Senin, November 19, 2012

Kukkucca : Kemurungan (11)


11. Kukkucca
(Kemurungan)


Ketika sebuah perbuatan buruk dilakukan, biasanya kukkucca akan mengikutinya. Kemurungan terjadi sebagai akibat dari perbuatan jahat yang telah dilakukan. Ini adalah rasa murung karena berbuat salah dan murung karena mengabaikan perbuatan baik. Jadi ada dua jenis kemurungan.

(Sebuah Kisah : )

Penyesalan Empat Pemuda Kaya

Ada sebuah ungkapan yang cukup terkenal : “ Du-Sa-Na-So” yang merupakan empat kata yang suka di ucapkan oleh empat pemuda kaya. Mereka sangat kaya, tetapi tidak melakukan kebajikan apapun; bahkan mereka banyak melakukan perbuatan buruk. Misalnya, mereka sering melakukan perbuatan seksual yang menyimpang. Akibatnya, setelah meninggal mereka terlahir di Lohakumbhi Niraya (neraka leburan logam panas) selama enam puluh ribu tahun. Selama mereka muncul di permukaan leburan logam panas untuk sejenak, mereka ingin mengungkapkan penyesalan mereka atas perbuatan jahat mereka, tetapi masing-masing hanya bisa mengungkapkan satu kata karena sakit yang luar biasa. Masing-masing hanya bisa berujar “Du”, “Sa”, “Na”, dan “So”

Apa yang Ingin Mereka Katakan ;
“ Dalam kehidupan lampau, aku terlahir sebagai orang kaya, tetapi aku tidak mengikuti jalan kebajikan, malahan aku melakukan hubungan seksual yang tidak semestinya.”

Dia merasa sangat menyesal atas perbuatan jahat yang telah dilakukan, tetapi dia hanya bisa mengutarakan kata “Du” dan tenggelam lagi ke kawah neraka. Pemuda ini menyesal karena tidak melakukan kebajikan.

Pemuda lainnya ingin berkata :” Sebagai akibatnya aku tak henti-hentinya menderita kesakitan, aku telah melakukan perbuatan buruk selagi hidup sebagai manusia.”, namun dia tidak mempu melengkapi kalimatnya, dia hanya bisa mengutarakan kata “Na”. Pemuda ini menyesal karena telah melakukan perbuatan buruk.

Akibat buruk dari perbuatan buruk tidak harus menunggu sampai kehidupan mendatang seperti dalam cerita empat pemuda kaya tersebut. Dalam kehidupan ini juga, para pelaku keburukan akan digerogoti oleh berbagai pikiran akan perbuatan buruknya. Keringat bercucuran seolah tubuh mereka terbakar.

Jangan Memberi Tempat Bagi Kemurungan
Menyesalkan tindakan salah yang telah dilakukan tidak akan menghapuskan kekhawatiran Anda. Penyesalan yang berlarut-larut tidak akan membebaskan Anda dari hasil perbuatan buruk. Kemurungan tersebut hanyan akan mengembangkan kukkucca, suatu bentuk lain dari faktor mental yang buruk. Cara yang benar untuk menanggulangi kukkucca adalah dengan tidak melakukan pebuatan buruk (akusala). Jika perbuatan buruk yang dilakukan tidak terlalu berat, Anda bisa bisa terhindar dari akibat buruknya dengan cara menjalankan aturan (sila) sebagai pengendalian diri, seperti yang diajarkan Buddha dalam Mahavagga Samyutta.

Berjuanglah Dengan Keras Selagi Masih Ada Waktu
Setiap otrang harus bisa meraih pendidikan, kekayaan, serta jasa baik sesuai dengan kemampuan dan keterampilan masing-masing. Untuk perolehan tersebut, kesempatan dan waktu hanya tersedia banyak selagi mereka muda. Jika mereka membuang waktu dan kesempatan yang baik, kejatuhan dan keruntuhan akan segera dialami. Ada pepatah mengatakan :” Tempalah selagi besi masih panas” Orang-orang juga berkata :” Taburlah benih ketika ada hujan.” Jika musim hujan sudah berakhir, Anda tidak bisa membajak sawah dan menabur benih, akibatnya Anda akan gagal panen.

Bahkan jika Anda menyadari bahwa Anda sudah terlambat untuk melakukan kebajikan, tidak seharusnya Anda meratapinya. Tidak ada kata terlambat untuk melakukan perbuatan baik. Tertunda masih lebih baik daripada mengabaikan sama sekali.

Pada masa kehidupan Buddha, ada sebuah cerita tentang seorang algojo yang bertugas melakukan hukuman mati. Selama hidupnya dia melayani raja sebagai seorang algojo, sampai menjelang tua dia mengundurkan diri karena tidak kuat lagi melakukan tugasnya. Bhikkhu Sariputta bertemu dengan mantan algojo itu ketika ia menjelang ajal. Bhikkhu Sariputta membabarkan Dhamma untuknya, tetapi dia tidak dapat berkonsentrasi pada Dhamma yang dibabarkan karena terlalu banyak hal yang bertolak belakang dengan apa yang telah dilakukan oleh algojo tua tersebut.

Mengetahui situasi sebenarnya, Bhikkhu Sariputta bertanya ;” Apakah Anda melakukan eksekusi berdasarkan keinginan Anda atau atas perintah raja?”. Dia menjawab :” Saya harus melaksanakan perintah raja. Saya tidak membunuh atas kehendak saya sendiri.” Bhikkhu Sariputta melanjutkan, “ Jika begitu adanya, apakah hal itu dikatakan pelanggaran?”. Bhikkhu Sariputta melanjutkan pembabarannya. Orang tua itu mulai berpikir dan kelihatan ia terbebas dari rasa bersalah dan pikirannya menjadi tenang. Sembari mendengarkan Dhamma yang di babarkan Bhikkhu Sariputta, dia mencapai tataran culasotapanna (pemenang arus muda) dan terlahir kembali di alam deva (deva-loka) setelah kematiannya.

Menurut Dhamma, sebenarnya baik sang algojo maupun raja, keduanya melakukan tindakan salah, meskipun tindakan pembunuhan terhukum itu hanya perintah raja saja, namun dengan tujuan menenangkan dan menciptakan pikiran yang jernih agar sang algojo bisa mengikuti ajarannya, Bhikkhu Sariputta menggunakan strategi yang baik dengan mengajukan pertanyaan untuk membuatnya tidak merasa bersalah.

Catatan : Tidak disangkal lagi mantan algojo itu telah mengambil banyak nyawa, tetapi Bhikkhu Sariputta telah memberikan pertanyaan yang sangat membantu untuk menghilangkan kukkucca (kemurungan). Ketika kemurungan itu lenyap, dia dapat mengkonsentrasikan pikirannya pada kebenaran Dhamma dengan penuh perhatian, dan dia terlahir di alam deva. Dari cerita diatas, kita bisa mengambil suatu pelajaran, orang tidak perlu merasa menyesal atas perbuatan buruk yang telah dilakukan dan juga perbuatan baik yang belum terlaksana, melainkan harus mencoba untuk tidak membiarkan kamma buruk baru muncul dan berusahalah dengan melakukan perbuatan baik setelah mengetahui kenyataan ini.

Sumber :
Abhidhamma sehari-hari Bab II. hal 13-78 _ Oleh : Ashin Janakabhivamsa.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar