Jumat, November 09, 2012

Mana : Kesombongan (7)


7. MANA
(Kesombongan)

Kecongkakan dalam istilah Pali disebut Mana (sombong, angkuh). Orang-orang yang memiliki mana cenderung bersikap sombong, memandang sebelah mata. Ketika mereka unggul dalam status, kekayaan, pengetahuan, kesehatan, dan lain-lain, mereka berpikir tinggi akan dirinya sendiri dan memandang rendah orang lain. Ketika status, kekayaan, dan pengetahuan mereka sejajar dengan orang lain, mereka masih mempunyai alasan untuk menunjukkan kesombongan : " Orang lain tak ada bedanya dengan kita, kita juga punya seperti yang mereka miliki." dan tetap saja mereka akan sombong. Ketika status, kekayaan, dan kesehatan mereka lebih rendah dari orang lain, alasan mereka, " Kita tidak perlu menghiraukan status atau kekayaan mereka, kita makan apa yang kita punya, mendaptkan dari hasil keringat kita sendiri. Mengapa kita harus bersimpuh di hadapan mereka?". Meski mereka lebih rendah, tetap saja mereka bersikap sombong.

Bentuk Umum Keangkuhan dan Bagaimana Mengenyahkannya.

Jati-mana : Congkak karena kelahiran atau kasta.
Dewasa ini masih ada beberapa orang yang dikenal karena kelahirannya.Bagaimanapun juga, kelahiran bukanlah sesuatu yang pantas disombongkan, untuk di bualkan, untuk berpikir orang lain hina, inferior, atau berkasta rendah. Sekalipun seseorang dilahirkan dalam keluarga yang luhur atau berdarah biru, jika dia ramah, sopan dan lembut kepada yang miskin, dia akan lebih dihormati dan dicintai. Ada juga yang berkilah, " Keakraban bisa membuat hina." benar, orang kasar mungkin menunjukkan rasa tidak hormat kepada anda. Jika demikian, itu adalah kesalahan mereka sendiri, dan mereka akan mendapatkan akibat yang tidak menyenangkan. Jadi, anda harus penuh pertimbangan dan berhati-hati untuk tidak menyombongkan kelahiran anda.

Dhana-mana : Congkak karena memiliki materi.
Dewasa ini banyak orang kaya yang tidak mau bergaul dengan orang miskin. Mereka berpikir bahwa dirinyalah yang paling kaya. Pepatah lama mengatakan, : Tidak pernah melihat sungai besar, anak sungai dianggap yang terbesar.". Namun jika mereka terbuka dan baik kepada orang miskin, tidakkah mereka akan lebih dihormati? Bahkan mereka akan ditolong ketika dalam bahaya. Eajah tersenyum dan ucapan lembut bisa menjadi obat mujarab bagi orang miskin.

Oleh karena itu, kemakmuran yang telah diperoleh pada kehidupan ini karena kedermawanan pada kehidupan lampau, tidak semestinya menjadi dasar mana yang akan menuntun kita menuju tataran yang lebih rendah pada kehidupan mendatang. Orang kaya harus berjuang dengan cara-cara yang terhormat untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat dan menyediakan bantuan bagi mereka. Limpahan harta dalam kehidupan sekarang bisa menghadapi banyak marabahaya. Sekalipun bisa terhindar dari marabahaya, harta hanya bisa digunakan pada kehidupan sekarang.

" Kekayaan yang dimiliki raja, tinggal di istana emas, lengkap dengan kebesarannya, dikelilingi para menteri dan anggota istana, adalah seperti gelembung busa yang muncul sejenak di permukaan laut". ( Anantasuriya)

Panna-mana : Congkak karena pendidikan yang dicapai.
Pengetahuan adalah suatu modal untuk memberikan pendidikan apa yang pantas dan apa yang tidak pantas, dan bagaimana hidup berbudaya serta berhubungan sosial dengan orang lain. Bagaimanapun juga, sungguh memalukan jika kita sombong hanya karena pendidikan dan kelulusan akademik. Pendidikan adalah sesuatu yang dipelajari dari orang lain dan bukan hal yang terlalu luar biasa. Setiap orang bisa mendapatkan pendidikan formal jika diberi kesempatan untuk belajar dari guru yang baik.

Ketika kita bertemu dengan seorang yang buta huruf dan sangat dungu, janganlah bersikap sombong dan memandang rendah, sebaliknya kita harus bersikap baik dan berusaha memberikan suatu pendidikan kepada mereka. Suatu ketika ada seorang kepala Vihara yang sangat terpelajar, beliau sangat terkenal baik dalam pengetahuan umum maupun naskah Dhamma, ini dikarenakan pada kehidupan sebelumnya beliau selalu membagi pengetahuannya. Oleh karena itu, kita harus menggunakan pendidikan kita agar bermanfaat bagi kita di dalam samsara.

Dua Cara Memperoleh Pengetahuan
Karena pelatihan kerja dimaksudkan demi penghidupan, hal ini tidak membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Namun bagi para bhikkhu yang belajar Kanon Pali, ada dua cara yang bisa diikuti.

Cara Rendah
Belajar naskah Pali dengan keserakahan, kebencian, dan kesombongan. Belajar dengan pengharapan : " Kalau aku jadi terpelajar, aku akan jadi terkenal; jumlah penyantunku akan meningkat; aku akan mendapatkan makanan enak, jubah bagus, dan mendapatkan vihara; aku harus lebih tinggi dari orang lain, aku tidak akan peduli dengan siapapun, aku bisa melakukan apa yang kumau." Setelah menamatkan pendidikannya, dia mengikuti rencananya, yaitu mendapatkan keuntungan dan ketenaran, serta memamerkan pendidikan yang telah dicapai dengan sombongnya. Belajar Kanon Pali hanya untuk mengejar keuntungan dan untuk membual adalah suatu kejahatan dan akan menuntun ke alam-alam rendah. tentu saja ini adalah cara yang rendah. Sebuah ayat di Tipataka mengatakan, " Lebih baik menghabiskan waktu dengan tidur, alih-alih belajar dengan niat tidak baik."

Cara Mulia
Seorang Bhikkhu  belajar naskah Pali dengan pengharapan : " Jika aku telah mencerna naskah Pali, aku harus benar-benar memahami Dhamma, dan aku akan mengajar kepada orang lain; aku akan selalu bercermin pada naskah Tipitaka dan memperbaiki ,memurnikan, dan meluruskan pikiranku, serta menjadi mulia."

Dia belajar bukan untuk mengejar keuntungan dan bukan untuk menarik perhatian orang; alih-alih dia mencoba belajar dengan aspirasi murni. Cara belajarnya akan menuntun dia ke alam-alam yang lebih tinggi. Inilah cara belajar yang mulia.

Beberapa Bhikkhu belajar naskah suci hanya demi lulus ujian, demi kemasyhuran akademik, tetapi mereka akan mengubah tujuan keliru mereka dan menjadi berpikiran bersih kalau mereka benar-benar menjadi terpelajar. Seperti air dalam kendi yang terisi setengah, tidaklah stabil, tetapi ketika kendi tersebut terisi penuh, air akan menjadi stabil. Sama halnya ketika mereka cukup matang dalam belajar, mereka akan mengikuti cara yang lebih baik. Semoga semua pelajar bisa mengikuti cara yang mulia untuk belajar, menjadi terpelajar serta mulia.

Kesombongan Karena Kerupawanan
Kesombongan karena kerupawanan jasmani juga disebut kesombongan karena penampilan pribadi. Karena dalam kehidupan lampau bebas dari dosa (kebencian), mempersembahkan bunga, membersihkan pagoda dan Vihara, dan sebaginya, seseorang akan menjadi terkenal akan kerupawanannya dalam kehidupan saat ini. Dia bisa menjadi sombong dengan penampilannya yang baik.

Bagaimanapun juga, merenungkan kembali masa lamapu, merenungkan kembali bagaimana seseorang terbebas dari kebencian dan menjadi pemurah hati, seseorang seyogyanya tidak merasa sombong dalam kehidupan ini. Dia harus mencoba untuk mengembangkan pemikiran baik, kelembutan, dan budi tinggi.

Catatan : Orang berbudi tinggi yang telah mencapai Nibbana tidak akan berbangga diri. Beberapa pernah terlahir dalam keluarga kerajaan. Dalam hal kebijaksanaan, Bodhisatta Mahosada adalah orang yang termasyhur. Diantara para wanita ada yang bermoral tinggi dan rupawan seperti uppalavanna, Khema, Yasodhara, yang lahir dalam keluarga ningrat, dengan kekayaan berlimpah, pengetahuan tinggi, serta cantik jelita.

Orang-orang ttersebut tidak sombong karena kebijaksanaan, kasta, kebajikan, atau kecantikan mereka. Sebaliknya, orang dari status rendah malah menyombongkan golongan, pengetahuan, kekayaan yang tak seberapa, dan kecantikan yang biasa-biasa saja, seperti pepatah Myanmar : " Tanaman jarak bertahta di semak belukar." betapa memalukan.

Seseorang yang congkak, dengan kebanggan semu, angkuh, akan tidak disukai oleh orang lain dan karena telah hidup dengan sia-sia, akan terlahir kembali di alam yang lebih rendah secara berturut-turut dalam rentetan kehidupannya. arenanya, Anda harus mencabut habis kesombongan dan bersikap rendah hati seperti diumpamakan " Seekor ular yang dicabut taringnya, seekor sapi yang patah tanduknya, keset yang terinjak oleh kaki-kaki kotor.". Dengan demikian status Anda akan melesat tinggi dan lebih tinggi lagi dalam kehidupan-kehidupan berikutnya.

(Sumber Buku : Abhidhamma sehari-hari- Ashin Janakabhivamsa)


Selanjutnya == > Dosa : Kebencian
Sebelumnya < == Ditthi : Pandangan Salah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar