KISAH UPASAKA MAHAKALA
Dhammapada XII: 161
Pada suatu hari uposatha, Mahakala pergi ke Vihara
Jetavana. Hari itu ia melaksanakan delapan peraturan moral (athasila) dan
mendengarkan khotbah Dhamma sepanjang malam. Pada malam hari itu juga beberapa
pencuri masuk menyusup ke dalam sebuah rumah. Pemilik rumah terbangun dan
mengejar para pencuri. Pencuri-pencuri itu berlarian ke segala arah. Beberapa
pencuri berlarian ke arah vihara. Mereka berlari mendekat vihara. Pada saat itu
Mahakala sedang mencuci muka di tepi kolam dekat vihara. Pencuri-pencuri itu meninggalkan
barang curiannya di depan Mahakala dan kemudian mereka berlari pergi. Ketika
pemilik barang tiba di tempat itu, mereka melihat Mahakala dengan barang
curian. Mengira bahwa Mahakala adalah salah seorang pencuri, mereka berteriak
ke arahnya, mengancamnya dan memukulnya dengan keras. Mahakala meninggal dunia
di tempat itu. Pada pagi harinya, ketika beberapa bhikkhu muda dan
samanera-samanera dari vihara pergi ke kolam untuk mengambil air, mereka
melihat mayatnya dan mengenalinya.
Sekembali mereka ke vihara, mereka melaporkan hal yang
dilihatnya kepada Sang Buddha. "Bhante, seorang upasaka di vihara yang
telah mendengarkan khotbah Dhamma sepanjang malam ditemukan telah meninggal
dunia secara tidak pantas".
Kepada mereka Sang Buddha menjawab, "Para bhikkhu,
jika kalian hanya mengetahui perbuatan baik yang telah ia lakukan pada
kehidupan saat ini, tentunya ia tidak akan ditemukan meninggal dunia secara
tidak layak. Tetapi kenyataanya, ia harus menerima akibat perbuatan jahat yang
telah ia lakukan pada kehidupan lampaunya. Pada salah satu kehidupan lampaunya,
ketika ia sebagai salah seorang anggota istana kerajaan, ia jatuh cinta pada
istri orang lain dan memukul suami wanita tersebut sehingga suami itu meninggal
dunia. Oleh karena perbuatan jahatnya, pasti akan membuat seseorang menderita,
bahkan dapat mengakibatkan kelahiran kembali dalam salah satu dari empat alam
penderitaan (apaya)".
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair
161 berikut:
Kejahatan yang dilakukan oleh diri
sendiri,
timbul dari diri sendiri disebabkan oleh
diri sendiri,
akan menghancurkan orang bodoh,
bagaikan intan memecah permata yang
keras.
]
Sumber:
Dhammapada Atthakatha —Kisah-kisah
Dhammapada, Bhikkhu Jotidhammo (editor),
Vidyasena Vihara Vidyaloka, Yogyakarta,
1997
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar