraan yang tidak bermakna. Buddha sendiri mengajarkan untuk menghindari hal tersebut karena bisa saja efek selanjutnya akan menjadi suatu hal yang negatif. Iklan-iklan di media massa atau informasi-informasi/gosip di televisi akan membuat pikiran menjadi tumpul dalam spiritual dan ketika rantai informasi atau gosip itu semakin beredar, biasanya akan mengalami pengurangan atau penambahan sehingga akan menjadi suatu fitnah.


Kejujuran sangat penting dalam proses melatih diri menjadi seorang Buddha. Dikatakan bahwa sebelum terlahir terakhir kalinya sebagai pangeran Sidhartha/Siddhattha, bodhisatta[9] bisa melanggar semua sila moral, kecuali ikrar untuk mengatakan kebenaran!


Untuk melaksanakan perkataan sempurna ada 4 hal yang perlu diperhatikan[10], yaitu:

1. Tingkat Ketulusan.
Yang dimaksud tingkat ketulusan adalah sejauh mana perkataan seseorang sesuai dengan kebenaran. Jangan pernah melebih-lebihkan atau mengurangi kebenaran yang akan diucapkan. Biasanya kita akan sedikit atau bahkan banyak dalam membengkokkan fakta ke arah yang kita inginkan. Kita harus sadar dengan apa yang kita ucapkan.

2. Tingkat Penghargaan.
Perkataan yang ideal tidak hanya tulus namun juga harus menghargai dan mencintai. Dengan mengetahui kebenaran (fakta) dan mengatakannya kepada orang lain, jangan pernah dengan pikiran yang hanya menguntungkan diri sendiri.

3. Tingkat Pertolongan.
Selanjutnya perkataan yang sempurna juga tidak melupakan manfaatnya terhadap orang lain. Dimulai dari diri sendiri yang berpikir positif terhadap diri kemudian terhadap orang lain, sehingga perwujudannya dalam perkataan akan menjadi positif pula. Tingkat ini lebih melihat ke luar (lingkungan) setelah sebelumnya secara tulus dan cinta kasih dalam suatu komunikasi. Bahkan ketika sampai pada tingkat ini komunikasi kita akan semakin dalam terhadap orang lain dan kita akan ‘melupakan diri kita sendiri’.

4. Tingkat Harmoni dan Kesatuan.
Tingkatan yang paling tinggi ini akan membawa kita pada perkataan yang harmoni, seimbang, selaras, dan utuh. Komunikasi ini lebih abstrak dan tidak hanya sekedar komunikasi verbal. Ketika memahami tingkatan ini ucapan langsung akan menjadi kurang berarti karena keagungan bukan diwujudkan dengan ucapan.

Sang Buddha bersabda:

“Kata-kata yang mempunyai empat nilai adalah yang diucapkan baik,
bukan pembicaraan jahat, tidak salah, dan tidak dicela para bijaksana.

Apakah empat itu? Mengenai ini,
seseorang berbicara dengan kata-kata yang indah, bukannya buruk;
seseorang berbicara dengan kata-kata yang benar, bukannya salah;
seseorang berbicara dengan kata-kata yang halus, bukannya kasar;
seseorang yang berbicara dengan kata-kata penuh kebenaran, bukan kepalsuan.”[11]



Catatan :

[1] Kedamaian sejati yang dimaksud di sini mengacu pada nibbana (Pali) atau nirwana (Sansekerta)
[2] Arya astangika-marga (Sansekerta) atau Ariya Atthangika-magga (Pali)
[3] Lihat Vajirananavarorasa, hal. 21
[4] Permainan kata-kata: berbohong dengan mempermainkan kata-kata yang diucapkan.
[5] Mengurangi keadaan sebenarnya, kebalikan dari omong besar.
[6] Euphemisme yaitu suatu cara dalam pembicaraan atau tulisan yang tidak langsung menurut kebiasaan dan kadang-kadang hanya demi kesopanan. Seperti salam “terima kasih”, atau dalam surat “hormat saya” (lihat Vajirananavarorasa, hal. 26)
[7] Penulis menggunakan terjemahan dari Ven. Sangharakshita. Ada yang menerjemahkannya menjadi Pembicaraan Sejati (lihat Dhammika, hal. 92), Perkataan Benar (lihat Bodhi, hal.63)
[8] Lihat Bodhi, hal. 67-77
[9] Pengertian bodhisatta di sini secara tradisi Theravada, yaitu kehidupan lampau sang Buddha sebelum terlahir terakhir kalinya sebagai pangeran Sidhartha/ Siddhattha.
[10] Lihat Sangharakshita hal. 102-120
[11] Sutta Nipata 449-450, lihat Dhammika hal. 92


Daftar Pustaka:
·         Bodhi, bhikkhu. 2006. Jalan Kebahagiaan Sejati. Jakarta: Yayasan Penerbit Karaniya.
·         Dhammika, Ven. S. 2004. Dasar Pandangan Agama Buddha. Surabaya: Yayasan Dhammadipa Arama.
·         Sangharakshita, Ven. 2004. Jalan Mulia Berunsur Delapan. Jakarta: Yayasan Penerbit Karaniya.
·         Vajirananavarorasa, H.R.H. the late Supreme Patriarch Prince. Pancasila dan Pancadhamma dalam Agama Buddha. Jakarta: Sangha Theravada Indonesia.



Semoga bermanfaat, 

Salam Metta,

Sabbe satta bhavantu sukhitatta
Semoga semua makhluk berbahagia

]˜

Tidak ada komentar:

Posting Komentar